Kita ternyata diikat oleh sebuah ikatan yang mempersatukan tubuh-tubuh kita dalam satu kesatuan aturan. Setiap komunitas atau kelompok sosial, sekecil apapun, memiliki aturan. Terdengar klise memang, tapi faktanya—yang ternyata tak mudah diurai dalam bahasa sederhana—menidurkan kita. Menidurkan dalam pengertian membuat kita tak sadar menjalani sebuah aktivitas motorik yang absurd. Absurd dalam pemahaman yang dijalani dan [...]
Arsip untuk Januari, 2009
Absurditas; Sebuah Kekayaan
Diposkan dalam Esai pada Januari 29, 2009 | 6 Komentar »
CANANG
Diposkan dalam Puisi pada Januari 27, 2009 | 11 Komentar »
Tak kukira engkaulah daun yang terjatuh lembut di peluk sungai
Akulah anak kecil yang mendorongmu dengan sengaja,
Lalu aku menjatuhkan diriku ke sungai
“Dubyarr!” kelopak air menjelma udara,
Terbang si awan dikejar angin
Awan terkejar air pun jatuh
Hujan menyirami kami yang bermandian di sungai
Tak hirau buaya, tak hirau tambun, tak hirau dingin
Tak hirau tubuh yang menggigil, kulit jemari [...]
melukis itu menulis
Diposkan dalam Lukisan pada Januari 25, 2009 | 10 Komentar »
melukis itu menulis. demikan kata a.d. pirous dalam bukunya yang berjudul demikian. ini(menulis dan melukis) adalah sebuah proses yang bagi pirous sama nilainya. setidaknya a.d. pirous yang mantan seorang guru besar di itb, memang tak pernah berhenti melakukan keduanya. ia adalah seorang yang hyper-kreatif sehingga ketika telah selesai melukis ia tak mampu meninggalkan dirinya yang [...]
Mengenang Kematian, Menginsafi Diri, Merencanakan Masa Depan
Diposkan dalam Esai pada Januari 24, 2009 | 8 Komentar »
Hari sabtu, tanggal 26 April 2008, saat shalat Maghrib ayah meninggal dunia. Dua hari kemudian, saat tahlilan hari kedua, paman Muis menyusul ayah. Mereka berdua meninggalkan dunia fana ini dengan kedamaian islami; wajah ayah seakan orang yang tidur, dan paman Muis begitu ‘cepat’ sehingga mengagetkan siapa saja yang dekat dengannya.
SEDINGIN ANGIN MALAM
Diposkan dalam Puisi pada Januari 22, 2009 | 19 Komentar »
Sedingin angin malam
Setinggi langit dan harapan
Jejakku jejak rompal
Menjejak lalu terjengkal
Jur-malam, jur-siang
Hari-hari datang lalu pulang
Maka, lihatlah lagi
Betapa air telah naik ke kaki kita
Sungai-sungai telah lelah menampung
sampah dan rumah-rumah;
besok, ingatlah
mungkin sungai akan naik ke badan kita
lalu kepala kita
lalu ke dalam tubuh kita
lalu kita mabuk sungai
mabuk air berkelimpahan
menari-nari menyembur [...]
Bisu
Diposkan dalam Puisi pada Januari 22, 2009 | Leave a Comment »
Menahan letih dan dingin
Bersidekap memeluk diri
Mengunci dingin di ulu hati
Nop’08
pertanyaan yang memukul saya
Diposkan dalam Lukisan pada Januari 21, 2009 | 16 Komentar »
jika berbicara seni lukis, seringkali saya merasa dipukul oleh sebuah pertanyaan dari kawan-kawan yang awam terhadap seni lukis. “apakah aliran seni lukis ini?” sambil telunjuknya mengarah ke sebuah lukisan–entah lukisan saya atau lukisan orang lain.
apakah alirannya? pertanyaan yang tak mudah dijawab, karena untuk itu saya harus berbicara panjang lebar–seakan-akan saya pintar, dan inilah celakanya, saya [...]
Secangkir Teh untuk Suami
Diposkan dalam Lukisan pada Januari 20, 2009 | 9 Komentar »
media: cat minyak/ kanvas
ukuran: 60×90 cm
tahun pembuatan: 2006
secangkir teh hangat untuk suami, adalah lukisan yang saya buat sekitar tahun 2006, di mana saya lama sekali tak melukis setelah keluar dari jogja. dulu waktu di jogja dan masih kuliah di isi, saya melukis dalam bentuk-bentuk yang lebih absurd lagi (nanti jika dapat akan saya sisipkan lukisan-lukisan [...]
Keberpihakan pada Hal yang Ruwet
Diposkan dalam Esai pada Januari 19, 2009 | 5 Komentar »
Siapakah orangnya yang mau hidupnya menjadi ruwet dan rumit?
Tentu tak ada. Tapi jika kita pandangi hidup kita beserta orang-orang di sekeliling kita, ternyata kita dapati hidup kita berada dalam satu lingkaran yang tidak logis. Ya, jika kita memandangnya dengan semacam kaca mata yang jernih—lepas dari keberpihakan kita pada hidup yang obsesif. Hidup yang mendorong [...]
RADIN PANGANTIN* DI HADAPANMU
Diposkan dalam Puisi pada Januari 18, 2009 | 3 Komentar »
Maka, Ibu:
Kuingat lagi jejakmu yang tersipu
Di bekasnya aku menunggu,
Sungguh bunga-bunga bermekaran
Di sana;
Kuingat lagi buaianmu yang rindang
Di masa kecil ditimang-timang
Dan benar, tumbuh aku dan berkembang
Terbang dianginkan kasihmu.
Maka, jika hari ini aku
Bagai radin pangantin
Yang melupakanmu, sungguh
Ampuni aku!
Di matamu,
Di senyummu aku hanya debu
Tersapu jauh ke ujung laut
‘kan kubawa benua indah ke tanganmu
Ke tanganmu, tebusan [...]