<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Lukisan Kata Hajriansyah</title>
	<atom:link href="http://hajriansyah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hajriansyah.wordpress.com</link>
	<description>melukiskan perasaan, mengatakan pikiran</description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 Jan 2012 07:06:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hajriansyah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/e4027aba6fb5e705087da4761367a71b?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Lukisan Kata Hajriansyah</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hajriansyah.wordpress.com/osd.xml" title="Lukisan Kata Hajriansyah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hajriansyah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pelukis Kalsel di Banua Orang</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2012/01/01/pelukis-kalsel-di-banua-orang/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2012/01/01/pelukis-kalsel-di-banua-orang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 12:05:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=523</guid>
		<description><![CDATA[Hari Sabtu, 24 Desember 2011, bertempat di rumah M. Sinnie, pelukis asal Tembilahan, di Patangpuluhan, Yogyakarta, beberapa orang pelukis asal Kalimantan Selatan berkumpul, sekadar bersilaturahmi dan membincangkan hal-hal terkait dunia internal dan eksternal kepelukisan mereka dalam konteks keperantauan (madam) mereka di Yogyakarta. Mereka, adalah Diah Yulianti (kelahiran Rantau-Tapin), Kamiran Suryadi (Tanjung-Tabalong), Robet Nasrullah (Nagara-HSS), Rokhyat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=523&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong>Hari Sabtu, 24 Desember 2011, bertempat di rumah M. Sinnie, pelukis asal Tembilahan, di Patangpuluhan, Yogyakarta, beberapa orang pelukis asal Kalimantan Selatan berkumpul, sekadar bersilaturahmi dan membincangkan hal-hal terkait dunia internal dan eksternal kepelukisan mereka dalam konteks keperantauan (<em>madam</em>) mereka di Yogyakarta. Mereka, adalah Diah Yulianti (kelahiran Rantau-Tapin), Kamiran Suryadi (Tanjung-Tabalong), Robet Nasrullah (Nagara-HSS), Rokhyat (Banjarmasin), Hajriansyah (Banjarmasin), M. Sinnie atau Nick (Tembilahan), beserta kawan-kawan dari Kasisab Institute (Ahmad Syadzali dan Nurdin Yahya), juga istri dan suami dari pelukis Rokhyat dan Diah Yulianti.</p>
<p>Kegelisahan bersama yang mengetengah dalam pertemuan ini, adalah terkait<span id="more-523"></span> minimnya apresiasi pemerintah daerah (di Kalsel) dan sulitnya membangun reputasi yang tinggi di kampung halaman, karena sistem yang belum terbangun. Sistem itu setidaknya meliputi beberapa stakeholder terkait: kepatronan pemerintah atau pihak swasta (pengusaha/ perusahaan besar daerah), kritikus seni, galeri komersial, museum yang ideal, tempat alternatif yang representasional, dan kurator yang visioner dalam menyelenggarakan pameran-pameran yang representatif. Semuanya ini telah tersedia di Yogyakarta, sebuah tanah yang subur untuk tumbuh dan berkembang bagi seniman profesional. Dan, wajarlah jika seseorang yang potensial dan ulet memilih tanah yang lebih subur. Maka, rugilah daerah (dalam hal ini Kalsel) karena bakat-bakat perupa (pelukis) terbaiknya lebih dirasakan kontribusinya di ladang orang.</p>
<p>Yogyakarta sendiri tidak serta merta menjadi sebuah tanah yang menjanjikan bagi para seniman. Keterbukaan Sultan, sejak HB IX, terhadap dunia pendidikan dan keberagaman telah memberikan ruang yang dibangun oleh para pioner, semacam Affandi, S. Sudjojono, R.J. Katamsi, Kusnadi, dan seterusnya oleh sanggar-sanggar yang kemudian mengkulminasi pada berdirinya Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta di awal-awal tahun 60-an.</p>
<p>Yogyakarta sendiri bukanlah ‘medan’ pasar bagi karya-karya seni rupa, sejak mulanya. Ia sebenarnya lebih sebagai “kawah candradimuka” yang menggembleng seniman-seniman hidup mandiri. Affandi merintis “pasar”nya lebih keluar Jogja (Jakarta, Bali, dst.) hingga ke luar-negeri (Eropa dan Amerika). <em>Booming</em> seni lukis di tahun 80-an menyuratkan kehadiran kolektor-kolektor dari Jakarta dan kota-kota besar di luar Jogja sendiri. Begitu pula <em>booming</em> kedua pada pertengahan 90-an, hingga meledakkan nama Djoko Pekik sebagai “Pelukis Satu Milyar”. Di pertengahan 90-an itulah, pula, muncul nama Oei Hong Djien (OHD), mantan dokter dan juragan tembakau dari Magelang, sebagai patron yang luar biasa, sebagai <em>magnitude</em> sekaligus pembimbing bagi kolektor-kolektor pemula, entah dari Magelang, Semarang, Subaraya, Jakarta, dan Singapura.</p>
<p>Dunia kepenulisan/ kritik pun tidaklah seperti cendawan di musim hujan. Kusnadi harus memilih sebagai penulis di samping bakat kepelukisannya, padahal secara ekonomis itu mungkin lebih menjanjikan. Trisno Sumardjo, Sanento Yuliman harus “berteriak-teriak” sambil terus menulis. Sudarmadjie gigih membela anak-anak muda ASRI pengusung Gerakan Seni Rupa Baru, dan rela dikeluarkan dari institusi yang membesarkannya sebagai dosen itu. Agus Dermawan T., hingga generasi Mikke Susanto adalah orang-orang yang memilih pada akhirnya, meskipun mereka handal pula sebenarnya dalam melukis.</p>
<p>Yang tersirat, sekaligus yang tersurat pula, dari cerita di atas, adalah bagaimana sebuah <em>artworld</em> yang mapan itu pada awalnya dirintis penuh perjuangan dalam tahapan-tahapan perkembangan yang tidak sebentar, dari sebuah visi besar yang mulanya diinspirasikan oleh Bung Karno, sebagai otoritas pemerintahan RI yang pertama. Visi besar itu ialah, mustahil membangun sebuah bangsa besar berperadaban, bermarwah tinggi di hadapan negara-negara dunia pertama yang dominatif dan hegemonik itu, tanpa memerhatikan nasib seniman dan keseniannya sebagai salahsatu unsur intelektual yang berkontribusi besar terhadap pembangunan mental dan identitas kebudayaan bangsa. Sikap apresiatif yang dikembangkan oleh “Bung Besar” itu merupakan keniscayaan yang mestinya ditiru oleh pejabat dan petinggi daerah ini.</p>
<p>* * *</p>
<p>Apa yang disebut Durkheim dengan Solidaritas Sosial, adalah suatu relasi sosial (individu dan/ atau kelompok) yang didasarkan  pada perasaan moral dan kepercayaan bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Secara tradisional kita menyebutnya “<em>Bubuhan”</em>, yang diikat oleh ketokohan seseorang yang lebih cendikia atau lebih <em>jagau</em>. Artinya, ada <em>leadership</em>, superordinat atas subordinat (Simmel) yang berterima di bawah prinsip moral dan agama atau hukum.</p>
<p>Dari beberapa diskusi yang diselenggarakan Kasisab Institute, diungkapkan bahwa komunitas <em>bubuhan</em> cenderung akan “ber-nama” ketika ia diorientasikan keluar. Lebih besar, secara makro, komunitas atau <em>urang</em> Banjar akan lebih dikedepankan dalam relasi sosial yang lebih luas di luar konteks geografisnya. Apa yang menjadi bagian dari diri sendiri cenderung tak dirasakan keberadaannya, kecuali ketika ia dinegasikan, keluar dari dirinya, kata Faruk. Orang Banjar cenderung akan merasa bangga dan merindui kebanjarannya ketika keluar dari komunitas Banjar-nya di daerah sendiri. Begitu pula dengan pelukis Kalsel di <em>banua</em> orang. Hanya saja, sifat-sifat individual cenderung melemahkan gairah komunal itu, di samping lemahnya kemampuan orang Banjar untuk membangun jaringan sesamanya (konsolidasi) dalam konteks keprofesian, dst.</p>
<p>Setidaknya ada beberapa hal yang dapat dikembangkan untuk membangun solidaritas sosial yang lebih solid dalam satu jaringan yang menegaskan identitas kebudayaan yang kokoh.</p>
<p><em>Pertama</em>, pentingnya membangun pengalaman bersama dalam pertemuan-pertemuan atau perayaan yang intens, entah dalam diskusi-diskusi informal maupun lewat perayaan simbolik yang berkonotasi budaya—seperti misalnya pameran. Pengalaman bersama itu tentu melibatkan semua unsur yang ada untuk turut bicara dan memberikan sumbangsih pemikiran ataupun dengan bekerja. Masyarakat tradisi kita cenderung merupakan masyarakat oral, dan ini adalah satu modal yang baik, hanya saja jika terlalu formal orang kita cenderung <em>supan</em> untuk <em>bepandir</em> dan “angkat-tangan” (atau unjuk jari)<em>.</em></p>
<p><em>Kedua</em>, memberi ruang—baik yang nyata maupun yang simbolik—adalah keniscayaan untuk bakat-bakat potensial kita membangun reputasinya, lalu menginspirasi ke yang lain. Ruang juga potensial bagi orang kita membangun kemandiriannya di tengah ketergantungan yang sangat dengan konsumerisme dari globalisasi yang menjadi <em>mainstream</em>. Hal kedua ini terkait juga dengan penghargaan, yang tak sekadar selayaknya memberi uang untuk para pengemis.</p>
<p><em>Ketiga</em>, modal pengetahuan perlu terus ditingkatkan demi meluaskan wawasan. Infrastruktur yang menunjang bagi suprastruktur yang telah ada mesti dibangun-dan-kembangkan. Mustahil membangun tradisi tanpa pengetahuan, begitu pula mengharapkan gagasan berkembang tanpa diiringi kecerdasan, kecuali sekadar <em>uumpatan, kada mau kalah pada urang.</em> Kita tak sekadar memerlukan jalan, jembatan, gedung-gedung sekolah, dll., kita juga memerlukan para pakar untuk mengembangkan SDM, institusi pendidikan kesenian/ budaya—selain sekadar Taman Budaya untuk memamerkan dan menggelar karya-karya terbaik orang <em>banua</em>.</p>
<p>Tiga hal di atas saja sudah memerlukan biaya yang besar. Maka, meyakinkan semua <em>stakeholder</em>—DPR, pemerintah, para pengusaha, akademisi—adalah PR yang harus dikerjakan. Diperlukan <em>good-will</em> dan <em>political-will</em> untuk membangunkan potensi yang sememangnya sudah berkembang ini. Atau, kita hanya puas dengan perayaan-perayaan artifisial yang tak memberikan penyadaran lebih jauh.</p>
<p>* * *</p>
<p>Diah Yulianti tak beranjak jauh dari gagasan/ metafora ruh-ruh bukitnya sebagai proyeksi atas subyek kolektif (historis)-nya. Lukisannya yang <em>powerfull</em> adalah ruh orang Banjar yang dibawanya ke perantauan. Begitu juga dengan Kamiran yang detail menggarap setiap bagian lukisannya, Rokhyat dengan ornamen-ornamen esensialnya, Robet dengan obyek-obyek simbolik lewat keris dan kaligrafinya. Beberapa kali pula mereka <em>ulang-alik</em> ke daerah sekadar memotivasi kawan-kawannya untuk berkembang, di tengah kesibukan berkarya dan berpameran yang lebih menjanjikan di Yogyakarta hingganya ke luar-negeri. Pertemuan hari itu mengingatkan kembali akan kenangan sekaligus harapan untuk “ruang besar” yang ber(nama)-Banjar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hajriansyah.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hajriansyah.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hajriansyah.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hajriansyah.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/523/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=523&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2012/01/01/pelukis-kalsel-di-banua-orang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ramadhan ke eid</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2011/08/21/ramadhan-ke-eid/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2011/08/21/ramadhan-ke-eid/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Aug 2011 02:13:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=521</guid>
		<description><![CDATA[ramadhan kali ini adalah ramadhan ayah saya ia mengajarkan bagaimana berpuasa bersabar atas perut yang lapar, dan berkuasa sebulan penuh, sebulan penuh! &#160; di sungai di hulu sana kerabat berjumpa, kapal-kapal bertambat kami pulang mengantar zakat kami pulang mengudiki tanah huma &#160; di sisa waktu menjelang eid saya ingat tentang malam qadr bersama guru menghadap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=521&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ramadhan kali ini adalah ramadhan ayah saya</p>
<p>ia mengajarkan bagaimana berpuasa</p>
<p>bersabar atas perut yang lapar, dan berkuasa</p>
<p>sebulan penuh, sebulan penuh!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>di sungai di hulu sana</p>
<p>kerabat berjumpa, kapal-kapal bertambat</p>
<p>kami pulang mengantar zakat</p>
<p>kami pulang mengudiki tanah huma</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>di sisa waktu menjelang eid</p>
<p>saya ingat tentang malam qadr</p>
<p>bersama guru menghadap Allah bersama rasulnya</p>
<p>menghitung diri menanam zikr</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>jika nanti takbir menggema</p>
<p>adakah ayah turut melihat</p>
<p>seperti katanya, mandikan anakmu, mandikan anakmu!</p>
<p>dan kuburmu, kuburmu, semoga terang malam tadi</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hajriansyah.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hajriansyah.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hajriansyah.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hajriansyah.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/521/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=521&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2011/08/21/ramadhan-ke-eid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hari Ini Waktu Berlalu Cepat; Banjarmasin &#8211; Jakarta</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2011/06/12/hari-ini-waktu-berlalu-cepat-banjarmasin-jakarta/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2011/06/12/hari-ini-waktu-berlalu-cepat-banjarmasin-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jun 2011 08:53:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[(daripada kosong, saya isi aja dengan tulisan lama. selamat membaca!) Selasa, 3 April 2011, adalah hari yang terasa sangat cepat bagi saya. Sebelum ini semuanya melambat dalam hidup saya. Pekerjaan, kawan-kawan, dan kesibukan yang beragam dan menumpuk cepat membuat saya hampir tak bisa mengambil jarak dari semuanya itu. Tiba-tiba saja di ujungnya saya merasa perlu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=516&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(daripada kosong, saya isi aja dengan tulisan lama. selamat membaca!)</p>
<p>Selasa, 3 April 2011, adalah hari yang terasa sangat cepat bagi saya. Sebelum ini semuanya melambat dalam hidup saya. Pekerjaan, kawan-kawan, dan kesibukan yang beragam dan menumpuk cepat membuat saya hampir tak bisa mengambil jarak dari semuanya itu. Tiba-tiba saja di ujungnya saya merasa perlu keluar dari rutinitas itu, dan di antara semua yang tak bisa saya tinggalkan itu waktu dalam hidup saya hampir enggan bergerak.</p>
<p>Ketika hari minggu sebelumnya teman saya di Jogja mengundang saya (entah sambil isengkah dia?) lewat sms untuk berhadir pada pameran lukisan tunggalnya di Jakarta, secara spontan saya bilang ke diri saya: ini saat yang tepat untuk keluar! Saya bicara pada istri keinginan saya ke Jakarta, dan minta dia memesankan tiket pesawat—dan seperti biasa dia mengakomodir setiap keinginan saya—saya pun dapat merasa lega.<span id="more-516"></span></p>
<p>Pagi tadi saya berangkat ke bandara Syamsudin Noor dengan harapan mendapatkan tiket untuk penerbangan ke Jakarta, diantar istri. Ketika dikatakan bahwa penerbangan pukul setengah sepuluh sudah <em>closed ticketing,</em> saya sempat kecewa. Tapi keinginan untuk “keluar” itulah yang membuat saya mengamini penerbangan pukul 12.20 wita, meski dengan konsekwensi saya akan terlambat untuk acara Launching <em>Jurnal Sastra</em> dan <em>Jurnal Kritik </em>(yang ini adalah undangan berikutnya dari teman penulis di Jakarta) pukul 14.00 wib di PDS HB Jassin.</p>
<p>Pukul satu lewat waktu Indonesia bagian barat pesawat yang saya tumpangi <em>landing</em> di bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Saya langsung menuju terminal taksi depan pintu terminal kedatangan. Saya tahu harus memilih si “Burung Biru”, karena reputasinya yang baik mengantar penumpang dengan aman, nyaman dan cepat. Saya hitung kurang lebih satu jam setengah hingga saya sampai di depan TIM, dan saya meminta ke sopir untuk mengantar saya terlebih dahulu ke hotel terdekat karena saya tak ingin menambahi beban pundak saya yang dari tidur malam tidak mendapat istirah yang cukup.</p>
<p>Jadilah saya menginap di Hotel Gren Alia Cikini, dan saya sempat terkejut ketika petugas resepsionis mengatakan bahwa ini adalah hotel syariah. Saya tak sempat berpikir panjang karena harus segera ke Taman Ismail Marzuki (TIM). Saya letakkan tas, mencuci muka, dan berganti baju, menyemprotkan parfum di kamar yang nyaman itu.</p>
<p>Jarak dari hotel sampai depan gerbang TIM kurang lebih 50 meter, kata petugas hotel yang saya Tanya sebelumnya. Saya berjalan kaki ke sana di trotoar dengan pedagang kaki lima di sisi jalan yang tak terlalu lebar yang penuh dengan kendaraan berjalan merambat. Saya menyeberang tepat dari sisi kiri gerbang TIM. Memasuki tempat yang baru pertama kali saya jejaki itu saya bingung harus menuju ke mana untuk menuju PDS HB Jassin. Saya sempat di”sesat”kan oleh seorang berseragam dinas yang rupanya tak paham betul juga gedung-gedung di dalam komplek TIM. Dari pemuda-pemuda gondrong yang nongkrong lesehan di depan Galeri Cipta II, saya diarahkan membelok ke belakang.</p>
<p>Saya sempat bingung di depan sebuah gedung bercat biru, yang di sisi kanan saya ada tangga menuju lantai dua. Saya sempat ingin menuju kumpulan orang-orang seurakan teman-teman saya dan saya di Jogja dulu, ketika terpikir oleh saya untuk menelpon Hanna Fransisca. Ia melambai dari atas ketika kami berbicara dengan hape di telinga. Saya naik ke atas, dan nampaknya seremoni pembukaan baru saja selesai.</p>
<p>Pembawa acara adalah Ahmad Syubbanuddin Alwy yang membiarkan kepalanya botak gondrong di belakang tanpa penutup, moderator Al Azhar—seorang doktor yang saya pernah lihat orang itu di TSI 3 Tanjung Pinang, dan pembicara utama Eep Syaifullah Fatah. Orang-orang duduk dan berdiri memadati ruang diskusi. Hanna menyambut saya hangat, meski kami baru bertemu langsung hari itu, detik itu. Saya sempat mengisi buku daftar peserta, dan menuliskan alamat: Banjarmasin. Saya mengambil tiga buku dari meja yang dipajang buku-buku untuk dijual itu, <em>Jurnal Kritik; Teori dan Kajian Sastra</em>, <em>Jurnal Sastra</em>, dan buku <em>Lumbung Perjumpaan, Kumpulan Sajak Agus R. Sarjono</em>. Ketika ingin membayar, dan uang saya seratus ribu rupiah sudah diterima penjaga buku, buru-buru Hanna yang datang dari sisi kanan mengatakan pada penerima, “tidak usah bayar, dia datang jauh-jauh dari Banjarmasin”. Nampaknya Hanna panitia acara itu dan punya peran penting sehingga si penjaga nurut saja. Saya tak berdaya, menarik lagi uang saya dan berterima kasih padanya.</p>
<p>Eep Syaifullah lebih nampak seperti berorasi, ketimbang sebagai pembedah buku, karena ia mengambil posisi berdiri dan bicara taktis dan lancar serta kharismatik, setelah dipersilakan moderator. Bicaranya panjang lebar, diawali dari persoalan kebangsaan, tentang presiden yang suka membuat lagu, cerita politik khas pribadinya, dan masuk kepada pembicaraan buku secara umum. Ia memandang buku/ kritik itu penting di tengah situasi sosial politik jaman ini. Dan ketika tibalah saatnya sesi tanya jawab, dan seorang ibu membukanya dengan basa-basi, saya pun ke belakang menyambangi Hanna yang mengesms saya. Kami ngobrol sebentar berbasa-basi di tangga samping belakang. Ia nampak sibuk dan saya tak ingin mengganggu kesibukannya lebih jauh. Saya berusaha menikmati acara itu sendirian, di tengah banyak orang yang tak saya kenal, yang saling menyapa sesama rekannya. Saya sempat menyapa Syubbanuddin Alwi, dan mencoba berbasa-basi menyampaikan salam dari kawannya di Banjarmasin, dan ketika mendapati ia terlalu sibuk untuk basa-basi itu saya pun berusaha menikmati kesendirian lagi sambil menghubungi beberapa kawan di Jakarta, entah dengan sms atau mencoba menelpon yang tak berjawab.</p>
<p>Ketika Sainul, yang saya hubungi sebelumnya, menelpon bahwa ia sudah di TIM dan tak tahu di mana tepatnya PDS HB Jassin, saya berusaha mendatanginya yang ternyata duduk di bawah pohon dekat toko buku legendaris-nya Jose Rizal Manua. Alangkah leganya saya mendapatkan teman berbincang sebenarnya. Kami menuju warung-warung di sisi kanan gedung utama di TIM itu. Saya lapar, dan ingin mengajak Sainul makan.</p>
<p>Di salah satu warung, selagi sedang makan, seorang anak kecil peminta-minta mendekati kami. Sainul mengajaknya makan, dan tak ingin member sekadari uang receh. Si anak yang sempat bingung dan ragu, beberapa saat setelah melenggang dari depan kami, datang kembali dan menyatakan kesediaannya untuk ditraktir makan. Ia memesan menu yang lebih hebat dari santapan kami, yang sekadar nasi goreng itu. Soto Surabaya, katanya memesan. Kami senang melihatnya lahap makan, sembari meneruskan diskusi tentang Lamut, budaya Banjar, dan panggung sastra Kalsel.</p>
<p>Hanna lewat di depan kami bersama rombongan. Beberapa yang saya kenal, Acep Zam-Zam Noor, Jamal D. Rahman, Agus R. Sarjono, Ahmad Syubbanuddin Alwi, dan entah siapa lagi. Saya menyapa Hanna, dan ia menyambangi kami, dan saya mengenalkannya pada Sainul, yang menjadi temannya di Facebook namun tak saling kenal secara langsung. Ia mengajak kami minum bersama rombongan di kafe di depan. Saya mengiyakannya, nanti setelah makan, dan ia berlalu.</p>
<p>Saya mengajak Sainul ke Hotel, dan ketika melewati kafe di mana Hanna dan rombongan sedang makan, kami mendatanginya untuk sekadar pamit pulang ke Hotel. Tawarannya untuk gabung minum-minum terpaksa saya tolak karena/ dengan alasan ingin istirahat.</p>
<p>Ya, saya benar-benar cukup lelah sore itu. Malam sebelumnya saya tidur menjelang subuh, dan bangun pagi-pagi untuk bersiap ke bandara. Di pesawat, dalam penerbangan satu setengah jam-an itu, saya tak dapat istirahat dengan nyaman. Begitu sampai di tempat saya langsung berkegiatan tanpa jeda, berbincang dengan tema-tema berat bersama Sainul. Dan saya benar-benar ingin menyandarkan badan!</p>
<p>Di kamar hotel pun kami masih melanjutkan diskusi, sembari saya menyandarkan punggung di kursi santai sebelah jendela besar, di lantai empat itu. Sampai bada Isya, saya menawari jalan-jalan ke TIM kepada Sainul. Ia pun mengamininya, karena mulai nampak bosan di kamar. Saya ke kamar mandi, berharap dapat menyegarkan badan dengan air panas. Siallah saya, karena air panas tak kunjung keluar padahal keran air panas sudah saya putar.</p>
<p>Di TIM kami menuju toko buku legendaris di pojokan itu. Saya sering membaca tentang toko buku itu dan pengelolanya, mendengar ceritanya dari teman yang pernah mampir di sana, melihatnya dari liputan program tivi dan dari film Ada Apa dengan Cinta yang pernah booming itu. Toko Buku Jose Rizal Manua, dengan koleksi buku-bukunya yang tak sekadar pasaran, yang dihidupi oleh semangat kebudayaan yang jarang dimiliki pedagang kebanyakan. Kami hanya berencana melihat-lihat pada awalnya. Tapi begitulah selalu nasib sesama kolektor buku, selalu tergiur dengan pemandangan yang sayang untuk sekadar dilewatkan tanpa membeli. Saya hampir menghabiskan uang di tas pinggang, Sainul hampir menghabiskan uang “sangu kuliah”nya, dan jadilah kami menenteng plastik putih berat dengan buku-buku tebal, yang jarang-jarang ada di toko buku sebesar Gramedia sekalipun.</p>
<p>Saya sempat berbincang dan <em>sharing</em> dengan bang Jose Rizal tentang pengelolaan toko buku berbasis kesadaran budaya yang tinggi semacam punyanya itu, sambil nonton film tentang Bruce Lee. Ia merokok sambil ngopi di kursi malas merahnya, sementara saya bersandar di samping belakangnya di kursi panjang, merokok dengan seekor kucing tertidur di samping saya dan di sebelahnya seorang pemuda setengah gondrong merokok khusuk memandang tivi. Di belakang kami beberapa anak muda lagi. Di belakang lagi pepohonan. TIM memang syahdu, di tengah keramaian ia ngelangut pada jaman yang berkejaran.</p>
<p>Kami sempat mampir di warung kopi depan gerbang di bawah baliho-baliho pertunjukan dan acara-acara TIM lainnya. Lesehan di trotoar lebar semacam yang di Jogja itu kami makan mie goreng instan. Di pergelangan tangan saya waktu menunjukkan pukul setengah satu waktu Banjarmasin. Kami pulang ke hotel, dan masih meneruskan diskusi panjang tentang budaya Banjar (lagi), metodogi ilmiah, tentang seorang tokoh sastra Indonesia kharismatik pujaan kami, dan terus sampai akhirnya Sainul tertidur dan saya masih mengetik tulisan ini, pada menit ini, pukul 03.55 wita (02.55 wib) dini hari.</p>
<p>Waktu memang berlalu cepat hari ini. Saya benar-benar lelah dan ingin istirahat. Wassalam&#8230;.</p>
<p><em>Jakarta, 4 Mei 2011, dini hari</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hajriansyah.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hajriansyah.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hajriansyah.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hajriansyah.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/516/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=516&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2011/06/12/hari-ini-waktu-berlalu-cepat-banjarmasin-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>In Memoriam Zulian Rifani: Pengabdi Seni Lukis yang Keras Kepala</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2011/03/25/in-memoriam-zulian-rifani-pengabdi-seni-lukis-yang-keras-kepala/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2011/03/25/in-memoriam-zulian-rifani-pengabdi-seni-lukis-yang-keras-kepala/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2011 13:42:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=511</guid>
		<description><![CDATA[Pagi, pukul 06.30, saya terbangun mendengar dering hape di nakas samping tempat tidur saya. Saya sebenarnya enggan membuka mata, karena saya baru saja tidur pukul empat subuh tadi. Tapi istri saya kemudian memberitahu bahwa itu telpon dari Pak Enos (nama populer dari Kepala Taman Budaya Kalsel: Drs. Ahmadi Soufyan). Saya pikir ini akan ada hubungannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=511&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pagi, pukul 06.30</strong>, saya terbangun mendengar dering hape di nakas samping tempat tidur saya. Saya sebenarnya enggan membuka mata, karena saya baru saja tidur pukul empat subuh tadi. Tapi istri saya kemudian memberitahu bahwa itu telpon dari Pak Enos (nama populer dari Kepala Taman Budaya Kalsel: Drs. Ahmadi Soufyan). Saya pikir ini akan ada hubungannya dengan Pameran Koleksi Galeri Nasional yang sedianya akan digelar bulan Juli nanti, tapi mengapa pula harus mengganggu tidur saya yang sebentar itu.</p>
<p>Saya sungguh terkejut, sangat terkejut bahkan, ketika Pak Enos mengatakan, “Jri, Iyan meninggal tadi pagi!” Saya sempat menanya ulang: “Iyan, siapa?” Dan sungguh, saya hampir tak percaya mengetahui bahwa yang dimaksud adalah Zulian Rifani, pelukis—teman dekat kami.</p>
<p>Zulian Rifani meninggal pagi itu,  Rabu (23/3/2011), pada pukul kurang-lebih 06.00 wita di Rumah Sakit Islam, Banjarmasin. Sejak malam sebelumnya almarhum telah berada di rumah sakit dalam keadaan koma, akibat tekanan darah yang, katanya, sangat tinggi. Kawan almarhum, Umar Sidik, menemaninya sampai pukul dua dini hari. Dan Umar terkejut, ketika saya menelponnya untuk menanyakan perihal kematian ini kepadanya; ternyata iapun baru tahu dari saya.</p>
<p>Saya mengenal Zulian Rifani jauh sebelum ini.<span id="more-511"></span> Saya ingat waktu itu masih kuliah di ISI Jogja. Pelukis Rokhyat yang mengajak saya ke rumahnya, yang waktu itu berada di depan simpangan menuju perumahan Sewon Asri, di Belakang Kampus ISI (Institut Seni Indonesia). Rumah kontrakannya waktu itu cukup bagus, dengan halaman yang cukup luas dengan sebuah mobil sejenis Carry Station di garasinya. Begitu masuk dan disambut hangat, wow, saya terkesan dengan banyaknya lukisan dengan warna-warna cerah-ceria menggantung di dinding, dan bergelatakan di ruang tengah sampai ke dapurnya. Lukisan-lukisan itu terbilang besar jika dibandingkan lukisan-lukisan di Sanggar Solihin, Taman Budaya umumnya.</p>
<p>Zulian Rifani pernah mengajak saya sekeluarga untuk menginap di rumahnya, di Sewon itu. Ia menyuruh saya membawa kanvas dan cat-cat akrilik saya beserta kuas-kuasnya. Malam itu mengajari saya sangat “keras”. Saya melukis, dan ia turut mencoret-coret di kanvas saya. Malam itu sambil berbincang dan melukis dengan beberapa gelas kopi, sementara istri dan anak kami tertidur di kamar. Entah sampai pukul berapa kami menghabiskan hari itu, yang saya ingat hanyalah: sampai pagi kami tak tidur!</p>
<p>Ketika seorang teman dari Banjar, yang berbakat melukis juga, Heri Sudiono bertemu saya di Jogja, saya mengajaknya ke rumah Ka Iyan (begitulah saya memanggilnya). Saya hanya kepikiran bagaimana Heri yang datang <em>hanya dengan bakat saja</em> itu dapat <em>survive</em> di Jogja. Ka Iyan menyambutnya dengan hangat, dan kemudian mengenalkannya kepada kawannya yang telah memberdayakan Ka Iyan sendiri sejak ia datang kembali ke Jojga dan berkeinginan <em>survive</em> di sana hanya dengan melukis.</p>
<p>Bonnie Setiawan, seorang pelukis yang telah mapan, teman yang dirasanya sangat berjasa dalam hidupnya sebagai pelukis. Kepadanyalah kemudian kami dikenalkan, dan Heri beberapa waktu kemudian tinggal di studionya dekat Pelem Sewu. Kami—saya sendiri, Heri, dan Ka Iyan—sempat  melukis di studio mas Bonnie yang cukup besar itu, dengan banyak lukisan kawan yang dititipkan di sana untuk dijual dan buku-buku seni rupa yang tebal-tebal.</p>
<p>Setiap hari selalu ada kawan-kawan pelukis yang berkunjung ke sana, saya dan Heri yang masih sangat “muda” dalam kesenilukisan bisa belajar dari membaca buku dan katalog dan berdiskusi dengan Mas Bonnie, Ka Iyan, dan pelukis-pelukis senior lainnya, seperti Iswanto, Didik Nurhadi, dan beberapa pelukis yang sudah punya nama dalam <em>mainstream</em> seni lukis Indonesia. Bahkan, beberapa kolektor Mas Bonnie yang kadang berkunjung ke studio sering juga berbagi cerita perihal “penggorengan” komoditas lukisan di Jogja, Magelang, Bandung, Jakarta, dan kota-kota seni dunia lainnya.</p>
<p>Zulian Rifani terdaftar sebagai Angkatan ’87 di Kampus ISI Jogja (terhitung sejak mereka terdaftar di kampus ISI). Angkatan ini termasuk pendobrak, baik dalam hal pasar seni lukis maupun kreatifitas karyanya, <em>mainstream</em> seni lukis Indonesia. Beberapa eksponennya telah mendunia, sebut saja Entang Wiharso, Nasirun, Faisal, Bonnie Setiawan dan banyak lagi—termasuk Zulian yang pernah pula berpameran di luar negeri atas sponsor Didir Hammel pengelola Duta Fine Art Jakarta, saya pernah membaca ulasan mengenai dirinya dan lukisan-lukisannya di majalah <em>Femina</em> tahun 2000-an.</p>
<p>Lukisan-lukisan terawal Ka Iyan bergaya dekoratif-kubistik-naif <em>a la</em> Bonnie. Ia mengakui keterpengaruhannya itu dengan sadar. Tapi ada perbedaan yang signifikan di antara keduanya. Di sisi lain gaya artistik lukisan mereka, Bonnie sangat kenal warna “Jawa”nya. Itu antara lain terlihat dalam objek-objek lukisannya yang merepresentasikan simbol-simbol kejawaannya seperti orang dengan baju lurik berblangkon, andong, jatilan dan warna-warnanya yang di Jogja biasa sering diidentifikasi dalam warna-warna tersier semacam coklat, hijau, merah darah, dan lain sebagainya. Sementara, Zulian sangat berwarna; objek-objeknya lebih bebas dan warna-warnanya sangat cerah (merah, kuning, biru, putih, orange, dst.) Itulah yang seringkali kami, pelukis-pelukis Kalsel di Jogja, sebut berwarna “Banjar”.</p>
<p>Lukisan-lukisan itu yang hampir selalunya penuh dengan objek-objek naif yang disusunnya secara dekoratif dan jukstaposisi (dijajarkan secara saling bertumpukan) dengan mengindahkan linearitas gaya realistik. Warna-warnanya adalah warna primer-sekunder, semacam merah, orange, kuning, hijua, biru, violet yang beberapa diglasir dan dinetralisir dengan warna putih dan beberapa coklat.</p>
<p>Zulian sebenarnya melukis dengan ide-ide yang surealistik-naif. Ia banyak kali membicarakan lukisan dengan imaji-imaji verbal yang tak tersangkakan. Beberapa memang terkesan sangat naif, dan jika berbicara ia sangat ceria—dan kadang juga dalam lelucon yang konyol bagi teman-teman dekatnya (di luar penampilan kesehariannya yang terkesan serius dan pendiam).</p>
<p>Suatu waktu di akhir “kejayaan”nya, Zulian sempat bereksperimen dengan bidang-bidang kanvas besar, dengan warna-warna cerah yang garang, dengan tarikan garis-garis yang sangat ekspresif. Untuk itu ia banyak menghabiskan uang. Cat-cat dalam <em>tube</em> besar berharga ratusan ribu rupiah ia “buang-buang” dalam ekspresi yang liar di kanvas-kanvas besar itu. Dan entah, di mana kini lukisan-lukisan (hasil eksperimen) itu berada; karena Zulian sangat acuh dengan karya-karyanya yang tak laku, lukisan-lukisannya tersebar di mana-mana di rumah-rumah kerabat dan kawan-kawan baiknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>* * *</p>
<p>Nopember 2003 saya pulang dari Jogja karena cuti kuliah. Saat itu, karena tahu Ka Iyan ada di Banjar saya berkunjung ke tempat tinggalnya—waktu itu rumah orang tuanya—di Mulawarman (sekarang di belakang gedung Pramuka). Ia pulang ke kampung halamannya waktu itu karena jenuh di kampung orang, dan ingin berusaha di luar profesinya sebagai pelukis. Saat berkunjung itulah ia mengajak saya membuka usaha bersama yang bergerak di bidang reklame. Saya yang merasa tak punya pekerjaan pun menyepakatinya. Dari situlah saya memulai usaha yang saya geluti hingga sekarang ini.</p>
<p>Hanya tiga bulan kami bekerjasama, karena beberapa hal kami memutuskan untuk jalan sendiri-sendiri. Dan, Zulian pun kembali lagi ke Jawa. Saya dengar ia malang-melintang lagi di Jogja, Jakarta, Bandung, dan Kediri. Namun tak saya dengar ia meraih kesuksesan lagi sebagaimana yang pernah dialaminya dalam seni lukis.</p>
<p>Sampai suatu hari, kurang-lebih tiga tahun yang lalu, sepulang ke rumah istri saya bilang Ka Iyan ada mampir ke rumah. Dia pulang kembali, pikir saya. Dan, nyatalah sewaktu bertemu di warung Komisi XI, Taman Budaya Kalsel ia bilang lelah sudah di kampung orang dan ingin berkarya di daerah saja. Waktu itu ia berencana melukis di badan jukung-jukung yang sudah tak dipakai lagi untuk dijualnya kembali ke galeri-galeri di Jogja dan Jakarta.</p>
<p>Zulian penuh dengan ide-ide yang terkadang terlampau berat untuk diaplikasikannya sendiri, di luar lukisannya. Ia pernah juga berencana menata kembali sistem berkeseni-lukisan di Banjarmasin. Ia mengajak beberapa kawan (M. Syahriel M. Noor dan Umar Sidik) termasuk saya. Ia menyemangati kami, utamanya saya yang waktu itu sudah malas melukis. Ia berusaha menata Sanggar Solihin, dan sempat tinggal di sebuah kamar di sana selama kurang lebih dua tahun.</p>
<p>Sampai tak lebih dari setahun yang lalu ia mengajak istrinya untuk ikut tinggal di Banjarmasin (beberapa waktu sebelum ini ia berjuang sendirian di Malang, Jakarta, dst sampai ke Banjarmasin sebelum itu dengan meninggalkan istri dan anaknya di Kediri, dengan pulang-pergi). Ia mengatakan padanya, bahwa ia telah lelah pulang-pergi sendiri dan ingin ditemani keluarganya di kampung halaman. Jadilah ia bersama keluarganya dalam susah-senang sampai maut menjemputnya hari itu.</p>
<p>Pada periode-periode terakhir lukisannya di Banjarmasin (tiga tahun terakhir) ia banyak bereksperimen dalam gaya lukisan. Ia pernah melukis dengan corak realistik, lalu semi abstrak (yang terkesan surealistik dan naif), dan sebuah lukisannya terakhir sekali bercorak (gaya) dekoratif dengan kolase-kolase semacam pasir dan sirap bekas atap gedung bundar yang telah dibuang. Bagaimanapun gayanya, Zulian selalu menampakkan, entah tersirat maupun tersurat, pemikirannya yang surealistik-naif itu. Ia sendirian. Ia terasa sendirian, memperjuangkan gagasan-gagasannya, dalam lukisannya. Ia mengabdi sepenuh hatinya, dipahami maupun tidak oleh orang-orang yang pernah dekat dengannya.</p>
<p>Dan entah, pernahkah saya benar-benar mengenalnya. Saya tak tahu. Seingat saya ia seorang yang keras kepala, dengan ide-idenya. Selamat jalan, Kawan&#8230;.***</p>
<p><a href="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2011/03/zr-lukisan.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-512" title="zr lukisan" src="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2011/03/zr-lukisan.jpg?w=300&#038;h=112" alt="" width="300" height="112" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hajriansyah.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hajriansyah.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hajriansyah.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hajriansyah.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/511/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=511&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2011/03/25/in-memoriam-zulian-rifani-pengabdi-seni-lukis-yang-keras-kepala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2011/03/zr-lukisan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">zr lukisan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pongkalan Buun</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2011/03/18/pongkalan-buun/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2011/03/18/pongkalan-buun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Mar 2011 09:28:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[Saat pesawat Kalstar take off dengan sempurna dari bandara Syamsudinnor, dan bergerak ke barat, tak terasa di bawah sana terlihat raksasa barito yang mengular. Seperti jalur darah dengan anak-anak sungainya ia menghidupi kapal dan tongkang di atasnya, perumahan dan sawah di sisi-sisinya. Pesawat terus naik. Gumpalan awan-awan seputih kapas bergerombol sudah di bawah, sementara setipis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=507&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong>Saat pesawat Kalstar take off dengan sempurna dari bandara Syamsudinnor, dan bergerak ke barat, tak terasa di bawah sana terlihat raksasa barito yang mengular. Seperti jalur darah dengan anak-anak sungainya ia menghidupi kapal dan tongkang di atasnya, perumahan dan sawah di sisi-sisinya.</p>
<p>Pesawat terus naik. Gumpalan awan-awan seputih kapas bergerombol sudah di bawah, sementara setipis serat-serat berwarna abu-abu awan-awan bergerak berlawanan arah kami menuju.</p>
<p>Hampir setengah jam. Di bawah sana hanya hamparan tanah, hijau, dalam garis berpetak-petak. Entah sawah, entah sawit. Di depan sana cakrwala biru muda, dengan garis-garis awan yang membujur, melindap di kejauhan.</p>
<p>Perjalanan ini mengingatkan lagi perjalanan terakhir ke Pangkalan Bun, desember 2010 yang lalu.<span id="more-507"></span> Waktu itu perjalanan lewat jalur darat, membawa teman dari Jogja yang belum pernah menyinggahi daratan Kalimantan Tengah—dan tak kepalang tanggung, kami langsung mengajaknya ke ujung mendekati perbatasan Kalteng-Kalbar.</p>
<p>Saya ingin menceritakan perjalanan yang belum sempat saya tuliskan itu.</p>
<p><em>Kami berangkat desember itu, menuju ujung kalteng, sepulang dari kota Tanjung, dari kabupaten terujung Kalimantan Selatan mendekati Kaltim. Waktu itu kami sempat beristirahat satu malam di Banjarmasin. Dan masih memakai mobil yang sama, Pajero IO, sorenya kami berangkat menuju Kalimantan Tengah. Sehabis Anjir, Kapuas, Pulang Pisau, dan Palangka Raya, kota yang pernah direncanakan sebagai ibukota negara, jalan lurus dan mulus memaksa sopir memacu mobil sejauh rasa takutnya.</em></p>
<p>Setengah dua lewat lima, dan kami akan mendarat di Bandara&#8230; : Sampit. Di bawah pepohonan menghijau rapat. Hanya hutan. Sementara pesawat foker dengan dua baling-baling di sisi kiri dan kanan terus bergoyang menembus awan. Bergetar, dan tekanan di telinga. Sekali lagi, hanya hutan, dan pesawat akan mendarat: H. Asan Airport. Landasan pendaratannya tepat, lurus, di tepian sungai Mentaya, Sampit.</p>
<p>Pesawat berhenti. Baling-baling masih bergerak ritmis, berputar. Bunyi mesin tak sebising sebelumnya. Maklumlah ini pesawat kecil. Mendarat di bandara kecil. Mengingatkan saya pada yang serupa di Pangkal Pinang, Tanjung Pinang, dan Muara Teweh. Di sekeliling bandara hanya pepohonan. Ladang dan hutan yang landai.</p>
<p>Sepuluh menit di Sampit dan pesawat kembali bergerak. Seperti yang diumumkan pramugari pesawat ini akan terus melaju ke Pangkalan Bun, Ketapang, sampai Pontianak. Giliran saya turun setelah ini.</p>
<p><em>Sudah malam waktu itu di Palangka. Kami sempat berniat berhenti sebentar di kota, tapi kami urungkan mengingat perjalanan yang masih dua kali lagi panjang dan lamanya itu. Meski begitu kami sempatkan juga makan di sebuah warung Banjar dekat Pasar Kahayan, dengan menu Ayam Panggang.</em></p>
<p><em>Sehabis makan berganti sopir, mobil dipacu kencang. Apalagi jalan dari Palangka sampai Kasongan nanti adalah jalan lurus, mulus, terpanjang di Kalimantan (bahkan mungkin juga se-Indonesia). Jalan itu benar-benar lurus, tak ada belokan sedikitpun sepanjang seratus kilometer lebih. Yang ada hanya sedikit tanjakan dan turunan panjang, mendakituruni bebukitan. Benar-benar mobil kami melaju kesetanan. Teman di kursi samping sopir yang tertidur sempat-sempatnya bilang, “jangan terlalu kencang&#8230;!”</em></p>
<p><em>Begitu melewati simpang tiga Katingan, jalan tak lagi semulus sebelumnya. Jalan lebih kecil, di sisi kiri kanan pertokoan dan perumahan. Bahkan, sesudah melewati kota jalan makin menyempit dan berbelok-belok dengan lobang aspal di sana sini.</em></p>
<p>Pukul 14.10 di jam di pergelangan tangan saya. Dan pesawat siap mendarat di pangkalan bun. Kembali seperti sebelumnya, pesawat bergetar menembus gumpalan awan seputih kapas yang kulihat sejauh tadi.</p>
<p>Sungai lagi. Petak-petak kebun sawit diapit ladang dan pepohonan. Sebuah tongkang dan kapal-kapal kayu pengangkut barang di tepian. Petak-petak perumahan tak rapat. Lebih banyak lahan kosong kehijauan, di bawah sana. Natai&#8230; dan, tepat pukul 14.16 wita, kami tiba di bandara Iskandar-Pangkalan Bun, pukul 13.16 wib.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hajriansyah.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hajriansyah.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hajriansyah.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hajriansyah.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/507/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=507&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2011/03/18/pongkalan-buun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8230;</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2011/02/11/502/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2011/02/11/502/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 02:42:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[pagi! lama tak menulis di blog. sebenarnya ada dua tulisan tentang perjalanan yang ingin kuposting. tapi apa daya, sampai sekarang dua tulisan itu belum juga rampung. waktu! ya, ini tentang kesibukan yang merenggut waktu (menulisku). di samping itu juga tentang laptopku yg beberapa waktu terakhir rusak berkali-kali (hingganya kuganti dengan yang baru). pagi! ya, pagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=502&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>pagi!</p>
<p>lama tak menulis di blog. sebenarnya ada dua tulisan tentang perjalanan yang ingin kuposting. tapi apa daya, sampai sekarang dua tulisan itu belum juga rampung.</p>
<p>waktu! ya, ini tentang kesibukan yang merenggut waktu (menulisku). di samping itu juga tentang laptopku yg beberapa waktu terakhir rusak berkali-kali (hingganya kuganti dengan yang baru).</p>
<p>pagi! ya, pagi ini ketika kulihat bahwa tulisan terakhirku di blog ini sudah lewat satu bulan lebih, aku jadi sedih sendiri.</p>
<p>teman! ya, beberapa teman &#8220;akrab&#8221; di blog lama tak terkunjungi. beruntung seorang teman mengingatkan dengan mengirimkan tulisan terakhir di blog ini ke koran lokal. dan, dimuat. terima kasih sekali lagi kepadanya.</p>
<p>ya, nanti kusambung lagi dua tulisan yang tertunda selesainya itu. dan segera, lah, kupostingkan di sini.</p>
<p>begitu saja dulu, ya. selamat pagi!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hajriansyah.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hajriansyah.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hajriansyah.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hajriansyah.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/502/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=502&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2011/02/11/502/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekali Lagi Mengunjungi Tamban</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2010/12/29/sekali-lagi-mengunjungi-tamban/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2010/12/29/sekali-lagi-mengunjungi-tamban/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2010 09:08:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[Saat menjejakkan kaki di Dermaga Taman Sari, di bawah Jembatan Sudimampir, Banjarmasin pagi ini saya telah merasakan gerung mesin diesel kapal yang akan membawa kami memuarai Sungai Barito dan ke anak sungainya menuju Tamban. Ini bukanlah perjalanan pertama saya ke Tamban, tapi jelas inilah perjalanan saya kepadanya yang pertama dengan menyisiri sungai. &#160; Seingat saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=496&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat menjejakkan kaki di Dermaga Taman Sari, di bawah Jembatan Sudimampir, Banjarmasin pagi ini saya telah merasakan gerung mesin diesel kapal yang akan membawa kami memuarai Sungai Barito dan ke anak sungainya menuju Tamban. Ini bukanlah perjalanan pertama saya ke Tamban, tapi jelas inilah perjalanan saya kepadanya yang pertama dengan menyisiri sungai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seingat saya ini adalah pengalaman ketiga ke Tamban, dan setiap kalinya berbeda rute perjalanan. Yang pertama, bersama seorang teman, saya memulainya dengan sepeda motor lewat dermaga di Alalak; menyeberangi Sungai Barito sekira seperempatjaman lebih dan berlabuh di dermaga Soebarjo. Dari sana meneruskan perjalanan lewat darat melewati jalan kecil yang tak sepenuhnya mulus sekira satu jam-an. Yang kedua adalah sepenuhnya lewat jalan darat, dari Handil Bakti, Jembatan Barito, Anjir, menyeberangi jembatan besar lagi, lalu jalanan berbatu (kala itu), berbelok dan penuh lubang, melewati beberapa jembatan kecil dan besar, jalanan kampung yang sempit dan berdebu, hingga sampailah di Pal 7, Sidorejo, di tempat seorang seorang penyair sufi yang tenar dengan sebutan Janggut Naga.<span id="more-496"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ya, Ibramsyah Amandit, salah seorang sepuh penyair Kalimantan Selatan, utamanya untuk daerah Batola (Kabupaten Barito Kuala) yang tak hanya memelihara dengan subur janggut putihnya yang sedada, juga tekun bertanam segala macam bonsai—dan terakhir, seperti ceritanya tadi siang beternak ayam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kapal yang kami tumpangi pagi ini adalah kapal pertama yang akan bertolak dari Banjarmasin. Begitu naik ke kapal kami disambut anak buah kapal yang menagih biaya transport senilai sepuluh ribu rupiah untuk seorang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pukul 09.10 wita kapal yang kami tumpangi bergerak, bergesekan badan dengan kapal-kapal yang kurang lebih di sisi kiri dan kanannya. Anak buah kapal melepas tambang yang melingkar di tiang galam. Gerung mesin diesel makin keras, roda baja berlapis kuningan di bawah air saya bayangkan berputar lebih kencang mendorong kapal menyibak air, menimbulkan bebuihan kecil dan gelombang. Sungai sewarna <em>burnt-sienna</em> berkecipak, jejak air di belakang sana mem(p)erak ditimpa mentari pagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Telah kami tinggalkan titian sepanjang dermaga Pasar Lima yang disangga tiang-tiang kayu galam, melewati berturut-turut (bekas) Kodamar, Hotel Victoria, dermaga Balaikota, Jembatan Erka-ilir (Telawang), dan dermaga Polairut yang hari itu nampak ramai—entah kedatangan pejabat dari pusat mungkin, seiring rericauan di atas kapal—dengan beberapa speedboat yang ditumpangi polisi air dan wartawan tivi lokal yang memegang kamera. Lewat lagi kami di bawah Jembatan Basirih yang tinggi dan panjang, pelabuhan udang di Mantuil, dan akhirnya di depan sana&#8230; memuarai Sungai Barito!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Inilah raksasa sungai di Kalimantan Selatan yang berhulu di Puruk Cahu, Kalimantan Tengah. Sungai besar yang rata-rata lebarnya satu kilometeran lebih! Di atasnya raksasa-raksasa baja meminyaki sungainya yang keruh; tongkang-tongkang seluas lapangan bola berlabuh, kapal-kapal penarik tongkang, pabrik-pabrik besar sisa kejayaan kayu Kalimantan, pelabuhan batu bara, cerobong asap menghembuskan asap hitam dan halimun pekat-putih, tiang-tiang pancang dari baja&#8230; o, alangkah <em>harat</em>nya!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terus menghilir ke muara (laut) kami menyeberang-meminggir. Di tengah sungai ada tongkang dengan <em>crane</em> sedang menaikkan gelondongan kayu-kayu meranti besar, berdiameter 16 inc lebih, yang sudah dikupas kulitnya, sedang sebagian yang lain masih mengapung di atas sungai—para pekerja kayu berjalan meloncat-loncat di atasnya. Lebih ke hilir yang serupa itu beberapa menancap tegak di badan sungai. Terus kami ke hilir, sampai di sebuah tikungan anak sungai, kami masuk ke sana. Entah dari muara situkah hitungan 0 kilometer (pal) dimulai, hingganya nanti kami mendarat di Pal 7, Tamban.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tikungan itu sebenarnya sebuah simpang tiga, tapi entah ke mana menuju anak sungai yang lebih kecil dan sunyi di sebelah kanan itu. Sepanjang tepian pohon-pohon Rambai dan akar tunjangnya yang serupa duri-duri menusuk ke permukaan. Ya, pohon Rambai itulah yang signifikan di sepanjang perjalanan, lalu pohon Nipah, Rumbia, semak dan Pakis Air, dan rumah-rumah kayu bertiang galam. Konon sungai kecil ini adalah <em>anjir</em> yang dibuat pemerintah Belanda dulu untuk menghubungkan Sungai Barito dan Sungai Kapuas di Kalimantan Tengah. Di tepiannya adalah Tamban, pemukiman transmigran dari Jawa sejak jaman Belanda. Maka, mungkin karena itu, banyak desa di Tamban bernama Jawa, seperti halnya Sidorejo yang akan kami darati nanti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sesekali kapal merapat ke dermaga/ tepian menjemput penumpang perempuan, dan anak buah kapal akan memegangnya hati-hati; sementara penumpang laki-laki yang naik atau turun kapal akan meloncat ke, sisian selebar 25 centimeter, kapal yang meminggir tak rapat ke dermaga. Di sisian dari lembaran kayu ulin itulah anakbuah kapal berjalan ke depan dan belakang, atau bertolak ke atap selebaran (kira-kira) satu setengah meter, yang di pinggirnya dilekatkan terpal yang akan dibentang jika hujan datang. Sesekali penumpang menarik terpal itu ke bawah untuk melindungi badan dan pakaian dari kecipak air yang dipukul lambung kapal dari lembaran-lembaran kayu keras, serupa Ulin atau <em>Balau</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di Pal 6,5 di sisi jembatan beton bertulang baja, yang sewaktu kedatangan pertama saya ke Tamban belum lagi rampung dikerjakan, kapal merapati dermaga sebuah warung makan dan toko kelontongan. Ada yang turun di sana, dan ada yang sekadar membeli air minum kemasan dan sebungkus rokok. Tak jauh dari jembatan ada dermaga lagi, dan di daratan di seberang jalan berdiri megah sebuah masjid bernama “Hasnur Sari”, berwarna kuning pastel dengan empat menara di sisi-sisinya berkubah alumunium yang sudah disepuh serupa kubah besarnya yang di tengah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di dermaga kecil yang disusun dari lembaran kayu ulin yang tak rapat kami mendaratkan loncat. Di antara bangunan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama ada jalan kecil semacam gang, tepat di tusuk sate-nya rumah sang Janggut Naga berhias bonsai dan tetanaman, pintu dan jendela kaca tertutup rapat. Kami mengetuk pelan, lalu mengeras. Terdengar bunyi kayu berbentur kayu dari dalam, lalu derit pintu kamar yang terbuka. Beliau yang berjanggut putih sedada tersenyum menyambut kami, bertopang ke tongkat kayu dari dahan pohon jambu batu yang dirautnya sendiri. Kami tersenyum tak kalah bahagia, mendapatinya telah berjalan—meski tertatih-tatih—setelah kabar yang beredar dari sms ke sms beberapa hari ini, bahwa beliau diserang kelumpuhan di kaki dan tangan kiri pada 3 Muharram yang lewat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oya, perjalanan pagi itu makan waktu kurang-lebih satu jam. Kami menghadiahi Janggut Naga beberapa buku sastra. Kami pikir itu lebih berarti dari kami untuknya, dan tentu saja kami percaya ada yang berkunjung sebelum dan sesudah kami memberikan harapan dan doa yang tak kalah sama, dan tentu saja ada yang memberinya obat dan saran-saran penyembuhan; maka buku sastra cukuplah! Beliau bahagia. Tersenyum. Tertawa. Berbagi cerita tentang apa saja, termasuk ihwal “serangan” itu. Termasuk juga perihal puisi “Tikar Pandan”—tentang menduduki karpet Tuhan—yang disebarkannya melalui sms pasca <em>stroke</em>. Dan seorang kawan penyair, yang psikolog, mengesms saya setelah tahu kami telah tiba di tujuan. Kawan ini sebelumnya juga saya ajak membesuk “<em>Kai</em> Tamban”, dan menyatakan ketidakbisaannya ikut serta dengan alasan bekerja. Katanya, lewat sms, “<em>hanyar ja kai menyebar sms-nya, rupanya selain tasbih, ingkutan sidin wayahini handpone jua, hehe..</em>”. Oalah, orang tua yang ceria ini—di tengah kesunyiannya!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Begitulah perjalanan menjenguk (<em>Kai</em>) Tamban. Pukul 12.10 wita kami mohon pamit kepada tuan rumah, yang sudah ditemani pembesuk yang lain (tetangganya yang juga <em>mamarina</em>nya sendiri). Kami berdiri di depan dermaga kecil, tepat di depan sebatang pohon Angsana. Di sisi kanan kami, berjarak 100-an meter melintangi sungai sebuah jembatan dari kayu ulin dengan tiang-tiang berukuran 25&#215;25 centimeter, bersilang-silang dan bersusun kokoh dan rapat. Jembatan tinggi semacam itulah yang umum melintangi-seberangi sungai di sepanjang <em>anjir</em> menuju Kapuas. Bunyi mesin <em>Dongping</em> dari sebelah jembatan, satu, dua, tiga&#8230; dan akhirnya, kapal yang kami tunggu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kapal yang kami tumpangi pulang ini lebih besar sedikit dari kapal semula datang. Panjangnya sekira 25 – 30 meter. Lebar kurang-lebih empat meter. Penyangga atapnya, yang bisa dijadikan tempat menaruh barang dan memantau cakrawala, adalah semi-<em>arch</em> dari kayu Ulin dicat minyak putih berjarak antaranya 1,5 meter, tempat duduknya adalah balok kayu <em>Balau</em> seukuran 5x15x300cm kubik yang dapat diduduki empat sampai lima orang (pada kapal yang lebih kecil hanya untuk tiga orang) yang melintang dari sisi ke sisi dalam badan kapal. Kapal-kapal semacam ini umumnya bernuansa pastel, sewarna biru muda, hijau muda, dan merah muda di antara warna asli kayu ulin sendiri, coklat kehitaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kapal pulang ini berjalan lebih lamban, lebih tepatnya makan waktu dua jam. Sebentar berhenti, sebentar merapat ke dermaga menaikkan orang-orang dan barang-barang bawaan, yang mungkin untuk dijual di kota, yang berkarung-karung dan berikat-ikat itu. Ya, dan akhirnya kami pun merapat dan meloncat ke Dermaga Taman Sari. Kami sempat singgah sebentar di pinggiran Pasar Lima untuk makan siang, untuk akhirnya berpencar pulang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sekali lagi mengunjungi Tamban. Perjalanan lima jam itu mengingatkan saya lagi akan sungai leluhur, yang nadi-nadi kecilnya menghidupi kota Banjarmasin dan sekitarnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Ditulis hari ini, rabu 15/12/10 sampai ke pucuk malam</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hajriansyah.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hajriansyah.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hajriansyah.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hajriansyah.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/496/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=496&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2010/12/29/sekali-lagi-mengunjungi-tamban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Tahun Baru Hijriyah</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2010/12/07/selamat-tahun-baru-hijriyah/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2010/12/07/selamat-tahun-baru-hijriyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Dec 2010 02:24:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[Senang rasanya malam ini berjapin ria, bersama kawan-kawan sastrawan, seniman, budayawan dan&#8230; wakil walikota Banjarmasin! Ya, sebarusan saja tadi sejak bada Isya sampai setengahduabelasan (6/12/10), bertempat di Taman Budaya Kalimantan Selatan dilaksanakan perhelatan &#8220;Senandung Puisi bersama Musik Islami&#8221; menyambut pergantian Tahun Hijriyah. &#160; Sejak awal dikatakan oleh kepala Taman Budaya, Enos Karlie, bahwa acara ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=493&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Senang rasanya malam ini berjapin ria, bersama kawan-kawan sastrawan,  seniman, budayawan dan&#8230; wakil walikota Banjarmasin! Ya, sebarusan  saja tadi sejak bada Isya sampai setengahduabelasan (6/12/10), bertempat  di Taman Budaya Kalimantan Selatan dilaksanakan perhelatan &#8220;Senandung  Puisi bersama Musik Islami&#8221; menyambut pergantian Tahun Hijriyah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sejak  awal dikatakan oleh kepala Taman Budaya, Enos Karlie, bahwa acara ini  bersifat dadakan. Bermula dari kalender yang bertanggal merah yang  ternyata tahun baru Hijriyah, maka dimintakanlah kepada sastrawan Y.S.  Agus Suseno untuk mengundang kawan-kawan sastrawan,<span id="more-493"></span> seniman-budayawan  sekota Banjarmasin dan sekitarnya, melalui sms. Nyatanya, dengan pesan  pendek itulah beberapa yang tak berhalangan dapat berhadir. Sebut saja  misalnya, penyair Miky Hidayat,Mujahiddin S., Abdussukur M.H., budayawan  Syarifuddin R., dan beberapa seniman lain semisal Abdullah SP., Zaini  Ayax, Rasyid, dari Banjarmasin; Abdul Karim Amar dan Mahmud Jauhari Ali  dari Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar; dan wakil walikota Banjarmasin  yang baru yang enerjik dan pecinta kesenian: Irwan Anshari! Khalayak  pengunjung pun ramai,bersama seniman-seniman pegawai Taman Budaya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Luar  biasa, berselang-seling dengan irama gambus/ japin dari Safira  pembacaan puisi mengalir rancak. Beberapa penyair yang tak siap,  termasuk saya, membacakan puisi-puisi dari buku-buku yang telah  dipersiapkan panitia dadakan itu. Sebut saja dua antologi puisi, dari  Ajamuddin Tifani, <em>Tanah Perjanjian</em> dan <em>Badai Gurun dalam  Darah</em> dari penyair Ibramsyah Amandit yang paling banyak dibacakan  puisinya. Wakil walikota malah sempat-sempatnya membuat puisi dadakan  menyertai pembacaannya atas puisi Tifani, dan meski tak indah-indah amat  cukuplah menghibur dan membanggakan kawan-kawan yang hadir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Musik  gambus menghentak, tari japin bertingkah-semarak, wakil walikota turut  berpihak (ia turut menari spontan tak beralas kaki). Apalah lagi yang  lebih indah dari ini? Entahlah, mungkin hanya <em>pangrasaku!</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>tuhanku  yang maha tinggi</em></p>
<p><em>sampaikan maksud-kehendak kami</em></p>
<p><em>ampuni  kami atas segala yang berlalu</em></p>
<p><em>wahai, semaha luas  kemuliaanmu</em></p>
<p>(Burdah; Busyairi)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>buah benalu  lilit setanggi</em></p>
<p><em>hampalam, kuini, rambutan antalagi</em></p>
<p><em>lelah  lalu silih berganti</em></p>
<p><em>muharram tahun depan, semoga bersua  lagi</em></p>
<p><em> </em>(pantun dadakan)<em><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hajriansyah.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hajriansyah.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hajriansyah.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hajriansyah.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/493/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=493&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2010/12/07/selamat-tahun-baru-hijriyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ke Barikin Menyaksikan Lamut, Labai, Anglung, dan Anggasina Mengantar Tuannya</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2010/11/09/ke-barikin-menyaksikan-lamut-labai-anglung-dan-anggasina-mengantar-tuannya/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2010/11/09/ke-barikin-menyaksikan-lamut-labai-anglung-dan-anggasina-mengantar-tuannya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 15:27:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=489</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu, 6/11/10, saya ditanya teman yang seorang teaterawan, Nurdin Yahya, via sms, apakah saya mau menyaksikan Lamut? Ya, Balamut, sebuah pertunjukan tradisi yang hanya ceritanya saja sering saya dengar dari rekan-rekan seniman dan budayawan yang lebih senior dari saya. Saya spontan menjawab: ya! Di mana? Di Barikin, katanya. Jadilah kami berangkat sore itu, sekira pukul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=489&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu, 6/11/10, saya ditanya teman yang seorang teaterawan, Nurdin Yahya, via sms, apakah saya mau menyaksikan Lamut? Ya, Balamut, sebuah pertunjukan tradisi yang hanya ceritanya saja sering saya dengar dari rekan-rekan seniman dan budayawan yang lebih senior dari saya. Saya spontan menjawab: ya! Di mana? Di Barikin, katanya.</p>
<p>Jadilah kami berangkat sore itu, sekira pukul 15.30 wita. Hanya berdua! Pada awalnya kami mengajak beberapa orang teman—jurnalis, sastrawan, aktivis sosial—dan nyatanya hanya kami berdua yang cukup sehat dan punya waktu luang untuk itu. Seorang teman sastrawan terserang flu berat dan yang lain terlalu lelah, seorang jurnalis sibuk dengan pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan, dan seorang aktivis tengah berkumpul dengan kerabatnya yang akan naik haji.<span id="more-489"></span></p>
<p>Kami berangkat dengan Opel Blazer butut saya, dan saya lebih memilih sebagai sopir sebagai sebuah strategi, karena saya paham perjalanan pulang akan lebih melelahkan: dan biarlah teman saya yang akan menyetir pulang.</p>
<p>Barikin hanyalah sebuah desa, sebuah persimpangan di antara kota Kandangan, Amuntai, dan Barabai. Dan tuan rumah, sahibulhajat, yang akan kami tuju rumahnya tepat di persimpangan menuju obyek wisata Lok Laga, Haruyan. Meski hanya sebuah desa di garis lurus jalan menuju Amuntai atau Barabai, Barikin cukup menonjol. Desa yang digadang-gadang sebagai kampung wisata-budaya, namun sampai sekarang belum direalisasikan juga dukungannya oleh pemda setempat, ini akan sangat mudah dikenali. Di sepinggir jalan, menuju kota berikutnya sesudah Kandangan, itu banyak sekali dijual sapu-sapu dengan tangkainya yang berwarna-warni, dan terkadang dengan ukiran tertentu, dan mainan kuda-kudaan berwarna-warni pula; warna yang cukup menonjol adalah warna primer merah dan kuning, dan warna sekunder hijau. Di antara banyak lapak penjual sapu dan mainan yang dibangun tepat di pinggir jalan raya di halaman depan rumah-rumah penduduk itulah, beberapa tahun yang lewat saya pernah membeli sebuah sapu ukuran raksasa, dengan tangkai setinggi dua-meteran lebih dengan ijuk yang sebat, dengan ukiran kepala kucing di hulu tangkainya.</p>
<p>Di Barikin pulalah kesenian tradisi beserta budaya juga upacara-upacara ritual sinkretisme hindu-islam masih terpelihara; yang demikian juga pernah diteliti oleh tokoh ulama banjar (almarhum) KH. Asywadi Syukur Lc. Dan, di Barikinlah hidup seorang tokoh seni budaya tempat bertanya banyak orang dan mengadakan penelitian tentang seni tradisi yang pernah hidup di masa lalu di banua Banjar: A.W. Syarbaini (atau yang kerap dipanggil Ka Sarbai oleh seniman-budayawan di Banjarmasin yang lebih muda dari beliau).</p>
<p>Paman Sarbai (saya lebih baik menyebutnya begitu, karena anak sulungnya Upi adalah teman sesama orang Banjar di ISI Jogja dulu) lah, beserta keluarga besarnya, yang secara swadaya menghidupi kesenian tradisi semacam Bewayang (banjar), Wayang Gung, Bajapin, Musik Panting, dan lain-lain, melalui sanggar seni tradisional Ading Bastari-nya. Usaha beliau untuk melengkapi gamelan Banjarpun harus disubsidi secara pribadi. Dan terakhir, keinginan beliau agar anak dan masyarakat kampung Barikin melengkapi yang terserak dari tradisi yang ada adalah, beliau secara sukarela memanggil salah seorang maestro tradisi lainnya dari Banjarmasin, Jamhar, untuk studi banding seni tradisi tutur Balamut bagi masyarakat kampung barikin. Dan karena hal inilah saya datang ke Barikin, menempuh jarak 130-an kilometer dari Banjarmasin bersama Nurdin Yahya.</p>
<p>Sebenarnya saya pernah menyaksikan Lamut dipertunjukkan, tapi hanya dalam sebuah pembuka yang teramat singkat dalam sebuah pembuka acara kegiatan budaya di Banjarmasin. Paman Jamhar (begitu beliau biasa disapa) baru menyampaikan <em>mukaddimah</em>nya dan belum lagi sampai ke cerita, ketika pengarah acara memberi isyarat tanda berhenti pada beliau waktu itu. Konon pada masanya, Balamut dibawakan semalam suntuk, dan ini tentu terlalu melelahkan bagi masyarakat kota yang terbiasa dengan hiburan televisi dan semacamnya.</p>
<p>Kami sengaja singgah di kota Kandangan terlebih dulu sebelum isya, untuk mencari penginapan karena tak ingin merepotkan tuan rumah nantinya. Di Wisma Duta kami mengistirahkan badan sejenak. Sekira 20 menit-an, setelah seorang teman dari Barikin, Aswin Noor, mengesms bahwa pertunjukan segera dimulai, kami pun meluncur ke tujuan yang tak terlampau jauh dari batas kabupaten Hulu Sungai Selatan  (Kandangan) dan Hulu Sungai Tengah itu.</p>
<p>Tapi saya berinisiatif meminggirkan mobil di sebuah warung yang menjual Ketupat Kandangan. Saya rasa perjalanan 3 jam-an yang lewat, dan karena memang saatnya, cukup membuat kami lapar. Dan jadilah kami tertinggal <em>mukaddimah</em> Balamut ketika sampai di depan rumah Paman Sarbai yang telah dipenuhi penonton setempat; dari Aswin pula kami tahu bahwa pertunjukan itu dihadiri pula oleh beberapa orang dari lembaga bahasa dari Banjarmasin dan Jakarta yang sedang mengadakan penelitian. Aswin telah duduk di bangku depan dari deretan bangku sederhana yang disusun di halaman rumah Paman Sarbai. Paman Jamhar sudah pula menabuh tarbang besarnya di panggung kecil yang merupakan pelataran rumah dari sahiubulhajat, berlatar belakang kain hitam dan berlatar depan bakaran dupa, kembang dan teh manis, kopi dan air putih dalam gelas panjang. Kami tak kebagian tempat dan harus menyatupadu bersama beberapa orang yang berdiri dan berjongkok di sela pepohonan kecil di halaman rumah.</p>
<p>Panggung sederhana itu dihiasi rumbai-rumbai daun nyiur kuning yang digelantungkan di plafon pelataran. Dan mengalunlah kisah dalam rencak bunyi tarbang dan alun syair ditingkahi penjelasan di sana-sini, oleh Jamhar. Ini tentang Lamut, Labai, Anglung, dan Anggasina, panglima-panglima kerajaan Palinggam Cahaya yang mengantar tuannya, Pangeran Kasanmandi dengan bahteranya Naga Belimbur mencari jodohnya Putri Junjungmasari., putri kerajaan Mesir. Ada kelucuan-kelucuan, peperangan, dan sejarah Lamut sendiri, semuanya mengalir dalam pertunjukan selama tiga jam—berakhir pada pukul 23.30 wita—dengan jeda istirahat sekali sekitar 10 menit-an.</p>
<p>Usai pertunjukan kami dipersilakan masuk ke rumah, duduk di ruang tamu sederhana berkumpul bersama tuan rumah dan sang palamutan, juga seorang sastrawan dari Kandangan dan seniman dari Kaltim.</p>
<p>Tuan rumah menjelaskan maksudnya mengundang Paman Jamhar kepada kami, tentang kerinduannya dan keinginan agar ada penerus Lamut dari kalangannya sendiri. Paman Jamhar menjelaskan tentang Balamut, sepintas sejarahnya dan beberapa orang tua dulu yang dikenalnya sebagai Palamutan yang kini telah tiada. Keseniannya, ungkapnya, memang tak membuat orang jadi kaya secara materi, tapi menjadi kaya dalam wawasan dan banyak kawan. Keguyuban, kerukunan, itulah mungkin yang dimaksudkan. Dan kemudian saya juga paham, bahwa beliau datang ke Barikin dengan menumpang taksi colt dari Banjarmasin, oleh sebab itulah teman saya Nurdin menawarkan tumpangan pulang, esok hari. Nyatanya, esok harinya kami bangun kesiangan dan ketika menelpon Upi di Barikin untuk mengonfirmasi, Paman Jamhar telah pulang bersama anaknya menumpangi taksi colt ke Banjarmasin.</p>
<p>Pagi itu di Wisma Duta kami dikunjungi seorang budayawan muda dari Kandangan: Aliman Syahrani. Ia memang telah berjanji akan datang setelah saya hubungi malam tadi. Kami berbincang banyak hal yang menyangkut kebudayaan. Kami sepakat bahwa masyarakat berbudaya adalah masyarakat yang mempunyai kemampuan merencanakan.</p>
<p>Kami pun sempat singgah sebentar ke tempat Aliman, yang di belakang rumah itu ia tengah pula berkesibukan dengan sebuah bangungan sederhana namun rapi dan baik, yang dinamai Kandangan Fitness Center (KFC). Ya, kabar terakhir Aliman telah didaulat menjadi ketua persatuan atlet binaraga cabang HSS. Luar biasa budayawan muda multitalenta yang dimiliki kota Kandangan ini!</p>
<p>Dari rumah Aliman perjalanan ini akan segera berakhir. Sepanjang perjalanan kurang lebih 24 jam-an ini, setidaknya saya dapat menyimak sebuah kearifan lokal: perjalanan panjang kesenian mempertalikan dan mempererat lagi persaudaraan. Dan di sepanjang jalan Tapin ke Kabupaten Banjar itu saya melihat gunung-gunung telah merendah, sementara jalan-jalan beraspal makin meninggi; para penadah sumbangan rumah ibadah mempersempit jalan beraspal itu….()</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hajriansyah.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hajriansyah.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hajriansyah.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hajriansyah.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/489/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=489&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2010/11/09/ke-barikin-menyaksikan-lamut-labai-anglung-dan-anggasina-mengantar-tuannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>pembacaan puisi di tanjungpinang</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2010/11/01/pembacaan-puisi-di-tanjungpinang/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2010/11/01/pembacaan-puisi-di-tanjungpinang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Nov 2010 14:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=484</guid>
		<description><![CDATA[Temu Sastrawan Indonesia (TSI) III (28 &#8211; 31 Oktober 2010) baru saja berakhir. Saya (beruntung) mendapat tempat untuk membacakan (pantun dan) sajak di bawah ini pada acara penutupan kegiatan ini yang diakhiri teatrikalisasi puisi oleh Ibu Suryatati A. Manan, walikota Tanjungpinang. Banjarmasin ke Tanjungpinang Naik Baruna singgah di Batam Saya yakin sastrawan senang Dah bersua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=484&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Temu Sastrawan Indonesia (TSI) III (28 &#8211; 31 Oktober 2010) baru saja berakhir. Saya (beruntung) mendapat tempat untuk membacakan (pantun dan) sajak di bawah ini pada acara penutupan kegiatan ini yang diakhiri teatrikalisasi puisi oleh Ibu Suryatati A. Manan, walikota Tanjungpinang.</p>
<p><em>Banjarmasin ke Tanjungpinang</em></p>
<p><em>Naik Baruna singgah di Batam</em></p>
<p><em>Saya yakin sastrawan senang</em></p>
<p><em>Dah bersua di Negeri Pantun Kota Gurindam</em></p>
<p><strong>Tentang Kehilangan</strong></p>
<p>Ke mana pergi si burung elang</p>
<p>Sungai dan ikan telah menghitam<span id="more-484"></span></p>
<p>Ke mana pergi si hidung panjang</p>
<p>Hutan dan pohon lama terbakar</p>
<p>Ke mana pergi si anak hilang</p>
<p>Tanah air diambil orang</p>
<p><strong>Tentang Badan dan Kepergian</strong></p>
<p>Di sisi kita adalah pohon yang memasang badan</p>
<p>Menggenapi mimpi-mimpi, tumbuh daun</p>
<p>Dahan dan ranting menggapai awan</p>
<p>Ditiup angin memukul batang</p>
<p>Di sisi kita adalah sungai merebahkan badan</p>
<p>Menghanyutkan keinginan pada lautan</p>
<p>Di hulu, dari langit yang menurunkan hujan</p>
<p>Akar-akar yang patah memukul buritan</p>
<p>Perahu kita didorongnya menghilir,</p>
<p>atau bisa saja tenggelam</p>
<p>Menahan dingin menahan lapar menahan keinginan</p>
<p>Manusia tak ingin pergi sendirian, sementara di pekuburan</p>
<p>Orang-orang telah pulang</p>
<p><strong>Tentang Dirimu</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Perupuk yang tumbuh di tanah rawa</p>
<p>Tingginya telah melintas kepalamu</p>
<p>Buak-buak kecil menatap lalu</p>
<p>Di lentur batang dihimpit lalang</p>
<p>Mengepungmu</p>
<p>Awan-awan berarak lewat</p>
<p>Di atas kepalamu</p>
<p>Entah menuju ke mana mereka</p>
<p>Menghambur hujan jadi banjir</p>
<p>Naik ke rumahmu</p>
<p>: kau kutuk penambang emas hitam</p>
<p>Pembuat lubang sebesar kotamu,</p>
<p>Juga para pedagang yang lupa tanah rawa</p>
<p>Tempat moyang mereka melabuh jangkar</p>
<p>Membangun kampung yang membanjar,</p>
<p>Juga pendatang bermata sipit dan galak</p>
<p>Yang tak pernah menyapamu,</p>
<p>Juga pembajak korup berseragam licin</p>
<p>Yang terus memanfaatkan kebisuanmu,</p>
<p>Juga tuhan yang tak kunjung menjawab do’amu</p>
<p>; padahal, hanya saja kau tak berdaya</p>
<p>Menyambung tali pusarmu</p>
<p>Yang melilit erat ke jantung tanah leluhurmu</p>
<p><em>190910</em></p>
<p><em>Pulau Penyengat ke Kampung Sapat</em></p>
<p><em>Harap diingat segalanya singkat</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hajriansyah.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hajriansyah.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hajriansyah.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hajriansyah.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/484/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&amp;blog=3413831&amp;post=484&amp;subd=hajriansyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2010/11/01/pembacaan-puisi-di-tanjungpinang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
