media: cat minyak/ kanvas
ukuran: 60×90 cm
tahun pembuatan: 2006
secangkir teh hangat untuk suami, adalah lukisan yang saya buat sekitar tahun 2006, di mana saya lama sekali tak melukis setelah keluar dari jogja. dulu waktu di jogja dan masih kuliah di isi, saya melukis dalam bentuk-bentuk yang lebih absurd lagi (nanti jika dapat akan saya sisipkan lukisan-lukisan masa itu di sini) dan penuh eksplorasi terhadap warna. ketika melukis ‘sthus’ di banjarmasin, saya tak begitu berani melukis dalam bentuk yang terlalu absurd–karena untuk lukisan yang realis pun mereka (orang banjar) seringkali bingung dan tak mengapresiasinya dengan baik. lukisan ini secara tak saya sadari (awalnya) melukiskan keadaan di rumah saya, dan ini adalah lukisan transisi sebelum kelukisan-lukisan berikutnya yang lebih berstruktur linear-realistik. gaya penumpukan objek secara serampangan dalam lukisan ini sering disebut dwi marianto, sebagai jukstaposisi (memosisikan objek di dalam bidang gambar secara tumpuk-menumpuk), beda dengan lukisan realistik yang lebih mudah dipandang dan komposisinya kalau tidak disusun dengan pencitraan mata burung, mata katak, atau berhadap-hadapan langsung. warna-warna saya cenderung fauvistik dan semaunya saja, yang penting bagi saya harmonis dan artisik.
Great. Belajar menikmati karya lukis nich. Ajarai dangsanaklah
wow seniman komplet. Ya penyair, ya cerpenis, ya pelukis.
harum, manis, hangat… bila juakah ana ni sawat baelang?
Seniman ya seniman, tapi masak handak pian borong sabarataan ? Ya sastrawan, ya pelukis, ya cerpenis, ya pengusaha, ya caleg…
bebagi-bagi dulu, dangsanak ai…
@ersis:
sama2. untuk ke depan nanti akan saya sertakan sedikit deskripsi untuk setiap lukisan, sebagai pengantar saja, tidak untuk menggurui–karena saya pun masih belajar.(naif lagi)
@randualamsyah & padepokan2pena:
ya, bagaimana. bisanya cuma itu..hehe(versi begayanya)
setiap ada keinginan seringkali saya tak mampu menahannya. selalu ingin mengekspresikan sesuatu. kebetulan saya pernah kuliah seni lukis, ya saya melukis. kebetulan suka menulis, ya saya menulis. kebetulan ditawari orang jadi caleg, ya kesempatan. kalau jadi pengusaha sih, kebetulan perlu hidup yang lebih mapan. (versi seriusnya)
@sandyagustin:
baelang ja wal, ai, kena diulahkan biniku–paling kada teh hangat semacam itu.
Gracias!!
Ass.
Lukisan transisi, apalagi lama tidak melukis … mungkin yang menyebabkan Secangkir Teh Hangat Untuk Suami… terkesan dikerjakan dengan baik tapi ragu-ragu. Terutama dalam permainan warna yang terkesan satu dengan yang lain saling meniadakan.
Gaya penumpukan, sebagai jukstaposisi, lukisan ini terlihat sangat sesak dan kumuh, karena ada objek gambar yang seakan asal taruh dan tidak memanfaatkan bidang yang ditumpuk suatu keterkaitan sebab akibat.
Salah satunya, tidak adanya penumpukan pada gambar asap pada gelas. Begitu juga dengan penumpukan objek anak, meskipun dapat ditafsirkan bahwa anak-anak terkadang cukup “mengganggu” karena minta perhatian, sebagai penumpukan yang mengganggu.
Lukisan ini menarik … sehangat teh yang terkurung hawa panas dalam lukisan.
@HE. Benyamine:
wah, saya senang ada orang yang dapat mengapresiasi lukisan sedemikian detail. akhirnya setelah sekian lama, saya mendapati seorang teman yg dapat berbincang2 ttg seni lukis di kalsel. trims banget atas pandangannya. saya akan sering sharing dgn anda, nantinya, di blog ini. trims
Assalaamu’alaikum
“Secangkir Teh Untuk Suami” – yang pernah saya baca di blog saudara HE Benyamine. Pusing juga pada awalnya untuk memahami apa yang saudara gambar dari pemikiran saudara. Apa itu yang saudara namakan “NAIF” menunjukkan adanya kecelaruan melalui gambaran manusia yang bertompok di mana-mana. Adakah ini juga masukkan daripada idea lukisan Chagall tersebut.
Wah menarik juga memberi komentar dan menanya sekali gus setelah memahami apa yang dikuliahkan oleh saudara dalam beberapa hari ini. Thanks for sharing. You’re great teacher in art.. he..he.. keterlaluan nih… Apapun saya amat menghargainya. Salam manis.
alaikum salam warahmatullah.
lukisan ini terkesan dapat dilukiskan, bahkan, oleh anak kecil sekalipun bukan? (teapotnya hampir sebesar tubuh yang memegangnya) nah, itulah yang saya maksud “naif”. adapun juktaposisi itu hanya sebuah teknik saja. trims atas penghargaannya, ibu.