Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Catatan: Hajriansyah

I

Persoalan kebangsaan (nasionalisme) tidak harus selalu dibicarakan dalam “pembacaan” yang terikat pada mainstream. Sama halnya seperti ketika Gus Dur menyarankan Sejarah Indonesia tidak harus selalu mengacu kepada sejarah tertulis, yang entah terinspirasi atau malah ditulis, oleh para orientalis, entah Belanda, Inggris, ataupun Amerika. Sejarah Indonesia, setidaknya menurut Gus Dur, bisa ditelusuri lewat cerita rakyat yang berbasis pada sastra lisan, entah sekadar dongeng, mitos, atau legenda, yang terus diturunkan dari penutur lisan kepada para pewarisnya. Begitu pula (pe)rasa(an) kebangsaan, tidak harus diidentikkan dengan para tokoh, para nasionalis, yang ceritanya terus direproduksi, atau para penulis yang dengan bersemangat mengharap kita kembali ke jantung Indonesia raya itu Lanjut Baca »

Hari Sabtu, 24 Desember 2011, bertempat di rumah M. Sinnie, pelukis asal Tembilahan, di Patangpuluhan, Yogyakarta, beberapa orang pelukis asal Kalimantan Selatan berkumpul, sekadar bersilaturahmi dan membincangkan hal-hal terkait dunia internal dan eksternal kepelukisan mereka dalam konteks keperantauan (madam) mereka di Yogyakarta. Mereka, adalah Diah Yulianti (kelahiran Rantau-Tapin), Kamiran Suryadi (Tanjung-Tabalong), Robet Nasrullah (Nagara-HSS), Rokhyat (Banjarmasin), Hajriansyah (Banjarmasin), M. Sinnie atau Nick (Tembilahan), beserta kawan-kawan dari Kasisab Institute (Ahmad Syadzali dan Nurdin Yahya), juga istri dan suami dari pelukis Rokhyat dan Diah Yulianti.

Kegelisahan bersama yang mengetengah dalam pertemuan ini, adalah terkait Lanjut Baca »

ramadhan ke eid

ramadhan kali ini adalah ramadhan ayah saya

ia mengajarkan bagaimana berpuasa

bersabar atas perut yang lapar, dan berkuasa

sebulan penuh, sebulan penuh!

 

di sungai di hulu sana

kerabat berjumpa, kapal-kapal bertambat

kami pulang mengantar zakat

kami pulang mengudiki tanah huma

 

di sisa waktu menjelang eid

saya ingat tentang malam qadr

bersama guru menghadap Allah bersama rasulnya

menghitung diri menanam zikr

 

jika nanti takbir menggema

adakah ayah turut melihat

seperti katanya, mandikan anakmu, mandikan anakmu!

dan kuburmu, kuburmu, semoga terang malam tadi

(daripada kosong, saya isi aja dengan tulisan lama. selamat membaca!)

Selasa, 3 April 2011, adalah hari yang terasa sangat cepat bagi saya. Sebelum ini semuanya melambat dalam hidup saya. Pekerjaan, kawan-kawan, dan kesibukan yang beragam dan menumpuk cepat membuat saya hampir tak bisa mengambil jarak dari semuanya itu. Tiba-tiba saja di ujungnya saya merasa perlu keluar dari rutinitas itu, dan di antara semua yang tak bisa saya tinggalkan itu waktu dalam hidup saya hampir enggan bergerak.

Ketika hari minggu sebelumnya teman saya di Jogja mengundang saya (entah sambil isengkah dia?) lewat sms untuk berhadir pada pameran lukisan tunggalnya di Jakarta, secara spontan saya bilang ke diri saya: ini saat yang tepat untuk keluar! Saya bicara pada istri keinginan saya ke Jakarta, dan minta dia memesankan tiket pesawat—dan seperti biasa dia mengakomodir setiap keinginan saya—saya pun dapat merasa lega. Lanjut Baca »

Pagi, pukul 06.30, saya terbangun mendengar dering hape di nakas samping tempat tidur saya. Saya sebenarnya enggan membuka mata, karena saya baru saja tidur pukul empat subuh tadi. Tapi istri saya kemudian memberitahu bahwa itu telpon dari Pak Enos (nama populer dari Kepala Taman Budaya Kalsel: Drs. Ahmadi Soufyan). Saya pikir ini akan ada hubungannya dengan Pameran Koleksi Galeri Nasional yang sedianya akan digelar bulan Juli nanti, tapi mengapa pula harus mengganggu tidur saya yang sebentar itu.

Saya sungguh terkejut, sangat terkejut bahkan, ketika Pak Enos mengatakan, “Jri, Iyan meninggal tadi pagi!” Saya sempat menanya ulang: “Iyan, siapa?” Dan sungguh, saya hampir tak percaya mengetahui bahwa yang dimaksud adalah Zulian Rifani, pelukis—teman dekat kami.

Zulian Rifani meninggal pagi itu,  Rabu (23/3/2011), pada pukul kurang-lebih 06.00 wita di Rumah Sakit Islam, Banjarmasin. Sejak malam sebelumnya almarhum telah berada di rumah sakit dalam keadaan koma, akibat tekanan darah yang, katanya, sangat tinggi. Kawan almarhum, Umar Sidik, menemaninya sampai pukul dua dini hari. Dan Umar terkejut, ketika saya menelponnya untuk menanyakan perihal kematian ini kepadanya; ternyata iapun baru tahu dari saya.

Saya mengenal Zulian Rifani jauh sebelum ini. Lanjut Baca »

Pongkalan Buun

Saat pesawat Kalstar take off dengan sempurna dari bandara Syamsudinnor, dan bergerak ke barat, tak terasa di bawah sana terlihat raksasa barito yang mengular. Seperti jalur darah dengan anak-anak sungainya ia menghidupi kapal dan tongkang di atasnya, perumahan dan sawah di sisi-sisinya.

Pesawat terus naik. Gumpalan awan-awan seputih kapas bergerombol sudah di bawah, sementara setipis serat-serat berwarna abu-abu awan-awan bergerak berlawanan arah kami menuju.

Hampir setengah jam. Di bawah sana hanya hamparan tanah, hijau, dalam garis berpetak-petak. Entah sawah, entah sawit. Di depan sana cakrwala biru muda, dengan garis-garis awan yang membujur, melindap di kejauhan.

Perjalanan ini mengingatkan lagi perjalanan terakhir ke Pangkalan Bun, desember 2010 yang lalu. Lanjut Baca »

pagi!

lama tak menulis di blog. sebenarnya ada dua tulisan tentang perjalanan yang ingin kuposting. tapi apa daya, sampai sekarang dua tulisan itu belum juga rampung.

waktu! ya, ini tentang kesibukan yang merenggut waktu (menulisku). di samping itu juga tentang laptopku yg beberapa waktu terakhir rusak berkali-kali (hingganya kuganti dengan yang baru).

pagi! ya, pagi ini ketika kulihat bahwa tulisan terakhirku di blog ini sudah lewat satu bulan lebih, aku jadi sedih sendiri.

teman! ya, beberapa teman “akrab” di blog lama tak terkunjungi. beruntung seorang teman mengingatkan dengan mengirimkan tulisan terakhir di blog ini ke koran lokal. dan, dimuat. terima kasih sekali lagi kepadanya.

ya, nanti kusambung lagi dua tulisan yang tertunda selesainya itu. dan segera, lah, kupostingkan di sini.

begitu saja dulu, ya. selamat pagi!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.