
Hari sabtu, tanggal 26 April 2008, saat shalat Maghrib ayah meninggal dunia. Dua hari kemudian, saat tahlilan hari kedua, paman Muis menyusul ayah. Mereka berdua meninggalkan dunia fana ini dengan kedamaian islami; wajah ayah seakan orang yang tidur, dan paman Muis begitu ‘cepat’ sehingga mengagetkan siapa saja yang dekat dengannya.
Kematian bisa datang mengejutkan. Padahal di banyak waktu kita menunggunya begitu tak ‘sabar’. Tentu tak ada yang mengingini kematian saat hidup begitu indah, nyaman, dan mudah; saat seseorang masih mencoba merasa-rasakan nikmat atau puncak kehidupan. Tapi tentu ada banyak orang yang mengingini hidup segera berakhir, saat diri terhimpit begitu rupa. Ditekan kiri dan kanan, dan tak ada ruang untuk bergerak sama sekali; sementara ia memiliki rasa malu sedemikian rupa yang ditanamkan masyarakat padanya semenjak kecil. Saat seseorang benar-benar merasa kecil dan terus dikecilkan.
Namun ada kematian yang begitu damai. Seperti kukenangkan pada ayahku.
Ayahku lahir dari keluarga yang tak bisa dikatakan miskin. Ayahnya—kakekku—adalah orang yang bergelar ‘Haji’, sementara di saat itu tidak semua orang bisa dengan mudah berhaji seperti sekarang. Perlu kemampuan yang lebih dari kebanyakan orang, kemampuan fisik, mental, dan tentu saja kemampuan keuangan. Tapi ayahku, seperti katanya pada anak-anaknya, memulai usahanya dari nol, dari dirinya sendiri tanpa bersandar kepada ayahnya—kakekku. Bahkan ia merantau ke Jawa, saat itu, hanya bermodalkan baju di badan dan sebuah sarung. Ia memulai segalanya secara perlahan, dari menabung dari yang sedikit demi sedikit, sehingga kemudian mentalnya, insting bisnisnya pun tumbuh secara sedikit demi sedikit—dari kegagalan demi kegagalan. Inilah yang menguatkannya, yang membuatnya begitu kokoh di masa tuanya. Ia mempersiapkan semuanya secara bertahap, dalam irama yang diatur sedemikian jernih oleh ‘Yang Mahakuat’. Dan kami, anak-anaknya, kemudian benar-benar diwarisinya segala kecukupan.
Beberapa kali ayahku mengejutkan kami, dengan sakit yang begitu hebat. Ia terserang stroke berkali-kali, dan membuat kami berasumsi sedemikian rupa. Kami—aku lebih tepatnya—mengasumsikan banyak hal, karena banyaknya anaknya dan peninggalannya, sehingga menimbulkan kecemasan-kecemasan dan tekanan mental dengan atmosfir ketakutan. Tapi ternyata, di akhir hidupnya ia meninggalkan kedamaian. Kedamaian yang tampak di wajahnya yang terakhir, kedamaian di hatiku yang ditinggalkannya. Aku merasa begitu tenang saat memandang wajah terakhirnya, seakan hapus semua kecemasan yang tumbuh di hatiku seiring waktu yang berlalu bersama saudaraku yang banyak. Inilah potensi kebaikan, menenangkan.
Begitu juga dengan pamanku. Ia tak meninggalkan apa-apa, ia tak memiliki apa-apa untuk ditinggalkan, tapi ia ‘pulang’ begitu tenang (meski aku sempat bingung memandang akhir kehidupan begitu dekat denganku.)
Apa yang kita ingini sebenarnya dari kehidupan ini. Ia begitu singkat jika dibandingkan dengan daur hidup yang abadi. Semuanya datang dan kemudian pergi. ‘Urip mung mampir ngombe,’ kata orang Jawa. Apa yang kemudian kita rencanakan dan telah persiapkan untuk masa sesudah hidup kita, untuk orang-orang yang akan mengenangkan kita. Jika memikirkan ini seringkali aku sedih, ternyata hidup begitu sia-sia, sekaligus tak sia-sia jika memandang ada hidup sesudah hidup kita. Hidup anak-anak kita, hidup orang-orang dekat kita sesudah hidup kita berakhir. Dan apakah kedekatan itu, yang membuat seseorang mengenangkan orang lain sesudahnya? Mungkin ialah kebaikan—apa-apa yang kita usahakan baik bagi orang lain. Tanpa pamrih.
Mengenang sebuah kematian mestinya membuat kita menginsafi diri, menyadari apa-apa yang telah kita miliki, usahakan, dan apa yang masih tertinggal—kurang. Menginsafi diri membuat kita memandang ke cakrawala: apa yang tersisa untuk kita di depan sana, apa yang akan kita raih di masa depan, dan bagaimana merencanakannya. Merencanakan masa depan membuat kita berusaha mempersiapkan segalanya, sedikit demi sedikit, untuk kita asumsikan kemudian sebagai kebaikan yang akan kita tinggalkan untuk orang-orang yang akan mengenang kita sesudah kita. Setidaknya begitulah pelajaran yang ditinggalkan ayahku.
Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa’aafihi, wa’fu ‘anhu.
Banjarmasin, 03-05-2008
Semoga Ayah senantiasa dalam dekapan Allah, Amin….
Ok. Boi.
semua kita pasti mati, hanya masalah waktu …
Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa’aafihi, wa’fu ‘anhu.
semoga dosa-dosa mereka diampuni. Tinggal tugas kita di dunia untuk memberi manfaat sebanyak-banyaknya.
@sansyagustin;randu;padepokan pena:
waakrim nuzulahu, wawassi’ madkhalahu… trims guys
@harie:
oke apa, coi?
@rindu:
ya, masalah waktu, rindu–dan satu saat akan sampai waktu kita, dan apa saja yg telah kita lakukan..
Tulisan menyadarkan dan … semoga Beliau dilipatkangandakan amal kebaikannya. Amin.
Ikut berduka cita atas mninggalnya abah dan pamanmu, hajrin. Syukurlah kau bisa dg ikhlas mnerimanya. Lbh elok lg krn dikau bisa merefleksikannya dlm sbuah cttn yg mnggugah ttg hidup dan kmatian. Salam takzim.
lukisan kata yang indah….semoga Allah mengampuni dosa-dosa kerabat dan sahabat kita yang sudah tiada…dan menyadarkan yang masih hidup,,,Amiin….