pada kehidupan yang kita berjalan dan berpikir di atasnya, ada batas di mana manusia mesti mengukur dan menimbang segalanya, termasuk di dalamnya kematian. pada titik ini, adakah benar tentang keabadian, tentang mimpi-mimpi, tentang rencana dan kontrol atas segala taktis menyangkut masa depan yang lebih baik. lebih baik? sejauh mana manusia menafsirkan hari ini dan segala yang terjadi, kaitannya dengan tafsir kebaikan tersebut?
kematian yang runtun-beruntun di sekitar saya beberapa waktu terakhir ini membuat saya terjaga untuk sekian waktu, adakah kita dapat benar-benar merencanakan kebaikan atas diri kita sebagai manusia? nassem dalam bukunya black swan yang cukup tebal itu ingin meyakinkan kita, bahwa selalunya tak ada yang benar-benar dapat kita prediksi dalam kehidupan ini. maka ia mengajak kita menyelami kehidupan ini “sekali lagi”, peka dan responsif atas gejala-gejala–hanya sejauh itu manusia mampu dan berhak atas kehidupan ini (yang terakhir ini adalah opini saya pribadi).
inna lillahi… lalu, teman saya bertanya, apakah yang benar-benar kau miliki dalam kehidupan ini? entahlah, mungkin tak ada! hanya saja, peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar kehidupan ini, berkaitan dengan ihwal kematian, menunjukkan tanda-tanda yang mesti disikapi. satu usaha untuk satu masalah; masalah berikutnya datang lagi, kita pun berusaha lagi. ada yang berhenti sementara pada kebuntuan, lalu kita beralih ke masalah yang lain, selesai masalah ini kita kembali pada yang belum selesai sebelumnya, terus begitu… seperti kata orang tua, yang pernah kami ajak berdiskusi, “dari dulu sampai sekarang masalahnya seperti itu saja.” seperti itu dalam pengertian tak ada yang pernah benar-benar selesai. satu berganti dengan dua, sampai ke sembilan kembali ke titik nol lagi, lalu berjalan lagi….
saya mencoba memberi makna pada hidup saya. saya mencoba meyakinkan anda, meski anda juga “sedang” memberi makna pada hidup anda. pada titik mana kita tak berdaya kita pun bersepakat, saya mengikuti anda atau anda yang mengikuti saya. jika kita tak bersepakat, masing-masing dapat memilih jalannya sendiri. membuktikan diri hanya menguras energi, tapi kadang ada manfaatnya juga–setidaknya berkompetisi membuat kita dapat menilai, dan pengaruh nilai punya arti tersendiri bagi yang mengambang menjelang kematiannya: buih-buih di laut kehidupan.
ya, saya mungkin baru saja terjaga. hidup saya baru tiga puluh tahun, dan bisa saja besok saya mati. apa yang dipikirkan socrates beberapa abad yang silam, apa yang dilakukan disadari asoka ratusan tahun yang lalu, dan apa yang dilakukan temuuchin (jenghis) pada waktu yang lewat menginspirasi saya untuk mengatasi kekaprahan dari ketidaksadaran saya atas hidup saya. saya hanya mengimpikan hidup yang bercahaya, sebagaimana yang nampak di lintasan zenit yang tak terhindarkan oleh pandangan manusia. lalu saya melihat borobudur beberapa waktu yang lewat, dan ternyata sebatas itulah puncak kehidupan bagi mimpi seseorang yang diprofilkan sebagaimana bukit menoreh berbaring: puncak itu hanya batu, ternyata.
huuahh! tapi hidup belum berhenti bagi saya, dan saya berhak memeriksa gejala, bukan?
beberapa hari ini saya, dan beberapa kawan, begadang sampai pagi. kami berbagi pikiran tentang beberapa hal, salah satunya bagaimana memajukan kehidupan sastra di daerah kami. kami menandai pentingnya kaderisasi, pewarisan nilai-nilai. kami juga menyadari pentingnya kesiapan, kesiapan pada yang akan mewariskan sesuatu dan kesiapan pada yang akan diwariskan sesuatu. juga tentang jaringan, tentang tangan-tangan yang membentang saling berpegangan. mungkin dari sinilah ihwal kebaikan itu, meski kami pun paham potensi penyelewengan atas nilai-nilai selalu saja ada pada kehidupan. lalu, pada salah satu kesempatan itu setelah lelah berdiskusi, teman saya nyelutuk dengan setengah mengantuk, “pusiiing… hidup dari dulu kaya ini-ini haja!” hahaha, kami tak bisa menghindari naluri atas kelelahan ini….
24 september 2009
*innalillahi wa inna ilaihi roji’un, hari ini telah berpulang uwak saya dalam kesendiriannya (jauh dari anak-anaknya)
Assalaamu’alaikum…
Apa yang berlaku ada hikmahnya
Apa yang berlalu ada kenangannya
Apa yang tinggal buatkan sebagai bekal
Apa yang baik hendaklah diteladani
Apa yang buruk haruslah disempadani.
Sahabat… hidup ini indah
Seindah kasih yang dicurah oleh Allah swt
Daripada Dia kita datang, kepada Dia kita kembali.
Salam mesra ba’da aidil fitri dari saya di Sarikei, Sarawak buat sahabat dan keluarga. Selamat sukses menjalani kehidupan mendatang.
inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun.
mas hajri sedang dirudung kemalangan, dari ditinggal seorang kakak yang dikasihi kemudian menyusul pula uwak. kita memang hanya tamu, persis seperti mas hajri tulis mengenai sang kakak. ada jatah perhentian masing-masing di bumi allah ini.
mudah-mudahan yang sudah mendului mendapat tempat yang tinggi di sisi allah swt. amin.
inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun … semoga yang mendahului mendapatkan tempat yang tinggi di sisi Allah SWT.
Innalilahi wainna ilaihi roooojiuun..
Semoga arwahnya diterima disisi allah Swt. sesuai dengan amal baktinya.
Amin ya robbal alamiiin.