rabu (3/6/2009) saya bersama istri dan seorang teman berangkat ke palangkaraya (ibu kota kalimantan tengah). perjalanan ini mulanya diniati untuk melihat salah satu peninggalan almarhum ayah: sebidang tanah yang belum pernah kami lihat, kecuali surat keterangan kepemilikan dan sebuah kwitansi pembeliannya.
kami berangkat sekitar jam 13.30 wita dan sampai di palangkaraya jam 16.30 wib (kalsel menggunakan waktu indonesia bagian tengah, sedangkan kalteng waktu bagian barat). perjalanan yang penuh dengan ketegangan ini (hehe, jalan sepanjang banjarmasin-palangkaraya kalau dihitung presetasenya, mungkin kurang-lebih dua pertiga jalan mulus beraspal dan sepertiganya lagi jalan rusak dengan batu kecil-besar dan berlubang, saya tempuh dengan kecepatan maksimal menggunakan mobil pribadi) akhirnya menyisakan sebuah renungan: ada pergeseran budaya yang demikian cepat dalam periode yang berganti sejak masa ayah saya ke masa saya (dalam waktu yang kurang lebih dua puluh tahunan ini).
ya, budaya sungai yang bergeser ke daratan. ada pertumbuhan, kalau memang demikian yang diharapkan sejauh orientasi masyarakat kita–dewasi ini– yang lebih cenderung ke daratan. betapa tidak, tanah yang mulanya saya kira berharga itu (dalam orientasi “kedaratan” itu) kini menjadi hampir tak bernilai–padahal dulunya semasa ayah saya lebih punya “nilai lebih”.
penjelasannya begini, tanah itu terletak lebih ke hilir (kota palangka sekarang di hulu) sungai kahayan. dulunya, sebelum jalan darat menuju palangkaraya tak semudah dan senyaman sekarang, sungai kahayan adalah–mungkin–salah satu jalan tolnya menuju pahandut/ palangkaraya; dan tanah di sepanjang pesisir sungai itu tentu saja berharga, apalagi yang dekat kota. dan kini, seiring bergesernya “jalan”, dan orang-orang tak lagi memakai sungai sebagai lintasan utama, maka pesisirnya yang sunyi menjadi hutan tak bernama.
hal inilah yang sempat membuat saya bingung pada mulanya, mengapa kampung/ kota, semacam pulang pisau dll. itu, tak kelihatan di sepanjang jalan raya (darat) yang saya lalui. teman seperjalan saya, bang yadi yang berumur kurang-lebih 50 th, mengatakan “kampung/ kotanya ada di pinggir sungai sebelah sana”. ya, beberapa puluh tahun yang lewat kampung-kampung orang dayak dan banjar adanya di pesisir sungai, jalan raya mereka dulu.
renungan, dari sebidang tanah, itu pun kemudian berkembang. ke mana sebenarnya orientasi budaya kita ini dibawa pemerintah republik ini? dan mengapa kita tinggalkan jejak langkah tumbuh orang-orang dulu? apakah hanya untuk kemudahan alasannya? coba dihitung mana yang lebih efisien, pengeluaran untuk membangun jalan raya-menerabas hutan dan belanja motor dan mobil yang tidak kita produksi sendiri beserta semua pengeluaran sampingannya, dengan mengembangkan teknologi pemanfaatan media sungai sebagai jalan yang telah dirintis orang-orang dulu sendiri? entahlah, saya tak mampu menghitungnya, tapi hemat saya ketergantungan kita terhadap “produk luar” itu tak membuat potensi kita dalam berpikir berkembang sebagaimana mestinya.
orientasi kita yang terlampau “ke barat”–dengan segala kecanggihannya yang mempesona itu–ternyata tak membuat kita lebih berdaya. maka kemudian, mubazirlah segala “pengeluaran” yang kita korbankan sekian lama. lalu, selain terlantar, isi/ kekayaan daerah kita juga dieksploitasi orang-orang barat yang celakanya untuk memenuhi keinginan kita akan fatamorgana “pembebasan” diri itu.
saya tak ingin bersikap skeptis dengan tulisan ini, yang saya inginkan tumbuh optimisme dalam diri kita–yang sebenarnya tumbuh dalam kealaman yang luar biasa ini–untuk menggerakkan lagi potensi pikiran kita dalam memanfaatkan sumber daya di sekitar kita, untuk kemaslahatan diri sendiri.
ah, nampaknya renungan ini telah menyimpang dari perjalanan- palangkaraya ini. saya hanya dapat tersenyum bangga dengan jalan-jalan besar dan gedung-gedung besar, kota yang indah, yang saya lalui kemudian, alih-alih menyesali tanpa mampu berbuat sesuatu untuk daerah saya. tercinta ini.
perjalanan ini tak menyisakan gambar yang dapat saya sisipkan pada tulisan ini, kecuali gambar yang terus-menerus hadir makin jelas di dalam kepala saya sendiri….
Pasti gambar yang makin jelas itu cantik …
nang seikung ni kada jelas…
“ketergantungan kita terhadap “produk luar” itu tak membuat potensi kita dalam berpikir berkembang sebagaimana mestinya”.
apa dapat diinterpretasikan dengan kehilangan budaya atau budaya telah mati atau hidup dengan budaya baru.
budaya yang kita hidupi saat ini bukanlah budaya yang menghidupi kita beserta impian org tua kita, dan ini membuat kita “lumpuh”. ah, saya makin bingung.
Oleh-olehnya kesah ja kah Wal? He he he….
Wah! Perjalanan yang sangat mengasyikkan jiwa…, Banjarmasin–Batola–Kapuas–Pulang Pisau–Palangkaraya (Palangka Raya) lalu balik lagi.
Intinya, kita padukan keaslian daerah, nasionalisme yang tak berbau fanatik, dan dunia luas dengan ilmu dan persaudaraan yang semuanya dalam bingkai keimanan kepada-Nya….
Tarima kasih lah sudah bakunjangan di lamanku samalam. Bakunjangan pulang. Aku tunggu….
heeh, kisah aja oleh2nya. maaf ai nah, hehe…
di palangka semalam ada tetamu orang kenal wan situ (alimul huda), pas di jalan telihat pulang gedung ada tulisannya “batang garing” (apa artinya tu?) situ prnah diam di palangka sekalinya lah.
Perjalanan satu kehidupan yang menjadi nastogia menarik untuk dikhabarkan kepada dunia. Mengharukan. Dua zaman berbeza yang memberi erti perubahan dan dinamiknya kehidupan ini. Jika tiada usaha untuk membangunkannya, maka zaman dulu tetap kekal sebagai tinggalan sejarah yang menjadi kenangan buat generasi akan datang untuk menilai apakah perbezaannya dengan zaman kini.
Jika sejarahnya terpelihara, maka keaslian dan keberuntungan menjadi tanda keperihatinan yang bererti kepada generasi akan datang untuk mengecapi segala infrastrukturnya. Inilah kehidupan. Ada yang kekal dan hilang ditelan zaman. Selamat Hari Alam Sekitar Sedunia 2009. Salam hormat.
ya, inilah kehidupan, terus bergeser. mudah2an di masa anak saya nantinya, bumi ini masih indah dipandangnya.
selamat hari lingkungan hidup!
hormat saya.
waw…………….wawaw…………………..wawaw
woo owo wo woo (hehe.., kayak tarzan aja)
Batang garing nitu batangnya lagi garing Wal ai, he he he he…. Mun ikam tatamu batang pisang nang kurus banar, nah nitu pang contohya batang garing. Iya kah? Jadi, ikam kada usah bingung lawan artinya. Santai ja Wal ai. Aku kada suah badiam di Palangkaraya saumur-umur. Mungkin urang nang ikam tamui nitu salah tasambat ngaran ja. Lain aku nang dikiranya nitu. Ayu ja, jangan ikam ambil apa-apa dari kata-kataku. Aku ni pembohong besar nang kada kawa dipercaya oleh siapa ja.