Ada satu peristiwa yang seringkali memancing emosi kita. Saat di mana kita sebagai manusia dihadapkan pada rasa takut yang bersifat personal. Dalam banyak kesempatan kita seringkali tak peduli pada rasa takut, karena keadaan sosial yang membuat kita merasa aman; dikelilingi keluarga, teman, pendukung, dan orang yang kita percayai. Dalam banyak kesempatan kita sering menghindar dari rasa takut yang bersifat pribadi ini; dengan logika yang sederhana ini kita menjaga zona aman pribadi agar dapat hidup tenang dan nyaman. Padahal rasa takut adalah sifat yang sangat manusiawi, mencerminkan sifat dari segala yang hidup. Rasa takut mencerap segala daya yang kita miliki dan membuat emosi menjadi labil at the moment. Peristiwa ini, yang seringkali hadir di titik nadir, membuat perasaan tak nyaman dan membuat kita rentan terhadap masalah-masalah yang datang kemudian. Namun ada ketakutan yang begitu kongkret dan berakibat begitu dalam terhadap kehidupan seseorang.
Seperti halnya ketakutan yang tumbuh sedari kecil terhadap hal yang abstrak, semacam luka atau setan. Yang abstrak kemudian menjadi nyata. Kita memeliharanya di pikiran kita, dan memvisualkannya secara nyata pada bentuk-bentuk, pada orang asing, pada daun gugur, pada suara, pada kabut, dan lain-lain. Hal-hal ini, bentuk-bentuk ini, kemudian memenjara akal kita. Menutup kesadaran batin kita. Dan membuat kita begitu reaktif—berlebihan.
Sementara keinginan tumbuh seiring ketakutan. Ingin melihat hal-hal baru, mencoba menempuh perubahan, berharap kebaikan yang lebih, ingin maju, dan lain-lain. Ketakutan berdiri di antara keinginan-keinginan itu. Memberi kita perasaan-perasaan berlebihan, prasangka-prasangka, dan menyediakan dinding setebal batu—yang ringkih sebenarnya. Maka, kita tak akan mampu jika ketakutan memenangkan hati kita. Membuat keterbatasan itu begitu nyata. Lalu tumbuhlah trauma, menjadi kanker yang menggerogoti energi murni kita. Memperpendek napas kita. Lalu kita diam dan berbalik ke belakang. Sampai di sini, kita pun menyerah pada nasib. Menyandarkan hidup pada keterbatasan.
Tapi ada yang lebih besar dari rasa takut, yang membuat seorang pahlawan begitu dikagumi. Kecemasan untuk kalah; untuk menyerah pada keterbatasan, dan motifnya macam-macam. Ada yang merasa diamanati tanggung jawab yang besar. Ada yang merasa karena kewajiban moral. Dorongan jiwa. Cita-cita. Dan rasa malu. Malu menengok ke belakang. Malu direndahkan. Malu menjadi terbelakang. Lalu, rasa personal itu menyelimuti orang-orang.
Ketakutan yang dilampaui akan menginspirasi orang-orang. Keberanian menular, karena rasa takut benar-benar memenjara semua orang. Terhadap apa saja!
Bahkan hal yang teramat remeh seringkali menjadi inspirasi yang besar. Setiap orang ketika melihat keberanian akan menjadi berani. Berani untuk melampaui diri sendiri. Meski hal ini bersifat temporer—hanya saat ada orang yang sama berani—tapi jika dipelihara terus-menerus akan benar-benar berguna. Karena ia menghidupi. Mengisi. Memenuhi. Memenuhi dada dengan semangat, setidaknya.
Maka, percayalah, ketakutan itu ada batasnya. Saatnyalah untuk berani, ketika rasa takut mencapai puncaknya. Puncak dari rasa takut yang dipelihara. Maka janganlah lari.***
Pebruari-Agustus 2008
rasa takut bisa juga berdamai dengan keadaan, dan yang sebaliknya membutuhkan keberanian yang lebih untuk mendamaikan keadaan dengan rasa takut.
Maka larilah jika kamu mempunyai keberanian untuk kembali pada rasa takut, yang sewaktu-waktu menyelinap di luar pikiran.
…rasa takut yang terus dipelihara bisa berubah menjadi singa!
Kada usah takutan walai, ada aja yang di atas..
Rasa takut boleh menjadikan kita bertambah berani. usah lari…terlalu laju degupan jantungnya..menambah sakit dan takut tidak menghilang. Buat biasa aje.
Satu perkara yang sering saya mahu hindari dan takut……malah pengsan…jika melihat jarum suntikan….. waduuh belum sampai lagi jarum suntik ke lengan…sudah gelap dunia ini…he..he…kadang kala takut itu begitu melucukan.
sakalinya bisa jua takutan lah… waduh..
Pada taraf tertentu, ketakutan adalah anugerah Tuhan agar seseorang berhati-hati dan menjaga keselamatan dirinya.
setuju dengan komentar mas rasheed.
dan keberanian itu memang ternyata menular ya, mas hajri? namun ketakutan, syukurnya, memiliki daya tular yang lebih lemah dibandingkan keberanian. itu pengalaman saya. dan biasanya punya, di lingkungan penakut kita akan berusaha menjadi pemberani.
ya, ketakutan yang berlebihan adalah penjara.
ralat typos:
punya = pula
(makin tua nih, nulisnya udah bersalahan)