Feeds:
Tulisan
Komentar

Maka Janganlah Lari

Ada satu peristiwa yang seringkali memancing emosi kita. Saat di mana kita sebagai manusia dihadapkan pada rasa takut yang bersifat personal. Dalam banyak kesempatan kita seringkali tak peduli pada rasa takut, karena keadaan sosial yang membuat kita merasa aman; dikelilingi keluarga, teman, pendukung, dan orang yang kita percayai. Dalam banyak kesempatan kita sering menghindar dari rasa takut yang bersifat pribadi ini; dengan logika yang sederhana ini kita menjaga zona aman pribadi agar dapat hidup tenang dan nyaman. Padahal rasa takut adalah sifat yang sangat manusiawi, mencerminkan sifat dari segala yang hidup. Rasa takut mencerap segala daya yang kita miliki dan membuat emosi menjadi labil at the moment. Peristiwa ini, yang seringkali hadir di titik nadir, membuat perasaan tak nyaman dan membuat kita rentan terhadap masalah-masalah yang datang kemudian. Namun ada ketakutan yang begitu kongkret dan berakibat begitu dalam terhadap kehidupan seseorang. Lanjut Baca »

beberapa waktu yang lalu (16-18/6/09) saya, dan seorang kawan dari jogja, jalan-jalan ke hulu sungai, tepatnya kabupaten hulu sungai selatan, kalimantan selatan.

menjelang sore kami berangkat dengan blazer tua saya. sampai di kota kandangan–ibukota hulu sungai selatan, seketika azan maghrib menggema. kami menginap di rumah salah seorang tokoh budaya di kota itu, yang telah kami telepon sebelumnya. malam itu kebetulan sedang ada shalawatan di kampung ka ibuy (tokoh itu, kami memanggilnya). jadilah malam itu, diskusi budaya kami, diiringi puji-pujian kepada nabi saw dan juga kepada syekh seman al madani (tarekat syamaniah).

paginya (17/6), sekitar jam 9 kami berangkat ditemani seorang kawan dari kandangan yang dititipi ka ibuy untuk menjamu/ mengantar kami, karena beliau harus ngantor, naik ke loksado–sebuah perkampungan dayak meratus di lereng meratus (gunung kantawan: semoga benar). Lanjut Baca »

puisi-puisi

HIKAYAT PENGAYUH PERAHU

1

Subhanallah!

Berkilauan cahaya dari lembah itu

Yang memancar dari balik pegunungan meratus yang meliku

Sungai-sungai berkelok menyapu pasir

Yang terus naik ke hulu, lalu luruh kembali lewat tanganmu

Ribuan bakau menjagamu

Memagar atas gelombang yang bisa saja naik ke rumahmu

Ulin-ulin raksasa tiang tegak memaku jantungmu

Jangan habis kau tebangi—nanti hilanglah jantungmu!

Lalu kau tak punya hati lagi

Berlari ke sana-sini

Tak punya arti

2

Masyaallah!

Inilah kampungku, lembah berliku habis jantungku

Sungai-sungai mendorong perahu, terus, ke laut biru

Dan—ah, kualat aku! Lanjut Baca »

undangan bedah buku

Mengundang semua pecinta karya sastra, terutama yang berdomisili di banjarmasin dan sekitarnya, untuk berhadir pada acara Launching dan Bedah Buku Angin Besar Menggerus Ladang-ladang Kami, pada:

Hari/ Tanggal  : Selasa/ 16 Juni 2009

Waktu                 : Pukul 09.00 Wita – selesai

Tempat              : Perpustakaan Universitas Lambung Mangkurat (Unlam)

Banjarmasin, Lantai 3

Pembicara        : -Raudal Tanjung Banua (Koordiantor Komunitas Rumah

Lebah dan Redaktur Jurnal Cerpen Indonesia, Yogyakarta)

-Sainul Hermawan (Kritikus Sastra dan Dosen FKIP Unlam,

Banjarmasin)

Acara juga akan dimeriahkan dengan pembacaan cerpen “Monologila”, karya Hajriansyah, oleh Yadi Muryadi (Aktor Teater Senior Sanggar Budaya Kalsel, Banjarmasin).

CERMIN KERUH KOLEKTIFITAS KITA

Oleh: Raudal Tanjung Banua

Kegembiraan utama mengiringi terbitnya buku cerpen Hajriansyah, Angin Besar Menggerus Ladang-ladang Kami (Framepublishing, 2009) bagi saya adalah munculnya cerpen-cerpen yang artikulatif di ranah sastra mutakhir kita. Di tengah kecenderungan cerpen Indonesia yang mulai bertele-tele dengan hasrat eksplorasinya, dramatik yang dibuat-buat atas nama eksprimentasi dan bahasa yang diindah-indahkan demi rekreasi bahasa, maka manusiawi sekali kalau kita merindukan cerpen yang wajar, alamiah. Sudah cukup sesak kita diharu-biru cerpen yang mengejar sensasi dari latar mall-metropolitan; tokoh yang wangi, jumpalitan, mati dan hidup lagi; alur yang zigzag nir-logika atau kalau tidak sedingin sinetron-telenovela; dan semua itu acap terbungkus kemegahan bahasa, yang berkelok-liku, penuh irama, namun sebenarnya gerowang. Dan tema? Kau akan dianggap ketinggalan jika tidak menyentuh kamus dan kosa kata modernitas, semisal wacana feminisitas dan seksualitas! Lanjut Baca »

Lupa

Aku lupa ada banyak kejadian yang berangkai dalam hidupku, sehingga aku sampai di hari ini; dan bagian-bagian itu yang tersimpan rapi di kotak ingatanku bertumpuk sedemikian rupa sehingga bagiku bagus melihatnya tersusun rapi begitu saja. Kotak ini yang nampak usang dari luarnya benar-benar membuatku malas memerhatikannya, hingga di suatu hari aku merasa ada yang hilang dalam hidupku, dan pandanganku pun tertuju padanya—ingin melihat di kedalamannya. Lanjut Baca »

rabu (3/6/2009) saya bersama istri dan seorang teman berangkat ke palangkaraya (ibu kota kalimantan tengah). perjalanan ini mulanya diniati untuk melihat salah satu peninggalan almarhum ayah: sebidang tanah yang belum pernah kami lihat, kecuali surat keterangan kepemilikan dan sebuah kwitansi pembeliannya.

kami berangkat sekitar jam 13.30 wita dan sampai di palangkaraya jam 16.30 wib (kalsel menggunakan waktu indonesia bagian tengah, sedangkan kalteng waktu bagian barat). Lanjut Baca »

Pengantar Penerbit

coverhajCerpen-cerpen Hajriansyah (Banjarmasin,10 Oktober 1979) masih menyisakan aroma tanah, percakapan yang intim, keakraban alam dan kebersahajaan kampung halaman—sekalipun semua itu lebih banyak muncul dalam kenangan. Sebaliknya, di beberapa cerpennya yang lain, Hajriansyah mencoba membuat jarak dengan segala sumber harmoni itu; dan ia berhasil mengaduk-aduk suasana lewat percakapan batin (soliloqui) yang berbau filosofis, pergulatan eksistensial serta kegelisahan personal tokoh-tokohnya. Antara kearifan kolektif dan pencarian personal, di sanalah kiranya Hajriansyah menemukan momentum kreatifnya.

Di tangan Hajriansyah, lokalitas dan modernitas saling melintas, meski ujung-ujungnya kemajuan yang diharapkan malah menggilas. Lanjut Baca »


Lain kali jika tiba-tiba listrik padam pada malam hari,

cobalah menghibur diri dengan pergi keluar rumah

(Nassim Nicholas Taleb; Black Swan)

1

Kota ini milik siapa

Lihatlah saat malam tak berbintang

Dan lampu padam, benarkah kota ini milik kita

Entahlah; coba tanya pak gubernur

Atau gm-nya PLN, atau coba tanya pada pencatat meteran

Yang setiap bulan berjalan dari rumah ke rumah mencatat:

Betapa hebatnya kita dalam pemborosan arus listrik yang

Kapasitas kerja pltu-nya begitu terbatas

Kota ini milik siapa

Setiap hari rumah-rumah tumbuh

Dan komplek perumahan yang katanya

Bukti nyata kemakmuran kita itu memakan daya listrik

Yang luar biasa besarnya; dan anehnya perusahaan listrik

Negara ini tak sanggup mengatasinya, sementara di sisinya

Slogan penghematan listrik hanya basa-basi belaka

Ya, mungkin langit lebih terang

Dari kota kita yang muram

Yang kekayaan alamnya hanya hiasan

Di rumah orang-orang kaya saja

2

Bila langit lebih terang

Bila bintang-gemintang gemerlapan

Bila yang bekerja terganggu kerjanya

Bila yang rumahnya ber-ac jadi kepanasan

Bila anak-anak tak dapat belajar di malam hari

Bila suara genset meraung-raung di malam hari

Bila pengusaha kecil menengah teriak kerugiannya

Bila tak masuk akal alasan petinggi pln itu

Maka cobalah bertanya, “ ke mana larinya kekayaan daerah kita?”

(tapi kita harus bertanya kepada siapa. Entahlah.)

dua puisi

Rumah sakit

Aida nampak kurus dan lemah

Aku hampir tak dapat tidur

Istriku yang terjaga

Lalu malam bersama deru kipas angin dan suara kodok

Rssi, 13-14 mei 2009

Hidup

Jika bertanya tentang hidup

Bertanya pulalah bagaimana mengisinya dengan lebih baik, ya.

Rssi-thr, 14-16 mei 2009

Tulisan Sebelumnya »