minggu lalu (7 – 10/10/09) saya berkesempatan untuk kali pertama mengunjungi muara teweh, ibukota dari kabupaten barito utara, kalimantan tengah. sebuah kota kecil di antara liku-liku pegunungan meratus (?) sebelah utara. sebenarnya sudah lama ingin (dan beberapa kali mendapat tawaran dari keluarga saya yang ada di sini) ke sini, mengingat tempat ini adalah salah satu dari invasi dagang orang-orang dari kampung halaman ibu saya (amuntai), dan cukup banyak keluarga saya di sini.
keluar dari wilayah kalimantan selatan di hulu sungai utara, saya memasuki kabupaten barito timur (tamiyang layang), kalimantan tengah. jalanan mulai menanjak dari sini–dan akan terus begitu sampai ke ampah dan ke teweh. di sepinggir jalan cukup banyak gereja, perbandingannya dengan masjid/ langgar sekitar 6:2–kalau saya tak salah hitung. rumah-rumah di pinggir jalan itu adalah rumah-rumah kayu berkolong bawah–rumah panggung–yang tidak terlalu tinggi. cukup eksotik, mungkin, bagi orang-orang yang terbiasa dengan rumah berpondasi tanah dan beton (batu gunung).
saya berangkat bersama dua orang teman. tujuan utamanya mengantarkan seorang teman yang akan jadi hakim di sini, pindahan dari raha, sulawesi tenggara. kami berangkat dari rantau, kabupaten tapin, kalsel, dari rumah mertua teman saya–sebelumnya saya bermalam di sana, dari banjarmasin. perjalanan dimulai dari jam delapan pagi, waktu indonesia bagian tengah. memasuki muara teweh, tepat sebelum jembatan hasan basri, kurang lebuh pukul dua siang, waktu indonesia bagian barat. tentang perbedaan waktu ini, teman saya sempat berceloteh, ” terlalu maksa, biar sama seperti umumnya wilayah kalimantan tengah yang wib. kenyataannya waktu ashar tetap aja sama seperti di banjar, hehe…”
perjalanan ke teweh adalah perjalanan memudiki hulu (sungai) barito. tapi tidak seperti perjalanan orang-orang dulu yang benar-benar memudiki arus sungai, perjalanan sekarang adalah membelah gunung, karena tak mungkin melalui pesisir barito yang berkelak-kelok seperti ular itu. perjalanan orang-orang dulu perlu waktu berhari-hari lewat sungai, dengan kapal-kapal negara (sekarang pun masih ada kapal-kapal itu, dengan waktu yang masih cukup lama jika dibandingkan dengan jalur darat/ gunung). perjalanan itu benar-benar membelah gunung, karena mungkin terlampau sulit jika harus memapas lereng-lereng yang terjal bagi pemerintah. dan, yang dilalui adalah pepohonan dan ladang-ladang berpindahnya orang-orang manyan (?) yang sepi, kecuali di beberapa titik pemukiman mereka.
muara teweh adalah sebuah kota kecil. seperti umumnya kota-kota kecil di kalimantan (tengah) yang “diramaikan” oleh orang banjar, maka keramaian itu ada di pasar, dan umumnya di pinggir sungai–tepatnya, di pinggir sungai barito. kebetulan beberapa waktu ini musim kemarau akan berakhir. hujan mulai turun setiap hari, sebentar gerimis sebentar lebat; tapi hanya sebentar. batang sungai barito masih pandit, di bibir sungai gosong memanjang. sekilas melihat pasar dan sungai ini, saya terkenang pangkalan bun; ada jalan beraspal, tidak terlalu lebar, memanjang di sisi pasar menghadap sungai; ada pagar pembatas ke sungai yang memanjang, kira-kira sepinggang, dan dermaga kecil.
sedari awal, ketika diajak makan oleh keluarga saya setibanya di teweh, dikatakan bahwa kota ini dapat dikelilingi, seluruhnya, dalam waktu kurang lebih setengah jam. nyatanya, sebagai “orang baru datang” saya sudah hapal jalan-jalan kota ini dalam sehari pertama saja.
ketika malam, jalanan cukup lengang. awalnya saya kira karena malam itu gerimis saja, nyatanya malam-malam berikutnya begitu juga. ya, kota yang cukup kecil, kecuali keramaian itu ada di pasar blauran malam hari; ada warung-warung tenda makanan, penjual kaset-cd dan buku-buku pop islami, penjual pakaian yang digantungkan dengan hanger pada kayu-kayu reeng yang ditata, dan orang-orang berlalu-lalang memadati jalanan.
kawasan gedung pemerintahan ada di atas. dari bundaran bupati (maksudnya: bundaran depan rumah bupati, yang diseberangnya direncanakan pembangunan monumen/ patung pejuang teweh yang membantu pangeran antasari menghadang kolonialisasi belanda dulu, panglima batur) belok ke kiri, ke jalan a. yani. sepanjang jalan itu, yang nantinya akan membelok ke kanan ketika sampai di bundaran durian raksasa, bangunan-bangunan pemerintah: sekolah, billboard dengan gambar bupati mengangkat padi disaksikan pejabat lainnya dan wanita petani-dayak, kantor depag, billboard pemerintah lagi, kantor bupati, dll, dan bundaran lagi. ke atas lagi bandara beringin.
hari sabtu siang, saya pulang naik susi air. penumpangnya tiga orang, bersama pilot dan kopilot yang dua orang bule itu. naik pesawat kecil berkapasitas penumpang 12 orang ini seperti naik mobil atau bus saja, ketika gerimis lewat bulir-bulir airnya membias di jendela samping saya, begitu dekat. ketika melewati awan hitam yang gelap, pesawat berguncang layaknya mobil kami ketika melewati jalan sesudah ampah, yang rusak dan berkelok-kelok tajam, saat menuju teweh dua hari sebelumnya. saya hanya bisa menyandarkan badan, memejamkan mata, mencari titik nyaman di benak saya. untungnya, badai cepat berlalu, dan saya kembali dapat menikmati sungai-sungai yang berkelok-kelok meng-ular di bawah sana. selain sungai-sungai yang indah itu, hamparan hutan hijau luas membentang; sungai barito, dari atas, diapit hutan yang luas, di beberapa titik pemukiman penduduk (kampung) di pinggir sungai. itulah barito, hulu sungai barito, sebelah utara, yang sepanjang ratusan tahun teluk-teluknya dilayari armada dagang melayu: urang banjar….
satu kalimat yang paling kuhafal dalam bahasa manyan.. “anyu ka taru”
Pertamaxx lah nih kisahnya?
nah, apa artinya itu? lama tak terdengar berita nah, bro. kenapa blog ente, dihapuskah?
perjalanan yang dirasakan … dibayangkan hamparan hutan hijau luas membentang … beberapa titik pemukiman penduduk di pinggir sungai ….
artinya aku cinta padamu (diajarkan oleh salah seorang mantan hehehehe…) bukan d hapus bro, kemaren salah ketik url..
ooo…
Assalaamu’alaikum
Maaf, keterlaluan sekali saya kerana lewat hadir berkunjung ke laman saudara Hajrian. Wah… membaca perjalanan pengembaraan (kalau bisa saya katakan demikian) saudara menemani sahabat ke Kalimantan Tengah, begitu mengasyikkan. Bagai mata saudara meneliti penuh minat menyelusuri setiap lembah, jalan, susuran dan pelbagai lagi yang diwar-warkan dengan begitu teliti sehingga saya boleh membayangkan perjalanan itu. Saya cuba juga memahami bahasa yang digunakan namun masih banyak yang kurang difahami, namun saya cuba mengerti apa yang disampaikan.
Begitulah seronoknya saat kita dapat melihat tempat orang lain dan menjadikan pengetahuan kita bertambah luas. Lalu dikongsikan bersama orang lain. Sayang, tiada foto yang dirakam bagi menambah rencah indah tulisan saudara. ingin juga melihat pemandangan di sana.
Kita menduduki bumi Borneo yang sama tetapi masih banyak tempat yang saya tidak kenal. Mudahan minat melancung akan membawa saya ke sana suatu hari nanti. Salam hangat dari Malaysia.
ya, kita menduduki borneo yang sama, tapi saya masih belum sempat juga berkunjung ke tanah ibu. mudahan, suatu hari nanti ada kesempatan. salam hangat dari south borneo.