HIKAYAT PENGAYUH PERAHU
1
Subhanallah!
Berkilauan cahaya dari lembah itu
Yang memancar dari balik pegunungan meratus yang meliku
Sungai-sungai berkelok menyapu pasir
Yang terus naik ke hulu, lalu luruh kembali lewat tanganmu
Ribuan bakau menjagamu
Memagar atas gelombang yang bisa saja naik ke rumahmu
Ulin-ulin raksasa tiang tegak memaku jantungmu
Jangan habis kau tebangi—nanti hilanglah jantungmu!
Lalu kau tak punya hati lagi
Berlari ke sana-sini
Tak punya arti
2
Masyaallah!
Inilah kampungku, lembah berliku habis jantungku
Sungai-sungai mendorong perahu, terus, ke laut biru
Dan—ah, kualat aku!
3
Senja tiba
Merah saga
Azan menggema
Rumahku… rumahku; tak terjaga.
Astaghfirullah!
60209
KOTA-KOTA YANG MENYUSUT
BERSAMA PANAS MATAHARI
Kota-kota menyusut dalam panas yang hebat
Aspal hitam lebih pekat
Hujan turun lebih lebat
—meski hanya sesaat
Lalu semuanya lindap
Mengering dalam naungan awan yang berarak
Berarakan lewat
Berarakan lewat
: kita rupanya salah memeridiksi cuaca
Kota-kota dibangun di atas lembah-lembah yang meninggi
Sementara di hulu gunung dan bukit makin merendah
Merendah dan terus berlubang
Dipangkas untuk meninggikan rumah kita
yang terkena banjir tahunan
yang tenggelam dalam tebing yang berlubang
di tepi yang dangkal aku berenang
kukira aku telah tenggelam
ketika tambun merasuk dalam mimpiku
membuatku memandang tepi sungai ini
laut tak berkedalaman
oalah, ternyata aku hanya kesemutan!
inspirasi dari Loksado ya wal?
ane hanya agak “sedikit terganggu” dengan repetisi-repetisi seperti: jantung (puisi pertama), tenggelam dan berlubang (puisi kedua).
jangan sarik wal lah, heheee…
puisi ni ditulis berbulan-bulan yang lalu. tapi mungkin, karena terbawa semangat “bejalanan ke loksado” semalam, lalu kupostingkan. jadi, masih ada keterkaitannya.
repetisi bagiku semacam penegasan, dan terasa indah bunyinya, jika tepat penempatannya. mungkin bagi ente kurang tepat, jadi terasa mengganggu.
dijamin kada sarik, wal ai. trims untuk apresiasinya.
Assalaamu’alaikum…
Setelah membaca puisi ini. Tampak hebat kata-katanya. Ampun dan maaf. Saya tidak dapat mentafsir maknanya mengikut kefahaman saya. He..he..he..Maklumlah, ilmu firasat saya belum sampai ke puncak jaya. Waduuh..hebat betul orang sastera apabila mengukir kata-kata. Penuh tersirat dengan pengertian. Teruskan kejayaan saudara.
diinterpretasi secara pribadi juga boleh. tapi, memang kadang ada kesulitan juga bu, ya? karena meski serumpun bahasa kita, ada hal2 yg berbeda juga dalam bangunan katanya sehingga menimbulkan tafsir yg jauh beda. trims bu siti fatimah.
Amun menurut Teori makro ekonomi, puisi ini baguus banget.
Wal, mana bukunya wal ?
teori makro ekonomi? bagaimana mungkin…
datang ke kantor mun hdk buku
manteb puisinya!
Menikmati dengan amat sangat …
Hallo … soal gramedia bisa saya bantu … tapi kalau ngikut saya ntar rumit penagihannya … saya ngak punya jadual reguler nagih … ada yang dua tahun baru ditagih … terserah sampeyan ajalah …
ini saya istilahkan sebagai green poem, mas hajri. istilah bisa-bisanya saya aja sih, tapi rasa-rasanya tepat. hehe…
keren! terutama sajak kedua.
Ass.
Hikayat Pengayuh Perahu yang menyusuri Kota2 yang Menyusut Bersama Panas Matahari
ya, kurang lebih demikian.
mas, saya tak bisa menikmati baris terakhir. kalau yang lain, nikmaaaaaat!