Sudah sedekat ini tahun 2009 akan berujung, belum ada kabar juga kejelasan penyelenggaraan event sastra tahunan, yang kini memasuki penyelenggaraan keenam, ini akan dilaksanakan. Belum adanya pengumpulan karya (jika akan dicetak buku kumpulan karya sastra Sastrawan Kalsel, sebagaimana lazimnya), plus yang terpenting undangan untuk Sastrawan Kalsel yang lazimnya sudah beredar sebulan (kurang-lebih) sebelumnya, makin menjadikan kekhawatiran event aruh ini akan “gagal” diselenggarakan di Kabupaten Batola, sebagaimana yang direkomendasikan pada Aruh Sastra Kalsel V di Balangan tahun 2008 tadi.
Aruh Sastra Kalsel, adalah sebuah perayaan yang digadang-gadang dapat menjaga tumbuh-kembangnya Kesusastraan Indonesia (baik yang bersifat nasional maupun lokal) di Kalimantan Selatan. Setidaknya, perayaan semacam inilah yang diharapkan dapat menjaga kelangsungan aktifitas bersastra di tengah kelesuan berkarya-sastra di Kalimantan Selatan beberapa dekade ini. Lomba penulisan karya sastra, pendokumentasian karya sastra sastrawan Kalsel sepanjang tahun yang berkaitan, pergelaran karya sastra, seminar dan diskusi karya sastra, pun ajang silaturrahmi tahunan Sastrawan Kalsel lazim difasilitasi di sini. Memang, sepanjang perjalanan Aruh Sastra Kalsel tidak semuanya “membahagiakan” aktivis sastra dengan banyak harapannya, tapi beberapa aruh terbukti telah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi, setidaknya, pendokumentasian karya sastra Sastrawan Kalimantan Selatan, yang efeknya kita harapkan dapat mengenalkan arti penting kesusastraan bagi masyarakat di Kalimantan Selatan.
Arti penting kesastraan bagi masyarakat memang tidak sesignifikannya arti penting politik dan keagamaan bagi masyarakat yang minat bacanya pun masih jauh di bawah standar masyarakat maju yang lebih “cerdas dan beradab”. Tapi, tanpa kita sadari secara langsung, kesastraan telah menelusup jauh ke bawah kesadaran kolektif masyarakat, memberikan pencerahan dan kemanfaatan yang lebih banyak lagi lewat rekam sejarah kondisi satu masyarakat di satu masa—lingkungannya, kondisi sosial-psikologis masyarakatnya, keberagamaan-keberadabannya, dll.—yang itu semua menginspirasi kita untuk menjadi masyarakat yang lebih baik ke depannya. Puisi, cerpen, novel, esai sastra (dan yang lainnya) telah menelusup jauh ke benak sastrawan, menginspirasinya untuk memberikan lebih banyak lagi kepada masyarakat pikiran-pikiran terbaiknya—atau kecemasannya akan realitas sosial, yang bisa saja menjadi kecemasan publik yang seyogyanya dapat “mencerahkan” itu. Mencerahkan, kongkretnya sebagaimana agama memberikan tuntunan kepada jalan kebaikan. Tapi, dapatkah itu dirasakan? Dan sudahkah dirasakan bagi masyarakat, khususnya di Kalimantan Selatan?
Aruh Sastra Kalsel, sekali lagi, digadang-gadang untuk menjawab tuntutan semacam itu; dan kelangsungannya sangat diharapkan oleh Sastrawan Kalsel yang menjadi subyek pencerahan semacam itu. Kini, dengan kabar yang tak jelas kapan penyelenggaraannya—sementara para Sastrawan Batola telah kadung menerima amanat penyelenggaraan aruh keenam lewat dewan keseniannya—bagaimanakah nasib konsepsi yang demikian dapat mewarnai tahun 2009 ini?
Dari perbincangan dengan beberapa aktivis sastra dan salahseorang yang biasa meudaki persiapan aruh sastra yang telah lewat, saya melihat permasalahan kesenjangan dalam penyelenggaraan aruh sastra, utamanya menyangkut motor yang biasa diawaki birokrat dan aktivis sastra. Hubungan yang diharapkan saling mengisi ini—terutamanya juga dalam pengelolaan keuangan penyelenggaraan aruh—seringkali berujung pada ketidaknyamanan penyelenggaraan aruh bagi para pesertanya (sastrawan, guru-guru sastra, pelajar dan mahasiswa). Maka, evaluasi terhadap hal-hal demikian perlu juga dibicarakan dalam aruh sastra kali ini (jika jadi terselenggara, atau jika tidak pada aruh berikutnya di Kabupaten Tabalong tahun 2010 nanti); atau jika tidak, kita harus berpuas diri saja dengan rutinitas yang menjemukan sebagaimana layaknya ajang kangen-kangenan satu bagian masyarakat—yang tidak memberikan pencerahan apa-apa.
Jika telah berpuas diri dengan apa-apa yang telah kita rayakan secara artifisial, maka bersiaplah dengan kebosanan yang akan berujung pada kehilangan. Toh, kita sudah terbiasa dengan perasaan kehilangan arti penting kesastraan sejak tahun 1920-an, sejak Kesusastraan Kalsel modern dipetakan “mengada”. Lalu, kita bisa saja menjalani hidup ini dengan rutinitas kerja sehari-hari yang semakin membosankan.
Terakhir, kesiapan menyambut sebuah amanat yang akan diberikan tak cukup hanya dengan ungkapan spontan lewat mulut saja. Juga, perlu komitmen yang teguh untuk segala persiapan yang akan dijalani sepanjang waktu setahun untuk terus berbenah, dan ini perlu didukung oleh lebih banyak khalayak yang peduli. Setidaknya, tulisan semacam ini pun saya harapkan dapat menjadi bukti kepedulian saya akan hal yang demikian: Apa kabar Aruh Sastra Batola?
Assalaamu’alaikum
Doa dikirim agar saudara Hajriansyah sihat dan bahagia di sana. Ketika membaca tulisan saudara di atas, mengingatkan saya kepada seseorang yang juga amat perihatin dengan dunianya.. seperti ada hubungan positif yang tinggi dan signifikan antara saudara dan dia… tentu sekali kerana anda berdua adalah sahabat baik (barangakali)… Siapa lagi kalau tidak saudara HE Benyamine… he..he..
Cuma yang berbeza adalah dunia anda berdua. Seorang dengan alam semulajadinya dan seorang dengan dunia sasteranya. Satu gabungan yang menguntungkan bumi Indonesia umumnya dan Banjarbaru khasnya. Yah… seperti biasa, membaca tulisan berat seperti ini, amat sukar bagi saya memahaminya… tapi saya faham bahawa saudara sedang melahirkan kebimbangan akan kemajuan aktiviti sastera di sana.
Seperti saudara HE.Benyamine… saya juga mengkagumi usaha saudara Hajriansyah kerana usaha hebat ini. Saya jadi bangga dapat mengenali dan bersahabat dengan anda berdua dan sesiapa sahaja dari Indonesia. Thanks for being my friend. Friend from Malaysia.
terima kasih doanya, semoga demikian juga bagi ibu: sehat dan bahagia.
Masih belum ada kabar ya bang?
sebenarnya ada–malahan dimuat di media kalimantan, tapi tak adanya kelanjutan dari berita itulah yang makin membingungkan. sementara waktu terus bergerak, tinggal satu bulan lagi dari yang dikabarkan di media kalimantan.
kabarnya baik (apapun adanya entah mengapa enaknya mengatakan baik), karena acara Aruh Sastra diletakkan sebagai kegiatan pada saat pelaksanaan saja, paling tidak tergambar dari tuan rumah (Batola) yang sudah merasa siap untuk melaksanakan meskipun tidak terlihat persiapan dan pemanfaatan waktu selama satu tahun berjalan dalam mendorong perbincangan tentang sastra dan kaitannya dengan berbagai hal dalam dunia banua ini.
Apakah keadaan ini hanya terlihat saat Batola sebagai tuan rumah? Untuk menjawab ini, cukup samar, karena bisa saja bahwa para sastrawan telah melakukan berbagai aktivitas sendiri-sendiri yang dapat saja dihubungkan dengan saat acara Aruh Sastra dilaksanakan, yang terkesan sangat bergantung pada kebaikan pemerintah daerah.
Kegiatan seperti Aruh Sastra, setahun sekali, yang kemungkinan dipergilirkan pada masing-masing kabupaten/kota dalam putaran 13 tahun sekali, memang tidak lepas dari peran pemerintah daerah, khususnya keberpihakan dalam pendanaan dan fasilitas pendukung lainnya. Namun demikian, bukan berarti para pihak (sastrawan, temannya sastrawan, kritikus, penikmat sastra, pekerja kesenian, dll) terlalu bergantung dengan tangan pemerintah, karena dalam hal keberpihakan tersebut tidak selalu menunggu kebaikan itu diberikan tapi harus dituntut dan terus menerus didorong betapa pentingnya kehidupan sastra khususnya dan kebudayaan secara umum.
Aruh Sastra … harus dipandang sebagai bagian dari kebaikan dan kepentingan bersama daerah Kalimantan Selatan.
ya, yang begitulah yang tidak dipahami para birokrat yang pegang uang. trims apresiasinya.
test … apa bisa masuk ya komen ini
ya, bisa.
mampir dari Jogja
aku juga berada dalam lingkar sastra KOMPARASI, dan menurutku belakangan ini memang mulai terlihat ketidakkonsistensian diantara rekan-rekan sastrawan. pertanyaan memang selalu muncul:
apakah sastra telah mati?
kalau memang demikian, maka peradaban Indonesia memang perlu untuk dipertanyakan kembali. sebab nilai keluhuran suatu peradaban dapat diukur dari tingkat kemapadan dan kedinamisan dari sastra baik tulis, lisan, maupun lukisan /dalam hal ini ada beberapa sastrawan yang menggunakan media lukisan atau pamflet seperti Rendra/. nach… semoga saja itu tidak terjadi kawan
tetap berpesa puisi, mari melukis cerpen, dan warnai hidup mereka saudara saudari kita dengan Novel…
Umar Hakim
KOMPARASI Jogjakarta
monggo, dab… trims apresiasinya.
Aruh Sastra … yang dapat dikatakan dilaksanakan dalam waktu 13 tahun sekali bagi kabupaten/kota untuk satu giliran, bila persiapannya hanya untuk acara Aruh Sastra saja (2-3 hari) dan tidak memanfaatkan perjalanan waktu yang satu tahun dalam menuju acara Aruh Sastra, seharusnya sangat menggelisahkan, karena memang yang terjadi lebih bernuansa kangen-kangenan.
(tadi ada juga komen apa … koq nggak muncul ya?)
tadi masuk ke spam, mas, tapi dah saya setujui.
puisi lun pernah masuk di Buku aruh yang tahun 2008, walaupun hanya masuk nominasi ‘tak menang, sayang saya ga dapat bukunya.mo beli ga tau ke mana.. iks…
tapi saya turut berharap aruh sastra 2009 dapat terlaksana, terlepas dari “sukses” atau “tidak”…
jabat erat!
semoga bukunya masih ada, wim. insyaallah terlaksana, meski harus menjadi yang terburuk dalam penyelenggaraan aruh selama ini.
jangan terlalu erat… sakit tanganku. (hehe)
jadi kapan umpat kopdar dan gabung dengan kayuh baimbai ????
aduh, kapan ya? hehe…
sebenarnya dulu, sandi (firly) rancak mbawai, tapi karena acara banyak di banjarbaru agak sulit karena masalah jarak. mudahan mun ada acara di banjarmasin lain kali aku bisa gabung. trims.
Mas,nie Ulun Arief yang ikut seminar cerpen di PonPes Al falah Lalu,Duduk di samping Pian (Jadi MC)
Salam Kenal ya!
ya, masih ingat. tadi aku mampir ke blog arief, pakai blogspotlah, jadi agak sulit komen di sana. salam
Aruh Sastra? hmm… kali ini (terlaksana atau tak) aku tetap tak bisa datang… titip saja saja kepada semuanya, wal…
sip!
ASSALAAMU’ALAIKUM..
KEPADA SAHABATKU… SAMBUTLAH UCAPAN DARIKU. SERANGKAI KATA PENGGANTI DIRI. UNTUK MENYAMBUT HARI PERTEMUAN YANG BESAR. JARI SEPULUH KU SUSUN JUGA. AGAR KESALAHAN DIAMPUN SEMUA. TANDA IKHLAS PERSAHABATAN KITA.
SALAM DUNIA, SALAM SEMUA, SALAM HARI RAYA EIDUL ADHA DAN SALAM PERPISAHAN “BERJARAK” DARI SAYA DI BANGI, MALAYSIA.
-SITI FATIMAH AHMAD-
alaikum salam warahmatullah
selamat menyambut iedul-qurban. salam hangat dari banjarmasin.
Handak banar umpat, tpi membaca di koran, ujarnya naskh dkumpul plng lmbt tgl 22 nop. Berrti sdh trlmbt. Ujar jua, acaranya tgl 28 des, dan itu berrti pas kami ulangan. Ah, sayang banar, padahal saurang urang Batola.
Jangan tapi disinggung, supan ulun nah *putra batola sejati*