(daripada kosong, saya isi aja dengan tulisan lama. selamat membaca!)
Selasa, 3 April 2011, adalah hari yang terasa sangat cepat bagi saya. Sebelum ini semuanya melambat dalam hidup saya. Pekerjaan, kawan-kawan, dan kesibukan yang beragam dan menumpuk cepat membuat saya hampir tak bisa mengambil jarak dari semuanya itu. Tiba-tiba saja di ujungnya saya merasa perlu keluar dari rutinitas itu, dan di antara semua yang tak bisa saya tinggalkan itu waktu dalam hidup saya hampir enggan bergerak.
Ketika hari minggu sebelumnya teman saya di Jogja mengundang saya (entah sambil isengkah dia?) lewat sms untuk berhadir pada pameran lukisan tunggalnya di Jakarta, secara spontan saya bilang ke diri saya: ini saat yang tepat untuk keluar! Saya bicara pada istri keinginan saya ke Jakarta, dan minta dia memesankan tiket pesawat—dan seperti biasa dia mengakomodir setiap keinginan saya—saya pun dapat merasa lega.
Pagi tadi saya berangkat ke bandara Syamsudin Noor dengan harapan mendapatkan tiket untuk penerbangan ke Jakarta, diantar istri. Ketika dikatakan bahwa penerbangan pukul setengah sepuluh sudah closed ticketing, saya sempat kecewa. Tapi keinginan untuk “keluar” itulah yang membuat saya mengamini penerbangan pukul 12.20 wita, meski dengan konsekwensi saya akan terlambat untuk acara Launching Jurnal Sastra dan Jurnal Kritik (yang ini adalah undangan berikutnya dari teman penulis di Jakarta) pukul 14.00 wib di PDS HB Jassin.
Pukul satu lewat waktu Indonesia bagian barat pesawat yang saya tumpangi landing di bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Saya langsung menuju terminal taksi depan pintu terminal kedatangan. Saya tahu harus memilih si “Burung Biru”, karena reputasinya yang baik mengantar penumpang dengan aman, nyaman dan cepat. Saya hitung kurang lebih satu jam setengah hingga saya sampai di depan TIM, dan saya meminta ke sopir untuk mengantar saya terlebih dahulu ke hotel terdekat karena saya tak ingin menambahi beban pundak saya yang dari tidur malam tidak mendapat istirah yang cukup.
Jadilah saya menginap di Hotel Gren Alia Cikini, dan saya sempat terkejut ketika petugas resepsionis mengatakan bahwa ini adalah hotel syariah. Saya tak sempat berpikir panjang karena harus segera ke Taman Ismail Marzuki (TIM). Saya letakkan tas, mencuci muka, dan berganti baju, menyemprotkan parfum di kamar yang nyaman itu.
Jarak dari hotel sampai depan gerbang TIM kurang lebih 50 meter, kata petugas hotel yang saya Tanya sebelumnya. Saya berjalan kaki ke sana di trotoar dengan pedagang kaki lima di sisi jalan yang tak terlalu lebar yang penuh dengan kendaraan berjalan merambat. Saya menyeberang tepat dari sisi kiri gerbang TIM. Memasuki tempat yang baru pertama kali saya jejaki itu saya bingung harus menuju ke mana untuk menuju PDS HB Jassin. Saya sempat di”sesat”kan oleh seorang berseragam dinas yang rupanya tak paham betul juga gedung-gedung di dalam komplek TIM. Dari pemuda-pemuda gondrong yang nongkrong lesehan di depan Galeri Cipta II, saya diarahkan membelok ke belakang.
Saya sempat bingung di depan sebuah gedung bercat biru, yang di sisi kanan saya ada tangga menuju lantai dua. Saya sempat ingin menuju kumpulan orang-orang seurakan teman-teman saya dan saya di Jogja dulu, ketika terpikir oleh saya untuk menelpon Hanna Fransisca. Ia melambai dari atas ketika kami berbicara dengan hape di telinga. Saya naik ke atas, dan nampaknya seremoni pembukaan baru saja selesai.
Pembawa acara adalah Ahmad Syubbanuddin Alwy yang membiarkan kepalanya botak gondrong di belakang tanpa penutup, moderator Al Azhar—seorang doktor yang saya pernah lihat orang itu di TSI 3 Tanjung Pinang, dan pembicara utama Eep Syaifullah Fatah. Orang-orang duduk dan berdiri memadati ruang diskusi. Hanna menyambut saya hangat, meski kami baru bertemu langsung hari itu, detik itu. Saya sempat mengisi buku daftar peserta, dan menuliskan alamat: Banjarmasin. Saya mengambil tiga buku dari meja yang dipajang buku-buku untuk dijual itu, Jurnal Kritik; Teori dan Kajian Sastra, Jurnal Sastra, dan buku Lumbung Perjumpaan, Kumpulan Sajak Agus R. Sarjono. Ketika ingin membayar, dan uang saya seratus ribu rupiah sudah diterima penjaga buku, buru-buru Hanna yang datang dari sisi kanan mengatakan pada penerima, “tidak usah bayar, dia datang jauh-jauh dari Banjarmasin”. Nampaknya Hanna panitia acara itu dan punya peran penting sehingga si penjaga nurut saja. Saya tak berdaya, menarik lagi uang saya dan berterima kasih padanya.
Eep Syaifullah lebih nampak seperti berorasi, ketimbang sebagai pembedah buku, karena ia mengambil posisi berdiri dan bicara taktis dan lancar serta kharismatik, setelah dipersilakan moderator. Bicaranya panjang lebar, diawali dari persoalan kebangsaan, tentang presiden yang suka membuat lagu, cerita politik khas pribadinya, dan masuk kepada pembicaraan buku secara umum. Ia memandang buku/ kritik itu penting di tengah situasi sosial politik jaman ini. Dan ketika tibalah saatnya sesi tanya jawab, dan seorang ibu membukanya dengan basa-basi, saya pun ke belakang menyambangi Hanna yang mengesms saya. Kami ngobrol sebentar berbasa-basi di tangga samping belakang. Ia nampak sibuk dan saya tak ingin mengganggu kesibukannya lebih jauh. Saya berusaha menikmati acara itu sendirian, di tengah banyak orang yang tak saya kenal, yang saling menyapa sesama rekannya. Saya sempat menyapa Syubbanuddin Alwi, dan mencoba berbasa-basi menyampaikan salam dari kawannya di Banjarmasin, dan ketika mendapati ia terlalu sibuk untuk basa-basi itu saya pun berusaha menikmati kesendirian lagi sambil menghubungi beberapa kawan di Jakarta, entah dengan sms atau mencoba menelpon yang tak berjawab.
Ketika Sainul, yang saya hubungi sebelumnya, menelpon bahwa ia sudah di TIM dan tak tahu di mana tepatnya PDS HB Jassin, saya berusaha mendatanginya yang ternyata duduk di bawah pohon dekat toko buku legendaris-nya Jose Rizal Manua. Alangkah leganya saya mendapatkan teman berbincang sebenarnya. Kami menuju warung-warung di sisi kanan gedung utama di TIM itu. Saya lapar, dan ingin mengajak Sainul makan.
Di salah satu warung, selagi sedang makan, seorang anak kecil peminta-minta mendekati kami. Sainul mengajaknya makan, dan tak ingin member sekadari uang receh. Si anak yang sempat bingung dan ragu, beberapa saat setelah melenggang dari depan kami, datang kembali dan menyatakan kesediaannya untuk ditraktir makan. Ia memesan menu yang lebih hebat dari santapan kami, yang sekadar nasi goreng itu. Soto Surabaya, katanya memesan. Kami senang melihatnya lahap makan, sembari meneruskan diskusi tentang Lamut, budaya Banjar, dan panggung sastra Kalsel.
Hanna lewat di depan kami bersama rombongan. Beberapa yang saya kenal, Acep Zam-Zam Noor, Jamal D. Rahman, Agus R. Sarjono, Ahmad Syubbanuddin Alwi, dan entah siapa lagi. Saya menyapa Hanna, dan ia menyambangi kami, dan saya mengenalkannya pada Sainul, yang menjadi temannya di Facebook namun tak saling kenal secara langsung. Ia mengajak kami minum bersama rombongan di kafe di depan. Saya mengiyakannya, nanti setelah makan, dan ia berlalu.
Saya mengajak Sainul ke Hotel, dan ketika melewati kafe di mana Hanna dan rombongan sedang makan, kami mendatanginya untuk sekadar pamit pulang ke Hotel. Tawarannya untuk gabung minum-minum terpaksa saya tolak karena/ dengan alasan ingin istirahat.
Ya, saya benar-benar cukup lelah sore itu. Malam sebelumnya saya tidur menjelang subuh, dan bangun pagi-pagi untuk bersiap ke bandara. Di pesawat, dalam penerbangan satu setengah jam-an itu, saya tak dapat istirahat dengan nyaman. Begitu sampai di tempat saya langsung berkegiatan tanpa jeda, berbincang dengan tema-tema berat bersama Sainul. Dan saya benar-benar ingin menyandarkan badan!
Di kamar hotel pun kami masih melanjutkan diskusi, sembari saya menyandarkan punggung di kursi santai sebelah jendela besar, di lantai empat itu. Sampai bada Isya, saya menawari jalan-jalan ke TIM kepada Sainul. Ia pun mengamininya, karena mulai nampak bosan di kamar. Saya ke kamar mandi, berharap dapat menyegarkan badan dengan air panas. Siallah saya, karena air panas tak kunjung keluar padahal keran air panas sudah saya putar.
Di TIM kami menuju toko buku legendaris di pojokan itu. Saya sering membaca tentang toko buku itu dan pengelolanya, mendengar ceritanya dari teman yang pernah mampir di sana, melihatnya dari liputan program tivi dan dari film Ada Apa dengan Cinta yang pernah booming itu. Toko Buku Jose Rizal Manua, dengan koleksi buku-bukunya yang tak sekadar pasaran, yang dihidupi oleh semangat kebudayaan yang jarang dimiliki pedagang kebanyakan. Kami hanya berencana melihat-lihat pada awalnya. Tapi begitulah selalu nasib sesama kolektor buku, selalu tergiur dengan pemandangan yang sayang untuk sekadar dilewatkan tanpa membeli. Saya hampir menghabiskan uang di tas pinggang, Sainul hampir menghabiskan uang “sangu kuliah”nya, dan jadilah kami menenteng plastik putih berat dengan buku-buku tebal, yang jarang-jarang ada di toko buku sebesar Gramedia sekalipun.
Saya sempat berbincang dan sharing dengan bang Jose Rizal tentang pengelolaan toko buku berbasis kesadaran budaya yang tinggi semacam punyanya itu, sambil nonton film tentang Bruce Lee. Ia merokok sambil ngopi di kursi malas merahnya, sementara saya bersandar di samping belakangnya di kursi panjang, merokok dengan seekor kucing tertidur di samping saya dan di sebelahnya seorang pemuda setengah gondrong merokok khusuk memandang tivi. Di belakang kami beberapa anak muda lagi. Di belakang lagi pepohonan. TIM memang syahdu, di tengah keramaian ia ngelangut pada jaman yang berkejaran.
Kami sempat mampir di warung kopi depan gerbang di bawah baliho-baliho pertunjukan dan acara-acara TIM lainnya. Lesehan di trotoar lebar semacam yang di Jogja itu kami makan mie goreng instan. Di pergelangan tangan saya waktu menunjukkan pukul setengah satu waktu Banjarmasin. Kami pulang ke hotel, dan masih meneruskan diskusi panjang tentang budaya Banjar (lagi), metodogi ilmiah, tentang seorang tokoh sastra Indonesia kharismatik pujaan kami, dan terus sampai akhirnya Sainul tertidur dan saya masih mengetik tulisan ini, pada menit ini, pukul 03.55 wita (02.55 wib) dini hari.
Waktu memang berlalu cepat hari ini. Saya benar-benar lelah dan ingin istirahat. Wassalam….
Jakarta, 4 Mei 2011, dini hari
Assalaamu’alaikum wr.wb, Hajri….
Wah… asyik sekali dapat keluar dari kesibukan tugas di Banjarmasin ya.
Aktivitas di Jakarta juga mengujakan.
Memang satu istirehat yang memenatkan sebenarnya.
Tetapi apabila sudah keluar dari rutinitas setiap hari kerana menatap tugas yang sama tentu bisa menghadirkan kebosanan.
Saya juga akan bertindak sama seperti Hajri kalau sudah penat dengan apa yang dilakukan sehari-hari. Walau acara “libu”nya penat tetapi menyenangkan.
Pengalaman Hajri di Jakarta memberi gambaran yang menyenangkan tentangnya.
Salam mesra dan terima kasih sudah ke blog saya.
Semoga sukses selalu.
Pengennya kayak Mas Hajri.
Bisa bolak-balik anatar pulau. Pastinya banyak pengalaman yg didapat.
Saya aja baru pertama kali naik pesawat, itupun gratis diongkosi pemerintah karena ada sedikit prestasi yg dapat saya raih.
Salam Kreatif selalu,
Arief Rahman Heriansyah