pada kehidupan yang kita berjalan dan berpikir di atasnya, ada batas di mana manusia mesti mengukur dan menimbang segalanya, termasuk di dalamnya kematian. pada titik ini, adakah benar tentang keabadian, tentang mimpi-mimpi, tentang rencana dan kontrol atas segala taktis menyangkut masa depan yang lebih baik. lebih baik? sejauh mana manusia menafsirkan hari ini dan segala [...]
Arsip untuk ‘Esai’ Kategori
ba’da aidil fitri
Diposkan dalam Esai pada September 24, 2009 | 4 Komentar »
Maka Janganlah Lari
Diposkan dalam Esai pada Juli 3, 2009 | 8 Komentar »
Ada satu peristiwa yang seringkali memancing emosi kita. Saat di mana kita sebagai manusia dihadapkan pada rasa takut yang bersifat personal. Dalam banyak kesempatan kita seringkali tak peduli pada rasa takut, karena keadaan sosial yang membuat kita merasa aman; dikelilingi keluarga, teman, pendukung, dan orang yang kita percayai. Dalam banyak kesempatan kita sering menghindar [...]
Lupa
Diposkan dalam Esai pada Juni 11, 2009 | 8 Komentar »
Aku lupa ada banyak kejadian yang berangkai dalam hidupku, sehingga aku sampai di hari ini; dan bagian-bagian itu yang tersimpan rapi di kotak ingatanku bertumpuk sedemikian rupa sehingga bagiku bagus melihatnya tersusun rapi begitu saja. Kotak ini yang nampak usang dari luarnya benar-benar membuatku malas memerhatikannya, hingga di suatu hari aku merasa ada yang hilang [...]
Penjara Tubuh dan Keniscayaan
Diposkan dalam Esai pada Mei 7, 2009 | 5 Komentar »
Apakah tubuh yang kita gerakkan berdasarkan kehendak pikiran kita ini adalah sebuah media belaka. Manakah yang sebenarnya menggerakkan pikiran, lalu tubuh, lalu mewujud pertumbuhan; dalam hidup pribadi, dalam hidup masyarakat yang banyak. Lalu, apakah benda-benda itu—yang berserak di sekitar kita, yang terus-menerus menyita perhatian kita, yang menuntut sebuah perubahan dalam geraknya.
Luka
Diposkan dalam Esai pada Maret 21, 2009 | 8 Komentar »
Sebuah luka sering menyadarkan kita betapa yang kita cari pada sebuah momen ternyata bukanlah yang kita cari sebenarnya. Ketika perih itu datang dan borok menganga, pahamlah kita bahwa setiap kita memaksa diri untuk bergerak ke arah mana hati kita tak menuju, mungkin kita akan mendapat perih yang menyayat.
Kepemilikan
Diposkan dalam Esai pada Maret 2, 2009 | 16 Komentar »
Apakah yang benar-benar kita miliki dalam hidup ini? Uang, rumah, tanah, keluarga, teman, musuh; adakah yang benar-benar kita miliki sehingga semuanya itu akan terus menjadi milik kita sepanjang hidup saat ini, dan kematian nanti. Adakah yang akan terus menemani kita, menyediakan “dirinya” terhadap kita untuk kita miliki sepenuhnya dan selamanya. Entahlah.
Keluarga
Diposkan dalam Esai pada Februari 9, 2009 | 8 Komentar »
Siapa yang kita miliki di dalam hidup ini, yang datang memberikan pertolongan di saat tersusah, tempat kita berbagi di kala berlimpah, tempat kita mengucap sekadar kata “maaf”, atau “tolong” atau ekspressi kebanggaan kecil ketika memiliki anak pertama?
Siapa lagi yang kita harap, kecuali keluarga.
Orang Banjar Berbudaya
Diposkan dalam Esai pada Februari 6, 2009 | 5 Komentar »
Melihat kota-kota tua yang masih meninggalkan jejak budaya masa lalunya yang terjaga, seperti Jogja dan Bali (menyebut dua contoh di Indonesia yang pernah kulihat) membuatku selalu menerawang. Terbayang di benakku sungai kecoklatan di kotaku: Banjarmasin. Terbayang dalam benakku arus yang mengaliri, terkadang pelan-gemulai seperti gerakan penari kraton yang indah, terkadang landas(begitu kami menyebutnya di Banjarmasin: [...]
Absurditas; Sebuah Kekayaan
Diposkan dalam Esai pada Januari 29, 2009 | 6 Komentar »
Kita ternyata diikat oleh sebuah ikatan yang mempersatukan tubuh-tubuh kita dalam satu kesatuan aturan. Setiap komunitas atau kelompok sosial, sekecil apapun, memiliki aturan. Terdengar klise memang, tapi faktanya—yang ternyata tak mudah diurai dalam bahasa sederhana—menidurkan kita. Menidurkan dalam pengertian membuat kita tak sadar menjalani sebuah aktivitas motorik yang absurd. Absurd dalam pemahaman yang dijalani dan [...]
Mengenang Kematian, Menginsafi Diri, Merencanakan Masa Depan
Diposkan dalam Esai pada Januari 24, 2009 | 8 Komentar »
Hari sabtu, tanggal 26 April 2008, saat shalat Maghrib ayah meninggal dunia. Dua hari kemudian, saat tahlilan hari kedua, paman Muis menyusul ayah. Mereka berdua meninggalkan dunia fana ini dengan kedamaian islami; wajah ayah seakan orang yang tidur, dan paman Muis begitu ‘cepat’ sehingga mengagetkan siapa saja yang dekat dengannya.