Lain kali jika tiba-tiba listrik padam pada malam hari,
cobalah menghibur diri dengan pergi keluar rumah
(Nassim Nicholas Taleb; Black Swan)
1
Kota ini milik siapa
Lihatlah saat malam tak berbintang
Dan lampu padam, benarkah kota ini milik kita
Entahlah; coba tanya pak gubernur
Atau gm-nya PLN, atau coba tanya pada pencatat meteran
Yang setiap bulan berjalan dari rumah ke rumah mencatat:
Betapa hebatnya kita dalam pemborosan arus listrik yang
Kapasitas kerja pltu-nya begitu terbatas
Kota ini milik siapa
Setiap hari rumah-rumah tumbuh
Dan komplek perumahan yang katanya
Bukti nyata kemakmuran kita itu memakan daya listrik
Yang luar biasa besarnya; dan anehnya perusahaan listrik
Negara ini tak sanggup mengatasinya, sementara di sisinya
Slogan penghematan listrik hanya basa-basi belaka
Ya, mungkin langit lebih terang
Dari kota kita yang muram
Yang kekayaan alamnya hanya hiasan
Di rumah orang-orang kaya saja
2
Bila langit lebih terang
Bila bintang-gemintang gemerlapan
Bila yang bekerja terganggu kerjanya
Bila yang rumahnya ber-ac jadi kepanasan
Bila anak-anak tak dapat belajar di malam hari
Bila suara genset meraung-raung di malam hari
Bila pengusaha kecil menengah teriak kerugiannya
Bila tak masuk akal alasan petinggi pln itu
Maka cobalah bertanya, “ ke mana larinya kekayaan daerah kita?”
(tapi kita harus bertanya kepada siapa. Entahlah.)
Ah, cuma mati lampu dikit aja. Manusia modern memang suka manja. Tidak tahan kegelapan, padahal dalam kubur lebih gelap lagi…
hiii….
Wal, bila-bila juakah ente ngutip kata-kata ane…
kada usah penyair luar negeri trus…!
mengutip itu, bagiku, perlu pertalian jiwa.
lagi, nassim tu rasanya lain penyair, tapi pialang.
tanyakan…tanyakan saja pada SANG SEPI. ma kasih lam kenal
salam kenal!
bila listrik padam, nyalakan saja lilin, lalu pura-pura ada yang lagi ulang tahun… (biasanya kan begitu, begitu lampu nyala, maka lilin pun ditiup sambil bernyanyi panjang umurnya…panjang umurnya…)
ide yang bagus!
di rumahku ada genset, tapi bila lampu mati hampir kada pernah kunyalakan. terkadang gelap malah lebih nyaman ketimbang terang. ya klo, wal.
Ass.
Langit siang jelas lebih terang ha ha ha ….
Kalau langit (hati) lebih terang lagi … dan bisa saja karna byar pet ini, sehingga bisa memunculkan terangnya hati; diantaranya melalui puisi ini; terdorong menyelakan lentera hati untuk melihat dan merenungi kejadian sekitar.
ya, ide menarik. kegelapan membuat kita mencari terang, bukan?
dan memang d daerahku langit lebih terang daripada rumahku yang listriknya byar pet
di mana daerahmu?
entahlah..
kita ini miskin apa kaya?
saya kok makin hari makin bingung
saya juga bingung, pak. atau mungkin… entahlah?
saya senang kalo mati lampu, berkumpul di ruang keluarga mengayuh bersama lilin,
terkadang keluar rumah dan memandang terangnya angkasa,,
-tapi emang ding, kadang cukup mengganggu-
fiuh,,
Sudah ada jawabannya … tapi kita tidak pernah menemukannya
Kota itu milik org kota. Kekayaan kita dimiliki org kota. Makanya jadi org kota saja.
hehehe..
Kota ini milik orang kelayan jua walai…
kelayan tu di mana grang, wal?
negara paling irit listrik itu ya negara kita.
byar pret itu kan sekadar cara penghematan.
maka jangan rutuki prosesnya bila hasilnya adalah kabar bahagia. *sambil meringis menahan perih*
kalo mau ngirit, matiin bikin tv jangan siaran diatas jam 12, pasti irit.. mmm nassim cool tuh..