saya ingat betul sewaktu pertama kali mengenal seni lukis akademis, buku-buku tentang impressionisme adalah buku-buku awal yang memikat saya. dari buku-buku (yang rata-rata) berbahasa inggris itu yang menarik perhatian saya adalah warna-warna yang terang, sapuan-sapuan yang impresif, dan garis-garis yang seakan digores dengan cara menerbangkan kuas di permukaan kanvas itu.
claude monet. tokoh panutan saya saat itu. dalam praktek seni lukis I (di MSD, sebelum di ISI) saya selalu dipengaruhi monet. dan saya bangga sekali jika sedikit saja dari coretan (dan warna) itu ada mirip-mirip dengan karya-karya monet–wah, rasanya lukisan saya berhasil: bagus!
ya, setidaknya dari sanalah saya mulai melukis, meskipun kemudian lukisan saya berkembang jauh dari itu.
impresionisme monet–seperti yang saya pahami saat itu–adalah sebuah upaya (melukis) di bawah bayang-bayang pemikiran yang berkembang saat itu dalam dunia/ ilmu fisika. sesaat ketika orang-orang paham bahwa warna adalah bias dari cahaya, para pelukis yang tak diterima oleh salon de paris (salon des refuses) itu berlomba-lomba mengejar cahaya yang jatuh di permukaan benda-benda, apa saja: gedung, padang rumput, manusia (wanita, anak kecil, kerumunan orang, dll.) menjadi subjek pemenuhan (media) atas kehausan akan cahaya yang sesaat itu. jadilah lukisan-lukisan yang berusaha merekam kesesaatan cahaya itu.
nama impresionis sendiri semulanya hanyalah sebuah ejekan yang dilontarkan kritikus louis leroy dalam artikelnya di le charivari. ya, bagi leroy lukisan monet yang saat itu dipamerkan dalam sebuah pameran kelompok des refuses hanyalah sebuah “impression” (kesan), yang tukang cat dinding pun bisa melakukannya. namun monet (dan pelukis lainnya yang tergabung dalam pameran itu) tak patah arang, dan terbukti kemudian lukisan-lukisan mereka mendapat tempat tersendiri dalam sejarah seni lukis dunia.
adalah gustave courbet, yang pertama kali menyatakan, “tunjukkan malaikat di depanku dan akan kulukis malaikat.” pernyataan ini pulalah yang selalu menginspirasi para impressionist untuk langsung melukis objeknya di depan mata mereka. mereka tak ingin berkhayal, berimaji terlalu jauh. mereka hanya percaya pada apa yang terlihat oleh mata mereka dalam kesesaatan yang ditimbulkan efek cahaya itu. dan iklim, cuaca perancis yang selalu “bercahaya” itu pulalah yang kemudian menarik seorang pelukis belanda yang murung (vincent van gogh) untuk datang ke sana dan turut melukis bersama para impressinonist itu.
adalah gauguin yang “disuruh” membimbingnya (van gogh) untuk keluar dari lukisan-lukisan awalnya yang suram–semasih di belanda. pertemanan itu sempat menimbulkan tragedi, di mana van gogh memotong kupingnya, karena perseteruan mereka di suatu hari.
walaupun van gogh kemudian menjadi tokoh post-impressionisme (ekspresionisme), tapi setidaknya warna-warnanya adalah warna-warna yang pada mulanya milik kaum impresionis, yang telah memberikannya harapan di tengah kegersangan hatinya, semenjak penolakan (refuse) seorang gadis sewaktu di belanda. dan meski seumur hidupnya ia hanya dapat menjual sebuah lukisannya, siapa tahu kemudian betapa terkenalnya ia saat ini.
ya, begitulah ketertarikan saya bermula. dan warna-warna lukisan saya yang sekarang adalah karena keterpengaruhan itu pula. bagaimanapun, kecerahan adalah sebuah harapan, sebagaimana para impresionis dulu akhirnya menangguk kejayaan mereka.
Ass.
Kecerahan natural (sebagaimana yang dilihat) yang menjadi dasar impressionisme atau kecerahan dalam diri sang pelukis … ada perbedaan yang mendasar.
Pilihan warna, mana yang dominan, bisa muncul dari suatu karya impressionisme, yang menunjukkan suatu pilihan ide sang pelukis.
Jangan-jangan buku yang ente pinjam dari MSD tu balum dibulikan Jir? waktu pertama kali ente tampaikan ke ana, sungguh, umpat kagum jua… sampai-sampai ada niat mencurinya. (Astagfrullah….)
Oy, Abahnya Tahura…! rindu salam, jar…
@HE. Benyamine:
begitulah..
@sanyagustin:
nah, kada ingat lagi. tapi rasanya sudah kubulikakan pang. hehehe
@randualamsyah:
nah, jangan pina mancing2 ja lah.
salam kembali, tu..
Siip … postingan begini bagus buat saya, biar bisa paham lukisan. makasih ya
salam kenal…
wah, ternyata mas hajriansyah melukis juga? saya kagum sekali. saya penyuka lukisan, tapi apresiasi saya hanya sebatas komposisi, warna, dan tema saja. tidak pernah mendalam seperti pada tulisan mas hajriansyah ini.
jadi ingat saat-saat terakhir di sydney sedang ada happening berupa pameran karya-karya monet di gallery of new south wales. saya juga suka gaya impresionisme monet yang menggunakan warna-warna cerah dan tajam. tapi lagi-lagi, pengetahuan saya soal lukisan dangkal sekali.
terima kasih sudah berbagi ilmu di sini, mas hajriansyah.
@joe:
salam kenal, joe….
@marshmallow:
ya, bu. saya kebetulan pernah kuliah di Modern school of design (d1-seni lukis) yogyakarta, dan institut seni indonesia (isi) yogyakarta. sepulangnya ke banjarmasin, cukup lama juga saya tdk melukis, kecuali terakhir utk pameran tunggal saya di banjarmasin.
wah, senang sekali… kesempatan luar biasa bisa melihat langsung karya monet. saya sendiri cuma mengaguminya dari buku-buku yang ada di perpus isi yk. tak pernah melihatnya secara langsung.
dulu, sewaktu pertama kali datang ke jogja dan melihat utk pertama kalinya karya-karya affandi secara langsung di gajah wong (museum affandi) saya sampai ternganga melihat lukisan2nya yg wah… beda lo melihat lukisan di buku atau repro dgn langsung melihatnya secara langsung. auranya itu lo…