(ilustrasi sketsa yang disebutkan dalam tulisan ini masih dalam pencarian)
Istilah sketsa sering kita temui dalam banyak hal, tidak hanya dalam wilayah seni rupa, utamanya seni lukis. Sketsa sering dipahami sebagai lintasan peristiwa, sekilas yang kita tangkap dalam sekali pandang.
Memang begitulah peristiwa perekaman sebuah momentum dalam karya sketsa; sekali pandang, tak banyak ornamen yang mewarnai, namun memiliki daya kuat yang menarik perhatian kita(kalau tak begitu rasanya tak berhasil sebuah karya sketsa.) Ada elemen yang paling dominan dalam sebuah sketsa, yaitu garis: sesuatu yang bersifat linear, menghubungkan bagian perbagian, atau malah membentuk sebuah kenyataan.
Garis menjadi penting karena kesederhanaan pengaplikasiannya. Ia tak memerlukan banyak persiapan dalam pengaplikasian, kecuali semangat yang memang sudah menggelombang sebelum karya. Tidak seperti warna yang perlu kesiapan teknis dalam memadu-padankan atau pencampuran, garis mewakili perasaan seorang seniman saat berkarya dan ia mewakili kesesaatan sebuah peristiwa; tak dapat diulang dan direka-reka. Sebuah garis yang baik meluncur membentuk imaji penciptanya terhadap sebuah bentuk, tak harus tegas (meski tegas mewakili keteguhan hati) ia bisa lentur, gemulai, atau patah-patah, atau diulang-ulang dalam pengertian tidak mewakili keraguan.
Betapapun bentuk yang tercipta setelah sebuah garis ditorehkan, ia tidak menjadi penting, karena yang terpenting sebuah garis telah mewakili pengertian kita terhadap kenyataan. Dalam sebuah sketsa yang menggambarkan Jatayu (Garuda), karya Komang Rai Kastawan, garis tidak membentuk wujud Jatayu yang sempurna (realistik), tetapi ia mewakili perasaan si seniman terhadap spirit yang disimbolkan lewat bentuk Jatayu. Garis-garis silang sengkarut mencerminkan kegairahan penciptanya, dan antara garis yang membentuk bidang dan garis yang membentuk imaji saling mengisi menunjukkan kedinamisan gerak. Begitu pula dalam “Bird on a High Branch”, karya Miyamoto Musashi(1584-1645), garis begitu kuat dalam satu tarikan yang membentuk batang pohon yang tinggi, dan beberapa tarikan yang syahdu (santai) membentuk seekor burung yang bertengger di batang pohon. Kegairahan saling menguatkan, antara kecepatan dan kelembutan, membuat harmonisasi bentuk yang indah.
Dalam sebuah sketsa yang berbeda, sebuah lanskap yang dingin, tarikan kuas dalam iramanya yang lembut mencitrakan nuansa warna sekaligus perspektif yang menjauh (dapatkah Anda bayangkan bahwa garis dapat membentuk warna; seperti pepatah pelukis cina klasik ‘goresan tinta yang seksama dapat membentuk lima warna sekaligus’), juga beberapa tarikan garis yang ringan membentuk ornamen pepohonan.
Garis mewakili perasaan seseorang karena sifat spontanitasnya. Setiap menarik garis ketika menorehkan tanda tangan, apakah kebanyakan orang memikirkan bagaimana menariknya sebelumnya, tentu tidak bukan? Ketika menandatangani sebuah berkas proyek atau surat tagihan yang akan mencairkan dana proyeknya, begitu terlihat kegairahan seorang direktur/manajer; dalam kasus yang berbeda begitu nampak kelesuan dalam sebuah tandatangan pemutusan hubungan kerja secara sepihak. Begitulah garis mewakili perasaan kita, ia tidak direka-reka, ia keluar begitu saja karena kebiasaan kita; dan sebuah momentum terekam di sana.
Tidak setiap orang memiliki garis yang kuat, namun setiap garis yang kuat bukanlah hal yang absolut, yang terus-menerus menempel pada jati diri seseorang. Ia bersifat hybrid, seperti saling tumbuhnya perasaan di dalam diri kita, kadang senang-gembira, kadang sedih-berduka cita.
Dalam sejarah penulisan(kaligrafi), garis telah berusia setua peradaban manusia. Dalam huruf-huruf Baji bangsa Sumeria, garis-garis yang ditorehkan melalui media paku(atau benda tajam sejenisnya) berusaha dicitrakan menjadi pemahaman dasar terhadap kenyataan, yang melaluinya diharapkan terjadi kesepahaman yang seragam terhadap kenyataan yang dimaklumi penorehnya. Begitu pula dalam garis-garis yang membentuk gambar dalam Hierogliph bangsa Mesir Kuno. Begitu pula dalam ikonografi Kanji Cina. Garis menjadi media yang fleksibel untuk mewujudkan gagasan tentang kenyataan dalam bahasa tulis atau gambar. Ia kemudian bersifat universal dan abadi, karena kemudahan pengaplikasiannya.
Garis tidak hanya dapat dibentuk dengan media tinta atau pewarna, ia dapat pula ditorehkan melalui media paku, pisau, atau benda tajam lainnya yang dapat menoreh benda yang bersifat padat. Atau dalam kemodernan saat ini ia dapat diaplikasikan lewat media yang bersifat digital, lewat komputer dan yang lainnya, sejauh ia bersifat alla prima (sekali gores atau sekali jadi).
Dalam tradisi estetika Timur (utamanya Cina) lukisan garis atau sketsa merupakan cara ungkap puitik yang setara dengan puisi-puisi klasik yang indah. Pelukis seringkali juga seorang penyair, yang menghayati kehidupan dengan torehan garisnya yang indah, seperti yang dikemukakan oleh Tcang Yen-Yuan, ahli seni termashur dari Cina abad ke-9: “ Apabila mereka tak sanggup mengungkapkan pikiran (melalui seni lukis), mereka tulis huruf-huruf; apabila tak sanggup mengungkap pikiran (melalui tulisan), mereka buat lukisan” (William Cohn; Seni Lukis Tiongkok).
Di dalam tradisi seni lukis kita yang banyak dipengaruhi oleh Barat, sketsa seringkali dipandang sebagai pre-elementary painting, atau pra-disain. Untuk membuat sebuah karya seni lukis, seniman membuat desain awal dengan coret-coretan sederhana yang merekamkan secara sekilas imaji yang akan dibangun dalam lukisan, seringkali pula dibuat dengan penuh detail untuk memantapkan persiapan melukis, barulah sesudah itu kemudian seniman memindahkan objeknya ke atas kanvas dengan kelengkapan warna-warna, dan jadilah lukisan yang utuh; sementara sketsa yang dibuat di awal tadi dapat dibuang begitu saja jika dirasa membuat berserak kamar/studio seorang pelukis.
Dengan kegiatan semacam itu, tentu akan hilang banyak sekali peristiwa yang terekam dalam spontanitas garis yang kita buat. Orang Barat kemudian menyadari hal ini pada periode postmodernisme, dan mereka kemudian lebih menghargai sketsa, yang kemudian mempengaruhi pembelajaran-pembelajaran dalam psikologi modern.Para psikolog (juga psikiater) kemudian banyak yang melakukan penelitian terhadap garis-garis yang ditorehkan untuk memahami sisi kejiwaan manusia.
Kungkungan-kungkungan perasaan yang dirasakan seseorang mestinya dapat dilepaskan dengan media garis, terlepas dari ia seorang pelukis yang mahir memainkan garis maupun orang awam yang sebisa mungkin menarik garis dengan tulus. Sejauh yang demikian, sebuah sketsa menjadi bemanfaat secara kongkret bagi seseorang. Adapun untuk kegiatan yang bersifat eksibisi atau pameran, hal ini kita lainkan lagi, karena kita dapat menyeleksi mana-mana sketsa yang memiliki garis-garis yang artistik, mana yang memiliki kelenturan dalam membentuk sebuah imaji tertentu, mana yang patah-patah namun kuat yang mencerminkan ambisi yang tertahan, dan mana yang lembut yang mencitrakan kedamaian.
*Coba memahami sambil pegang pensil*
Mengingat kembali sketsa di book cafe waktu itu
tak usah dipahami. ingat saja sebuah momen yg indah, atau jika itu sulit gambar saja apa yang tampak di depan matamu–dan percayalah, itu mudah.
Ass.
sketsa header di atas? Mata yang terpejam dan mata yang terbuka, keduanya kesedihan yang meluruh.
Ulasan menarik, garis yang bermakna cenderung hilang dalam sebuah sketsa.
tulisan ini pernah dimuat di radar dan ada ilustrasi sketsa pelukis bali, juga sketsa karya miyamoto mushasi yg samurai itu, juga beberapa sketsa klasik cina yg sangat indah. ilustrasi header itu adalah potongan sketsa “self portrait” saya semasih di isi dulu. ya, garis memiliki daya tariknya tersendiri–dan makna ada di kepala apresiannya.
Melukis … duh asyiknya … saya baru bisa coret-coret ngak ketruan Mas …
ayo… sekarang saya yg motivasi pak ersis, melukislah! melukis itu mudah. hal yg paling sederhana dalam seni lukis adalah membuat sketsa, dan selain sbg pralukisan sketsa juga sebuah lukisan tersendiri. membuat sketsa itu mudah, cukup goreskan garis di sebuah kertas kosong (atau secara digital, buat garis apa saja di coreldraw atau photoshop) dan biarkan kemudian ia berkembang sendiri. ayo, coret-coret!
Lukisan?
Wah menarik juga untuk dikembangkan!
Oh ya, Ada yang mengatakan bahwa hanya dengan melihat wajah, kita dapat mengetahui jati diri seseorang. Setujukah Anda dengan pendapat itu?
tergantung siapa yang melihatnya…. kalau memang punya ilmu ttg itu, mungkin saja.
ulasan yang bagus sekali, mas hajri.
saya jadi ikut larut dalam sebuah sketsa.
pernahkah sketsa
dianggapmenjadi sebuah karya yang selesai?saya pikir banyak sekali contoh2nya (termasuk beberapa yang saya ulas di atas). saya pernah melihat sketsa2 karya pelukis saptohudoyo–gambar2 rumah di pinggir sungai dan beberapa gambar kota2 di luar negeri–dan karya2 subroto sm (dosen saya sewaktu di isi). karya2 itu ditampilkan/ dipamerkan sejajar dengan lukisan2 yang berwarna, dan karenanya saya berasumsi sketsa2 tsb telah dianggap selesai oleh senimannya, dan sebuah lukisan tentunya.
Nah timbul Bos Ersis yang kena motivasi nah…
sketsa dan garis..garis dan sketsa..berdampingan..sketsa yang jujur dan tarikan garis yang murni garisan anak2 kecil yang baru mengenal pase itu…sketsa bagaimana kah yang d anggap bagus,,,ataukah tergantung??
tentunya, bagi saya, yang merekam obyek secara akurat dan spontan. tapi, tentunya ini perlu latihan, karena tak sebegitu tiba2nya seseorang dapat membuat karya yang baik–kecuali kebetulan.
salam.
maksasih ulasannya mas hajriansyah.
salam kenal
salam kenal juga dari banjarmasin.
wah makasi banyak, artikelnya pak hajriansyah,, saya jg baru belajar mengenai skect,, artikelnya menarik .GBU