Ada satu peristiwa yang seringkali memancing emosi kita. Saat di mana kita sebagai manusia dihadapkan pada rasa takut yang bersifat personal. Dalam banyak kesempatan kita seringkali tak peduli pada rasa takut, karena keadaan sosial yang membuat kita merasa aman; dikelilingi keluarga, teman, pendukung, dan orang yang kita percayai. Dalam banyak kesempatan kita sering menghindar dari rasa takut yang bersifat pribadi ini; dengan logika yang sederhana ini kita menjaga zona aman pribadi agar dapat hidup tenang dan nyaman. Padahal rasa takut adalah sifat yang sangat manusiawi, mencerminkan sifat dari segala yang hidup. Rasa takut mencerap segala daya yang kita miliki dan membuat emosi menjadi labil at the moment. Peristiwa ini, yang seringkali hadir di titik nadir, membuat perasaan tak nyaman dan membuat kita rentan terhadap masalah-masalah yang datang kemudian. Namun ada ketakutan yang begitu kongkret dan berakibat begitu dalam terhadap kehidupan seseorang. Lanjut Baca »
Cerpen-cerpen Hajriansyah (Banjarmasin,10 Oktober 1979) masih menyisakan aroma tanah, percakapan yang intim, keakraban alam dan kebersahajaan kampung halaman—sekalipun semua itu lebih banyak muncul dalam kenangan. Sebaliknya, di beberapa cerpennya yang lain, Hajriansyah mencoba membuat jarak dengan segala sumber harmoni itu; dan ia berhasil mengaduk-aduk suasana lewat percakapan batin (soliloqui) yang berbau filosofis, pergulatan eksistensial serta kegelisahan personal tokoh-tokohnya. Antara kearifan kolektif dan pencarian personal, di sanalah kiranya Hajriansyah menemukan momentum kreatifnya.