jumat (10/7/09), sejak pukul 07.30 wib kami mulai menyisir jawa bagian timur (surabaya) sampai ke ujung madura, (kabupaten) sumenep. perjalanan ini terencana begitu saja saat di atas pesawat yang kutumpangi dari banjarmasin menuju surabaya (sehari sebelumnya) melintasi laut, menampakkan pesisir yang indah dari balik awan yang bergeseran. tiba-tiba saja saya ingin ke madura, kampung halaman seorang teman.
ini perjalanan yang demikian singkat—3,5 jam perjalanan menuju sumenep, 2 jam di sumenep, dan 3,5 jam-an kembali ke surabaya—sehingga saya hampir tak dapat mengatakan apa-apa (detailnya) tentang madura, kecuali pesisirnya yang mengesankan saya.
dimulai dari surabaya, kemudian melintasi jembatan suramadu, yang baru saja dibuka untuk umum kurang lebih seminggu yang lalu. jembatan suramadu yang entah makan waktu berapa lama dan menghabiskan uang berapa banyak—dan kesangsian tokoh-tokoh budaya dan agama madura—ini setidaknya kemudian selesai dan mencatatkan dirinya sebagai jembatan terpanjang di indonesia (dan entah se-apa lagi): 5 kilometer lebih melintasi selat madura! jembatan ini cukup lebar dengan empat lintasan, dua yang cukup lebar untuk mobil-berlawanan, dan dipinggir-pinggirnya untuk sepeda motor. tiang utama begitu menjulang, tali-tali pengikatnya (pipa besi berdiamter 2 inci-an, atau lebih) berwarna orange membentuk garis repetitif yang indah dari kejauhan. di sepinggir jembatan, terutama di tengah-tengah jembatan, dituliskan peringatan akan kencangnya angin yang berhembus di sana: hati-hati! tarif—sebagaimana yang sering dikenakan pada jalan tol—untuk melewati jembatan ini rp. 30.000,- untuk mobil, dan rp. 3000,- untuk sepeda motor; harga yang lebih murah, sepertinya (karena saya belum pernah sebelumnya), dibandingkan feri penyeberangan yang antriannya, katanya, panjang dan lama—tentu pula karenanya menjadikan usaha penyeberangan feri menjadi sepi (dengan phk untuk puluhan atau mungkin ratusan orang).
lima kilometer lebih jembatan kami lewati dalam waktu kurang-lebih 10 menit dan kami masuk ke wilayah kabupaten bangkalan!
bangkalan, sampang, pamekasan, dan terakhir sumenep; empat kabupaten di sepanjang pulau madura yang, kata beberapa orang, menyerupai figur sapi—dengan sumenep di ujung sebagai kepalanya. saya masih mencari, kesan apa yang paling mencerminkan madura, dalam selintas perjalanan itu. ketika kami (empat orang: saya, anak saya, dan dua orang kakak saya, dengan mobil pribadi) melintasi pesisir bangkalan ke sampang terus ke pamekasan, yang melintas di mata saya adalah pohon-pohon bakau dan perahu-perahu kecil berwarna-warni. di camplong, kabupaten sampang, perahu warna-warni saling merapat-berjajaran; ada juga yang terselip di antara pohon-pohon bakau yang akarnya, seakan, nampak saling berpegangan.
perahu-perahu itu begitu memikat bagi mata saya, yang sejauh ini hanya dapat melihatnya lewat gambar/ foto atau lukisan saja. inilah perahu (ada yang bercadik dan ada pula yang tidak) yang pernah dilukis demikian indah oleh affandi, srihadi, dan banyak pelukis lainnya; yang diceritakan demikian menawannya sebagai yang mengantarkan cinta sukab dan hayati (sga); dan banyak lagi lewat cerpen dan puisi-puisi, dan esai sastrawan indonesia. sejauh yang saya amati (secara sepintas), ada yang kecil dan ada yang lebih besar, tapi semuanya dicat dengan penuh warna: merah, hijau, kuning.
kemudian, yang selalu (sering) juga saya lihat pada pesisir yang cerah di hari itu, tambak-tambak garam di kiri-kanan jalan. garam yang, mungkin, meningkatkan emosi pada stereotifikal orang madura itu, yang diekspor (juga mungkin) ke seantero indonesia raya. pasir putih dan bukit garam, dari jauh—dan dari lajunya mobil, sekira 60 – 100 km/ jam—nampak serupa.
pamekasan ke sumenep, ada banyak ladang (petak-petak tanah) tembakau. beberapa menyusup di antara tembok dan pekarangan rumah orang, dari yang masih—hijau—muda sampai yang daun-daunnya telah melebar dan cukup tinggi untuk siap dipanen. sempat juga terekam mata saya deretan tanaman unik (daun naga?) dan pohon buah ta’al (serupa pohon palem atau kolang-kaling?) yang tinggi: wow, indah berjejeran! lalu, ada pesantren al-amin, yang dulu salah seorang alumnusnya pernah menjadi ustadz saya di ponpes (pondok pesantren) darul hijrah, martapura.
memasuki sumenep, kami melewati gerbang propinsi yang berwarna hijau dan kuning, warna yang nampaknya mendominasi kota sumenep. sepanjang perjalanan saya terus ber-sms-an dengan teman di banjarmasin yang asli madura (sumenep) itu; terakhir ia menyarankan saya untuk menyicipi kaldu kikil dan apen atau urap parsanga. “makanan itu hanya ada di sumenep,” katanya, dan sungguh sayang jika saya melewatkannya—meskipun, hanya yang pertama yang sempat saya nikmati.
sampai di kota sumenep waktu shalat jumat hampir sampai. gerbang masjid agung keraton sumenep begitu indah dan tinggi, mengingatkan saya akan plengkung gading di yogyakarta—meski tak serupa, penuh ukiran berwarna hijau dan kuning. hari itu saya begitu ingin mendengarkan khotbah jumat dengan bahasa madura halus (tinggi)—seperti halnya yang sering saya alami di yogyakarta, yang khatibnya memakai bahasa jawa halus. senyatanya, dan ini cukup membuat saya kaget juga, khotbahnya disampaikan dengan bahasa arab; jadilah saya mengingat-ingat kembali kosa kata bahasa arab, seperti yang dulu sering saya dengar (dan gunakan) di ponpes masa kecil saya. pada interior masjid agung tercermin jejak keraton sumenep lampau: plafonnya papan-papan yang disusun, korsennya lebar dengan diameter cukup besar dan jendela dan pintu yang tebal, tiang-tiangnya (saya lupa menghitung jumlahnya) besar dan kokoh, di atas dinding paimaman ada sepasang pedang bersilangan, dan kaligrafi-kaligrafi tentunya.
seusai jumat-an, saya ingin melihat keraton sumenep—di seberang masjid agung, sesudah alun-alun. di pinggir alun-alun kami tak ingin melewatkan kaldu kikil, di sebuah warung kecil yang plangnya bertuliskan menu kuliner demikian. kaldu kikil menghangatkan badan, gurih dengan aroma jahe yang kental, disantap bersama lontong panjang dan kerupuk ikan tengiri.
memasuki area keraton kami disarankan ke museum keraton—yang cukup kecil—dulu oleh penjaga tak berseragam di posnya. membayar rp. 2000,- (kalau tak salah ingat), kami dapat menyaksikan qur’an besar yang ditulis oleh seorang pangeran, atau raja, atau ulama (saya tak begitu yakin, karena lupa) keraton sumenep tempo dulu; kemudian kereta (dua buah kereta, yang konon salah satunya atau duanya pemberian belanda) kerajaan; kursi dan meja tamu raja dulu; lemari kuno; dan lain-lain. keluar, kami langsung menuju keraton. melewati gerbangnya (keraton dan museum itu terpisah jalan), yang pertama kami masuki sebuah bangunan lawas yang difungsikan sebagai outlet penjualan kain khas dan souvenir-souvenir. kemudian, kami disarankan memasuki bangunan lawas yang nampaknya museum lagi, yang di dalamnya banyak peninggalan keraton, seperti cermin besar, keris dan senjata lainnya (termasuk mandau dari kalimantan), juga tulang ikan paus, dll. lagi, kami menuju serambi penyambutan tamu raja, berupa lorong pendek dengan kursi berjejeran di pinggir-pinggirnya, dan aula (atau yang semacam itu); terus keluar, ke taman sare (pemandian raja) yang indah dengan sebuah bale-bale (balai) tempat beristirahat. ada dua hewan peliharaan keraton, setidaknya yang saya lihat: burung merak dan rusa.
kami tak ingin berlama-lama lagi, karena harus pulang hari itu juga. sebelumnya saya sempat sms teman di banjarmasin, oleh-oleh makanan kering apa yang dapat saya bawa ke surabaya. kami meluncur ke depan rumah bupati, atas saran teman saya, untuk mendapatkan kerupuk ikan tengiri dll, di sebuah outlet yang menjual cemilan khas sumenep. cukuplah beberapa yang saya bawa. berangkat sekira jam dua siang, kami melaju dan sampai jembatan suramadu sekitar jam lima sore. di pinggir-pinggir jalan yang lebar, sebelum menaiki jembatan, banyak orang berjualan—dari goreng-gorengan, bakso, es kelapa muda, dll. kami pun berhenti sebentar, sekadar menyegarkan tenggorokan dengan es kelapa muda yang hijau.
azan maghrib menggema begitu kami melewati jembatan suramadu. langit senja surabaya dan jejalan motor dan mobil yang rapat menutup perjalanan ke madura. madura… madura, pesisirmu demikian indahnya!
Wow Madura! …. moga suatu saat bisa juga menyusuri pulau Madura
semoga… saya pun jika ada kesempatan lain waktu, ingin lagi berkunjung ke sana, bermalam di sana, singgah ke rumahnya sainul hermawan di pulau raas, seberang sumenep sana.
iriiii!!!
saya hanya sempat menyaksikan madura serta jembatan suramadu dari atas pesawat saat akan mendarat di juanda dari ambon tempo hari. indah, dan tulisan ini betul-betul merefleksikan apa yang terlihat dari ketinggian sekitar 10,000 kaki itu: pulau berbentuk tubuh kerbau, jajaran perahu bewarna-warni, jembatan panjang dengan dua penopang kokoh di tengah-tengahnya, dan pesisir yang dipenuhi tambak-tambak garam.
perjalanan yang pastinya sangat berkesan, mas hajri.
ya, perjalanan yang hanya kurang lebih sembilan jam-an itu memang sangat berkesan. ibu pun, satu hari nanti harus ke sana.
…” azan maghrib menggema begitu kami melewati jembatan suramadu. langit senja surabaya dan jejalan motor dan mobil yang rapat menutup perjalanan ke madura. madura… madura, pesisirmu demikian indahnya!”
…. dengar azan maghrib nggak mampir salat magrib dulu, wal? hehee…
sudah dikada’ wal ai. hehehe
Assalaamu’alaikum…
Maaf jika hadir selalu lewat dari masanya. Dalam kesempatan baik di bulan baik ini, saya menghulur sepuluh jari dari jauh untuk memohon kemaafan jika terdapat silap dan salah dalam mengutarakan kata-kata di laman menarik ini.
Juga ingin mengucapkan selamat berpuasa, selamat berbuka puassa dan selamat bersahur. mudahan ibadah kita mendapat rahmat dari Allah swt serta diampunkan segala dosa yang ada. Mudahan kita dalam kalangan hamba-hamba yang diredhai di sisi Allah swt.
Sedih dan pilu dihati kerana berbuka keseorangan dirantau orang. Redha dan pasrah dengan apa yang dilalui ini.Salam mesra dari UKM, Bangi.