Saat pesawat Kalstar take off dengan sempurna dari bandara Syamsudinnor, dan bergerak ke barat, tak terasa di bawah sana terlihat raksasa barito yang mengular. Seperti jalur darah dengan anak-anak sungainya ia menghidupi kapal dan tongkang di atasnya, perumahan dan sawah di sisi-sisinya.
Pesawat terus naik. Gumpalan awan-awan seputih kapas bergerombol sudah di bawah, sementara setipis serat-serat berwarna abu-abu awan-awan bergerak berlawanan arah kami menuju.
Hampir setengah jam. Di bawah sana hanya hamparan tanah, hijau, dalam garis berpetak-petak. Entah sawah, entah sawit. Di depan sana cakrwala biru muda, dengan garis-garis awan yang membujur, melindap di kejauhan.
Perjalanan ini mengingatkan lagi perjalanan terakhir ke Pangkalan Bun, desember 2010 yang lalu. Waktu itu perjalanan lewat jalur darat, membawa teman dari Jogja yang belum pernah menyinggahi daratan Kalimantan Tengah—dan tak kepalang tanggung, kami langsung mengajaknya ke ujung mendekati perbatasan Kalteng-Kalbar.
Saya ingin menceritakan perjalanan yang belum sempat saya tuliskan itu.
Kami berangkat desember itu, menuju ujung kalteng, sepulang dari kota Tanjung, dari kabupaten terujung Kalimantan Selatan mendekati Kaltim. Waktu itu kami sempat beristirahat satu malam di Banjarmasin. Dan masih memakai mobil yang sama, Pajero IO, sorenya kami berangkat menuju Kalimantan Tengah. Sehabis Anjir, Kapuas, Pulang Pisau, dan Palangka Raya, kota yang pernah direncanakan sebagai ibukota negara, jalan lurus dan mulus memaksa sopir memacu mobil sejauh rasa takutnya.
Setengah dua lewat lima, dan kami akan mendarat di Bandara… : Sampit. Di bawah pepohonan menghijau rapat. Hanya hutan. Sementara pesawat foker dengan dua baling-baling di sisi kiri dan kanan terus bergoyang menembus awan. Bergetar, dan tekanan di telinga. Sekali lagi, hanya hutan, dan pesawat akan mendarat: H. Asan Airport. Landasan pendaratannya tepat, lurus, di tepian sungai Mentaya, Sampit.
Pesawat berhenti. Baling-baling masih bergerak ritmis, berputar. Bunyi mesin tak sebising sebelumnya. Maklumlah ini pesawat kecil. Mendarat di bandara kecil. Mengingatkan saya pada yang serupa di Pangkal Pinang, Tanjung Pinang, dan Muara Teweh. Di sekeliling bandara hanya pepohonan. Ladang dan hutan yang landai.
Sepuluh menit di Sampit dan pesawat kembali bergerak. Seperti yang diumumkan pramugari pesawat ini akan terus melaju ke Pangkalan Bun, Ketapang, sampai Pontianak. Giliran saya turun setelah ini.
Sudah malam waktu itu di Palangka. Kami sempat berniat berhenti sebentar di kota, tapi kami urungkan mengingat perjalanan yang masih dua kali lagi panjang dan lamanya itu. Meski begitu kami sempatkan juga makan di sebuah warung Banjar dekat Pasar Kahayan, dengan menu Ayam Panggang.
Sehabis makan berganti sopir, mobil dipacu kencang. Apalagi jalan dari Palangka sampai Kasongan nanti adalah jalan lurus, mulus, terpanjang di Kalimantan (bahkan mungkin juga se-Indonesia). Jalan itu benar-benar lurus, tak ada belokan sedikitpun sepanjang seratus kilometer lebih. Yang ada hanya sedikit tanjakan dan turunan panjang, mendakituruni bebukitan. Benar-benar mobil kami melaju kesetanan. Teman di kursi samping sopir yang tertidur sempat-sempatnya bilang, “jangan terlalu kencang…!”
Begitu melewati simpang tiga Katingan, jalan tak lagi semulus sebelumnya. Jalan lebih kecil, di sisi kiri kanan pertokoan dan perumahan. Bahkan, sesudah melewati kota jalan makin menyempit dan berbelok-belok dengan lobang aspal di sana sini.
Pukul 14.10 di jam di pergelangan tangan saya. Dan pesawat siap mendarat di pangkalan bun. Kembali seperti sebelumnya, pesawat bergetar menembus gumpalan awan seputih kapas yang kulihat sejauh tadi.
Sungai lagi. Petak-petak kebun sawit diapit ladang dan pepohonan. Sebuah tongkang dan kapal-kapal kayu pengangkut barang di tepian. Petak-petak perumahan tak rapat. Lebih banyak lahan kosong kehijauan, di bawah sana. Natai… dan, tepat pukul 14.16 wita, kami tiba di bandara Iskandar-Pangkalan Bun, pukul 13.16 wib.
Assalaamu’alaikum Wr. Wb. Hajriansyah…
Perjalanan dalam pesawat melalui beberapa persinggahan tentu memenatkan, tambahan sambungan perjalanan dengan jalan darat yang menambah kelelahan sebelum sampai ke destinasi.
Begitulah perjuangan hidup manusia untuk menghuni bumi Allah,tentu tidak semudah yang disangka oleh kebanyakan orang. Sedangkan dibelahan bumi yang lain, infrastrukturnya sangat baik dan menyenangkan.
Saya senang membaca bahasa yang digarap dalam penulisan Hajri ini. Bahasanya mengasyikkan. Mengembang bersama kehijauan hutan yang merimbun dan awan larat yang mendebur angin. Hehehe.. saya suka sekali.
Selamat menulis kembali walau singkat namun bermakna besar. Salam mesra selalu dari Sarikei, Sarawak.