Minggu pagi, 24/01/10, saya dan seorang teman berangkat ke Kalimantan Tengah dengan maksud mencari bekas / sisa perahu yang saya rencanakan menjadi proyek seni rupa. Tujuan kami Desa Sungai Tatas, Kecamatan Pulau Petak, Kabupaten Kapuas—salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah yang terdekat dengan Kalimantan Selatan. Perjalanan ke Kapuas sendiri menghabiskan waktu kurang lebih satu setengah jam perjalanan, dan alhmadulillah jalan perbatasan yang biasanya rusak menjadi mulus. Ini tentu saja terkait proyek-proyek perbaikan menjelang pemilu kepala daerah oleh calon incumbent yang ada sekarang; biasalah, ia menjadi salahsatu strategi untuk menarik simpati masyarakat perbatasan Kalsel-Kalteng yang sejauh sebelum ini jalan-jalannya tak pernah benar-benar mulus, bahkan boleh dibilang rusak parah dengan banyaknya lubang-lubang besar yang membahayakan pengguna jalan.
Untuk masalah jalan ini bahkan ada semacam anekdot: untuk mengetahui bahwa kita telah memasuki wilayah Kalimantan Tengah, karena gerbang perbatasannya tak begitu jelas dan untuk mereka yang tak memperhatikannya karena mungkin tertidur, adalah dengan merasakan bahwa jalan yang dilalui sudah tak “bergelombang” lagi.
Setelah melalui belokan tajam yang menandai apakah kita akan memakai jalur ferri penyeberangan dengan menyeberangi Sungai Kapuas, atau akan melalui jalur darat lewat Jembatan Sungai Petak, yang di malam hari katanya angker, kami pun sampai di “muara” kota Kapuas. Memasuki kota kecil yang tak terlalu ramai ini, di simpang empat tugu yang menjulang berwarna kuning(mungkin maksudnya, tapi nampak belepotan) keemasan—dengan sedikit ornamen dayak di puncak, kami belok kiri, ke pasar yang menjadi tempat keramaian kota, sementara tujuan kami sebenarnya ke kanan, sekadar mencari makan dulu karena hari sudah siang.
Dan itulah pasarnya, yang mencirikan kehadiran urang banjar di tiap-tiap wilayah kalimantan (selatan dan tengah) yang pernah saya ketahui dan lalui. Sebuah pasar di pinggir sungai, seperti halnya Pasar Lima di Banjarmasin, pasar di Pangkalan Bun, dan pasar di Muara Teweh. Kami makan siang di sana, tepat saat azan zuhur menggema, di sebuah warung makan banjar yang cukup mewah untuk ukuran kota kecil, dan lumayan: masakannya enak!
Melalui jalan menuju desa sungai tatas, pada sebuah moment perkawinan di sebuah rumah di pinggir jalan, kami melihat seorang pengantin pria dengan busana adat banjar berwarnah merah “menyala” akan diberangkatkan menuju rumah pengantin wanita; si pengantin diapit ibu-ibu keluarganya, tersenyum bahagia, dihamburkan daun-daun melati dan yang semacamnya—yang biasanya ada koin-koin rupiah di sana—dan dishalawati, dengan keramaian sederhana yang mewah bagi mereka.
Di sepanjang pinggir jalan ada beberapa wantilan galam. Tumpukan kayu galam yang masih basah dengan kulit dan baunya yang khas. Tentu, ada warung-warung di sana, dengan jamuan teh “goalpara” yang panas, wewadaian, rokok, dan seorang—atau beberapa orang—gadis penjaganya yang muda-muda yang biasanya menjadi daya tarik tersendiri bagi pemuda-pemudanya untuk berkerumun di sana. Dan, tibalah di sebuah persimpangan desa sungai tatas—memasuki badan jalannya yang sempit kami harus memelankan mobil pickup yang kami kendarai, karena bila berpapasan dengan mobil lain kami harus berhenti di pinggir sekali.
Di pinggir jalan rumah dan lahan gambut. Ada sebuah bangunan yang cukup mencolok yang kami lewati. Sebuah bangunan beton tiga, atau empat tingkat tertutup rapat tanpa jendela, kecuali lubang-lubang untuk burung-burung walet diharapkan masuk dan bersarang di dalamnya; cericit suara burung dari dalam gedung adalah rekaman suara dari sebuah perangkat yang “memerangkap”, dan burung-burung berputar-putar di luarnya. Dan sampailah kami di jalan/ simpang tiga berujung sungai. Itulah Sungai Tatas, berwarna kecoklatan, dengan lebarnya yang kurang lebih 500 meteran itu. Kami belok ke kiri, ke rumah saudara kawanku. Sampai di sana ternyata yang kami cari tak ada, kata isterinya yang turunan dayak ia pergi bekerja di seberang sungai; sebagai tukang panggilan ia sedang memperbaiki rumah seseorang di sana. Beristirahat sebentar di rumah panggung itu kami disuguhi es dongdong—hehehe… lama sekali tak merasainya, seperti waktu kecil dahulu.
Di kampung ini, kawanku cukup terkenal, banyak keluarganya tinggal di sini. Di jalanan yang lebih kecil dari jalanan sebelumnya ia menyapa orang-orang dengan lambaian tangan dan senyum, sampai kami tiba di rumah saudaranya yang lain, tempat kami memarkirkan mobil di depan rumahnya. Dari sini kami menyeberangi Sungai Tatas dengan ferri penyeberangan; sebuah perahu motor dengan lebar kurang lebih dua setengah meteran dan panjang delapan sampai sepuluh meteran. Selain memuat orang, perahu ini juga memuat kendaraan/ sepeda motor yang menyeberang. Perahu dengan papan-papannya yang rompal di sana-sini, suaranya mesinnya—dari mesin dumping 16—hampir memecah gendang telinga, sehingga untuk berbicara dengan teman di samping harus dengan teriakan. Operatornya satu orang pemuda dan dua anak kecil seumuran sekolah dasar, yang bergantian memegang kemudi layaknya nakhoda, dan terus bercanda riang sepenyebarangan sungai itu. Sebuah dermaga kecil, atau lebih layak disebut batang, dan kami meloncat ke seberang.
Jalanan kampung dari cor-coran semen selebar 1,2 meter. Rumah-rumah kecil dari kayu dan papan kusam tak bercat. Sebuah langgar di pinggir jembatan dan sungai kecil, kami belok ke kanan, belok ke kanan lagi dan terus ke rumah saudara temanku di pinggir Sungai Tatas. Seirisan batang pohon bekas lantai sebuah jukung sudur, dan ada dua yang nantinya akan diseberangkan oleh saudara temanku dengan jukungnya yang kecil, menyeberangi batas sungai ke kampung seberang.
Inilah batas itu, sebuah sungai yang di sepanjang pinggirannya orang-orang hulu sungai (banjar) dan orang-orang dayak berbaur sedari dulu. Dan ada banyak tempat semacam ini di pesisir-pesisir sungai-sungai besar di Kalimantan, yang kurindukan untuk kusinggahi, sekadar menapaktilasi jejak-jejak orang banjar dulu. Dulu sekali….
Pengujung Januari 2010
kalau ada fotonya penggambaranya bisa lebih top markotop….
setuju dengan saus kecap … kalau ada fotonya membayangkan keadaannya akan jauh lebih mudah …
kangen dengan suasana begitu, jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang buat pusing dengan masalahnya yang kompleks tidak beraturan
Bujur. Fotonya mana?
@sauskecap, bayuputra, zianxfly: trims apresiasinya, tapi berhubung kemarin tidak mem(f)oto2, meski dgn kamera hp pun, maka tak ada foto yg dapat saya muat di sini. maka, imajinasikanlah…
tapi, sebenarnya, dalam tulisan2 saya dalam kolom2 perjalanan di blog ini yang ingin saya tekankan adalah perjalanan itu sendiri berkaitan dgn refleksi saya atas perjalanan2 ini. memang, dalam tulisan2 terdahulu pun ada bbrapa komen yg menanyakan ttg foto2 lanskap dan momen dalam perjalanan2 itu, hanya saja saya pikir dgn mencari gbr2 itu di google kan bisa, dan mudah saja. maka, tulisan2 ini ingin mencari sisi lain dari tulisan2 semacam ini yang menyertakan gambar/ foto2, dan itu adalah refleksi saya sendiri. terlepas dari hal itu, saya percaya pada daya imajinasi anda (hehehe).
@wahyu: ya, di tengah rutinitas kita di perkotaan, pengalaman mengunjungi tempat2 di pinggiran memberikan kesegaran tersendiri; semacam oase di tengah kompleksitas kehidupan. tapi, bagi mereka yg hidup dg rutinitas pinggiran pun keramaian perkotaan memberikan kesegaran tersendiri… entahlah, halaman tetangga memang lebih hijau dan lebih segar dari halaman sendiri.
coba lain kali cerpen2 kam kaya laporan perjalanan wal ai… pasti asyik. asah tarus pang, masukkan jua mitos2 ato sejarah setempat.
lihati ai kena…
seperti di kampung saya saja heee…
kapan-kapan, mau aku ke kampungmu juga.
Betul mas Hajriansyah, coba ada fotonya..
pasti tambah tob deh… dijamin bisa dengan cepat menggambarkan dalam angan angan….
hehe… cobalah terus, tak masalah lambat menggambarkannya.
perasaan catatan ini pernah ente posting ya..?
ni yang pertama, wal ai. atau, ente handak memuatnya di kolom perjalanan di radar bandung? hehe…
terbayang kehidupan masyarakatnya … memang membuat rindu untuk hadir
kira kira taduakali sidin manimbainya
sumpah, nah, hanyar sekali ni. hehe…
tulisan ini sangat deskriptif, mas. seperti tulisan mas hajri lainnya. aku merasa mengikuti perjalanan mas hajri.
hm… kupikir inti cerita ini bukanlah pada temanya, melainkan pada deskripsi daerahnya. dan itu sangat menarik.
oya, selamat untuk kelahiran si kembar. turut berbahagia buat keluarga mas hajri.
trims, bu hajjah.
benar juga y jika ada photony pasti tambah isthe best
salam hangat dari blue
Assalaamu’alaikum Hajriansyah
Apa khabar? Lama juga tidak bersilaturahmi. Tidak pernah melupakan, alasannya kok sibuk aja ya… hehehe..
TAHNIAH DARI SAYA DENGAN KELAHIRAN SI KEMBAR GAGAH YANG KACAK DAN COMEL… Gimana ?.. persis ayahnya atau ibunya atau dua-dua sekali ? pasti kedua-duanya lho.
Saya sangat gembira menerima khabar kelahiran si kembar tersebut. Terima kasih Hajrian kerana memaklumi. Saya doakan anak-anak sihat, menjadi anak soleh dan pintar nanti.
Gambaran yang ditulis oleh Hajrian berkaitan dengan prasarana pengguna jalan raya sama sahaja halnya berlaku di mana-mana negeri di Malaysia. Jika ada musim pilihan raya, maka projek-projek baru terutama jalan raya mulai dibaiki. Semua orang tahu hal tersebut sebagai satu strategi untuk merayu undi.
Walau demikian, ada kebaikannya juga kalau tidak pasti tidak merasai prasarana yang baik. Bukan setakat jalanraya, yang lain juga sama seperti air, elektrik, perumahan dan sebagainya.
Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.
Students opine that the free term papers accomplishing supposes the most time taking procedure. Nevertheless, people count on the essay writing service assistance every time when it is needed.
Selamat atas kelahiran si Kembar yach…
Semoga menjadi anak yang berbakti buat orang tuanya..
Amiin
Resapilah akan aset panorama alam Kal-Teng yg penuh dengan aura hutan yang asri,hijau,dan alami,,,,,
Assalaamu’alaikum Hajriansyah
Hadir untuk bertanya khabar sahabat di sana. Lama juga tidak menyapa di maya ini. Mudahan kehidupan semakin sukses dan anak kembar gagah itu semakin cerdas dan pintar. pasti jenuh menangangi olah mereka yang bersahut-sahutan itu.
Masih sibuk ya.. hingga kini belum ada posting baru untuk dihasilkan. Harapan selepas ini dapat menuangkan kongsian hikmah di medan tulis Hajrian ini.
Salam mesra dan ceria selalu dari saya di Sarikei, Sarawak, Malasyia.
@sfa: alaikumsalam warahmatullahi…
alhamdulillah, kabar saya baik.
hehe… memang lama tak menjejaki blog sendiri, apalagi milik teman2. tidak terlalu sibuk, hanya ada saja alasan untuk menulis dan berkomentar.
terimakasih atas kunjungan dan perhatian ibu. terimakasih atas doanya untuk si kembar.
alhamdulillah, saya menulis lagi.
salam hangat selalu dari banjarmasin. salam bahagia selalu.