Aku lupa ada banyak kejadian yang berangkai dalam hidupku, sehingga aku sampai di hari ini; dan bagian-bagian itu yang tersimpan rapi di kotak ingatanku bertumpuk sedemikian rupa sehingga bagiku bagus melihatnya tersusun rapi begitu saja. Kotak ini yang nampak usang dari luarnya benar-benar membuatku malas memerhatikannya, hingga di suatu hari aku merasa ada yang hilang dalam hidupku, dan pandanganku pun tertuju padanya—ingin melihat di kedalamannya.
Apa yang sebenarnya pernah hinggap di dalam diri kita, sehingga kenangan itu begitu penting. Lalu kita pun mencoba membuka kotak pandora, dan terkejut sesudahnya: masa depan jauh lebih penting! Tapi, masa depan mana yang tak berangkai dengan masa lalu? Lalu, rasa sakit mana yang tak membuat kita jauh lebih baik kemudian, sesudah kita mengatasinya? Dan di mana diri kita yang terperangkap keramaian, sehingga tak dapat pulang ke kesunyian diri? Oh, Tuhan! Aku benar-benar lupa!
Hingga, aku mencoba mengurai kembali benang-benang yang menjalin diriku sedemikian ruwet.
Aku lahir dari keluarga yang dikenal orang baik. Ayahku seorang pedagang, seorang haji (relijius), seorang yang pernah mengajarkan padaku hidup yang teratur: bangun pagi, sholat subuh, mandi, menyiapkan sekolah, sekolah, sholat zuhur, mengaji, bermain, sholat ashar, mandi, bersiap ke masjid, sholat maghrib dan isya di masjid, nonton tivi, dan tidur pada pukul 10 malam—tak lebih. Ibuku seorang ibu rumah tangga yang rajin, seorang ibu yang pemarah jika anaknya nakal dan tak berdisiplin, seorang ibu yang peka—sehingga aku hampir lupa kasih sayangnya yang seluas langit tak terhingga itu. Aku tumbuh dengan kecukupan, tak ada yang kurang: semasa sekolah dasar aku selalu di depan (baik dalam arti duduk di bangku depan, dan ranking satu terus menerus sampai selesai sekolah dasar), kemudian dua tahun mondok dan belajar agama di pesantren, lalu masa-masa penuh kenakalan remaja, lalu masa-masa penuh pertanyaan diri, lalu masa belajar yang sesungguhnya, lalu masa menemukan “diri”, lalu masa bekerja—mengabdi pada hidup yang kurasa baik. Sejauh itu, aku selalu mengingat bahwa aku benar-benar tumbuh dari sana! Dari kehidupan yang—kata orang/ sejarah—baik.
Lalu, sampailah aku pada pertanyaan-pertanyaan yang absurd; dan aku berpikir bahwa hidup tak lain hanya abstraksi yang kita susun sedemikian rupa untuk menenangkan hati kita, untuk mengukuhkan keberadaan diri yang fana, untuk seribu kebahagiaan yang sebenarnya tak kita mengerti arti sesungguhnya. Aku tenggelam di keramaian! Orang-orang bersorak belakangan; ada yang mendorong, ada yang menarik, ada yang menghantam, ada yang menunggu, dan tentu saja ada yang terusik.
Pertanyaan-pertanyaan kemudian ini, yang berkelindan dalam benakku yang suwung, hanyalah akumulasi dari ketidaksadaranku akan kehidupan yang berjalan beriringan di sebalik kesadaranku yang terbatas. Kesadaran yang terbatas inilah yang kumaknai dengan Kerja. Kerja-lah yang mengantarku; andai aku tahu betapa malasnya aku sedari kecil, maka akan kususun kembali kehidupan yang penuh gerak itu. Kerja pula-lah yang mengantar manusia pada hasrat yang lebih lagi untuk memenuhi dirinya dengan perhiasan artifisial yang semu, juga untuk menaklukkan ketakmengertiannya akan rahasia-rahasia orang lain—penaklukan ke dalam dan keluar (seperti kata temanku), sehingga membuat seseorang terkesan gagah di mata yang lain. Lalu sesudah itu, apa? Akankah kita kemudian naik ke sorga, atau turun ke kedalaman penuh mutiara? Ataukah puncak dari semua itu adalah: diam.
Banyak berdiam membuat orang-orang terbiasa bergantung. Selalu berharap akan datang seseorang membawakan kotak penuh perhiasan yang dibayangkan sebagai bayaran atas penantian yang terlampau “melelahkan”. Selalu ada kebahagian yang absurd yang kita idam-idamkan sedemikian rupa, sehingga kita merasa perlu bersikap optimistis dalam langkah yang tertatih. Sikap yang dibuat-buat inilah yang menjadikan diri kering. Matahari terlampau menyengat! Badan kita telah berpeluh-peluh…
Lalu aku duduk di tepi sungai leluhurku, di batas kesadaran kolektif dan personalku, di ambang ketaksadaran yang bagai fatamorgana—mengantarku kepada ekstase peniadaan diri yang lebih absurd—yang kucoba-kejar dengan berlari kecil, hampir terkencing-kencing. Di sanalah lalu aku berdiam, bergerak tanpa arah, menunggu tanpa harapan, menangis-menyesali diri, lalu tertawa: haha, aku benar-benar lupa!
Rumahmama, pengujung mei 2009
Lupa.
Lupa..lupa..lupa…, lupa lagi liriknya…
(hehe… kayak lagu yang sering ditirukan anakku…)
Manusia memang makhluk pelupa sesuai unsur dari katanya, ma dan nusia.
hehehe..pendapat beberapa ilmuwan..hidup hanyalah partikel2 acak yang sebenarnya sangatlah tak bermakna. Otaklah yang menyusunnya menjadi tawa..sedih..tangis..dll..dan sebagian besarnya ialah pengulangan.
wow..rasanya kecil kali makhluk bernama manusia
Ass,
karena kita punya lupa maka kita selalu mencoba mengingat, yang sebagiannya memang sengaja untuk dilupakan karena lupa menjadi tempat yang terbaik.
Assalaamu’alaikum..
Ternyata anda bukan seorang pelupa. Malah kuat ingatan untuk membuat refleksi diri yang amat baik bagi renungan diri sendiri juga muhasabah buat pembaca lain. Sesungguhnya manusia adalah makhluk pelupa. kerana itu kata dasar manusia adalah “nasiya” bermaksud pelupa. Ada ketika minda kita tidur dan pengsan atas sebab kelalaian kita sendiri. Semoga Allah swt sentiasa memelihara kita dari sifat lupa ini. Salam hormat selalu.
Lupa
…….
…….
…….
jadi lupa juga apa yg hendak dituliskan.
Mudah-mudahan anak bini kada dilupa jua walai…
mana bukunya wal ?
YUpZz setuju banget dengan SQ
Hidup memang hanya perlu pengulangan
Dan apa yang kita rasakan sebenarnya tergantung dari kita,dari pikiran kita sendiri.
Nice post kang
Salam kenal
salam kenal!