CERMIN KERUH KOLEKTIFITAS KITA
Oleh: Raudal Tanjung Banua
Kegembiraan utama mengiringi terbitnya buku cerpen Hajriansyah, Angin Besar Menggerus Ladang-ladang Kami (Framepublishing, 2009) bagi saya adalah munculnya cerpen-cerpen yang artikulatif di ranah sastra mutakhir kita. Di tengah kecenderungan cerpen Indonesia yang mulai bertele-tele dengan hasrat eksplorasinya, dramatik yang dibuat-buat atas nama eksprimentasi dan bahasa yang diindah-indahkan demi rekreasi bahasa, maka manusiawi sekali kalau kita merindukan cerpen yang wajar, alamiah. Sudah cukup sesak kita diharu-biru cerpen yang mengejar sensasi dari latar mall-metropolitan; tokoh yang wangi, jumpalitan, mati dan hidup lagi; alur yang zigzag nir-logika atau kalau tidak sedingin sinetron-telenovela; dan semua itu acap terbungkus kemegahan bahasa, yang berkelok-liku, penuh irama, namun sebenarnya gerowang. Dan tema? Kau akan dianggap ketinggalan jika tidak menyentuh kamus dan kosa kata modernitas, semisal wacana feminisitas dan seksualitas!
Sinyalemen ini bukan subjektif saya, karena setidaknya anda bisa juga mengutip langsung pernyataan dan kenyataan yang digambarkan sejumlah pengamat tentang cerpen kita kini yang ”merayakan klise massal” (menurut Triyanto Triwikromo), “cerpen yang kehilangan tokoh,” (Agus Noor), “keindahan bahasanya sebatas buih dan busa” (Joni Ariadinata), “akrobat kata-kata” (Hamsad Rangkuti), atau “cerpen gumam,” istilah saya.
Maka, wahai para cerpenis Budiman, “bermegah-megahan dengan bahasa, sesungguhnya telah melalaikan kita dari tema”! Ya, kita kehilangan pluralitas tema di tengah begitu melimpahnya khazanah budaya, wilayah dan etnografi yang luas, strata sosial yang jumping serta persoalan bangsa yang berlarat. Semua itu tentu tidaklah haram untuk diangkat ke dalam cerita, tinimbang hanya bercanggih-canggih ria di hadapan nama-nama dan objek-objek personal yang tidak saja kehilangan konteks sosialnya, namun juga mengasingkan sastra ke menara gading tematik dan estetiknya.
Tapi tunggu dulu! Tentu tidak mengapa pula mengolah hal-hal kecil dan personal tanpa harus mengoarkan pretensi bahwa sastra mesti steril dari pesan sosial. Cukuplah menggarap hal-hal kecil dan personal itu dengan baik dan sewajarnya, maka niscaya ia tetap akan jadi kaca benggala pergulatan seorang manusia—sebagai anggota komunitas atau representasi masyarakat luas.
***
Sesungguhnya, dalam pusaran arus inilah saya ingin melihat cerpen-cerpen Hajriansyah lebih lanjut. Hal yang paling tampak menarik perhatian pertama-tama adalah soal tema yang diangkatnya. Secara garis besar ia bergulat di antara dua wilayah tematik—soal-soal besar dan soal-soal personal—secara ulang-alik.
Pertama, ia menggarap tema-tema “besar” yang sudah jelas memiliki korelasi sosial setidaknya dalam konteks kolektif, misalnya kultur masyarakat sungai dengan pola tani dan dagang yang mereka jalani. Ini bisa disingkap setidaknya dalam cerpen “Sungai-sungai yang Membeku di Kepalaku” dan “Angin Besar Menggerus Ladang-ladang Kami”. Ada juga sistem kolektifitas yang dicerminkan dari kehidupan seorang seniman tradisional, dalam “Panggung Terakhir Seniman Tua”, atau ritual politik Nasional semacam Pemilu, yang menghadirkan akhir tragis seorang caleg dalam “Ia Rebah Memegang Lambungnya”. Nilai kolektifitas ini juga terendus dalam cerpen “Pelukis-pelukis Kesepian”, di mana para pelakunya hidup di antara kolektor, galery dan limpahan uang, namun terkungkung kuasa pasar yang absurd. Tidak aneh, Hajrin yang notabene seorang pelukis itu berani menerakan kalimat tragik “pelukis-pelukis kesepian” di sini.
Bagaimana sistem kolektif itu mempengaruhi tema besar Hajrin? Mari kita singkap misalnya lewat cerpen “Sungai-sungai yang Membeku di Kepalaku”. Berlatar pedesaan banua Banjar yang (pernah) hidup dan dihidupi sungai-sungai besar, Hajrin mengajak kita tamasya menyusuri “sungai masa lalu” sang ayah dan aku. Meski yang dimunculkan di situ tokoh ayah, namun sungai itu sebenarnya bukan hanya milik sang ayah, juga milik si aku yang pernah menghabiskan sebagian masa kecilnya di situ. Lagi pula, sang ayah maupun sang aku, merupakan representasi dari seluruh masyarakat banua, khususnya para penggalas dari Nagara atau anak-anak Banjar yang merasakan nikmat-segarnya aliran sungai.
Lewat narasi yang lincah dan mengalir—tanpa harus diindah-indahkan, tapi lantaran itu justru terasa menggugah—sungai masa lalu itu melintas begitu nyata. “Sungai di kotaku seperti jaring yang saling mempertautkan kota ini,” tulisnya, imajinatif. Dan terasa dramatik dalam renungan,”Apakah sungai-sungai yang mengelilingi kotaku ini, memiliki sejarahnya yang sedih?” Ini tentu saja pertanyaan retorik, sebab dengan menuntaskan cerita ini kita akan tahu betapa merananya nasib sungai-sungai itu kini: membeku-mampet, tertahan bersama genangan sampah yang meracuninya—hasil buangan manusia!
Drama tragik ekologi ini—sebagai pijakan kolektif—berlanjut dalam cerpen berikutnya. Meski merujuk ladang, sebenarnya latar utama cerpen “Angin Besar Menggerus Ladang-ladang Kami” yang kebetulan menjadi judul buku ini tetaplah sungai. Ini menunjukkan, bahwa kehidupan masyarakat Banjar tidak pernah bisa lepas dari ekologi sungai. Bicara ladang, tanah gambut, rawa-rawa, bahkan kota, pertama-tama adalah bicara sungai, dan itu tidak mungkin diluputkan dari kehidupan warganya.
Demikianlah, Uwak Tiar sebagai warga yang hidup dari ekologi sungai, gambut dan rawa, selalu ingat kecemasan uda-nya, Jarani, tentang datangnya “angin besar”—sebagai simbol perubahan—yang menggerus ladang-ladang sekitar. Perubahan itu menggilas ekologi yang setia mereka tempati, terutama dengan datangnya mesin-mesin raksasa menguruk lahan dan menambangnya. Namun, alih-alih menangis kalah, Uwak Tiar yang tidak memelihara kecemasan uda-nya itu, memiliki strategi lain untuk memahami perubahan. Ia ridla sembari terus berbenah. Dan atas sikapnya itu, ia justru muncul sebagai sosok yang “menang”. Lewat diskusi dan percakapan kooperatif bersama anak-anak muda yang senang bertandang ke rumahnya di bantaran sungai, Uwak Tiar menunjukkan sikap dinamis manusia Banjar dalam menerima perubahan.
Menurut saya, cerpen yang bertolak dari ekologi sungai semacam ini merupakan kekuatan Hajrin. Ia tidak hanya menegaskan pentingnya nilai-nilai kolektifitas, namun sekalian sanggup menjemput khazanah yang berharga dalam literatur kita. Meski kita tahu, karya-karya yang berpijak di ranah tani dan pedesaan semacam ini boleh jadi akan dianggap “ndeso”, tidak “modern” seperti halnya yang ditulis oleh sebagian besar cerpenis terkini yang tergila-gila setting kehidupan metropolis yang kenes—dan sebenarnya hanya sok modern.
Saya berharap, Hajrin tidak tergoda latah. Ia tetap lebih menarik jika terus dengan tekun menyusuri tanah huma, ladang dan sungai-sungai, dan dengan cara itu secara tidak langsung ia menghidupkan kultur tani yang pernah dirintis dan hadir dengan begitu memikat setidaknya dalam karya-karya N.H. Dini, Wildan Yatim, Darman Moenir, Fadoli Zaini, Ajamudin Tifani, D. Zuhaidi, Korrie Layun Rampan atau Ahmad Tohari. Belakangan, oleh serbuan tema-tema urban dan metropolis, satu eksemplar terbesar dari realitas masyarakat Indonesia nyaris terlupakan. Para cerpenis seolah baru merasa bagian dari siklus kesastrawanan ketika (ikut-ikutan) menggarap tema-tema kota, tabu dan tubuh, yang sayangnya juga diambil sisi-sisi perayaan belaka.
***
Sisi tema kedua yang dijelajah Hajriansyah ialah tema-tema personal dan domestik namun tidak kehilangan konteks sosialnya. Simak misalnya cerpen “Monologila”, “Suatu Hari Menari”, “Lukisan Surga”, “Suara yang Datang Kemudian” atau “Ada Buaya di Keluasan Sana”. Dalam cerpen-cerpen ini, “aku” hadir sebagai tokoh yang ganjil dan aneh—bersoliloqui, berhalusinasi, berobsesi dan bermimpi—namun sebenarnya tidak semata lahir dari alter-ego an-sich. Banyak persoalan sekitar yang dibawa masuk atau membawa sang tokoh masuk, ke dalam tindakan dan motif-motif kelakuannya.
Lihatlah si aku yang larut bersoliloqui, memiliki keterkaitan persoalan dengan “rumah yang menjadi lebih sumpek, mertua yang menyuruh bekerja, dan seterusnya” bahkan bicara juga kehancuran Irak akibat invansi imperialis modern! Begitu pula si aku yang menari. Meski berlangsung pada tataran halusinasi, tapi ia tak berangkat dari kekosongan kosmos dan realitas. Ketahuilah, itu strategi cerdik pengarang sebagai pengantar sakratul-maut bagi seorang warga seperti aku—dan banyak aku yang lain—yang tinggal di bantaran kumuh, didera hujan, lalu dipusar arus sungai. Impian akan tarian menjadi parodi yang pedih, sebab si aku akhirnya tak lebih korban keganasan luapan sungai. Tarian merupakan parodi bagi “ritual urban”, ketika jawatan berwenang tak peduli. Dan inilah puncak mistis tarian aku, “Ia menari, berputar begitu masyuknya. Ia menari sendiri. Dan hujan yang deras, setiap tetes airnya, memutarinya, memusarinya….”
Dalam “Seseorang Pergi Jauh”, “Lukisan Sorga”, “Kau tak Peduli Lagi” atau “Suatu Hari di Kotamu”, persoalan-persoalan domestik muncul dengan gamblang. Lewat narasi yang lincah atau percakapan yang bernas, berbagai soal didedah. Tahulah kita bahwa soal-soal keluarga atau rumah tangga, sesungguhnya tak steril dari sistem besar yang melingkupinya. Udin, seorang pegawai rendahan ekspor-impor di Kalimantan, menurutkan “mimpi-mimpinya” untuk pergi dari rutin hidup sehari-hari; barang kreditan yang menumpuk, gaji yang dipotong saban bulan, dan seterusnya. Kepergian itu, betapa pun ganjil dan anehnya, sebenarnya berhasil menyematkan eksistensi paling otonom pada seorang Udin. Ini paralel dengan eksistensi yang hendak dibangun Iwan Simatupang dalam cerpennya “Tunggu Aku di Pojok Warung Itu,” di mana eksistensi sang tokoh dibangun dari kesetiaan penantian.
Dalam “Lukisan Surga”, si aku yang pelukis bertemu seorang tua tukang sapu jalan yang dulunya lelaki baik-baik, hidup dengan keluarga bahagia, namun terlempar ke jalanan karena soal pembagian harta-benda. Pun si aku yang “berselingkuh”, masih bisa dengan elegan berbincang tentang banyak soal dan risalah sosial yang membuat percintaan tidak semata berakhir nostalgis, namun mengisyaratkan relasi sosial yang rawan dan tragis (“Kau tak Peduli Lagi” dan “Suatu Hari di Kotamu”).
Demikianlah, cerita Hajriansyah berpusar di antara kolektifitas dan personalitas, namun saling mengisi. Yang kolektif tidak mematikan suara personal, sebaliknya yang personal selalu memiliki relasi dengan kolektifitas. Hubungan timbal-balik semacam ini niscaya bisa menjadi modal kreatif untuk saling menguatkan motif-motif perkisahan. **
(Raudal Tanjung Banua,
Koordinator Komunitas Rumahlebah dan Redaktur Jurnal Cerpen Indonesia, tinggal di Yogyakarta)
Ass.
Mungkin, lebih tepatnya di tengah kolektifitas dan personalitas, tidak mengarah pada satu sisi secara jelas dan nyata; juga tidak begitu jelas antara soal besar dan personal.
Masihkah perlu dipertentangkan tema kota dengan tema tani untuk membaca cerpen2 Hajriansyah dalam buku Angin Besar Menggerus Ladang-ladang Kami?
Assalaamu’alaikum…
Semoga saudara Hajriansyah akan terus maju dan berjaya dalam bidang yang indah dan penuh seni ini. Hanya mereka yang berjiwa “rakyat” mampu menterjemahkan apa yang berlaku dalam dunia sasteranya.
terimakasih atas doanya. semoga demikian juga kepada ibu siti fatimah.
minta bukunya lah…
akhirnya k wrnet jua nah imbah diingatkan smlam, hehehe…
tpaksa satumat mninggalakan bini nang lagi manunggu balanai pacah…
Selamat atas terbitnya buku kumpulan cerpennya. Kalau ke bjm, akan saya sempatkan membeli.