ramadhan kali ini adalah ramadhan ayah saya
ia mengajarkan bagaimana berpuasa
bersabar atas perut yang lapar, dan berkuasa
sebulan penuh, sebulan penuh!
di sungai di hulu sana
kerabat berjumpa, kapal-kapal bertambat
kami pulang mengantar zakat
kami pulang mengudiki tanah huma
di sisa waktu menjelang eid
saya ingat tentang malam qadr
bersama guru menghadap Allah bersama rasulnya
menghitung diri menanam zikr
jika nanti takbir menggema
adakah ayah turut melihat
seperti katanya, mandikan anakmu, mandikan anakmu!
dan kuburmu, kuburmu, semoga terang malam tadi
bila bagi THR?
wah, komen agus kada nyambung..hehee… —
terasa sekali puisi ini ditulis bersungguh-sungguh,
sosok ayah yang tetap menjadi figur dalam keseluruhan kehidupan seorang hajri — seperti halnya juga bisa kita temui pada penyair micky hidayat yang begitu memeluk erat figur ayahnya…
@sandi
dari pada kutanyakan “bila kawin lagi?” kan tambah kada nyambung hehehe
“Rumah Debu” itu sudah kubaca kang mas, hadiah dari Hajri. Menunggu novel kedua nah
Gus, mestinya nang ditunggu itu novel ente wan hajri..
walaupun sdh jadi abah, tetap ai beumuran msh jadi anak abah…
Wah, ada kata “guru” dan “zikir”, jarang2 muncul dlm puisi2 ente selama ini…
@sf & sa: ana nunggu novel agus aja gin.
@dian: tu pang wal, ai, hikmah beguru lo
hehe… kawanan jua nang meramii
Assalaamu’alaikum wr.wb, Hajri…
Kembali menyapa setelah lama berhenti dari BW lantaran capaian internetnya kurang bermanfaat untuk menerjah ke seluruh alam maya dan hanya aktif di blog sendiri sahaja. Hadir dari kejauhan untuk mengucapkan…
Taqobalallahu minna wa minkum
Minal Aidin wal Faizin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Selamat Hari Raya Idul Fitri
1 Syawal 1432 H
Mudahan ramadhan akan datang menjadi ramadhan Hajri pula buat sang anak yang tentunya mahu mengenang yang sama seperti Hajri mengenang ayah Hajri di atas.
Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.
[...] sahabat maya dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan seperti Ersis Warmansyah Abbas, HE. Benyamine, Hajriansyah, Randu Alamsyah dan Sandi Firly. Atau kerana tidak kenal maka nama itu hanya berlalu seperti angin [...]
Assalaamu’alaikum wr.wb, Hajriansyah…
Hadir untuk menyapa bagi terakhir kalinya sebelum mengundur diri dari keindahan persahabatan di maya. Saya sangat menghargai segala sapaan dan silaturahmi selama kita bersama.
Kita hanya bertemu lewat catatan di poskad kenangan. Hanya memandang kaburan wajah di potret khayalan. Hanya mengetik huruf-huruf di tinta minda. Maafkan saya lahir dan batin jika…. pada tutur kata yang sesekali mencalar hati dalam penulisan dan pendapat diberi.
Semoga Allah selalu memberkati persahabatan yang terjalin baik ini. Sebuah KENANGAN TERINDAH akan menyusul dalam diari kehidupan kita sebagai satu ikatan yang tidak bisa terlerai, andainya pertemuan itu bukan lagi milik kita. Doakan saya dalam kehidupan ini di dunia dan akhirat. Aamiin.
Salam mesra penuh ukhuwwah berpanjangan hingga ke akhirat dari saya Siti Fatimah Ahmad, Sarikei, Sarawak.