m. ifansyah lahir di barabai, kalimantan selatan, pada tahun 1958, dan meninggal di yogyakarta 10 januari 2004. pameran lukisannya di museum beteng vredeburg yogyakarta pada januari 2005 mungkin adalah pameran tunggalnya yang pertama, dan pastinya, yang terakhir kali baginya.
tidak seperti halnya pelukis-pelukis ternama lainnya, ifansyah adalah pelukis yang jarang sekali berpameran, apalagi tunggal, padahal lukisannya sangat diminati kolektor, dan sangat ingin dilihat, karena kualitasnya yang jarang tertandingi–bahkan mungkin tak tertandingi. lukisannya tidak terlalu banyak, secara kuantitas, jika dibandingkan dengan pelukis-pelukis lain yang diminati. hal ini bukan dikarenakan ia kurang produktif dalam melukis, melainkan karena ia melukis dalam waktu yang sangat lama. setahu saya, yang beberapa kali berkunjung ke rumah sekaligus studio lukisnya di ngasem, yogyakarta, ifansyah melukis setiap hari seperti halnya profesional lainnya. ia bukanlah pelukis yang melukis hanya jika datang mood pada waktu tertentu saja. ia pelukis yang berdisiplin, karena ia yakin betul melukis realis haruslah setekun ibu-ibu penjual sayur di pasar beringharjo–seperti pada masterpiecenya yang berjudul “pasar beringharjo” yang dilukisnya sejak tahun 1991 dan baru selesai pada tahun 2001 (itupun karena kolektornya yang sudah memesan jauh-jauh hari lukisan itu sudah tak sabar ingin membawanya ke rumahnya). tentang prose krestifnya yang cenderung lama ini, ada sebuah anekdot yang dikisahkan dosen saya, pelukis subroto sm. suatu waktu, suharti, pemilik dari rumah makan ayam goreng nyonya suharti, memesan sebuah lukisan potret kepada ifansyah. suharti ingin mengabadikan dirinya dan suaminya dalam sebuah lukisan, dan karena lama proses lukisan ifansyah ini, hingga suharti bercerai dengan suaminya yang ada pada lukisan tersebut, akhirnya ifansyah harus mengubah suami suharti di sebelah potret suharti tersebut dengan sebuah jambangan; jadilah lukisan potret nyonya suharti dengan sebuah jambangan di samping dirinya.
karena ketekunannya dan betapa ia sangat terikat dengan waktu dalam melukis, ifansyah yang pernah mengajar mata kuliah ‘gambar bentuk’ di msd (modern school of design) yogyakarta, pada tahun 1997 akhirnya memilih untuk berhenti mengajar setelah setahun ia menyumbangkan ilmunya di sana. ia bahkan menolak tawaran dosennya, (alm) wardoyo sepuh di fsr (fakultas seni rupa) isi (institut seni indonesia) yogyakarta untuk menggantikan dirinya mengajar ‘gambar manusia’ di fsr-isi.
ia mengeluhkan betapa ia tak punya waktu lagi untuk melukis, karena harus menyiapkan materi kuliah dan mengajar, ketika suatu hari saya bertanya padanya, “mengapa pian tidak lagi mau jadi dosen dan mengajar di kampus?” ifansyah adalah pelukis yang sangat “total” dalam melakukan sesuatu, sehingga ia seringkali menghindar jika ditawari pekerjaan di luar kesibukannya melukis. ia hanya menyumbangkan “teknik”nya pada siswa-siswanya dari peruri (perusahaan uang republik indonesia), itupun dilakukan di studionya di ngasem dan dalam waktu yang terbatas (reguler), untuk beberapa kali. rumahnya seringkali tertutup rapat, apalagi studionya di belakang rumahnya. hanya orang-orang tertentu yang berani mengetuk rumahnya pada siang hari untuk sekadar berkunjung, dan hanya orang-orang terdekatnya yang dipersilakan masuk ke studionya–dan saya, alhamdulillah, adalah salahseorang yang berbahagia karena beberapa kali pernah mengunjungi studionya dan melihat beberapa lukisannya yang belum selesai terpajang rapi di dinding dan sketsel lukisannya, serta beberapa kuas dan catnya yang tersusun sangat rapi pada sebuah meja di samping sketselnya. tak ada tumpahan cat, kuas yang berserak, atau sebarang coretan pun di studionya, pun tak ada debu yang melekat di antara itu semua; semuanya tersusun dan terpajang pada tempatnya. ia seorang perfeksionis, dan tak pernah mau berlama-lama menjamu tamunya di studionya.
ifansyah adalah pewaris dari teknik-teknik yang pernah dikembangkan oleh gustave courbet, andrew wyeth, rembrandt van rijn, dullah dan basuki abdullah, dari sebuah gaya/ aliran melukis yang disebut realisme sebenarnya–bukan realisme sosialis dan yang lainnya. ia bahkan kemudian mengembangkan gaya, yang disebut beberapa kritikus dengan nama, superrealistik, atau hyperrealistik. 
ifansyah memulai proses melukisnya dengan hunting foto pada obyek-obyek yang ingin dilukisnya. proses ini saja sudah makan waktu yang tidak sebentar, karena ia sangat selektif memilih obyeknya. ia memoto sangat banyak, dengan beragam angle dan pencahayaan; dan dari yang banyak itu ia kemudian menyeleksi dan mengombinasikan beberapa foto untuk dilukisnya. proses berikutnya, yang ia lakukan sesudah kanvas terbentang kuat dan rapi, adalah membuat dam/ skala pada kanvas. ia menggaris sangat teliti, dan sesudahnya barulah ia membuat sketsa dan mengarsir dengan cat (campuran warna ochre dan burnt sienna). jika anda seorang awam tentang lukisan, hasil sketsa dan arsirnya inipun tentu akan anda katakan sebagai lukisan yang brillian. sketsa pasar beringharjo-nya pernah diterbitkan sebagai cover majalah kebudayaan basis pada tahun 1992; dan inipun sudah membuat berdecak, tak hanya, orang awam, tapi juga para pelukis. proses berikutnya adalah menguaskan warna dengan teliti dan akurat. sesudah itu selesai, lukisan belum lagi selesai bagi ifansyah, ia kemudian membungkus/ mengoveri dengan warna tertentu, baru kemudian menyelesaikan gelap terangnya sekali lagi dengan teliti dan penuh perhitungan. setelah–kurang lebih–enam bulan baru kemudian ia mengakhiri lukisannya dengan varnishing/ overcoating, tentu setelah tandatangan/ namanya diabadikan di lukisan pada pojok tertentu. fantastik!
ifansyah terkenal dengan lukisan potretnya, sebagaimana juga basuki abdullah. banyak tokoh diabadikannya dalam lukisan; selain nyonya suharti, juga yang saya ketahui m. said (mantan gubernur kalsel). beberapa tema lukisannya yang lain banyak juga yang direpro oleh pelukis-pelukis realistik di bawahnya (saya lupa, untuk menyebutkan beberapa nama). untungnya, tekniknya sudah sempat diwarisi oleh beberapa pelukis (muridnya), di antaranya nick (pelukis indonesia asal tembilahan, riau), marjan (asal sulawesi), aswin noor (asal kalsel), dan beberapa nama lagi–meskipun dari semua itu tak ada yang benar-benar mampu mengikuti teknik/ gaya sebagaimana ifansyah menekuni lukisannya. beberapa orang yang saya tahu itu mengakui, betapa sulitnya mengikuti ketekunan ifansyah dan betapa tak sabarnya mereka bergulat dengan waktu.
ifansyah adalah amsal dari sebuah pengabdian yang total kepada pilihan hidup yang ditekuninya. ia rela tak memiliki banyak waktu, bahkan untuk sekadar bersosialisasi dengan kawan-kawannya, tapi ia seorang tuan rumah yang ramah dan mau membuatkan sendiri sekadar teh hangat untuk tamu/ dan kawan-kawan yang mengunjunginya di rumahnya yang sepi, yang ruang tamunya disesaki satu set peralatan musik (gitar, drum dan lainnya) yang menjadi hiburan di antara waktu melukisnya jika ia mau mengundang tetangganya bermain musik. sampai kemudian waktu mengakhiri hidupnya banyak sekali mimpi lagi yang tak kesampaian. dari katalog lukisannya pada pameran “mengenang satu tahun m. ifansyah” yang diselenggarakan kawan-kawannya di museum beteng vredeburg itu, banyak sekali cerita juga janji dan mimpi yang kemudian terungkap. di antaranya, yang diungkapkan koleganya mahyudin al mudra, ifansyah belum lagi mengajarinya melukis dengan benar, belum lagi mendirikan padepokan seni di tanah kelahirannya, belum lagi membuat lukisan “harat” yang lebih dari lukisannya yang sudah-sudah, belum lagi membuat pepustakaan terapung di banjarmasin, dan lain sebagainya. bagaimanapun, ia hanya seorang manusia dan waktu sangat terbatas baginya.
ifansyah adalah pelukis generasi ketiga–solihin generasi pertama, misbach tamrin generasi kedua–modern dari kalsel yang mengharumkan tanah banjar di dunia seni lukis indonesia, bahkan dunia internasional; dan di keluarganya ia adalah generasi kedua setelah ayahnya yang pelukis. sesudahnya tentu saya berharap, ada generasi yang mengalir dari sungai barito yang memuara ke laut jawa. diah yulianti kah, kamiran suriyadi kah, rokhyat kah, saya kah, atau anda kah…?
Wah, ternyata satu lukisan bisa memakan waktu puluhan tahun ya. Semoga suatu saat nasib seniman di banua berubah.
ya, begitulah ifansyah melukis: tidak sebentar, penuh pengorbanan waktu. nasib seniman banua tegantung pada dirinya sendiri, jika ia ingin diapresiasi tinggi, maka ia harus mengabdi sepenuh hati dan terus berinovasi/ berkreasi. pemerintah hanya sebatas memotivasi dgn memfasilitasi sesering mungkin kegiatan mereka melalui pameran, dll; dan inilah yang tak banyak dilakukan pemerintah kita di banjarmasin dan sekitarnya.
Assalaamu’alaikum
Alhamdulillah, terima kasih atas kiriman sebahagian lukisan-lukisan ini melalui email… ahh… sangat terharu menerimanya.. amat menghargainya.
Membaca sinopsis tentang pelukis Ifansyah ini sungguh mengkagumkan… dan pameran solonya yang pertama dan terakhir (sedangkan dia sudah pergi saat itu) tentu menjadi sejarah masa depan yang hebat untuk generasi akan datang mengenalinya.
Saya serasakan hangatnya air mata dikelopak mata tika membaca tentang kecintaannya terhadap dunia lukisannya. Namun segera disekat agar tidak terlalu emosional. Ahh… saudara ternyata benar (teringat kata-kata saudara)… baik bicara dan pandai menggunakan bahasa mudah dalam menulis sehingga menyentuh naluri saat membaca dengan hati dan menghayati isi kandungannya..
Apakah saudara pernah mendapat kritikan dari Bapak Ifansyah ini berhubung dengan lukisan saudara sendiri? kalau ada… nanti bilang ya apa yang dikatakannya.. ingin juga tahu…
Iya.. bagi saya.. dia adalah antara lagenda pelukis yang hebat… biasanya orang hebat ini kurang dikenali kerana jiwanya hidup dalam dunianya… dan tentu sekali mencintai dunianya.
Melihat kepada lukisannya melalui email kiriman saudara… saya jadi terpegun dan terpana. Subhanallah… indah sekali.. Kata hati saya…
“INI BUKAN LUKISAN MALAH IA ADALAH RAKAMAN FOTO DARI SEBUAH LENSA. Tata lukis seninya SUNGGUH HIDUP…”
Memang benar apa yang saudara ungkapkan di atas (kerana saudara selalu bertemu dengan beliau), tentang lamanya masa di ambil untuk menghabiskan sesuatu lukisan.
Bagi saya… BUKAN TANGANNYA yang melukis TETAPI JIWANYA.. tangan hanya alat dan minda pula sebagai kilang proses untuk mengambarkan apa yang ada dijiwannya. beruntung sekali saudara dapat menimba ilmu darinya. tentu banyak kenangan kan.
Pasti kenangan itu memedihkan kerana tidak lagi dapat menyapa, berbicara dan melihat bapak Ifansyah melukis dalam dunianya. Semua itu jadi sejarah yang tak terbandingkan kerana dapat seketika bersama seniman yang unggul. Tahniah kerana tanah Banjar punya seniman agung ini dan mengharumkan bumi Indonesia di mata dunia.
Harapan saya, suatu hari nanti akan dapat melihat lukisan bapak ifansyah dengan mata telanjang dan dapat menghayati dengan berdiri di depannya memikirkan alir fikir bapak tersebut terhadap dunia lukisannya.
Terima kasih sahabat kerana membuka ruang memperkenalkan seniman agung ini. Saya semakin menyintai dunia lukisan ini… kerana saya juga terlahir sebagai pelukis cilik yang sudah lama meninggalkan dunia lukisannya kerana sudah bertukar bidang kehidupan.
Ahhh… banyak perkara yang saya ingin tanya dengan saudara berhubung dengan bapak Ifansyah ini.. harap tidak jemu menerima persoalan dan memberi jawaban kepada seorang pelajar seperti saya. Thanks for being my marvellous teacher in arts…
Salam hangat dari saya di Bangi, Malaysia.
saya pernah dikritik ifansyah suatu kali. dia bilang, seperti juga dosennya dan dosen saya juga, bpk. wardoyo sepuh bilang, “jangan ngoyo!” artinya jangan terlalu berkeinginan berlebih-lebihan, ingin melukis ini-itu, tapi tekuni saja apa yang dapat kamu lakukan saat ini. saya sempat malu dan memikirkan betul kata-kata mereka. keduanya, ifansyah dan wardoyo sepuh, sdh tiada, kata2 mereka saja yg terus terngiang di telinga saya.
Saya juga mengambil masa lama untuk menghayati tulisan saudara Hajriansyah.. he..he… hai Zian X-Fly.. kerana lamanya, Zian jadi yang pertama sedangkan saya sejak tadi sudah dimaklumi akan postingan ini… he..he..
hehe… menjadi yang kedua pun tak apa-apa, kan?
liat gambar yang paling atas,,,
rata2 pelukis stylenya gtu ya,,,
pake topi model itu,
iya, topi pet (biasa disebut begitu) itu di indonesia mulanya sering digunakan oleh basuki abdullah, kemudian dipopulerkan oleh pak tino sidin yang biasa kita saksikan di tvri pada tahun 80-an. di luar negeri juga dulu kadang dipakai salvador dali, dan banyak lagi. kemudian melekat menjadi semacam ikon tersendiri bagi seniman.
mimpi-mimpi itu tidak pernah terkubur, namun masih perlu ada yang mau membuktikan bahwa kuburan tersebut memang tidak pernah ada.
“Tak seorang pun menemukan harga suatu kehidupan, tetapi ia harus membuat hidup itu berharga.” M.ifansyah
Nasihat almarhum sejak kecil sampai sekarang yg selalu aq ingat.
adalah kesempatan berharga menjadi murid beliau walau dalam jangka waktu yang sangat pendek.
(salah satu murid dari Perum Peruri)
wah…. salahseorang yang berbahagia.
Asslm.Wr.Wb
Saya merasa senang sekali mendapatkan artikel tentang Alm. bpk Ifansyah di bolg ini.. yg ada di benak saya adalah betapa saya sangat mengagumi dan sangat merindukan karya2 beliau,. Saya salah satu pelukis asal semarang yg saat ini tengah trdampar di kota industri Batam..(he2/ngadu nasib..) secara tidak langsung saya byk belajar dari karya2 beliau.. karya2nya byk mengilhami lukisan2 saya..meskipun saya akui kualitas lukisan saya masih blm sepadan jika dibandingkan dg lukisan2 alm. yg menurut saya lukisan beliau sangat tepat jika di sebut hiperrealistik,..semua unsur baik segi anatomi,komposisi warna,kesan ruang maupun bentuk secara keseluruhan sangat perfek’ dan menyentuh!.. ‘greget’ realismenya lain dari pada yg lain,.. Saya pernah berkunjung sekali ke rumah beliau pada th 2003 bersama dg beberapa pelukis dari batam, beliau sosok seniman yg sangat ramah dan mau berbagi dg para seniman2 yg msh muda2 seperti saya.. Tidak lama kemudian (belum genap satahun..) kami mendapat pesan pendek dari istrinya yg mengabarkan kalau bapak telah meninggal dunia..’Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun..’
kami setengah tidak percaya mendengar kabar itu,..
Saya masih ingat betul beberapa lukisan yg di posting di blog ini pada saat itu masih terpajang rapi di ruang tamu/studionya yg bercat serba putih.. Lukisan2 beliau yg blm selesai saja mampu menyedot perhatian yg luar biasa,apalagi yg sudah selesai..? he2.. Akhirnya semoga karya2 beliau bisa di kenang & diapresiasi dg baik oleh masyarakat, dan akan bermunculan generasi2 penerus ifansyah di masa sekarang dan mendatang..
Salam hormat dari saya, Selamat berkarya utk teman2 pelukis dan seniman. Wassalam..
Mas Ifan, begitu saya memanggil beliau. Seorang pelukis yang konsisten atas apa yg menjadi pilihan hidupnya. saya masih sangat ingat ketika saya harus mengejar mimpi orang tua untuk menjadi sarjana di kota Jogja, saya harus rela untuk berada di asrama milik kampus UGM di seputaran Jl. Polowijan tepat didepan Rumah Kontrakan Mas Ifan. Disitu saya mengenal beliau. Begitu sedang tidak melukis beliau lebih menyukai untuk bermain gitar, bermain catur, bermain kartu truft atau sekedar kongkow2 sambil menghabiskan berbatang-batang rokok GG filternya, beliau tak segan2 membagi rokoknya dg kami penghuni kos yg rata2 berasal dari gol menengah ke bawah dan berasal dari berbagai kota. Namun kalo sedang melukis bisa jadi beliau tak pernah keluar studio hingga berbulan-bulan. Entah karena memang saya penyuka karya seni atau memang karena saya bisa sedikit melukis akhirnya saya dg beliau mempunyai hubungan dekat dengan keluarganya, dengan Mbak Ita (istrinya) atau Iwan (adiknya) …. bahkan apabila beliau pulang kampung (ke Kalimantan) beliau mempercayakan saya untuk menunggu rumahnya. Syapun sring mengantar beliau untuk mencari model lukisan untuk lukisan kalender sebuah bank Nasional (Mandiri) saat itu masih bernama BBD, atau membelikan cat, minyak bahkan mengepak lukisan jadi.
Sungguh banyak kenangan dengan beliau … tak cukup sebuah buku untuk menceriterakan beliau. Diluar beliau seorang seniman… ternyata jiwa humoris dan jiwa sosialnya sangat tinggi …. selamt jalan mas Ifan semoga Allah menerima dan menempatkan Mas Ifan di sisinya ….
…a little hope goes up in smoke…
salam perkenalan buat pak Hajriansyah dan semua teman2,,, saya adalah salah seorang pengagum lukisan2 karya ifansyah… boleh dikatakan sebagai kolektor lukisan,,, karya ifansyah yang saya punya sebanyak 6 lukisan, diantaranya :
1. kakek-cucu-sangkar ayam (yang sudah di upload dengan pak Hajriansyah di atas)
2. pak tua sedang memahat topeng
3. Dua gadis kecil sedang main dakon
4. Ibu menjahit & anak bermain bola
5. kakek sedang berdoa
6. pasar terapung
Rencana akan saya jual semua,, bagi yang berminat bisa kontak by email :
de.syah@yahoo.com
rina_sandora@yahoo.com
jika ingin melihat gambarnya bisa add di FB kami
trimkash
saya salahseorang murid beliau waktu di msd, memori yang terkuat malah pas ketika beliau memainkan gitar listrik birunya di studionya hehehe…rest in peace maestro…