Sebuah luka sering menyadarkan kita betapa yang kita cari pada sebuah momen ternyata bukanlah yang kita cari sebenarnya. Ketika perih itu datang dan borok menganga, pahamlah kita bahwa setiap kita memaksa diri untuk bergerak ke arah mana hati kita tak menuju, mungkin kita akan mendapat perih yang menyayat.
Sebuah luka secara harfiah, adalah sebentuk rasa sakit yang mengganggu pikiran kita. Ia adalah kulit yang terbuka/ terkelupas dan mengeluarkan darah yang perih. Seiring pengalaman kita menjadi paham bagaimana menahannya sesuai kadar pengalaman yang kita rasa. Tapi tentu saja ada luka yang mengejutkan kita, tak pernah kita duga keperihannya sehingga kita harus memejam mata sejenak untuk dapat bersabar atasnya—atau membuat kita berlari mencari penyembuhnya, atau membuat kita menangis—jadi cengeng.
Sebuah luka kemudian adalah rasa perih yang kita terima dengan pengertian, kita harus berhati-hati di kemudian. Kita tak ingin ia menjelmakan lagi kenangan-kenangan yang menyakitkan, yang meninggalkan bekas di balik kesadaran kita. Luka yang kita sadari lebih mudah disembuhkan ketimbang luka yang tak kita sadari: sebentuk rasa sakit yang laten, yang kita tahan teramat berat. Tapi tentu ada penyembuh untuk setiap rasa sakit yang mendera manusia. Dan semuanya berpulang kepada keinginan kita, ingin menyembuhkannya atau membiarkannya berakar dan menjadi kanker yang menggerogoti tubuh kita (juga pikiran kita.)
Seseorang menjadi paham arti luka ketika ia merasakannya, sesudah mengalaminya. Kita tak benar-benar menjerit ketika seseorang menceritakan betapa ia terluka begitu perih. Kita juga tak sungguh-sungguh mengerang ketika membaca sebuah buku yang bercerita tentang rasa sakit. Kita merasakan luka dan kita berdarah karenanya; sesudahnya kita paham benar bahwa rasa sakit mencuri energi kita, dan kita mencari penyembuhnya.
Mencari penyembuh berarti mencari ke luar diri, namun inisiatif untuk itu berasal dari dalam diri kita. Jika tak benar-benar kita menghendaki penyembuhan akankah kita berjalan mencari penyembuh bagi luka kita. Tapi adakah kita tahu ke mana atau di mana rasa sakit itu akan diakhiri. Kita hanya berusaha saja, sembuh tidaknya bukan kita yang menentukannya; tapi percayalah bahwa keinginan untuk menyembuhkan itulah obat yang sebenarnya kita cari, karena tanpa keinginan itu tak pernah ada kesempatan untuk menyembuhkan diri dari luka yang menganga.
Banyak orang salah memahai makna kesembuhan dan obat, sehingga seringkali kita benar-benar tak pernah sembuh. Kita hanya menahan rasa perih itu dan menganggapnya telah selesai, sementara sebuah luka tumbuh dengan sendirinya di dalam diri kita membentuk semacam kanker yang menggrogoti diri kita secara perlahan. Tapi, juga benar bahwa kesembuhan adalah rasa lupa. Lupa bahwa kita pernah merasa kesakitan, dan semuanya terus berjalan seperti biasa.
Makna sembuh adalah perubahan. Sebuah perubahan dari rasa sakit menuju vitalitas—semangat hidup yang menumbuhkan. Hal inilah yang membedakan orang sakit dan yang sehat. Orang sakit menahan perih di dalam dirinya, sehingga energinya terkuras untuk bertahan, dan tak sempat berbuat lebih banyak untuk menumbuhkan kesempatan yang lebih banyak untuk berbuat. Berbuat bagi dirinya dan orang lain. Untuk menumbuhkan penghargaan. Untuk menjadikan hidup lebih bermakna. Untuk menghidupi kehidupannya dan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Pertanyaan terakhirnya, adalah maukah kita sembuh atau hanya sekadar bertahan untuk hidup yang tak memberikan penghargaan— pengharapan? Ya, kitalah yang menentukan.
13-8-08
satu pertanyaan, wal,
“Apakah ente tengah terluka?”
Ada satu petuah orang=orang tua yang selalu terngiang hingga kini… “Kalau mau ketemu yang benar, jangan takut untuk salah…”
Tabik…
Aha! Apa makna luka dalam kaitannya dengan VITALITAS? Oh… semoga obatnya bisa ditemukan secara plasebos saja. Sugesti diri untuk berubah ke dalam, bukan ke luar. Ah… semoga ini tak ada kaitannya dengan kotbah dalam sms
)
pakabar, sobat?
mudah-mudahan tulisan ini tak berangkat dari kelukaan hatimu saat ini.
setuju, sugesti adalah faktor penyembuh yang lebih kuat daripada obat.
and after all, time will heal.
Luka, tugasnya menguatkan kita ….
hem , kalo gitu aku nda mau terluka
biar sehat terus
Kesembuhan yang melukai
Saat hati terluka, seringkali karena hati ditautkan pada sesuatu di masa depan yang sebenarnya hanya milik-Nya. Hati mendamba segala sesuai berjalan sesuai dengan keinginan. Padahal saat hati melihat sesuatu itu baik, belum tentu di mata-Nya adalah baik pula. Begitupula sebaliknya.
Salam kenal. Semoga luka itu betul-betul sembuh.