Feeds:
Tulisan
Komentar

Kita tak mungkin menyerah kawan. Pertempuran ini milik kita, dan pada akhirnya kita telah melibatkan banyak orang. Entah siapa saja. Kita sudah berdiri di sini hari ini. Sudah terlalu banyak sumber daya yang kita korbankan, maka kita tak bisa menyerah. Kemungkinannya hanyalah terus maju; menang dan kalah bukanlah soal yang penting lagi. Kemungkinan yang lain adalah menyusun strategi kembali. Memetakan barisan dan lingkungan. Mencari titik strategis untuk bersiap menyerang. Percayalah kawan, ini bukan soal ambisi pribadi lagi. Ini soal bagaimana kita mengabdikan diri pada banyak hal yang telah kita korbankan dalam hidup. Bersiaplah! Hanya ini yang kita bisa. Lanjut Baca »

rambut…

karena seorang teman telah berbagi tentang persoalan rambutnya, yang memberinya satu kesimpulan, “ternyata kita tidak pernah sepenuhnya mengenal diri kita sendiri, betapapun lamanya kita berkenalan dengannya. dan…”* maka saya juga terpancing untuk memajang foto-foto ini. Lanjut Baca »

minggu lalu (7 – 10/10/09) saya berkesempatan untuk kali pertama mengunjungi muara teweh, ibukota dari kabupaten barito utara, kalimantan tengah. sebuah kota kecil di antara liku-liku pegunungan meratus (?) sebelah utara. sebenarnya sudah lama ingin (dan beberapa kali mendapat tawaran dari keluarga saya yang ada di sini) ke sini, mengingat tempat ini adalah salah satu dari invasi dagang orang-orang dari kampung halaman ibu saya (amuntai), dan cukup banyak keluarga saya di sini.

keluar dari wilayah kalimantan selatan di hulu sungai utara, saya memasuki kabupaten barito timur (tamiyang layang), kalimantan tengah. Lanjut Baca »

marc chagall*

1chagmarc chagall lahir hampir setengah abad sesudah rousseau (henri rousseau), namun karya-karyanya telah membuat dampak bagi periode akhir lukisan rousseau yang berpengaruh.

chagall lahir di vitebsk, rusia, pada tahun 1887 dari keluarga yahudi yang miskin. ayahnya, seorang sederhana dan dikenal baik hati, bekerja di depot ikan haring. ibunya, seorang ibu rumah tangga dengan 10 orang anak–delapan perempuan dan dua laki-laki–membuka usaha warung makan kecil. Lanjut Baca »

Kesiapan

Apa yang tak kita miliki di tengah beruntunnya bencana yang menimpa dunia (kita) akhir-akhir ini. Kesiapan, salah satunya. Tentu bagi kita yang tidak mengalaminya secara langsung mengatakan hal ini begitu mudahnya; dan bagi yang mengalaminya secara langsung tentu yang tersisanya hanya kesedihan. Tapi, sejauh mana kesedihan dapat hinggap di diri kita. Entahlah, masing-masing orang berbeda cara penanganannya.

Maka, setelah datang satu masalah atau musibah, yang lain akan terasa datang beruntun-runtun. Tapi, bukankah yang begini yang mengajarkan pada kita pentingnya arti kesiapan. Lanjut Baca »

Jika menilik satu dekade dunia kesusastraan kita (di Kalimantan Selatan), maka ada rentang lima tahun yang cukup menggembirakan; setidaknya hiruk pikuk perayaan itu nampak sedemikian nyata—tentu saja ini hanya pada batas cakrawala yang dapat saya pandang. Setidaknya setelah berhibernase cukup lama, semenjak dunia puisi beserta kepenyairannya melindap sejak pertengahan 90-an.

Dimulai sejak 2004, saat event Aruh Sastra Kalimantan Selatan pertama mulai digulirkan. Berlanjut kemudian aruh sastra-aruh sastra berikutnya yang terus hadir setiap tahunnya, atas rekomendasi yang terjaga dari kalangan sastrawan kalimantan selatan kepada sistem birokrasi yang memang diharapkan dapat terus memfasilitasinya: memfasilitasi kepentingan dunia sastra yang beriringan dengan tumbuh kembangnya kebudayaan daerah kalimantan selatan. Lanjut Baca »

ba’da aidil fitri

pada kehidupan yang kita berjalan dan berpikir di atasnya, ada batas di mana manusia mesti mengukur dan menimbang segalanya, termasuk di dalamnya kematian. pada titik ini, adakah benar tentang keabadian, tentang mimpi-mimpi, tentang rencana dan kontrol atas segala taktis menyangkut masa depan yang lebih baik. lebih baik? sejauh mana manusia menafsirkan hari ini dan segala yang terjadi, kaitannya dengan tafsir kebaikan tersebut?

kematian yang runtun-beruntun di sekitar saya beberapa waktu terakhir ini membuat saya terjaga untuk sekian waktu, adakah kita dapat benar-benar merencanakan kebaikan atas diri kita sebagai manusia? nassem dalam bukunya black swan yang cukup tebal itu ingin meyakinkan kita, bahwa selalunya tak ada yang benar-benar dapat kita prediksi dalam kehidupan ini.  maka ia mengajak kita menyelami kehidupan ini “sekali lagi” Lanjut Baca »

kunjungan

bukankah setiap kunjungan pasti ada akhirnya…, dan waktu berkunjung telah selesai bagi seseorang; saatnya kemudian pulang dan diantar dengan legawa. bahwa setiap kehidupan ada akhirnya, begitulah yang kita pahami sebagai orang dewasa. namun, tetap saja ada kerinduan yang membuat kita,bisa saja, menangis sendiri di dalam mobil yang kita kendarai menuju rumah duka.

kakakku, seorang wanita dengan tiga anaknya yang masih kecil-kecil, adalah seorang tamu yang hari ini sudah habis masa berkunjungnya di rumah kehidupan ini. sebagai seorang tamu yang lain, yang masih asyik dan betah, juga karena waktuku masih tersedia di rumah ini, aku harus melepaskan kepulangannya dengan sedikit sesal di hati. padahal kami masih belum lama betul berbincang: baru tiga puluh tahun! Lanjut Baca »

ASTAGA!

“Aku sedang puasa, tolong kasih ruang”

Heh, puasa perlu ruang ternyata!

Dan aku numplek di situ bersama-sama

Menunggu saat berbuka dengan makanan-minuman berupa-rupa

Lalu berbunyilah sirene

Aku lupa tadi puasa

Maka kusikat habis semua

Es kelapa muda, nasi goreng istimewa, daging rendang beserta pedasnya

Sambal pete, urap, semangka, amparan tatak, bingka; semua

Ya, semua

Lalu aku ngantuk dan tertidur bermimpi indahnya bulan

Wow, Seribu bulan!

Lalu aku lupa bersahur

Dan hari ini tak berpuasa

Astaghfirullah!

“Aku sedang puasa, coba lihat tubuhku

Kurus tak terkira…”

untuk apa puasa? untuk siapa berpuasa? dan ke mana tujuan berpuasa ini?

jawaban yang pasti tentu saja ada di qur’an dan hadits. tapi, saya ingin berbagi sedikit tentang makna puasa bagi saya.

dulu sekali… saya masih kecil dan dalam bimbingan ayah saya. berpuasa “wajib sekali” bagi si kecil berusia 9 tahun ini, sehingga makna wajib itu pun berkali dua dengan perintah ayah saya. satu setengah jam sebelum imsak saya harus bangun, meski dengan menangis. sahur kami cukup indah dengan kolak pisang dan iwak garih kering. sesudah sahur saya ikut ayah ke masjid untuk salat subuh. di masjid sesudah salat, saya dapat bermain dengan kawan-kawan, sehingga menjelang pagi itu memiliki arti keriangan tersendiri bagi saya. Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »