Melihat kota-kota tua yang masih meninggalkan jejak budaya masa lalunya yang terjaga, seperti Jogja dan Bali (menyebut dua contoh di Indonesia yang pernah kulihat) membuatku selalu menerawang. Terbayang di benakku sungai kecoklatan di kotaku: Banjarmasin. Terbayang dalam benakku arus yang mengaliri, terkadang pelan-gemulai seperti gerakan penari kraton yang indah, terkadang landas(begitu kami menyebutnya di Banjarmasin: deras) seperti hentakan yang menyeret serupa gerak dinamis para penari kecak. Ada kerinduan ketika menyaksikan betapa masyarakat sebuah kota begitu setia pada rintisan budaya yang diilhami nenek moyang di antara ramai jejalan budaya yang possesif gaya globalisasi modernitas ala Barat. Jogja misalnya, sebagai magnet studi kebudayaan Indonesia modern, didatangi banyak orang dari latar belakang kebudayaan yang beragam (dengan beragam tendensi pula tentunya), dari penjuru nusantara sampai penjuru dunia. Beragam latar belakang budaya yang dibawa orang-orang ini tidak serta merta membuat budaya asal Jogja menjadi lebih lemah, sebaliknya budaya masyarakat Jogja kemudian membentuk budaya baru yang khas; kebudayaan beragam yang terinspirasi Jogja, kebudayaan yang kemudian dibawa pulang oleh para peziarah wawasan itu. Jarik khas Jogja menjadi ikon khas Jogja yang dipamerkan di kampung halaman, atau blangkon, atau budaya plesetan yang terkristal lewat baju-baju Dagadu. Hal-hal demikian adalah yang bersifat permukaan saja, banyak pula hal-hal yang bersifat spiritual; pengetahuan, wawasan keilmuan, sikap mental yang teguh, dll.
Di Jogja pula, betapa keindahan gedung-gedung raksasa yang glamour mampu bersanding dengan sawah-sawah, rumah dengan bata merah yang tak berplester, kerbau, sapi, dan masyarakat yang kekampungan namun bersahaja. Pohon-pohon besar yang menelikungkan angin segar, membuat aku cemburu ketika membayangkan udara panas kotaku yang menguap bersama genangan rawa-rawa. Heterogenitas membuat nuansa yang indah. Kita jadi dapat melihat beragam warna, dan kekakuan sikap diperhalus oleh keterbukaan jiwa. Kita kemudian dapat memaklumi keragaman tanpa harus terbawa kemajuan yang tak kita pahami. Kebaruan dipahami sebagai naturalitas kehidupan (kalau memang harus menyesuaikan keadaan menjadi tak masalah, dengan tendensi yang dipahami betul manfaatnya). Kesahajaan adalah hal yang penting, karena yang demikianlah yang membentuk identitas budaya pribadi sendiri; andong dapat bersanding dengan mobil-mobil mewah, yang ndeso dapat duduk bersama yang berpikiran luas dan maju. Semuanya dapat saling membantu, atau malah berjajaran saja namun tidak kemudian membuat keduanya rikuh dalam berinteraksi. Tidak terjadi kesenjangan yang signifikan yang membuat jarak, dan menampakkan kekosongan yang canggung. Inilah komposisi yang harmonis ala Jogjakarta, dan yang demikian indah bagiku. Indah dalam penampakan—visual—nya, indah dalam sikap budaya masyarakat (spiritnya.)
Kebudayaan kemudian kupahami sebagai hal yang bersifat hybrid, tumbuh seiring kehidupan, tidak diada-adakan, tidak dipaksakan, dan dirasakan manfaat kongkretnya bagi keseharian. Kebudayaan tidak statis, sesuatu yang seakan-akan dijunjung di kepala dan memberatinya, tapi dapat serupa angin yang lewat di atas kepala dan menyegarkan kepala kita. Kebudayaan adalah keseharian kita, apa-apa yang kita kerjakan dan mempengaruhi apa yang kita kerjakan, motivasi hidup, gerak rutinitas yang tak kosong, dan semangat yang memuliakan hidup. Kebudayaan yang membentuk dan kita bentuk ini, kemudian dapat mengilhami kebudayaan lain, menyegarkan, menyejukkan.
Dan bukankah yang demikian yang diharapkan banyak orang.
Kekosongan yang janggal membuat orang merasa canggung dalam berinteraksi, kemudian membuat jarak, dan menyisakan ketegangan. Hidup menjadi terlalu berat bagi sebagian orang, dan menjadi terlalu ringan bagi sebagian yang lain. Hal-hal baru diada-adakan tanpa tendensi yang jelas, dan orang-orang mencari motivasi yang dapat membangkitkan semangat. Padahal angin selalu berhembus setiap saat, hanya tubuh kita saja yang tak merasakannya; kita hanya dapat merasakannya saat ia berhembus terlalu keras, dan merindukannya saat ia berhembus begitu syahdu.
Kekosongan inilah yang selalu kurasakan, saat sebuah ‘lukisan’ berjudul ‘Banjarmasinku’ dipampangkan di hadapanku. Aku tak ingin mencela, tapi kekosongan itu cukuplah sebagai alasan untuk menghindar, untuk memalingkan wajah. Namun setiap pulang dari kota-kota yang indah serupa Jogja atau Bali, muncul hasrat selalu untuk mengisi kekosongan yang janggal pada lukisan itu; tangan seperti tersihir untuk membentuk garis yang lebih mengisi, lebih membuat indah. Dan aku berpikir harus ada motivasi yang kuat yang melatari gerakan mengisi itu.
Ya, Orang Banjar harus berbudaya. Harus membentuk garis dan warna yang harmonis dalam budaya kesehariannya. Tidak melulu dicekoki hasrat belanja yang tak jelas, hasrat menjadi hebat tanpa dorongan jelas yang kuat, atau malah merasa cukup pada keterbatsan yang sempit, tidak membuka jiwanya untuk sesuatu yang seharusnya menjadi lebih indah. Ada banyak potensi yang melatari kehidupan Orang Banjar masa kini, belum lagi potensi geografik yang mengelilingi kita (yang saat ini kita tindihi dengan ketidaktahuan kita terhadap pengelolaannya). Kita berdiri di atas kemewahan yang tak kita sadari manfaatnya, kita menyia-nyiakannya, kita membuang-buang harta berharga warisan orang terdahulu yang menyinggahi daratan ini. Dan sekaranglah saatnya menyadarinya, bangun dari mimpi yang mengambang. Tantangan kita begitu berat (atau malah sebaliknya) untuk kita hadapi. Kita harus mempersiapkan diri, melatihnya setiap hari, mengejar ketertinggalan dengan keterbukaan. Kita harus melayari kembali sungai-sungai yang pernah dilalui jukung-jukung urang bahari, dan kita harus siap kemudian jika bertemu buaya dan hantu sungai lainnya. Menjadi siap tak harus menjadi berlebihan dalam bersikap; kesahajaan sekali lagi menjadi penting dalam bersikap.
****
Setiap kupandang kembali wajah kota ini, terbayang betapa setiap budaya masyarakat ternyata memang tumbuh seiring waktu. Kuingat kembali bahwa tetap saja kita kayuhi arus sungai, meski sebenarnya air sungai tetap saja mengalir walau tak kita kayuh jukung kita. Belarut gin sampai, apalagi jika kita bekerja dengan semangat dan motivasi yang lebih jelas, yang lebih kuat.
Banjarmasin, 11-12 Pebruari 2008
Jogjalah…
Ente ni pintar banar, makan apa waktu halus ?
ana makan nasi. ente, pang, makan apa?
Ass.
Orang Banjar Berbudaya … Belarut gin sampai … pada budaya baru yang tanpa isi dan bentuknya pun kehilangan garis dan warna.
sebenarnya handak ngutip dari koentjoroningrat soal budaya, tapi ana lupa bawa flashdisknya. yah terpaksa ini ja dulu commentnya. hehehehehe mantabb!!! (pake qolqolah).
Lestari budaya….!!!
Lestari banua….!!!
Nasib budaya Banjar ada di tangan kita para generasi muda. Apakah budaya tersebut akan kehilangan peminat dan hilang dari permukaan, atau budaya tersebut akan kembali berjaya dengan penanggulangan dini.
Budaya yang besar mencerminkan betapa besar pula peradaban masyarakatnya.