beberapa waktu yang lalu (16-18/6/09) saya, dan seorang kawan dari jogja, jalan-jalan ke hulu sungai, tepatnya kabupaten hulu sungai selatan, kalimantan selatan.
menjelang sore kami berangkat dengan blazer tua saya. sampai di kota kandangan–ibukota hulu sungai selatan, seketika azan maghrib menggema. kami menginap di rumah salah seorang tokoh budaya di kota itu, yang telah kami telepon sebelumnya. malam itu kebetulan sedang ada shalawatan di kampung ka ibuy (tokoh itu, kami memanggilnya). jadilah malam itu, diskusi budaya kami, diiringi puji-pujian kepada nabi saw dan juga kepada syekh seman al madani (tarekat syamaniah).
paginya (17/6), sekitar jam 9 kami berangkat ditemani seorang kawan dari kandangan yang dititipi ka ibuy untuk menjamu/ mengantar kami, karena beliau harus ngantor, naik ke loksado–sebuah perkampungan dayak meratus di lereng meratus (gunung kantawan: semoga benar). perjalanan naik-turun-berliku kami lewati; jurang di kanan kiri. menjelang sampai di tanuhi–sebuah objek wisata air panas, sebelum loksado–di sisi kanan kami gunung kantawan, hijau, menjulang begitu indahnya; entah apa yang ada di atas sana.
niat kami pagi itu, adalah bamboo rafting. kami sempat berhenti di tanuhi untuk mencari joki bamboo rafting yang sudah dipesankan ka ibuy sehari sebelumnya: acun (entah sebuah nama dayakkah?) ternyata acun sudah di loksado. dan kami pun langsung mendaki ke sana. perjalanan dari kandangan ke loksado kurang lebih satu jam-an, dari tanuhi ke loksasdo kurang lebih seperempat jam-an. di loksado jalan aspal berakhir, selebihnya adalah jalan kampung yang kecil, dan mungkin terus mendaki.
lanting–bambu penjelajah yang diikat menjadi semacam perahu–telah siap. saya dan teman dari jogja naik bersama acun si joki. teman dari kandangan tak ikut naik lanting, karena ia harus membawa mobil turun lagi ke tanuhi untuk menyambut kami di sana; ia sudah sering naik lanting loksado, sehingga tak perlu “seudik” kami yang orang kota.
air sungai amandit yang membelah kandangan dari hulu meratus sedang pandit. saat ini musim kemarau, dan bebatuan tampak lebih nyata di kelak-kelok sungai. beberapa ikat bambu yang telah dipotong kecil beberapa ruas diikatkan, menjadi semacam bangku untuk duduk menikmati pemandangan, di antara jeram yang menggoyang-goyang kestabilan kami.
melintasi jeram yang terjal dan yang melandai, melintasi lubuk dan dangkalnya sungai, menghampiri pemandangan indah yang menghijau–di antara pohon-pohon tua raksasa, tampak begitu kecekatan dan kelincahan tangan acun menjadi sangat kami andalkan. luar biasa! ketekunan dan pemahaman, itulah isyarat yang kutangkap dari perjalanan yang kurang lebih dua setengah jam itu.
di sela perjalanan aku sesekali merenung. temanku yang “keudikan” (hehe, sorry dal), yang menikmati perjalanan dengan menceburkan dirinya ke sungai, sesekali naik ke lanting jika sampai di lubuk yang dalam, yang lebih bijak dariku, sesekali berceloteh–dan itu sungguh menginspirasiku:
“inilah dunia kita yang penuh dengan euforia, pesta-pesta perayaan yang segera berlalu,” katanya menunjuk sungai yang begitu jernih memperlihatkan pasir dan batu.
“dan inilah lubuk tempat bermenung, sebuah kedalaman di mana arus berputar menggali lebih dalam,” katanya di saat yang lain.
“dan itulah jalan kesunyian, tempat segalanya tetap berproses dan mengalir meski tak harus dikenali orang banyak.” kali itu saat kami melintas sungai kecil yang mengalir di antara pohon-pohon besar.
“dan itu, lihat! akar memeluk batu!” subhanallah.
dua setengah jam cepat berlalu. temanku yang basah agak lamban naik ke atas dari tepi sungai di tanuhi. di atas, aku mengenali suara knalpot racing dari blazerku yang butut itu. teman dari kandangan menyambut kami, lantas meneruskan kami ke tanuhi; ke pemandian air hangat.
teman dari jogja merendam tubuhnya di kolam air panas, melancarkan peredaran darahnya yang berlari semenjak berenang di jeram yang berliku tadi. aku dan teman dari kandangan, dan acun mengisi perut yang agak kosong dengan mie teh panas; ya, hanya ada mie di kantin komplek wisata tanuhi itu. teman dari jogja naik, setelah berganti baju, untuk menikmati mie dan teh panasnya, giliran aku merendam kaki, sebatas betis, di kolam air panas. ah, nikmatnya perjalanan hari itu!
pulang, kami langsung menuju negara–kampung ayahku, sekitar 40km dari kandangan menuju hulu sungai utara, dan masih di wilayah kabupaten hulu sungai selatan–untuk melihat kalang hadangan (kerbau rawa) yang terkenal itu. teman dari kandangan turun di depan rumahnya di kota itu, tinggal aku berdua teman dari jogja terus meluncur ke rawa-rawa.
sore itu kami masih sempat menyaksikan dua ekor kerbau rawa yang menaiki kalang (kandang)-nya. di antara ilung yang menyabak dan rawa-rawa kami menyaksikan indahnya langit berwarna jingga kebiru-biruan. subhanallah–yang maha indah!
pagi berikutnya kami terpana tumbukan banyu, sebuah tempat bertemunya arus sungai batang alai dari hulu sungai tengah dan arus sungai negara dari hulu barito yang mengalir (mungkin) ke banjar, atau marabahan. di tumbukan banyu, pada sekeping ingatan tentang masa muda ayahku, segalanya mencair. teman dari jogja menemukan ceritanya, dan aku menemukan rumah leluhurku.
indahnya! indahnya!
… pun meski aku sudah dua kali ber-bamboo rafting di Loksado (tiga dengan di arus liar, Citarik, Sukabumi), rasanya arus-arus itu selalu saja beriak memanggilku kembali– setidaknya di ingatanku. Dan selalu saja, yang pertama adalah yang paling berkesan. Kala bambu kaki terkalang batu, tak bisa keluar. Akhinya kami harus bermalam di atas tebing. (Hai Novi — satu cowok, satu cewek, kalian tentu tak bisa juga melupakan kenangan itu… Juga, satu teman kita yang telah menghadap-Nya)
indahnya! indahnya!
“Biat indah, kada bebawaan jua…!”
hehe…
@ Sandy : Siapa Novi wal ?
jangan dibahas…
asyik juga “mengikuti” perjalanan ini, ada perasaan yang begitu asing dalam pemaknaan dan berjarak, dan imajinasi yang tersimpan terdorong untuk selalu terdiam menikmati alam hulu sungai.
syukurlah bisa mengajak anda “mengikuti” perjalanan ini.
Andai paragraf terakhir menghentak sejak paragraf pertama, mungkin aku pingsan
Mmbaca cttmu, wal, ingat knangn2 di loksado dulu. Sdh brapa lamakah? Sebulan? Setahun? Kpn2 ingin balik, naik2 ke puncak kantawan sambil mmandang pucuk2 merah kayu manis. Atau berendam di tepian kampung mandahin, sambil mrasakn gigitn mesra ikan2 kecil sungai amandit…