<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Lukisan Kata Hajriansyah</title>
	<atom:link href="http://hajriansyah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hajriansyah.wordpress.com</link>
	<description>melukiskan perasaan, mengatakan pikiran</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Nov 2009 05:43:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='hajriansyah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/e4027aba6fb5e705087da4761367a71b?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Lukisan Kata Hajriansyah</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Apa Kabar Aruh Sastra Batola?</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/11/09/apa-kabar-aruh-sastra-batola/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/11/09/apa-kabar-aruh-sastra-batola/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 05:43:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=388</guid>
		<description><![CDATA[Sudah sedekat ini tahun 2009 akan berujung, belum ada kabar juga kejelasan penyelenggaraan event sastra tahunan, yang kini memasuki penyelenggaraan keenam, ini akan dilaksanakan. Belum adanya pengumpulan karya (jika akan dicetak buku kumpulan karya sastra Sastrawan Kalsel, sebagaimana lazimnya), plus yang terpenting undangan untuk Sastrawan Kalsel yang lazimnya sudah beredar sebulan (kurang-lebih) sebelumnya, makin menjadikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=388&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sudah sedekat ini tahun 2009 akan berujung, belum ada kabar juga kejelasan penyelenggaraan event sastra tahunan, yang kini memasuki penyelenggaraan keenam, ini akan dilaksanakan. Belum adanya pengumpulan karya (jika akan dicetak buku kumpulan karya sastra Sastrawan Kalsel, sebagaimana lazimnya), plus yang terpenting undangan untuk Sastrawan Kalsel yang lazimnya sudah beredar sebulan (kurang-lebih) sebelumnya, makin menjadikan kekhawatiran event aruh ini akan “gagal” diselenggarakan di Kabupaten Batola, sebagaimana yang direkomendasikan pada Aruh Sastra Kalsel V di Balangan tahun 2008 tadi.<span id="more-388"></span></p>
<p>Aruh Sastra Kalsel, adalah sebuah perayaan yang digadang-gadang dapat menjaga tumbuh-kembangnya Kesusastraan Indonesia (baik yang bersifat nasional maupun lokal) di Kalimantan Selatan. Setidaknya, perayaan semacam inilah yang diharapkan dapat menjaga kelangsungan aktifitas bersastra di tengah kelesuan berkarya-sastra di Kalimantan Selatan beberapa dekade ini. Lomba penulisan karya sastra, pendokumentasian karya sastra sastrawan Kalsel sepanjang tahun yang berkaitan, pergelaran karya sastra, seminar dan diskusi karya sastra, pun ajang silaturrahmi tahunan Sastrawan Kalsel lazim difasilitasi di sini. Memang, sepanjang perjalanan Aruh Sastra Kalsel tidak semuanya “membahagiakan” aktivis sastra dengan banyak harapannya, tapi beberapa aruh terbukti telah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi, setidaknya, pendokumentasian karya sastra Sastrawan Kalimantan Selatan, yang efeknya kita harapkan dapat mengenalkan arti penting kesusastraan bagi masyarakat di Kalimantan Selatan.</p>
<p>Arti penting kesastraan bagi masyarakat memang tidak sesignifikannya arti penting politik dan keagamaan bagi masyarakat yang minat bacanya pun masih jauh di bawah standar masyarakat maju yang lebih “cerdas dan beradab”. Tapi, tanpa kita sadari secara langsung, kesastraan telah menelusup jauh ke bawah kesadaran kolektif masyarakat, memberikan pencerahan dan kemanfaatan yang lebih banyak lagi lewat rekam sejarah kondisi satu masyarakat di satu masa—lingkungannya, kondisi sosial-psikologis masyarakatnya, keberagamaan-keberadabannya, dll.—yang itu semua menginspirasi kita untuk menjadi masyarakat yang lebih baik ke depannya. Puisi, cerpen, novel, esai sastra (dan yang lainnya) telah menelusup jauh ke benak sastrawan, menginspirasinya untuk memberikan lebih banyak lagi kepada masyarakat pikiran-pikiran terbaiknya—atau kecemasannya akan realitas sosial, yang bisa saja menjadi kecemasan publik yang seyogyanya dapat “mencerahkan” itu. Mencerahkan, kongkretnya sebagaimana agama memberikan tuntunan kepada jalan kebaikan. Tapi, dapatkah itu dirasakan? Dan sudahkah dirasakan bagi masyarakat, khususnya di Kalimantan Selatan?</p>
<p>Aruh Sastra Kalsel, sekali lagi, digadang-gadang untuk menjawab tuntutan semacam itu; dan kelangsungannya sangat diharapkan oleh Sastrawan Kalsel yang menjadi subyek pencerahan semacam itu. Kini, dengan kabar yang tak jelas kapan penyelenggaraannya—sementara para Sastrawan Batola telah kadung menerima amanat penyelenggaraan aruh keenam lewat dewan keseniannya—bagaimanakah nasib konsepsi yang demikian dapat mewarnai tahun 2009 ini?</p>
<p>Dari perbincangan dengan beberapa aktivis sastra dan salahseorang yang biasa <em>meudaki</em> persiapan aruh sastra yang telah lewat, saya melihat permasalahan kesenjangan dalam penyelenggaraan aruh sastra, utamanya menyangkut motor yang biasa diawaki birokrat dan aktivis sastra. Hubungan yang diharapkan saling mengisi ini—terutamanya juga dalam pengelolaan keuangan penyelenggaraan aruh—seringkali berujung pada ketidaknyamanan penyelenggaraan aruh bagi para pesertanya (sastrawan, guru-guru sastra, pelajar dan mahasiswa). Maka, evaluasi terhadap hal-hal demikian perlu juga dibicarakan dalam aruh sastra kali ini (jika jadi terselenggara, atau jika tidak pada aruh berikutnya di Kabupaten Tabalong tahun 2010 nanti); atau jika tidak, kita harus berpuas diri saja dengan rutinitas yang menjemukan sebagaimana layaknya ajang kangen-kangenan satu bagian masyarakat—yang tidak memberikan pencerahan apa-apa.</p>
<p>Jika telah berpuas diri dengan apa-apa yang telah kita rayakan secara artifisial, maka bersiaplah dengan kebosanan yang akan berujung pada kehilangan. Toh, kita sudah terbiasa dengan perasaan kehilangan arti penting kesastraan sejak tahun 1920-an, sejak Kesusastraan Kalsel modern dipetakan “mengada”. Lalu, kita bisa saja menjalani hidup ini dengan rutinitas kerja sehari-hari yang semakin membosankan.</p>
<p>Terakhir, kesiapan menyambut sebuah amanat yang akan diberikan tak cukup hanya dengan ungkapan spontan lewat mulut saja. Juga, perlu komitmen yang teguh untuk segala persiapan yang akan dijalani sepanjang waktu setahun untuk terus berbenah, dan ini perlu didukung oleh lebih banyak khalayak yang peduli. Setidaknya, tulisan semacam ini pun saya harapkan dapat menjadi bukti kepedulian saya akan hal yang demikian: Apa kabar Aruh Sastra Batola?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/388/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=388&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/11/09/apa-kabar-aruh-sastra-batola/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>keraguan, kemungkinan; penyerangan</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/28/keraguan-kemungkinan-penyerangan/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/28/keraguan-kemungkinan-penyerangan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 05:08:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[Kita tak mungkin menyerah kawan. Pertempuran ini milik kita, dan pada akhirnya kita telah melibatkan banyak orang. Entah siapa saja. Kita sudah berdiri di sini hari ini. Sudah terlalu banyak sumber daya yang kita korbankan, maka kita tak bisa menyerah. Kemungkinannya hanyalah terus maju; menang dan kalah bukanlah soal yang penting lagi. Kemungkinan yang lain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=386&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kita tak mungkin menyerah kawan. Pertempuran ini milik kita, dan pada akhirnya kita telah melibatkan banyak orang. Entah siapa saja. Kita sudah berdiri di sini hari ini. Sudah terlalu banyak sumber daya yang kita korbankan, maka kita tak bisa menyerah. Kemungkinannya hanyalah terus maju; menang dan kalah bukanlah soal yang penting lagi. Kemungkinan yang lain adalah menyusun strategi kembali. Memetakan barisan dan lingkungan. Mencari titik strategis untuk bersiap menyerang. Percayalah kawan, ini bukan soal ambisi pribadi lagi. Ini soal bagaimana kita mengabdikan diri pada banyak hal yang telah kita korbankan dalam hidup. Bersiaplah! Hanya ini yang kita bisa.<span id="more-386"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ya, aku paham. Tapi, tetap saja ada keraguan bagiku. Entah dari mana datangnya, dan entah perihal apa, tapi ia menyusup sedemikian rupa. Aku tak bisa menafikannya. Mungkin ada cinta yang lain. Pengabdian untuk yang lain. Aku merasa belum sepenuhnya yakin dengan pilihan kita. Aku merenungi kemungkinan yang lain, yang lebih besar lagi. Entahlah, hanya waktunya saja yang tak tepat. Tapi aku sama percaya padamu, kita tak bisa mundur. Posisi kita tak sepenuhnya menguntungkan, juga tak sepenuhnya dalam kesialan. Hanya pasti, akan ada kemungkinan lain yang lebih baik lagi akan datang. Tunggulah sebentar, tapi yakinlah aku sedang bersiap.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kau lihat pucuk cemara di bukit sana? Ia berdiri terlalu tinggi, sementara di bawahnya banyak daun, banyak ranting dan dahan, juga batang dan akarnya yang menusuk sungsang. Pucuk kecil itu digoyang-goyangkan angin. Ia tak pernah dapat memilih, hanya saja ia berdiri di atas akar yang kokoh, yang memeluk tanah sedemikian kuat. Tanpa itu, ia roboh dan tak lebih besar dari bagian pohon yang lain. Malah, ialah yang terkecil. Kau paham maksudku, kawan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ya, aku mengerti!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sabarlah menunggu. Kita lihat arah angin berhembus, dan tetaplah menari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menari di atas beban orang lain?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ya. Dan percayalah, beban itu milik kita juga. Aku tak menafikannya, meski sedikit pun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kawan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apakah kita akan roboh?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tergantung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>O, celakanya kita!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sabarlah. Kecelakaan hanya milik yang ceroboh. Kita akan menghindari segala bentuk kecerobohan, maka sejak dini kita bersiap. Adapun yang tak dapat kita hindari, kita terima sebagai pengajaran, dan kita akan terus bertahan. Bila terbuka jalan, kita akan menyerang dengan segenap perhatian; mungkin itulah akhir dari penantian. Maukah kau terus tetap bersamaku, hingga akhir kemungkinan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Entahlah, kawan. Aku hanya berharap kebaikan untuk kita, tapi tolong kau perhatikan juga kebaikanku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Itu pasti. Aku tak akan meninggalkan. Kemungkinanku hanya ditinggalkan. Dan sampai semuanya jelas dan terang bagiku, aku terus akan bertahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ya, aku paham.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terima kasih, sahabat.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/386/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=386&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/28/keraguan-kemungkinan-penyerangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>rambut&#8230;</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/17/rambut/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/17/rambut/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 08:44:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=375</guid>
		<description><![CDATA[karena seorang teman telah berbagi tentang persoalan rambutnya, yang memberinya satu kesimpulan, &#8220;ternyata kita tidak pernah sepenuhnya mengenal diri kita sendiri, betapapun lamanya kita berkenalan dengannya. dan&#8230;&#8221;* maka saya juga terpancing untuk memajang foto-foto ini. sebuah kenangan, yang beberapa tahun ke depan akan membuat saya tersenyum jika melihatnya lagi&#8230;
*www.hemmayulfi.blogspot.com
       [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=375&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>karena seorang teman telah berbagi tentang persoalan rambutnya, yang memberinya satu kesimpulan, &#8220;ternyata kita tidak pernah sepenuhnya mengenal diri kita sendiri, betapapun lamanya kita berkenalan dengannya. dan&#8230;&#8221;* maka saya juga terpancing untuk memajang foto-foto ini.<span id="more-375"></span> sebuah kenangan, yang beberapa tahun ke depan akan membuat saya tersenyum jika melihatnya lagi&#8230;<a rel="attachment wp-att-376" href="http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/17/rambut/hajri/"><img class="alignleft size-medium wp-image-376" title="hajri" src="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/hajri.jpg?w=300&#038;h=225" alt="hajri" width="300" height="225" /></a><a rel="attachment wp-att-377" href="http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/17/rambut/g6/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-377" title="g6" src="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/g6.jpg?w=300&#038;h=225" alt="g6" width="300" height="225" /></a><a rel="attachment wp-att-378" href="http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/17/rambut/picture-028/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-378" title="Picture 028" src="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/picture-028.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Picture 028" width="300" height="225" /></a><a rel="attachment wp-att-379" href="http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/17/rambut/picture-014/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-379" title="Picture 014" src="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/picture-014.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Picture 014" width="300" height="225" /></a><a rel="attachment wp-att-380" href="http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/17/rambut/picture-008/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-380" title="Picture 008" src="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/picture-008.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Picture 008" width="300" height="225" /></a></p>
<p>*www.hemmayulfi.blogspot.com</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/375/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=375&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/17/rambut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/hajri.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">hajri</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/g6.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">g6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/picture-028.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Picture 028</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/picture-014.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Picture 014</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/picture-008.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Picture 008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ke muara teweh, memudiki barito utara</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/16/ke-muara-teweh-memudiki-barito-utara/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/16/ke-muara-teweh-memudiki-barito-utara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 06:08:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=369</guid>
		<description><![CDATA[minggu lalu (7 &#8211; 10/10/09) saya berkesempatan untuk kali pertama mengunjungi muara teweh, ibukota dari kabupaten barito utara, kalimantan tengah. sebuah kota kecil di antara liku-liku pegunungan meratus (?) sebelah utara. sebenarnya sudah lama ingin (dan beberapa kali mendapat tawaran dari keluarga saya yang ada di sini) ke sini, mengingat tempat ini adalah salah satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=369&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>minggu lalu (7 &#8211; 10/10/09) saya berkesempatan untuk kali pertama mengunjungi muara teweh, ibukota dari kabupaten barito utara, kalimantan tengah. sebuah kota kecil di antara liku-liku pegunungan meratus (?) sebelah utara. sebenarnya sudah lama ingin (dan beberapa kali mendapat tawaran dari keluarga saya yang ada di sini) ke sini, mengingat tempat ini adalah salah satu dari invasi dagang orang-orang dari kampung halaman ibu saya (amuntai), dan cukup banyak keluarga saya di sini.</p>
<p>keluar dari wilayah kalimantan selatan di hulu sungai utara, saya memasuki kabupaten barito timur (tamiyang layang), kalimantan tengah. <span id="more-369"></span>jalanan mulai menanjak dari sini&#8211;dan akan terus begitu sampai ke ampah dan ke teweh. di sepinggir jalan cukup banyak gereja, perbandingannya dengan masjid/ langgar sekitar 6:2&#8211;kalau saya tak salah hitung. rumah-rumah di pinggir jalan itu adalah rumah-rumah kayu berkolong bawah&#8211;rumah panggung&#8211;yang tidak terlalu tinggi. cukup eksotik, mungkin, bagi orang-orang yang terbiasa dengan rumah berpondasi tanah dan beton (batu gunung).</p>
<p>saya berangkat bersama dua orang teman. tujuan utamanya mengantarkan seorang teman yang akan jadi hakim di sini, pindahan dari raha, sulawesi tenggara. kami berangkat dari rantau, kabupaten tapin, kalsel, dari rumah mertua teman saya&#8211;sebelumnya saya bermalam di sana, dari banjarmasin. perjalanan dimulai dari jam delapan pagi, waktu indonesia bagian tengah. memasuki muara teweh, tepat sebelum jembatan hasan basri, kurang lebuh pukul dua siang, waktu indonesia bagian barat. tentang perbedaan waktu ini, teman saya sempat berceloteh, &#8221; terlalu maksa, biar sama seperti umumnya wilayah kalimantan tengah yang wib. kenyataannya waktu ashar tetap aja sama seperti di banjar, hehe&#8230;&#8221;</p>
<p>perjalanan ke teweh adalah perjalanan memudiki hulu (sungai) barito. tapi tidak seperti perjalanan orang-orang dulu yang benar-benar memudiki arus sungai, perjalanan sekarang adalah membelah gunung, karena tak mungkin melalui pesisir barito yang berkelak-kelok seperti ular itu. perjalanan orang-orang dulu perlu waktu berhari-hari lewat sungai, dengan kapal-kapal negara (sekarang pun masih ada kapal-kapal itu, dengan waktu yang masih cukup lama jika dibandingkan dengan jalur darat/ gunung). perjalanan itu benar-benar membelah gunung, karena mungkin terlampau sulit jika harus memapas lereng-lereng yang terjal bagi pemerintah. dan, yang dilalui adalah pepohonan dan ladang-ladang berpindahnya orang-orang manyan (?) yang sepi, kecuali di beberapa titik pemukiman mereka.</p>
<p>muara teweh adalah sebuah kota kecil. seperti umumnya kota-kota kecil di kalimantan (tengah) yang &#8220;diramaikan&#8221; oleh orang banjar, maka keramaian itu ada di pasar, dan umumnya di pinggir sungai&#8211;tepatnya, di pinggir sungai barito. kebetulan beberapa waktu ini musim kemarau akan berakhir. hujan mulai turun setiap hari, sebentar gerimis sebentar lebat; tapi hanya sebentar. batang sungai barito masih <em>pandit, </em>di bibir sungai gosong memanjang. sekilas melihat pasar dan sungai ini, saya terkenang pangkalan bun; ada jalan beraspal, tidak terlalu lebar, memanjang di sisi pasar menghadap sungai; ada pagar pembatas ke sungai yang memanjang, kira-kira sepinggang, dan dermaga kecil.</p>
<p>sedari awal, ketika diajak makan oleh keluarga saya setibanya di teweh, dikatakan bahwa kota ini dapat dikelilingi, seluruhnya, dalam waktu kurang lebih setengah jam. nyatanya, sebagai &#8220;orang baru datang&#8221; saya sudah hapal jalan-jalan kota ini dalam sehari pertama saja.</p>
<p>ketika malam, jalanan cukup lengang. awalnya saya kira karena malam itu gerimis saja, nyatanya malam-malam berikutnya begitu juga. ya, kota yang cukup kecil, kecuali keramaian itu ada di pasar <em>blauran</em> malam hari; ada warung-warung tenda makanan, penjual kaset-cd dan buku-buku pop islami, penjual pakaian yang digantungkan dengan hanger pada kayu-kayu <em>reeng</em> yang ditata, dan orang-orang berlalu-lalang memadati jalanan.</p>
<p>kawasan gedung pemerintahan ada di atas. dari bundaran bupati (maksudnya: bundaran depan rumah bupati, yang diseberangnya direncanakan pembangunan monumen/ patung pejuang teweh yang membantu pangeran antasari menghadang kolonialisasi belanda dulu, panglima batur) belok ke kiri, ke jalan a. yani. sepanjang jalan itu, yang nantinya akan membelok ke kanan ketika sampai di bundaran durian raksasa, bangunan-bangunan pemerintah: sekolah, billboard dengan gambar bupati mengangkat padi disaksikan pejabat lainnya dan wanita petani-dayak, kantor depag, billboard pemerintah lagi, kantor bupati, dll, dan bundaran lagi. ke atas lagi bandara beringin.</p>
<p>hari sabtu siang, saya pulang naik susi air. penumpangnya tiga orang, bersama pilot dan kopilot yang dua orang bule itu. naik pesawat kecil berkapasitas penumpang 12 orang ini seperti naik mobil atau bus saja, ketika gerimis lewat bulir-bulir airnya membias di jendela samping saya, begitu dekat. ketika melewati awan hitam yang gelap, pesawat berguncang layaknya mobil kami ketika melewati jalan sesudah ampah, yang rusak dan berkelok-kelok tajam, saat menuju teweh dua hari sebelumnya. saya hanya bisa menyandarkan badan, memejamkan mata, mencari titik nyaman di benak saya. untungnya, badai cepat berlalu, dan saya kembali dapat menikmati sungai-sungai yang berkelok-kelok meng-ular di bawah sana. selain sungai-sungai yang indah itu, hamparan hutan hijau luas membentang; sungai barito, dari atas, diapit hutan yang luas, di beberapa titik pemukiman penduduk (kampung) di pinggir sungai. itulah barito, hulu sungai barito, sebelah utara, yang sepanjang ratusan tahun teluk-teluknya dilayari armada dagang melayu: <em>urang</em> banjar&#8230;.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/369/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=369&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/16/ke-muara-teweh-memudiki-barito-utara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>marc chagall*</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/02/marc-chagall/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/02/marc-chagall/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 15:06:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lukisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[marc chagall lahir hampir setengah abad sesudah rousseau (henri rousseau), namun karya-karyanya telah membuat dampak bagi periode akhir lukisan rousseau yang berpengaruh.
chagall lahir di vitebsk, rusia, pada tahun 1887 dari keluarga yahudi yang miskin. ayahnya, seorang sederhana dan dikenal baik hati, bekerja di depot ikan haring. ibunya, seorang ibu rumah tangga dengan 10 orang anak&#8211;delapan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=332&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a rel="attachment wp-att-357" href="http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/02/marc-chagall/1chag-2/"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-357" title="1chag" src="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/1chag1.jpg?w=126&#038;h=150" alt="1chag" width="126" height="150" /></a>marc chagall lahir hampir setengah abad sesudah rousseau (henri rousseau), namun karya-karyanya telah membuat dampak bagi periode akhir lukisan rousseau yang berpengaruh.</p>
<p>chagall lahir di vitebsk, rusia, pada tahun 1887 dari keluarga yahudi yang miskin. ayahnya, seorang sederhana dan dikenal baik hati, bekerja di depot ikan haring. ibunya, seorang ibu rumah tangga dengan 10 orang anak&#8211;delapan perempuan dan dua laki-laki&#8211;membuka usaha warung makan kecil.<span id="more-332"></span> dalam bukunya, <em>my life</em> , chagall menulis tentang rumahnya yang selalu ramai dengan saudara-saudaranya, dan tentang paman-pamannya yang eksentrik: neuch, yang membawa lembunya sambil bermain biola, dan zussy, seorang penata rambut yang mengkriting jambangnya. ia juga bercerita tentang rumah kakeknya yang penuh dengan binatang peliharaan; semua ini adalah tema yang memberi inspirasi atas karya-karya awalnya.</p>
<p>seorang pelukis potret terkenal di kotanya, pen, tertarik akan bakatnya dan menjadikannya murid. angkutan sungai, rumah-rumah dusun, dan kegiatan di seputar bukit menjadi obyek lukisannya atas asuhan pen. dari sini ia berharap dapat melanjutkan studinya, dan pergi ke st. petersburg. ia gagal dalam ujian masuk sekolah seni dan kerajinan, tapi diterima di lembaga perlindungan seni&#8211;di mana ia mendapat beasiswa 10 rubel perbulan; namun ia merasa tak mendapat apa-apa di sana.</p>
<p>sampai ia masuk ke sebuah sanggar yang dikelola leon bakst&#8211;seorang penata panggung (teater) dan juga pelukis yang terpengaruh seni-seni modern dari perancis&#8211;ia merasa menemukan karakternya di sana; warna-warna kusam yang berat serta garis-garis yang terdistorsi menjadikan lukisan-lukisannya bercorak fauvistik kental.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-347" href="http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/02/marc-chagall/marc-chagall-birthday-2/"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-347" title="marc-chagall-birthday" src="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/marc-chagall-birthday1.jpg?w=150&#038;h=142" alt="marc-chagall-birthday" width="150" height="142" /></a><a rel="attachment wp-att-348" href="http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/02/marc-chagall/chagall05a-2/"><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-348" title="chagall05a" src="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/chagall05a1.jpg?w=106&#038;h=150" alt="chagall05a" width="106" height="150" /></a><a rel="attachment wp-att-350" href="http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/02/marc-chagall/marcchagallderspaziergang-2/"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-350" title="MarcChagallDerSpaziergang" src="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/marcchagallderspaziergang1.jpg?w=145&#038;h=150" alt="MarcChagallDerSpaziergang" width="145" height="150" /></a>chagall banyak melakukan observasi langsung terhadap obyek lukisannya, terutama yang menyangkut kelahiran, perkawinan, dan kematian. karena rajin berobservasi inilah ia bertemu gadis yang sangat intuitif, yang kelak menjadi istrinya, bella, model yang membakar semangat berkaryanya. salah satu lukisannya yang menggambarkan bella adalah <em>potret dengan sarung tangan hitam.</em></p>
<p>perkenalannya dengan seorang pejabat di douma yang tertarik akan lukisannya, winawer, memungkinnya pergi ke paris pada tahun 1910. di sana, ia kost di <em>la ruche, </em>dan bersahabat dengan penyair-penyair seperti blaise cendrars, max jacob dan apollinaire; dan juga pelukis la fresnaye, delaunay, serta modigliani. ini adalah masa-masa produktif, di mana energinya menggelembung seperti balon. ia mengawinkan corak fauvistiknya dengan kubistik yang dipelajarinya dari teman-teman barunya, namun tetap berkarakter: lukisan-lukisannya aneh dan puitik.</p>
<p>pamerannya di berlin, di der steirm gallery, pada tahun 1914 membawa dampak yang kuat bagi pelukis-pelukis ekspresionis jerman, sepanjang perang dunia I. perang, kemudian, menyebabkan chagall kembali ke rusia. di st. petersburg ia menikahi bella pada tahun 1915.</p>
<p>penugasannya di unit penyamaran selama perang memberikannya kesadaran akan kehidupan, dan ini berpengaruh atas karya-karyanya kemudian, yang dalam dan esensial.</p>
<p>ketika terjadi revolusi rusia, seperti halnya malevich dan pelukis-pelukis garda depan yang lain, ia ditunjuk sebagai komisaris di departemen seni untuk wilayah vitebsk. rejim yang baru sangat mendukung akan perkembangan seni modern di rusia. chagall dan kawan-kawan mendirikan akademi seni, namun kemudian mengundurkan diri karena perseteruannya dengan malevich, yang dianggapnya tidak liberal. ia kemudian bergabung dengan granowsky, direktur yiddish teater yang menugaskannya untuk melukis dinding-dinding dan layar teater, juga mendisain kostum dan dekorasi. chagall memberikan sentuhan yang lain untuk itu, di mana penonton mendapatkan teror secara kejiwaan; inipun kemudian berpengaruh atas lukisan-lukisannya.<a rel="attachment wp-att-339" href="http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/02/marc-chagall/rain/"></a><a rel="attachment wp-att-354" href="http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/02/marc-chagall/rain-3/"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-354" title="Rain" src="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/rain2.jpg?w=150&#038;h=120" alt="Rain" width="150" height="120" /></a><a rel="attachment wp-att-352" href="http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/02/marc-chagall/chagall2-3/"><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-352" title="chagall2" src="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/chagall22.jpg?w=150&#038;h=121" alt="chagall2" width="150" height="121" /></a><a rel="attachment wp-att-356" href="http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/02/marc-chagall/marc-chagall-the-window/"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-356" title="marc-chagall-the-window" src="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/marc-chagall-the-window.jpg?w=150&#038;h=144" alt="marc-chagall-the-window" width="150" height="144" /></a><a rel="attachment wp-att-355" href="http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/02/marc-chagall/marc-chagall09/"><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-355" title="marc chagall09" src="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/marc-chagall09.jpg?w=124&#038;h=150" alt="marc chagall09" width="124" height="150" /></a></p>
<p>pada tahun 1922, chagall memutuskan kembali pergi ke perancis, di mana ia banyak menghasilkan karya etsa&#8211;antara lain untuk ilustrasi buku dongeng <em>la fontaine</em> dengan 100 karya etsa, untuk <em>kematian jiwa</em> oleh gogol 85 karya etsa, dll.</p>
<p>di tahun 1931 ia diundang dalam pembukaan museum tel aviv, dan ini memungkinkannya rekreasi ke palestina dan syria. kemudian, atas permintaan vollard ia membuat ilustrasi atas perjalanannya itu.</p>
<p>tahun 1941, ketika perang dunia II terjadi ia pergi ke amerika atas undangan museum seni modern, new york. peristiwa tragis terjadi di sini; bella, yang dicintainya, meninggal secara mendadak pada tahun 1944. peristiwa sedih ini membuatnya &#8220;bernostalgia&#8221; dalam lukisannya. tinggal dengan anak perempuannya satu-satunya, ida, ia kemudian berjumpa dengan virginia yang kemudian hamil dan melahirkan anak laki-lakinya: david.</p>
<p>pada tahun 1945 ia mengerjakan kostum dan panggung pada pertunjukan ballet stravinsky, dalam <em>firebird. </em>dan, tahun 1947 ia memutuskan untuk kembali lagi ke prancis; kemudian menetap di vence di cote d&#8217;azur pada tahun1949, sampai akhirnya meninggal pada tahun 1985.</p>
<p>di tahun 1941, andre breton dalam penelitiannya terhadap tokoh-tokoh surrealisme mencatat, chagall sebagai pelukis yang telah mengatasi rintangan-rintangan kestrukturan dan hukum-hukum fisik. chagall adalah individu yang unik dengan prestasi karya yang merefleksikan perkembangan lukisan modern, dengan keyakinan rasa dia telah melibatkan dirinya secara fisik dan kejiwaan ke dalam problematika zaman, dan memberikan jawaban atas permasalahan itu.<a rel="attachment wp-att-366" href="http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/02/marc-chagall/graphic12-3/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-366" title="Graphic12" src="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/graphic122.jpg?w=300&#038;h=180" alt="Graphic12" width="300" height="180" /></a></p>
<p>sumber:</p>
<p>- arnasson, h.h.; <em>a history of modern art,</em> 30 blossombury, london</p>
<p>- hazan, fernad: <em>a dictionary of modern painting</em>, paris, 1956</p>
<p>*tulisan ini adalah penulisan ulang dari tugas paper saya yang berjudul sama, sewaktu di isi yk, 2001. gambar-gambarnya adalah hasil penelusuran di google dari banyak sumber. di indonesia sendiri motif-motif chagall banyak/ dapat ditemui pada lukisan-lukisan pelukis indonesia semacam ugo untoro, nasirun, entang wiharso, dll.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/332/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=332&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/02/marc-chagall/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/1chag1.jpg?w=126" medium="image">
			<media:title type="html">1chag</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/marc-chagall-birthday1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">marc-chagall-birthday</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/chagall05a1.jpg?w=106" medium="image">
			<media:title type="html">chagall05a</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/marcchagallderspaziergang1.jpg?w=145" medium="image">
			<media:title type="html">MarcChagallDerSpaziergang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/rain2.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Rain</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/chagall22.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">chagall2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/marc-chagall-the-window.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">marc-chagall-the-window</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/marc-chagall09.jpg?w=124" medium="image">
			<media:title type="html">marc chagall09</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hajriansyah.files.wordpress.com/2009/10/graphic122.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Graphic12</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesiapan</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/01/kesiapan/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/01/kesiapan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 16:37:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=330</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang tak kita miliki di tengah beruntunnya bencana yang menimpa dunia (kita) akhir-akhir ini. Kesiapan, salah satunya. Tentu bagi kita yang tidak mengalaminya secara langsung mengatakan hal ini begitu mudahnya; dan bagi yang mengalaminya secara langsung tentu yang tersisanya hanya kesedihan. Tapi, sejauh mana kesedihan dapat hinggap di diri kita. Entahlah, masing-masing orang berbeda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=330&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Apa yang tak kita miliki di tengah beruntunnya bencana yang menimpa dunia (kita) akhir-akhir ini. Kesiapan, salah satunya. Tentu bagi kita yang tidak mengalaminya secara langsung mengatakan hal ini begitu mudahnya; dan bagi yang mengalaminya secara langsung tentu yang tersisanya hanya kesedihan. Tapi, sejauh mana kesedihan dapat hinggap di diri kita. Entahlah, masing-masing orang berbeda cara penanganannya.</p>
<p>Maka, setelah datang satu masalah atau musibah, yang lain akan terasa datang beruntun-runtun. Tapi, bukankah yang begini yang mengajarkan pada kita pentingnya arti kesiapan.<span id="more-330"></span> Kesiapan untuk menerima kedatangan berikutnya, dan kesiapan penanganannya secara lebih baik.</p>
<p>Dalam beberapa tahun terakhir, berita-berita tentang kemalangan, dari tsunami, gempa, kecelakaan massal dalam lingkup lalu-lintas perhubungan, gempa lagi, kebakaran yang meluas, tsunami, angin badai, gempa lagi, dan seterusnya mengguncang kita sedemikian rupa. Bagi kita yang hidup dalam sebuah negara yang sistem penanggulangan bencananya masih tergolong lemah kemalangan kemanusiaan semacam ini hanya dapat “diterima” sebagai musibah, ujian, dan peringatan/ azab belaka. Tapi, ini masih lebih baik dari sekadar penghujatan yang tak tertangani, sehingga menimbulkan trauma yang dalam, yang membuat hidup tak kunjung beranjak dari kemalangan saja.</p>
<p>Maka, sekali lagi, penting memaknai kesiapan dengan fokus yang lebih intens. Bahkan, dalam kehidupan pribadi kesiapan adalah hal yang harus kita sadari sebagai sistem imun dan strategi pengembangan ke arah yang lebih baik. <em>Mindset-</em>nya adalah kehidupan sebagai yang tak terhindarkan dari kemalangan, lalu targetnya adalah mempersiapkan hidup yang imun terhadap kesedihan yang menimbulkan traumatik yang bergeming dari kesedihan itu sendiri; karena hidup terus akan berjalan kepada kulminasi yang kita tak pernah mengerti betul kesedihan atau kebahagiaannya. Kita hanya dapat berharap, selebihnya kita memerlukan kesiapan dalam segala hal. Apakah ini terlalu berat bagi kita, yang terbiasa dengan kemudahan dan keselarasan alamnya?</p>
<p>Orang-orang yang berdiri di puncak seberang sana, adalah orang-orang yang terbiasa mengalami kemalangan dan kesedihan. Bahkan, seakan-akan kemalangan itu diwariskan sedemikian rupa oleh alam yang “tak-bersahabat”. Mereka terbiasa menjadi “kuat”, sehingga garis muka mereka tak berubah karena guncangan di sekitar dan di dalam diri mereka. Sedangkan di wajah kita garis-garisnya begitu lunak dan lembut, sehingga tersenyum itu wujud lahiriah rupa kita. Tapi, sekali saja guncangan itu “menyapa” kita begitu mudahnya pula garis cekung itu menyembung, untuk kemudian mudah saja bagi kita untuk tersenyum kembali. Tapi, tentang garis ini tak begitu penting untuk kita bahas terlalu jauh, kecuali ini mengajarkan kesiapan.</p>
<p>Siap artinya meluaskan cakrawala, berpegang pada kearifan lokal, dan bersandar pada kepekaan akan tanda-tanda.</p>
<p>Tentang hal-hal yang demikianlah perhatian saya akhir-akhir ini terfokus. Saya menjadi sadar akan tanda-tanda. Ia sedemikian nyata ada. Utamanya tentang kematian—tentang kesedihan, kenangan, keindahan, dan hal lainnya yang pasti akan ada akhirnya. Lalu sesudah semua ini, tanda-tanda ini, saya hanya dapat berpikir tentang berjalannya waktu: tentang puncak yang saya jelang, tentang orang-orang sesudah saya, tentang keberpihakan pada nilai, dan tentu saja kesiapan menerima segalanya. Lalu, sesudah kesiapan menerima ada kesiapan memberikannya. Betapapun naifnya film-film hollywood itu, tetap saja pengorbanan adalah suatu keniscayaan pula. Setelah siap menerima segala kebaikan, mampukah kita memberikan kebaikan itu pada yang lain, meski bisa saja kemalangan itu beralih kepada kita? Naudzubillah! Tapi, lebih audzubillah lagi jika saya tak dapat kuat menentramkan jiwa saya menerima “pemberian” yang diberikannya kepada orang-orang sebelum saya—kepada generasi yang terus berganti puluhan, bahkan ratusan, atau ribuan, atau jutaan tahun yang terus berlalu.</p>
<p>Hidup ini terlampau rumit, bahkan seberapapun usaha saya menyederhanakannya, untuk saya jalani dengan kekaprahan yang tak memungkinkan saya bersiap sedemikian rupa, seakan menyambut ke-akhir-an yang begitu nyata. Saya hanya mampu bersiap, sejauh kesiapan yang dapat saya kumpulkan dari sekitar saya: <em>daun-daun menari ditiup angin, hijaunya bahkan nyangkut di hidung saya.</em></p>
<p><em>Banjarmasin, 1 Oktober 2009</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/330/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=330&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/10/01/kesiapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TENTANG CAKRAWALA, SASTRA DAN KEBUDAYAAN KITA*</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/09/27/tentang-cakrawala-sastra-dan-kebudayaan-kita/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/09/27/tentang-cakrawala-sastra-dan-kebudayaan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 14:59:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[Jika menilik satu dekade dunia kesusastraan kita (di Kalimantan Selatan), maka ada rentang lima tahun yang cukup menggembirakan; setidaknya hiruk pikuk perayaan itu nampak sedemikian nyata—tentu saja ini hanya pada batas cakrawala yang dapat saya pandang. Setidaknya setelah berhibernase cukup lama, semenjak dunia puisi beserta kepenyairannya melindap sejak pertengahan 90-an.
Dimulai sejak 2004, saat event Aruh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=324&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Jika menilik satu dekade dunia kesusastraan kita (di Kalimantan Selatan), maka ada rentang lima tahun yang cukup menggembirakan; setidaknya hiruk pikuk perayaan itu nampak sedemikian nyata—tentu saja ini hanya pada batas cakrawala yang dapat saya pandang. Setidaknya setelah berhibernase cukup lama, semenjak dunia puisi beserta kepenyairannya melindap sejak pertengahan 90-an.</p>
<p>Dimulai sejak 2004, saat event Aruh Sastra Kalimantan Selatan pertama mulai digulirkan. Berlanjut kemudian aruh sastra-aruh sastra berikutnya yang terus hadir setiap tahunnya, atas rekomendasi yang terjaga dari kalangan sastrawan kalimantan selatan kepada sistem birokrasi yang memang diharapkan dapat terus memfasilitasinya: memfasilitasi kepentingan dunia sastra yang beriringan dengan tumbuh kembangnya kebudayaan daerah kalimantan selatan.<span id="more-324"></span> Juga perayaan-perayaan lainnya yang semakin turut meramaikan, dunia perbukuan pun—yang menghimpun karya-karya sastra (puisi, cerpen, novel, esai) sastrawan kalsel—semakin elegan dengan tampilan-tampilan yang semakin baik, tak kalah <em>harat</em> dari buku-buku yang terbit secara nasional dan banyak diproduksi di pusat sana, dicetak dalam tiras yang lebih banyak (sekurang-kurangnya 250 sampai 1000 eksemplar) dan dalam kemasan lebih rapi dan lebih baik, juga ber-ISBN.</p>
<p>Dunia kesastraan kalsel, setidaknya dari yang saya baca pada buku <em>La Ventre de Kandangan</em>, telah hadir sejak masa kesusastraan Pujangga Baru. Perlahan karya-karya pionir dari masa ini menghidupi kebudayaan menulis di kalimantan selatan, bahkan turut pula rintisan dunia pers kalimantan selatan dimulai darinya. Setidaknya dari sini pulalah orientasi keindonesiaan itu bermula, lalu karya-karya orang banua turut menyemarakkan kesusastraan nasional. Yang terasa sampai hari ini pengaruhnya adalah semangat meng”indonesia” itu begitu kental. Meng”indonesia” yang saya maksud adalah keinginan berintegrasi ke pusat yang pasang surut seiring zamannya. Meski sebenarnya di tingkat nasional sendiri terjadi pergeseran makna pusat itu seiring desentralisasi yang mengindentifikasikan nama seorang seniman atau sastrawan sesuai kota bermukimnya; seperti halnya pada tahun 80-an muncul pengidentifikasian “penyair kota” ini dan itu, dan event-event semacam “forum penyair kota” ini dan itu, dan sebagainya yang semacam itu. Lalu kemudian, pasca kota-kota sebagai identifikasi nama kepenyairan atau kesastrawanan seseorang, bergeser lagi ke komunitas-komunitas sebagai identifikasi seseorang. Hal ini turut didorong pula oleh wacana revitalisasi pedalaman yang “tak selesai” itu pada pertengahan tahun 90-an, sehingga sastra komunitas adalah kulminasi yang masuk akal bagi pertumbuhan kesastraan indonesia yang begitu “gemuk”, dengan luasan wilayahnya yang begitu besar.</p>
<p>Alhasil, sampai sekarang masih saja menggema keinginan-keinginan untuk diterima di koran nasional yang sebaran pembacanya lebih luas sebagai refresentasi dari media yang paling rutin (mingguan) menerbitkan karya sastra secara luas. Sampai di cakrawala ini saja terjadi kesenjangan yang begitu signifikan mengingat akhir-akhir ini begitu sulit karya—untuk mengatakan hampir tidak adanya—karya sastra dari sastrawan kalsel yang dimuat di media semacam koran nasional itu sebagai otoritas yang terlegitimasikan sedemikian rupa.</p>
<p>Saut Situmorang, seorang sastrawan Indonesia yang begitu geram dengan kanonisasi sastra, atau efek kanonisasi tersebut yang tidak adil, adalah orang yang paling getol berusaha menyiarkan kesalahan dalam kekaprahan yang menghegemoni hampir semua sastrawan yang termarginalkan dari efek kanonisasi tersebut. Ia pun dengan gagahnya menerbitkan <em>Politik Sastra</em> sebagai antitesis dari sikap sebagian kalangan seniman-sastrawan yang begitu takut berpolitik sehingga kemudian menjadi terhegemonikan sedemikian rupa oleh politik kalangan sastrawan tertentu yang lebih progresif mengklaim kanonisasi sastra sebagai otoritas mereka.</p>
<p>Nah, sifat terhegemoni semacam ini saya pikir adalah satu dari sekian masalah kesastraan di Kalimantan Selatan dewasa ini. Pertumbuhan karya-karya sastra yang begitu pesat, juga dengan mediasi penerbitannya yang semakin baik melenakan kita, sehingga kita merasa dalam batas cakrawala kebudayaan saat ini kita merasa sebagai di lintasan zenit yang bercahaya. Kenyataannya, dalam pertemuan-pertemuan nasional yang memediasi tukar-menukar pikiran dalam hal kesastraan perwakilan-perwakilan kita cenderung tak banyak bisa bicara; jika pun dilibatkan, maka kita lebih sebagai pelengkap yang menyatakan kemarginalan itu sendiri. Lihatlah, bahkan di event nasional Kongres Cerpen Indonesia V, yang kita sebagai tuan rumahnya itu, kita tak mampu bicara, kecuali keluh-kesah ketidakmampuan “berterima” di media nasional.</p>
<p>Ada yang menarik dari pernyataan Sainul Hermawan dalam satu esainya yang dimuat di dalam antologinya, <em>Maitihi Sastra Kalimantan Selatan 2005 – 2007</em>. Bahwa, menurutnya yang paling logis adalah “&#8230;mengembangkan sastra di tingkat lokal&#8230;. Isunya sangat spesifik dan karenanya tampak lebih kongkret dalam pengertian pengalaman estetis yang ditawarkan sangat dekat dengan kita.” Saya kutip lagi tulisan lanjutannya untuk memberikan gambaran atau tawaran, atau sindiran yang lebih jelas:</p>
<p>“Mengapa lokal lebih penting? Ia kecil, bisa dikelola dengan maksimal, tetapi pada kenyataannya justru tak bisa dilakukan. Bagaimana kita bisa berbuat besar jika melakukan hal yang kecil saja tidak bisa? Atau kita cuma bisa membesar-besarkan yang kecil?”</p>
<p>Hal “kecil saja” yang tidak bisa kita lakukan itu, menurut saya, adalah mereorientasikan kesadaran kolektif kita. Cakrawala kita begitu terbatas, nampak samar pandangan kita atas gambar-gambar yang melatarbelakangi dan melatardepani kita. Seyogyanya kita mulai “terbuka” pada cakrawala yang terbentang itu. Melihat dengan jernih apa-apa yang dapat kita tangkap dan berdayakan, bukannya membuat asumsi dan praduga yang hiperbolik—hanya karena hegemoni itu sedemikian kuatnya <em>mewaris</em> pada kita. Sudah saatnya pula rekayasa-rekayasa visioner dengan kaderisasi yang berkesinambungan kita lakukan, tak takut berpolitik dalam lingkup kekuasaan kita yang terbatas itu: Kesastraan Kalimantan selatan.</p>
<p>Budaya tutur-lisan, yang begitu terbatas, yang sedemikian lumus pada jisim kebudayaan kita, adalah batu sandungan yang mestinya kita loncati. Saatnyalah menulis dan saling mengkritisi, jika terlalu “keras” bisa diganti dengan kata mengisi, sehingga pendokumentasian karya-karya sastra yang sudah semakin baik menjadi lebih berharga lagi, tidak sekadar menjadi monumen kebanggaan yang labil, yang teronggok kering di rak buku entah milik sastrawan siapa.</p>
<p><em>Banjarmasin, September 2009</em></p>
<p><em>*</em>Tulisan ini dibacakan sebagai refleksi budaya pada buka puasa bersama seniman dan budayawan Kalsel (Banjarmasin) oleh KSI (Komunitas Sastra Indonesia) cabang Banjarmasin, 12 september 2009 yang lalu. Juga, dimuat di koran <em>Media Kalimantan, </em>15 september 2009.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/324/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=324&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/09/27/tentang-cakrawala-sastra-dan-kebudayaan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ba&#8217;da aidil fitri</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/09/24/bada-aidil-fitri/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/09/24/bada-aidil-fitri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 16:04:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[pada kehidupan yang kita berjalan dan berpikir di atasnya, ada batas di mana manusia mesti mengukur dan menimbang segalanya, termasuk di dalamnya kematian. pada titik ini, adakah benar tentang keabadian, tentang mimpi-mimpi, tentang rencana dan kontrol atas segala taktis menyangkut masa depan yang lebih baik. lebih baik? sejauh mana manusia menafsirkan hari ini dan segala [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=319&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>pada kehidupan yang kita berjalan dan berpikir di atasnya, ada batas di mana manusia mesti mengukur dan menimbang segalanya, termasuk di dalamnya kematian. pada titik ini, adakah benar tentang keabadian, tentang mimpi-mimpi, tentang rencana dan kontrol atas segala taktis menyangkut masa depan yang lebih baik. lebih baik? sejauh mana manusia menafsirkan hari ini dan segala yang terjadi, kaitannya dengan tafsir kebaikan tersebut?</p>
<p>kematian yang runtun-beruntun di sekitar saya beberapa waktu terakhir ini membuat saya terjaga untuk sekian waktu, adakah kita dapat benar-benar merencanakan kebaikan atas diri kita sebagai manusia? nassem dalam bukunya <em>black swan</em> yang cukup tebal itu ingin meyakinkan kita, bahwa selalunya tak ada yang benar-benar dapat kita prediksi dalam kehidupan ini.  maka ia mengajak kita menyelami kehidupan ini &#8220;sekali lagi&#8221;<span id="more-319"></span>, peka dan responsif atas gejala-gejala&#8211;hanya<em> </em>sejauh itu manusia mampu dan berhak atas kehidupan ini (yang terakhir ini adalah opini saya pribadi).</p>
<p>inna lillahi&#8230; lalu, teman saya bertanya, apakah yang benar-benar kau miliki dalam kehidupan ini? entahlah, mungkin tak ada! hanya saja, peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar kehidupan ini, berkaitan dengan ihwal kematian, menunjukkan tanda-tanda yang mesti disikapi. satu usaha untuk satu masalah; masalah berikutnya datang lagi, kita pun berusaha lagi. ada yang berhenti sementara pada kebuntuan, lalu kita beralih ke masalah yang lain, selesai masalah ini kita kembali pada yang belum selesai sebelumnya, terus begitu&#8230; seperti kata orang tua, yang pernah kami ajak berdiskusi, &#8220;dari dulu sampai sekarang masalahnya seperti itu saja.&#8221; seperti itu dalam pengertian tak ada yang pernah benar-benar selesai. satu berganti dengan dua, sampai ke sembilan kembali ke titik nol lagi, lalu berjalan lagi&#8230;.</p>
<p>saya mencoba memberi makna pada hidup saya. saya mencoba meyakinkan anda, meski anda juga &#8220;sedang&#8221; memberi makna pada hidup anda. pada titik mana kita tak berdaya kita pun bersepakat, saya mengikuti anda atau anda yang mengikuti saya. jika kita tak bersepakat, masing-masing dapat memilih jalannya sendiri. membuktikan diri hanya menguras energi, tapi kadang ada manfaatnya juga&#8211;setidaknya berkompetisi membuat kita dapat menilai, dan pengaruh nilai punya arti tersendiri bagi yang mengambang menjelang kematiannya: buih-buih di laut kehidupan.</p>
<p>ya, saya mungkin baru saja terjaga. hidup saya baru tiga puluh tahun, dan bisa saja besok saya mati. apa yang dipikirkan socrates beberapa abad yang silam, apa yang dilakukan disadari asoka ratusan tahun yang lalu, dan apa yang dilakukan temuuchin (jenghis) pada waktu yang lewat menginspirasi saya untuk mengatasi kekaprahan dari ketidaksadaran saya atas hidup saya. saya hanya mengimpikan hidup yang bercahaya, sebagaimana yang nampak di lintasan zenit yang tak terhindarkan oleh pandangan manusia. lalu saya melihat borobudur beberapa waktu yang lewat, dan ternyata sebatas itulah puncak kehidupan bagi mimpi seseorang yang diprofilkan sebagaimana bukit menoreh berbaring: puncak itu hanya batu, ternyata.</p>
<p>huuahh! tapi hidup belum berhenti bagi saya, dan saya berhak memeriksa gejala, bukan?</p>
<p>beberapa hari ini saya, dan beberapa kawan, begadang sampai pagi. kami berbagi pikiran tentang beberapa hal, salah satunya bagaimana memajukan kehidupan sastra di daerah kami. kami menandai pentingnya kaderisasi, pewarisan nilai-nilai. kami juga menyadari pentingnya kesiapan, kesiapan pada yang akan mewariskan sesuatu dan kesiapan pada yang akan diwariskan sesuatu. juga tentang jaringan, tentang tangan-tangan yang membentang saling berpegangan. mungkin dari sinilah ihwal kebaikan itu, meski kami pun paham potensi penyelewengan atas nilai-nilai selalu saja ada pada kehidupan. lalu, pada salah satu kesempatan itu setelah lelah berdiskusi, teman saya nyelutuk dengan setengah mengantuk, &#8220;pusiiing&#8230; hidup dari dulu <em>kaya ini-ini haja</em>!&#8221; hahaha, kami tak bisa menghindari naluri atas kelelahan ini&#8230;.</p>
<p>24 september 2009</p>
<p>*innalillahi wa inna ilaihi roji&#8217;un, hari ini telah berpulang uwak saya dalam kesendiriannya (jauh dari anak-anaknya)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/319/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=319&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/09/24/bada-aidil-fitri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>kunjungan</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/09/12/kunjungan/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/09/12/kunjungan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 16:48:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=316</guid>
		<description><![CDATA[bukankah setiap kunjungan pasti ada akhirnya&#8230;, dan waktu berkunjung telah selesai bagi seseorang; saatnya kemudian pulang dan diantar dengan legawa. bahwa setiap kehidupan ada akhirnya, begitulah yang kita pahami sebagai orang dewasa. namun, tetap saja ada kerinduan yang membuat kita,bisa saja, menangis sendiri di dalam mobil yang kita kendarai menuju rumah duka.
kakakku, seorang wanita dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=316&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>bukankah setiap kunjungan pasti ada akhirnya&#8230;, dan waktu berkunjung telah selesai bagi seseorang; saatnya kemudian pulang dan diantar dengan legawa. bahwa setiap kehidupan ada akhirnya, begitulah yang kita pahami sebagai orang dewasa. namun, tetap saja ada kerinduan yang membuat kita,bisa saja, menangis sendiri di dalam mobil yang kita kendarai menuju rumah duka.</p>
<p>kakakku, seorang wanita dengan tiga anaknya yang masih kecil-kecil, adalah seorang tamu yang hari ini sudah habis masa berkunjungnya di rumah kehidupan ini. sebagai seorang tamu yang lain, yang masih asyik dan betah, juga karena waktuku masih tersedia di rumah ini, aku harus melepaskan kepulangannya dengan sedikit sesal di hati. padahal kami masih belum lama betul berbincang: baru tiga puluh tahun!<span id="more-316"></span></p>
<p>teringat olehku masa kanak-kanak yang penuh canda, kadang aku menakalinya, kadang ia menakaliku. tahu-tahu, ia sudah menginjak remaja dan menyadari dirinya haruslah berjilbab&#8211;ia berjilbab dengan sepenuh hati, menutupi auratnya dengan baju panjang dan menjaga ihramnya. tahu-tahu, ia sudah bersuami dan kemudian beranak, menjadi pengajar pada sebuah sekolah diploma swasta, dan beranak lagi, dan beranak lagi sampai yang ketiga. semuanya perempuan, dan yang terkecil masihlah terlalu kecil untuk ditinggalkan&#8211;masih perlu disusui dari badannya yang rebah ditutupi kain malam ini.</p>
<p>ada saat aku yang remaja bertanya padanya,</p>
<p>&#8220;kak, di manakah tuhan?&#8221;</p>
<p>&#8220;huss! tak baik bertanya bertanya seperti itu. bukannya kau sudah pernah belajar, bagaimana keberadaan zat tuhan&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;aku bimbang&#8230;&#8221;</p>
<p>dan ia terhenyak, diam. ia hanya tersenyum kemudian, percaya bahwa aku, di suatu hari nanti, akan mendapatkan hidayah dengan sendirinya.</p>
<p>kemudian, ada saat pula kau bekerja padaku, membantuku menghitung laba-rugi, neraca, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan keuangan perusahaan kecilku. lalu kau hamil besar untuk yang ketiga kalinya. masa cuti itu berlanjut keberhentianmu, karena kau harus merawat si kecil dengan intensif. lalu satu tahun pun berlalu, dan sore ini kepulanganmu mengejutkanku. aku hampir tak percaya. asma yang menggelayuti tubuhmu sekian lama, akhirnya mengalahkanmu; perjalanan ke rumah sakit itu tak pernah benar-benar sampai&#8211;atau kau telah sampai terlebih dahulu ke rumah tuhanmu yang lain, dan kunjunganmu di rumah ini telah berakhir.</p>
<p>entahlah, kak&#8230; dan alunan suara dari yang mengaji di samping jasad fanamu mengiringi kata-kataku&#8211;yang rasanya tak ingin berhenti mengenangkanmu, tapi kalah oleh tangis di dalam hatiku. sudah dulu ya, kak&#8230;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/316/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=316&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/09/12/kunjungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASTAGA!</title>
		<link>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/09/10/astaga/</link>
		<comments>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/09/10/astaga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 12:41:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hajriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hajriansyah.wordpress.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[“Aku sedang puasa, tolong kasih ruang”
Heh, puasa perlu ruang ternyata!
Dan aku numplek di situ bersama-sama
Menunggu saat berbuka dengan makanan-minuman berupa-rupa
Lalu berbunyilah sirene
Aku lupa tadi puasa
Maka kusikat habis semua
Es kelapa muda, nasi goreng istimewa, daging rendang beserta pedasnya
Sambal pete, urap, semangka, amparan tatak, bingka; semua
Ya, semua
Lalu aku ngantuk dan tertidur bermimpi indahnya bulan
Wow, Seribu bulan!
Lalu aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=314&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>“Aku sedang puasa, tolong kasih ruang”</p>
<p>Heh, puasa perlu ruang ternyata!</p>
<p>Dan aku numplek di situ bersama-sama</p>
<p>Menunggu saat berbuka dengan makanan-minuman berupa-rupa</p>
<p>Lalu berbunyilah sirene</p>
<p>Aku lupa tadi puasa</p>
<p>Maka kusikat habis semua</p>
<p>Es kelapa muda, nasi goreng istimewa, daging rendang beserta pedasnya</p>
<p>Sambal pete, urap, semangka, amparan tatak, bingka; semua</p>
<p>Ya, semua</p>
<p>Lalu aku ngantuk dan tertidur bermimpi indahnya bulan</p>
<p>Wow, Seribu bulan!</p>
<p>Lalu aku lupa bersahur</p>
<p>Dan hari ini tak berpuasa</p>
<p>Astaghfirullah!</p>
<p>“Aku sedang puasa, coba lihat tubuhku</p>
<p>Kurus tak terkira&#8230;”</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hajriansyah.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hajriansyah.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hajriansyah.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hajriansyah.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hajriansyah.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hajriansyah.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hajriansyah.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hajriansyah.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hajriansyah.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hajriansyah.wordpress.com/314/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hajriansyah.wordpress.com&blog=3413831&post=314&subd=hajriansyah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hajriansyah.wordpress.com/2009/09/10/astaga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa65129996a921232bcfa960db21fd04?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">hajriansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>