Hari Sabtu, 24 Desember 2011, bertempat di rumah M. Sinnie, pelukis asal Tembilahan, di Patangpuluhan, Yogyakarta, beberapa orang pelukis asal Kalimantan Selatan berkumpul, sekadar bersilaturahmi dan membincangkan hal-hal terkait dunia internal dan eksternal kepelukisan mereka dalam konteks keperantauan (madam) mereka di Yogyakarta. Mereka, adalah Diah Yulianti (kelahiran Rantau-Tapin), Kamiran Suryadi (Tanjung-Tabalong), Robet Nasrullah (Nagara-HSS), Rokhyat (Banjarmasin), Hajriansyah (Banjarmasin), M. Sinnie atau Nick (Tembilahan), beserta kawan-kawan dari Kasisab Institute (Ahmad Syadzali dan Nurdin Yahya), juga istri dan suami dari pelukis Rokhyat dan Diah Yulianti.
Kegelisahan bersama yang mengetengah dalam pertemuan ini, adalah terkait minimnya apresiasi pemerintah daerah (di Kalsel) dan sulitnya membangun reputasi yang tinggi di kampung halaman, karena sistem yang belum terbangun. Sistem itu setidaknya meliputi beberapa stakeholder terkait: kepatronan pemerintah atau pihak swasta (pengusaha/ perusahaan besar daerah), kritikus seni, galeri komersial, museum yang ideal, tempat alternatif yang representasional, dan kurator yang visioner dalam menyelenggarakan pameran-pameran yang representatif. Semuanya ini telah tersedia di Yogyakarta, sebuah tanah yang subur untuk tumbuh dan berkembang bagi seniman profesional. Dan, wajarlah jika seseorang yang potensial dan ulet memilih tanah yang lebih subur. Maka, rugilah daerah (dalam hal ini Kalsel) karena bakat-bakat perupa (pelukis) terbaiknya lebih dirasakan kontribusinya di ladang orang.
Yogyakarta sendiri tidak serta merta menjadi sebuah tanah yang menjanjikan bagi para seniman. Keterbukaan Sultan, sejak HB IX, terhadap dunia pendidikan dan keberagaman telah memberikan ruang yang dibangun oleh para pioner, semacam Affandi, S. Sudjojono, R.J. Katamsi, Kusnadi, dan seterusnya oleh sanggar-sanggar yang kemudian mengkulminasi pada berdirinya Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta di awal-awal tahun 60-an.
Yogyakarta sendiri bukanlah ‘medan’ pasar bagi karya-karya seni rupa, sejak mulanya. Ia sebenarnya lebih sebagai “kawah candradimuka” yang menggembleng seniman-seniman hidup mandiri. Affandi merintis “pasar”nya lebih keluar Jogja (Jakarta, Bali, dst.) hingga ke luar-negeri (Eropa dan Amerika). Booming seni lukis di tahun 80-an menyuratkan kehadiran kolektor-kolektor dari Jakarta dan kota-kota besar di luar Jogja sendiri. Begitu pula booming kedua pada pertengahan 90-an, hingga meledakkan nama Djoko Pekik sebagai “Pelukis Satu Milyar”. Di pertengahan 90-an itulah, pula, muncul nama Oei Hong Djien (OHD), mantan dokter dan juragan tembakau dari Magelang, sebagai patron yang luar biasa, sebagai magnitude sekaligus pembimbing bagi kolektor-kolektor pemula, entah dari Magelang, Semarang, Subaraya, Jakarta, dan Singapura.
Dunia kepenulisan/ kritik pun tidaklah seperti cendawan di musim hujan. Kusnadi harus memilih sebagai penulis di samping bakat kepelukisannya, padahal secara ekonomis itu mungkin lebih menjanjikan. Trisno Sumardjo, Sanento Yuliman harus “berteriak-teriak” sambil terus menulis. Sudarmadjie gigih membela anak-anak muda ASRI pengusung Gerakan Seni Rupa Baru, dan rela dikeluarkan dari institusi yang membesarkannya sebagai dosen itu. Agus Dermawan T., hingga generasi Mikke Susanto adalah orang-orang yang memilih pada akhirnya, meskipun mereka handal pula sebenarnya dalam melukis.
Yang tersirat, sekaligus yang tersurat pula, dari cerita di atas, adalah bagaimana sebuah artworld yang mapan itu pada awalnya dirintis penuh perjuangan dalam tahapan-tahapan perkembangan yang tidak sebentar, dari sebuah visi besar yang mulanya diinspirasikan oleh Bung Karno, sebagai otoritas pemerintahan RI yang pertama. Visi besar itu ialah, mustahil membangun sebuah bangsa besar berperadaban, bermarwah tinggi di hadapan negara-negara dunia pertama yang dominatif dan hegemonik itu, tanpa memerhatikan nasib seniman dan keseniannya sebagai salahsatu unsur intelektual yang berkontribusi besar terhadap pembangunan mental dan identitas kebudayaan bangsa. Sikap apresiatif yang dikembangkan oleh “Bung Besar” itu merupakan keniscayaan yang mestinya ditiru oleh pejabat dan petinggi daerah ini.
* * *
Apa yang disebut Durkheim dengan Solidaritas Sosial, adalah suatu relasi sosial (individu dan/ atau kelompok) yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Secara tradisional kita menyebutnya “Bubuhan”, yang diikat oleh ketokohan seseorang yang lebih cendikia atau lebih jagau. Artinya, ada leadership, superordinat atas subordinat (Simmel) yang berterima di bawah prinsip moral dan agama atau hukum.
Dari beberapa diskusi yang diselenggarakan Kasisab Institute, diungkapkan bahwa komunitas bubuhan cenderung akan “ber-nama” ketika ia diorientasikan keluar. Lebih besar, secara makro, komunitas atau urang Banjar akan lebih dikedepankan dalam relasi sosial yang lebih luas di luar konteks geografisnya. Apa yang menjadi bagian dari diri sendiri cenderung tak dirasakan keberadaannya, kecuali ketika ia dinegasikan, keluar dari dirinya, kata Faruk. Orang Banjar cenderung akan merasa bangga dan merindui kebanjarannya ketika keluar dari komunitas Banjar-nya di daerah sendiri. Begitu pula dengan pelukis Kalsel di banua orang. Hanya saja, sifat-sifat individual cenderung melemahkan gairah komunal itu, di samping lemahnya kemampuan orang Banjar untuk membangun jaringan sesamanya (konsolidasi) dalam konteks keprofesian, dst.
Setidaknya ada beberapa hal yang dapat dikembangkan untuk membangun solidaritas sosial yang lebih solid dalam satu jaringan yang menegaskan identitas kebudayaan yang kokoh.
Pertama, pentingnya membangun pengalaman bersama dalam pertemuan-pertemuan atau perayaan yang intens, entah dalam diskusi-diskusi informal maupun lewat perayaan simbolik yang berkonotasi budaya—seperti misalnya pameran. Pengalaman bersama itu tentu melibatkan semua unsur yang ada untuk turut bicara dan memberikan sumbangsih pemikiran ataupun dengan bekerja. Masyarakat tradisi kita cenderung merupakan masyarakat oral, dan ini adalah satu modal yang baik, hanya saja jika terlalu formal orang kita cenderung supan untuk bepandir dan “angkat-tangan” (atau unjuk jari).
Kedua, memberi ruang—baik yang nyata maupun yang simbolik—adalah keniscayaan untuk bakat-bakat potensial kita membangun reputasinya, lalu menginspirasi ke yang lain. Ruang juga potensial bagi orang kita membangun kemandiriannya di tengah ketergantungan yang sangat dengan konsumerisme dari globalisasi yang menjadi mainstream. Hal kedua ini terkait juga dengan penghargaan, yang tak sekadar selayaknya memberi uang untuk para pengemis.
Ketiga, modal pengetahuan perlu terus ditingkatkan demi meluaskan wawasan. Infrastruktur yang menunjang bagi suprastruktur yang telah ada mesti dibangun-dan-kembangkan. Mustahil membangun tradisi tanpa pengetahuan, begitu pula mengharapkan gagasan berkembang tanpa diiringi kecerdasan, kecuali sekadar uumpatan, kada mau kalah pada urang. Kita tak sekadar memerlukan jalan, jembatan, gedung-gedung sekolah, dll., kita juga memerlukan para pakar untuk mengembangkan SDM, institusi pendidikan kesenian/ budaya—selain sekadar Taman Budaya untuk memamerkan dan menggelar karya-karya terbaik orang banua.
Tiga hal di atas saja sudah memerlukan biaya yang besar. Maka, meyakinkan semua stakeholder—DPR, pemerintah, para pengusaha, akademisi—adalah PR yang harus dikerjakan. Diperlukan good-will dan political-will untuk membangunkan potensi yang sememangnya sudah berkembang ini. Atau, kita hanya puas dengan perayaan-perayaan artifisial yang tak memberikan penyadaran lebih jauh.
* * *
Diah Yulianti tak beranjak jauh dari gagasan/ metafora ruh-ruh bukitnya sebagai proyeksi atas subyek kolektif (historis)-nya. Lukisannya yang powerfull adalah ruh orang Banjar yang dibawanya ke perantauan. Begitu juga dengan Kamiran yang detail menggarap setiap bagian lukisannya, Rokhyat dengan ornamen-ornamen esensialnya, Robet dengan obyek-obyek simbolik lewat keris dan kaligrafinya. Beberapa kali pula mereka ulang-alik ke daerah sekadar memotivasi kawan-kawannya untuk berkembang, di tengah kesibukan berkarya dan berpameran yang lebih menjanjikan di Yogyakarta hingganya ke luar-negeri. Pertemuan hari itu mengingatkan kembali akan kenangan sekaligus harapan untuk “ruang besar” yang ber(nama)-Banjar.
Assalaamu’alaikum wr.wb, Hajri…
Bertemu kembali di arena tulis menulis dan semoga akan bisa berdamping semula dengan dunia blog jika kesempatan diperolehi dalam kesempitan waktu kerana sayang sekali segala kemahiran dan ilmu yang ada kurang disiarkan di sini. Saya hanya bisa berada di dunia blog, tidak di FB atau lain-lain laman sosial.
Sungguh miris hati ini membaca dan mengetahui apa yang sedang dialami oleh para pelukis di Kalsel saat ini. Kesungguhan para pelukis dalam mempertahankan warisan bangsa baik melalui karya-karya lukisan harus diambil perhatian oleh pihak pemerintah sebagaimana Bung Karno pernah lakukan.
Sungguh benar bahawa budaya bangsa dan warisannya memberi impak besar dalam meningkatkan sumber ekonomi sebuah negara kerana kesannya bisa mengangkat martabat negara itu sendiri di persada dunia. Keindahan warisan yang memiliki keindahan tersendiri melalui saluran lukisan cukup mantap dan memiliki cara tersendiri yang unik yang hanya dimiliki oleh orang tertentu sahaja.
Jika para pelukis dan kebolehan mereka tidak dihargai, dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk melebarkan bakat dan potensi yang dianugerahi ilahi melalui apa yang mereka fikirkan sesuai dengan sumbangan besar yang bakal diketengahkan seperti kemudahan bahan, tempat berkarya dan pamerannya, tentu kerugian yang besar dan amat dikesali andai mereka berpindah jauh dari kota kebanggaan mereka semata-mata untuk meraih perhatian dunia terhadap karya berbobot mereka. Sedangkan tempat kelahiran sendiri tidak menghargainya.
Mudahan kebimbangan dan keprihatinan Hajri dan sahabat di sana bisa dipanjangkan kepada pihak berwajib agar mereka sedar peri pentingnya khazanah yang ada dalam jiwa para seniman dan bakat besar yang dimiliki. Jangan nanti, bila sudah berpulangnya para pelukis ini ke hadrat Ilahi barulah disadari kebolehan yang sepatutnya ditanmpilkan saat nyawa masih di kandung badan,
Salut ya untuk kesungguhan yang dipancarkan. Selamat buat semua para pelukis di sana. Semoga tahun baru 2012 akan menyaksikan sesuatu yang menyinari dunia seniman di Kalsel khususnya dan di Indonesia amnya.
Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.
ya, ibu, demikianlah… kadang perhatian bisa datang terlambat. van gogh harus menembakkan peluru ke kepalanya dulu, baru sesudahnya orang-orang bisa memahami kehebatan karya2nya. banyak seniman martir semacam ini lahir di daerah yang kering apresiasi dan pada waktu yang kurang tepat. semoga tidak demikian untuk para pelukis kalsel yang potensial, semoga…
terima kasih, setelah lama tak terjumpa.
salam hangat selalu dari banjarmasin.