Pagi, pukul 06.30, saya terbangun mendengar dering hape di nakas samping tempat tidur saya. Saya sebenarnya enggan membuka mata, karena saya baru saja tidur pukul empat subuh tadi. Tapi istri saya kemudian memberitahu bahwa itu telpon dari Pak Enos (nama populer dari Kepala Taman Budaya Kalsel: Drs. Ahmadi Soufyan). Saya pikir ini akan ada hubungannya dengan Pameran Koleksi Galeri Nasional yang sedianya akan digelar bulan Juli nanti, tapi mengapa pula harus mengganggu tidur saya yang sebentar itu.
Saya sungguh terkejut, sangat terkejut bahkan, ketika Pak Enos mengatakan, “Jri, Iyan meninggal tadi pagi!” Saya sempat menanya ulang: “Iyan, siapa?” Dan sungguh, saya hampir tak percaya mengetahui bahwa yang dimaksud adalah Zulian Rifani, pelukis—teman dekat kami.
Zulian Rifani meninggal pagi itu, Rabu (23/3/2011), pada pukul kurang-lebih 06.00 wita di Rumah Sakit Islam, Banjarmasin. Sejak malam sebelumnya almarhum telah berada di rumah sakit dalam keadaan koma, akibat tekanan darah yang, katanya, sangat tinggi. Kawan almarhum, Umar Sidik, menemaninya sampai pukul dua dini hari. Dan Umar terkejut, ketika saya menelponnya untuk menanyakan perihal kematian ini kepadanya; ternyata iapun baru tahu dari saya.
Saya mengenal Zulian Rifani jauh sebelum ini. Saya ingat waktu itu masih kuliah di ISI Jogja. Pelukis Rokhyat yang mengajak saya ke rumahnya, yang waktu itu berada di depan simpangan menuju perumahan Sewon Asri, di Belakang Kampus ISI (Institut Seni Indonesia). Rumah kontrakannya waktu itu cukup bagus, dengan halaman yang cukup luas dengan sebuah mobil sejenis Carry Station di garasinya. Begitu masuk dan disambut hangat, wow, saya terkesan dengan banyaknya lukisan dengan warna-warna cerah-ceria menggantung di dinding, dan bergelatakan di ruang tengah sampai ke dapurnya. Lukisan-lukisan itu terbilang besar jika dibandingkan lukisan-lukisan di Sanggar Solihin, Taman Budaya umumnya.
Zulian Rifani pernah mengajak saya sekeluarga untuk menginap di rumahnya, di Sewon itu. Ia menyuruh saya membawa kanvas dan cat-cat akrilik saya beserta kuas-kuasnya. Malam itu mengajari saya sangat “keras”. Saya melukis, dan ia turut mencoret-coret di kanvas saya. Malam itu sambil berbincang dan melukis dengan beberapa gelas kopi, sementara istri dan anak kami tertidur di kamar. Entah sampai pukul berapa kami menghabiskan hari itu, yang saya ingat hanyalah: sampai pagi kami tak tidur!
Ketika seorang teman dari Banjar, yang berbakat melukis juga, Heri Sudiono bertemu saya di Jogja, saya mengajaknya ke rumah Ka Iyan (begitulah saya memanggilnya). Saya hanya kepikiran bagaimana Heri yang datang hanya dengan bakat saja itu dapat survive di Jogja. Ka Iyan menyambutnya dengan hangat, dan kemudian mengenalkannya kepada kawannya yang telah memberdayakan Ka Iyan sendiri sejak ia datang kembali ke Jojga dan berkeinginan survive di sana hanya dengan melukis.
Bonnie Setiawan, seorang pelukis yang telah mapan, teman yang dirasanya sangat berjasa dalam hidupnya sebagai pelukis. Kepadanyalah kemudian kami dikenalkan, dan Heri beberapa waktu kemudian tinggal di studionya dekat Pelem Sewu. Kami—saya sendiri, Heri, dan Ka Iyan—sempat melukis di studio mas Bonnie yang cukup besar itu, dengan banyak lukisan kawan yang dititipkan di sana untuk dijual dan buku-buku seni rupa yang tebal-tebal.
Setiap hari selalu ada kawan-kawan pelukis yang berkunjung ke sana, saya dan Heri yang masih sangat “muda” dalam kesenilukisan bisa belajar dari membaca buku dan katalog dan berdiskusi dengan Mas Bonnie, Ka Iyan, dan pelukis-pelukis senior lainnya, seperti Iswanto, Didik Nurhadi, dan beberapa pelukis yang sudah punya nama dalam mainstream seni lukis Indonesia. Bahkan, beberapa kolektor Mas Bonnie yang kadang berkunjung ke studio sering juga berbagi cerita perihal “penggorengan” komoditas lukisan di Jogja, Magelang, Bandung, Jakarta, dan kota-kota seni dunia lainnya.
Zulian Rifani terdaftar sebagai Angkatan ’87 di Kampus ISI Jogja (terhitung sejak mereka terdaftar di kampus ISI). Angkatan ini termasuk pendobrak, baik dalam hal pasar seni lukis maupun kreatifitas karyanya, mainstream seni lukis Indonesia. Beberapa eksponennya telah mendunia, sebut saja Entang Wiharso, Nasirun, Faisal, Bonnie Setiawan dan banyak lagi—termasuk Zulian yang pernah pula berpameran di luar negeri atas sponsor Didir Hammel pengelola Duta Fine Art Jakarta, saya pernah membaca ulasan mengenai dirinya dan lukisan-lukisannya di majalah Femina tahun 2000-an.
Lukisan-lukisan terawal Ka Iyan bergaya dekoratif-kubistik-naif a la Bonnie. Ia mengakui keterpengaruhannya itu dengan sadar. Tapi ada perbedaan yang signifikan di antara keduanya. Di sisi lain gaya artistik lukisan mereka, Bonnie sangat kenal warna “Jawa”nya. Itu antara lain terlihat dalam objek-objek lukisannya yang merepresentasikan simbol-simbol kejawaannya seperti orang dengan baju lurik berblangkon, andong, jatilan dan warna-warnanya yang di Jogja biasa sering diidentifikasi dalam warna-warna tersier semacam coklat, hijau, merah darah, dan lain sebagainya. Sementara, Zulian sangat berwarna; objek-objeknya lebih bebas dan warna-warnanya sangat cerah (merah, kuning, biru, putih, orange, dst.) Itulah yang seringkali kami, pelukis-pelukis Kalsel di Jogja, sebut berwarna “Banjar”.
Lukisan-lukisan itu yang hampir selalunya penuh dengan objek-objek naif yang disusunnya secara dekoratif dan jukstaposisi (dijajarkan secara saling bertumpukan) dengan mengindahkan linearitas gaya realistik. Warna-warnanya adalah warna primer-sekunder, semacam merah, orange, kuning, hijua, biru, violet yang beberapa diglasir dan dinetralisir dengan warna putih dan beberapa coklat.
Zulian sebenarnya melukis dengan ide-ide yang surealistik-naif. Ia banyak kali membicarakan lukisan dengan imaji-imaji verbal yang tak tersangkakan. Beberapa memang terkesan sangat naif, dan jika berbicara ia sangat ceria—dan kadang juga dalam lelucon yang konyol bagi teman-teman dekatnya (di luar penampilan kesehariannya yang terkesan serius dan pendiam).
Suatu waktu di akhir “kejayaan”nya, Zulian sempat bereksperimen dengan bidang-bidang kanvas besar, dengan warna-warna cerah yang garang, dengan tarikan garis-garis yang sangat ekspresif. Untuk itu ia banyak menghabiskan uang. Cat-cat dalam tube besar berharga ratusan ribu rupiah ia “buang-buang” dalam ekspresi yang liar di kanvas-kanvas besar itu. Dan entah, di mana kini lukisan-lukisan (hasil eksperimen) itu berada; karena Zulian sangat acuh dengan karya-karyanya yang tak laku, lukisan-lukisannya tersebar di mana-mana di rumah-rumah kerabat dan kawan-kawan baiknya.
* * *
Nopember 2003 saya pulang dari Jogja karena cuti kuliah. Saat itu, karena tahu Ka Iyan ada di Banjar saya berkunjung ke tempat tinggalnya—waktu itu rumah orang tuanya—di Mulawarman (sekarang di belakang gedung Pramuka). Ia pulang ke kampung halamannya waktu itu karena jenuh di kampung orang, dan ingin berusaha di luar profesinya sebagai pelukis. Saat berkunjung itulah ia mengajak saya membuka usaha bersama yang bergerak di bidang reklame. Saya yang merasa tak punya pekerjaan pun menyepakatinya. Dari situlah saya memulai usaha yang saya geluti hingga sekarang ini.
Hanya tiga bulan kami bekerjasama, karena beberapa hal kami memutuskan untuk jalan sendiri-sendiri. Dan, Zulian pun kembali lagi ke Jawa. Saya dengar ia malang-melintang lagi di Jogja, Jakarta, Bandung, dan Kediri. Namun tak saya dengar ia meraih kesuksesan lagi sebagaimana yang pernah dialaminya dalam seni lukis.
Sampai suatu hari, kurang-lebih tiga tahun yang lalu, sepulang ke rumah istri saya bilang Ka Iyan ada mampir ke rumah. Dia pulang kembali, pikir saya. Dan, nyatalah sewaktu bertemu di warung Komisi XI, Taman Budaya Kalsel ia bilang lelah sudah di kampung orang dan ingin berkarya di daerah saja. Waktu itu ia berencana melukis di badan jukung-jukung yang sudah tak dipakai lagi untuk dijualnya kembali ke galeri-galeri di Jogja dan Jakarta.
Zulian penuh dengan ide-ide yang terkadang terlampau berat untuk diaplikasikannya sendiri, di luar lukisannya. Ia pernah juga berencana menata kembali sistem berkeseni-lukisan di Banjarmasin. Ia mengajak beberapa kawan (M. Syahriel M. Noor dan Umar Sidik) termasuk saya. Ia menyemangati kami, utamanya saya yang waktu itu sudah malas melukis. Ia berusaha menata Sanggar Solihin, dan sempat tinggal di sebuah kamar di sana selama kurang lebih dua tahun.
Sampai tak lebih dari setahun yang lalu ia mengajak istrinya untuk ikut tinggal di Banjarmasin (beberapa waktu sebelum ini ia berjuang sendirian di Malang, Jakarta, dst sampai ke Banjarmasin sebelum itu dengan meninggalkan istri dan anaknya di Kediri, dengan pulang-pergi). Ia mengatakan padanya, bahwa ia telah lelah pulang-pergi sendiri dan ingin ditemani keluarganya di kampung halaman. Jadilah ia bersama keluarganya dalam susah-senang sampai maut menjemputnya hari itu.
Pada periode-periode terakhir lukisannya di Banjarmasin (tiga tahun terakhir) ia banyak bereksperimen dalam gaya lukisan. Ia pernah melukis dengan corak realistik, lalu semi abstrak (yang terkesan surealistik dan naif), dan sebuah lukisannya terakhir sekali bercorak (gaya) dekoratif dengan kolase-kolase semacam pasir dan sirap bekas atap gedung bundar yang telah dibuang. Bagaimanapun gayanya, Zulian selalu menampakkan, entah tersirat maupun tersurat, pemikirannya yang surealistik-naif itu. Ia sendirian. Ia terasa sendirian, memperjuangkan gagasan-gagasannya, dalam lukisannya. Ia mengabdi sepenuh hatinya, dipahami maupun tidak oleh orang-orang yang pernah dekat dengannya.
Dan entah, pernahkah saya benar-benar mengenalnya. Saya tak tahu. Seingat saya ia seorang yang keras kepala, dengan ide-idenya. Selamat jalan, Kawan….***

Innalillah wa inna ilaihi raji’un…
berarti semakin berkurang yg menghidupkan kesenian lukis di banua… semoga lahir pengganti2nya.
INSYAALLAH akan ada/ lahir yang menggantikannya, dan mudahan tambah banyak.
allahummagfirlahu warhamhu wa afihi wa’fu anhu..
Tulisan-tulisan anda sangat menarik
Assalaamu’alaikum wr.wb, Hajri…
Senang kembali membaca tulisan Hajri yang tentunya ditulis dengan perasaan yang mendalam terhadap teman yang dikenang sepanjang hayatnya.
tentu sekali Hajri kehilangan teman akrab yang menjadi sumber inspirasi dalam meneruskan perjuangan di medan seni. Banjarmasin kehilangan lagi seniman yang hebat dalam memartabatkan seni dan budaya bangsanya.
Mudahan akan ramai lagi yang bisa muncul bagi mengganti yang telah pergi. Semoga semangat dan cinta Ka Iyan bisa menyembur kepada seniman yang lain dan masih berjuang terutama Hajri sendiri.
Salam mesra dari saya dan al-Fatihah untuk al-marhum.
ini aku anaknya papah ian
kangen lagi ih :’(
sediiihhhhhh banget soalnya keinget pesan” papah :’(