Jika menilik satu dekade dunia kesusastraan kita (di Kalimantan Selatan), maka ada rentang lima tahun yang cukup menggembirakan; setidaknya hiruk pikuk perayaan itu nampak sedemikian nyata—tentu saja ini hanya pada batas cakrawala yang dapat saya pandang. Setidaknya setelah berhibernase cukup lama, semenjak dunia puisi beserta kepenyairannya melindap sejak pertengahan 90-an.
Dimulai sejak 2004, saat event Aruh Sastra Kalimantan Selatan pertama mulai digulirkan. Berlanjut kemudian aruh sastra-aruh sastra berikutnya yang terus hadir setiap tahunnya, atas rekomendasi yang terjaga dari kalangan sastrawan kalimantan selatan kepada sistem birokrasi yang memang diharapkan dapat terus memfasilitasinya: memfasilitasi kepentingan dunia sastra yang beriringan dengan tumbuh kembangnya kebudayaan daerah kalimantan selatan. Juga perayaan-perayaan lainnya yang semakin turut meramaikan, dunia perbukuan pun—yang menghimpun karya-karya sastra (puisi, cerpen, novel, esai) sastrawan kalsel—semakin elegan dengan tampilan-tampilan yang semakin baik, tak kalah harat dari buku-buku yang terbit secara nasional dan banyak diproduksi di pusat sana, dicetak dalam tiras yang lebih banyak (sekurang-kurangnya 250 sampai 1000 eksemplar) dan dalam kemasan lebih rapi dan lebih baik, juga ber-ISBN.
Dunia kesastraan kalsel, setidaknya dari yang saya baca pada buku La Ventre de Kandangan, telah hadir sejak masa kesusastraan Pujangga Baru. Perlahan karya-karya pionir dari masa ini menghidupi kebudayaan menulis di kalimantan selatan, bahkan turut pula rintisan dunia pers kalimantan selatan dimulai darinya. Setidaknya dari sini pulalah orientasi keindonesiaan itu bermula, lalu karya-karya orang banua turut menyemarakkan kesusastraan nasional. Yang terasa sampai hari ini pengaruhnya adalah semangat meng”indonesia” itu begitu kental. Meng”indonesia” yang saya maksud adalah keinginan berintegrasi ke pusat yang pasang surut seiring zamannya. Meski sebenarnya di tingkat nasional sendiri terjadi pergeseran makna pusat itu seiring desentralisasi yang mengindentifikasikan nama seorang seniman atau sastrawan sesuai kota bermukimnya; seperti halnya pada tahun 80-an muncul pengidentifikasian “penyair kota” ini dan itu, dan event-event semacam “forum penyair kota” ini dan itu, dan sebagainya yang semacam itu. Lalu kemudian, pasca kota-kota sebagai identifikasi nama kepenyairan atau kesastrawanan seseorang, bergeser lagi ke komunitas-komunitas sebagai identifikasi seseorang. Hal ini turut didorong pula oleh wacana revitalisasi pedalaman yang “tak selesai” itu pada pertengahan tahun 90-an, sehingga sastra komunitas adalah kulminasi yang masuk akal bagi pertumbuhan kesastraan indonesia yang begitu “gemuk”, dengan luasan wilayahnya yang begitu besar.
Alhasil, sampai sekarang masih saja menggema keinginan-keinginan untuk diterima di koran nasional yang sebaran pembacanya lebih luas sebagai refresentasi dari media yang paling rutin (mingguan) menerbitkan karya sastra secara luas. Sampai di cakrawala ini saja terjadi kesenjangan yang begitu signifikan mengingat akhir-akhir ini begitu sulit karya—untuk mengatakan hampir tidak adanya—karya sastra dari sastrawan kalsel yang dimuat di media semacam koran nasional itu sebagai otoritas yang terlegitimasikan sedemikian rupa.
Saut Situmorang, seorang sastrawan Indonesia yang begitu geram dengan kanonisasi sastra, atau efek kanonisasi tersebut yang tidak adil, adalah orang yang paling getol berusaha menyiarkan kesalahan dalam kekaprahan yang menghegemoni hampir semua sastrawan yang termarginalkan dari efek kanonisasi tersebut. Ia pun dengan gagahnya menerbitkan Politik Sastra sebagai antitesis dari sikap sebagian kalangan seniman-sastrawan yang begitu takut berpolitik sehingga kemudian menjadi terhegemonikan sedemikian rupa oleh politik kalangan sastrawan tertentu yang lebih progresif mengklaim kanonisasi sastra sebagai otoritas mereka.
Nah, sifat terhegemoni semacam ini saya pikir adalah satu dari sekian masalah kesastraan di Kalimantan Selatan dewasa ini. Pertumbuhan karya-karya sastra yang begitu pesat, juga dengan mediasi penerbitannya yang semakin baik melenakan kita, sehingga kita merasa dalam batas cakrawala kebudayaan saat ini kita merasa sebagai di lintasan zenit yang bercahaya. Kenyataannya, dalam pertemuan-pertemuan nasional yang memediasi tukar-menukar pikiran dalam hal kesastraan perwakilan-perwakilan kita cenderung tak banyak bisa bicara; jika pun dilibatkan, maka kita lebih sebagai pelengkap yang menyatakan kemarginalan itu sendiri. Lihatlah, bahkan di event nasional Kongres Cerpen Indonesia V, yang kita sebagai tuan rumahnya itu, kita tak mampu bicara, kecuali keluh-kesah ketidakmampuan “berterima” di media nasional.
Ada yang menarik dari pernyataan Sainul Hermawan dalam satu esainya yang dimuat di dalam antologinya, Maitihi Sastra Kalimantan Selatan 2005 – 2007. Bahwa, menurutnya yang paling logis adalah “…mengembangkan sastra di tingkat lokal…. Isunya sangat spesifik dan karenanya tampak lebih kongkret dalam pengertian pengalaman estetis yang ditawarkan sangat dekat dengan kita.” Saya kutip lagi tulisan lanjutannya untuk memberikan gambaran atau tawaran, atau sindiran yang lebih jelas:
“Mengapa lokal lebih penting? Ia kecil, bisa dikelola dengan maksimal, tetapi pada kenyataannya justru tak bisa dilakukan. Bagaimana kita bisa berbuat besar jika melakukan hal yang kecil saja tidak bisa? Atau kita cuma bisa membesar-besarkan yang kecil?”
Hal “kecil saja” yang tidak bisa kita lakukan itu, menurut saya, adalah mereorientasikan kesadaran kolektif kita. Cakrawala kita begitu terbatas, nampak samar pandangan kita atas gambar-gambar yang melatarbelakangi dan melatardepani kita. Seyogyanya kita mulai “terbuka” pada cakrawala yang terbentang itu. Melihat dengan jernih apa-apa yang dapat kita tangkap dan berdayakan, bukannya membuat asumsi dan praduga yang hiperbolik—hanya karena hegemoni itu sedemikian kuatnya mewaris pada kita. Sudah saatnya pula rekayasa-rekayasa visioner dengan kaderisasi yang berkesinambungan kita lakukan, tak takut berpolitik dalam lingkup kekuasaan kita yang terbatas itu: Kesastraan Kalimantan selatan.
Budaya tutur-lisan, yang begitu terbatas, yang sedemikian lumus pada jisim kebudayaan kita, adalah batu sandungan yang mestinya kita loncati. Saatnyalah menulis dan saling mengkritisi, jika terlalu “keras” bisa diganti dengan kata mengisi, sehingga pendokumentasian karya-karya sastra yang sudah semakin baik menjadi lebih berharga lagi, tidak sekadar menjadi monumen kebanggaan yang labil, yang teronggok kering di rak buku entah milik sastrawan siapa.
Banjarmasin, September 2009
*Tulisan ini dibacakan sebagai refleksi budaya pada buka puasa bersama seniman dan budayawan Kalsel (Banjarmasin) oleh KSI (Komunitas Sastra Indonesia) cabang Banjarmasin, 12 september 2009 yang lalu. Juga, dimuat di koran Media Kalimantan, 15 september 2009.
Kalimantan Selatan haruslah dipandang sebagai pusat cakrawala, saat berada di dalamnya, bukan karena perasaan lokal (marginal), bukan juga karena dianggap kecil yang mudah dikelalo, ….. tapi karena dari sinilah memandang dunia.
Saatnya menulis dan saling mengkritisi … untuk melakukan lompatan yang tidak menghilangkan budaya lisan-tutur yang sebenarnya kaya dan terbangun dalam sikap kritis dan terbuka dalam kritik.
pusat cakrawala…: amin.
Selamat Iedul Fitri 1430 H
Mohon maaf lahir dan bathin.
Jika berkenan silakan mampir2 ke blog saya.
Terimakasih Sebelumnya.
sama-sama. ya, saya sering berkunjung ke blog anda. trims