saat membaca puisi, kurasakan degup jantungku berlari. segala yang kubayangkan tentang kata di hadapanku berloncatan keluar dari tubuhku; mulutku, mimik wajahku, gestur tubuhku–bahkan yang terkecil sekalipun.
aku sudah tak dapat melihat bagaimana orang di depanku. tak dapat membayangkan apa respon mereka terhadapku. yang kutahu hanya, seluruh tubuhku bergetar ingin mengekspresikan semuanya. semuanya yang dibangun kata-perkata. semuanya, tentang dunia dalam puisi yang mengalir lewatku.
saat membaca puisi, kuingin meloncat-loncat, berlari-lari kecil, duduk-berdiri, menangis-tertawa; tapi yang dapat kulakukan hanya mengalirkan segala kata itu lewat mulutku, menaik-turunkan nada suaraku–tak lebih dari itu, dan rasanya itu cukup kemudian.
saat selesai membaca puisi kurasakan kesegaran, karena semuanya telah hilang. kata-kata itu! nada-nada itu! suara sumbangku! semuanya berlalu, dan hanya tepuk tangan yang tak begitu kupahami maknanya kemudian.
hhmmm… aku belum tahu apa rasanya kala membaca puisi. akankah kata-kata bergetar di bibirku? atau, kata-kata itu hanya aku kulum, kutelan, lantas diam. lalu sepi, tak ada tepuk tangan. panggung lengang. dan aku beranjak pergi, sambil berjanji suatu saat akan kembali setelah aku temukan matra tardji…
aku mulai naik ke atas panggung, membaca puisi, saat masih di taman kanak-kanak. dan sejauh ini tetap saja, setiap kali naik ke atas panggung/ ke hadapan orang-orang yang terasa adalah jantungku berdetak keras. dan percayalah, seburuk apapun kita membaca puisi di hadapan mereka, tetap saja orang-orang bertepuk tangan sesudahnya (dan tak pernah lengang, wal ai).
kenapa harus tardji?
mungkin aku bisa ikut bersaksi kalau pernah berdiri di sepatumu, mas hajri. sayangnya aku belum pernah. tapi paling tidak melalui tulisan ini, bisa sedikit kucicip rasanya membaca puisi di atas panggung seni dengan diakhiri gemuruh tepuk tangan penonton.
dari yang tiga, kamu yang mana tho, mas? atau kamu adalah pelukis ilustrasi di latar belakang panggung itu?
foto yang paling atas dan yang dibawahnya, adalah saat membaca puisi pada pemutaran film pendek teman saya Iwan, “Banjar Underattack”, di taman budaya kalsel. yang ketiga juga di taman budaya. yang paling bawah, saat memperingati penyair kalsel almarhum Ajamuddin Tifani, di museum Banjarbaru. ilustrasi di belakang panggung (potret Ajamuddin Tifani) dilukis oleh sahabat saya, sastrawan Kalsel dan redaktur pelaksana pada harian Radar Banjarmasin, Sandi Firly, yang multitalented.
Foto ini mengingatkanku pada seorang anak ABG dengan seragam SMA berdiri di atas pangnggung para demonstran, yang juga membacakan puisi waktu itu… Pada endingnya, anak itu dengan lantang meneriakan, TURUNKAN SOEHARTO!!!! (hanya itu yang kuingat) diiringi deru tepuk tangan dan teriakan MERDEKA!! MERDEKA!!MERDEKA!!… esok hari fotonya terpampang di halaman depan media massa. (masih disimpanlah klipingnya bro?)
haha… kau juga ikut ya, waktu itu. aku hampir lupa. tapi aku masih menyimpan klipingnya, cuma kada ingat meletakkannya di mana. wal, ke mana ja ente bbrapa bulan ni kada kelihatan?
Abang terlihat lebih ganteng ketika baca puisi. Apa karena ekspresi itu? atau ada sesuatu yang merenggut jiwamu. He..he.. ternyata masih enank menikmati puisi dari pada membaca.
hehe… trims pujiannya, andaikan kau seorang gadis cantik, ah…. masalah enaknya tergantung, kalau kau membaca puisi dengan kebebasan dan ekspresi yg “greng” tentu lebih enak membaca ketimbang manyun di depan panggung, melihat penyair yang anehnya keliwat….
aku lebih tertarik puisinya bro, masih ada lah manuskripnya? soal foto sepertinya rada malas, masalahnya di koran itu aku cuma keliatan seberkas alis dan kepalan tanganku ja hehehehehe (membari supan).
biasalah… jadwal lagi padat banar bos, sampai behinak gin rasa kada kawa, maklum kejar tayang.
aduh!!! puisinya tu hilang bersama buku yg pernah kubanggakan pada nahdiansyah abdi sewaktu di asrama pang antasari jogja. aku hanya ingat sedikit penggalannya (bait terakhir)
“kepada yang tuli telinganya
ternyata kita harus berteriak lebih keras lagi
turunkan soeharto!”
apanya yg kejar tayang, skripsi kah?
Ente rancak ditapuktangani wal lah…
Coba pang ente sakali2 mahutbah jum’at, biar mazhab Hanafi ja dlu – yg jamaahnya boleh b-2- (Hayun wan Abdan). Sama pada naik ke atas, (mimbar dan panggung). Insya allah mun buhannya khusu’ ente kada ditapuktangani….
hehehehe….
hehe… urusan mahutbah tu urusan ente. ana ni…. tepuk tangan urusan urang di muka kita, urusanku pada mbaca puisi haja–kawa menghayati gin rasa nyaman banar sdh.
Hi, nice post. I have been thinking about this issue,so thanks for sharing. I’ll probably be subscribing to your blog. Keep up the good work
Assalamu Alaikum Ustadz Hajriansyah…!
Kef hala ?
alaikum salam, ustadz randu.
alhamdulillah, ana bi khair.
Itulah anak muda wal : darah romantis itu…!
haluuuuuu….
…dalam kemilau cahaya berderet, ketika kau maju bersama selembar kertas, tapi bahumu berat karena kau menyandang nama Indonesia…(by pelangi)
salam kenal^^
wah..jadi ingat masa” smp dan sma saya sering membaca puisi didepan kelas, dperlombaan, di acara” penting..huhuhuhu..kangen..^^
kk seorang pujangga kah??
mari berkawan…^^
mampir iah kak ke blog saya
http://pelangiituaku.wordpress.com
keren-keren-keren
mas, pinjam fotonya, saya tempel di postinganku, hehehe