Feeds:
Tulisan
Komentar

untuk apa puasa? untuk siapa berpuasa? dan ke mana tujuan berpuasa ini?

jawaban yang pasti tentu saja ada di qur’an dan hadits. tapi, saya ingin berbagi sedikit tentang makna puasa bagi saya.

dulu sekali… saya masih kecil dan dalam bimbingan ayah saya. berpuasa “wajib sekali” bagi si kecil berusia 9 tahun ini, sehingga makna wajib itu pun berkali dua dengan perintah ayah saya. satu setengah jam sebelum imsak saya harus bangun, meski dengan menangis. sahur kami cukup indah dengan kolak pisang dan iwak garih kering. sesudah sahur saya ikut ayah ke masjid untuk salat subuh. di masjid sesudah salat, saya dapat bermain dengan kawan-kawan, sehingga menjelang pagi itu memiliki arti keriangan tersendiri bagi saya. Lanjut Baca »

Sajak Buaya-Buaya

#1

Wajahnya masih saja membayang

Keindahan memang tak mudah hilang

Baju hijau dan celana coklat

Muka sedikit berjerawat

Aku tak paham siapa membuang kenangan

Siapa membuang penuh kesia-siaan

Siapa terkurung di keremangan

Siapa mencari lalu salah berjalan

“Padahal di hati

Kita tetap manusia, bukan?”

“Apakah pernah, kita

Menjadi selain manusia?”

“Hanya saja mereka memandangku

Sebagai hewan yang dimanfaatkan.”

Aku tak paham siapa membuang kenangan

Padahal langit masih sama terang. Lanjut Baca »

jumat (10/7/09), sejak pukul 07.30 wib kami mulai menyisir jawa bagian timur (surabaya) sampai  ke ujung madura, (kabupaten) sumenep. perjalanan ini terencana begitu saja saat di atas pesawat yang kutumpangi dari banjarmasin menuju surabaya (sehari sebelumnya) melintasi laut, menampakkan pesisir yang indah dari balik awan yang bergeseran. tiba-tiba saja saya ingin ke madura, kampung halaman seorang teman.

ini perjalanan yang demikian singkat—3,5 jam perjalanan menuju sumenep, 2 jam di sumenep, dan 3,5 jam-an kembali ke surabaya—sehingga saya hampir tak dapat mengatakan apa-apa (detailnya) tentang madura, kecuali pesisirnya yang mengesankan saya. Lanjut Baca »

sunnatullah

selalu ada kelahiran, kemudian kehidupan, kemudian kematian…

selamat jalan Razaan Aiman Tisan, titip salam om pada Sang Maha Rahman.

kawan, sabar lah..

akhirnya, kali ini (30/07/09-2/08/09) saya berkesempatan menginjakkan kaki ke tanah sumatera, tepatnya di kepulauan bangka-belitung–lebih mudah dan lumrahnya disebut babel. ini kesempatan pertama saya, sehingga saat masih di atas pesawat saya berusaha untuk benar-benar memerhatikan pulau (kepulauan) ini sekhusuknya. di pesawat saya duduk jauh dari jendela, sehingga saya harus menyondongkan badan untuk keinginan saya yang satu ini–dan untungnya di samping saya teman saya (kami berangkat berempat) sehingga saya tak perlu merasa sungkan.

dari atas–secara sepintas–sama halnya seperti ke banjarmasin, wilayah ini penuh dengan pepohonan, katakanlah hutan, dan ketika mulai masuk ke wilayah kepulauan babel nampaklah “keindahan” itu: danau-danau bentukan dari penambangan timah, mungkin sejauh ratusan tahun, antara kehijauan dan yang kering, terusan, dan… pulau bangka! Lanjut Baca »

Episode kita

1
Menulis seperti membadai saja aku tak mengerti meski kusebut pula nama yang tak kukehendaki tapi kau begitu mengekorku aku jadi kikuk tersudut di pojok waktu meringkuk bagai musang terpanah rembulan, yang kau dengar hanya dengus napasku meski kau tak jua tahu betapa semua itu mencair bagai es di mulutku bersama tanggalnya gigi depanku yang menggangggu.

Mendengarmu bernyanyi sakit kupingku padahal kita sama tahu betapa sumbang suaramu tapi tetap saja kau menyanyikannya di sampingku tepat depan kupingku yang pekak, aha..kini kupaham bahwa air yang membeku di ujung lidahku adalah gumpalan dari ketidakmengertianku akan dirimu—atau jangan-jangan malah diriku sendiri.

Ya, seperti itulah takdir kita yang menguning bersama waktu terburai dalam nuansa jingga menjelang sore yang dingin, di pantai, di perairan yang dangkal yang menarik tanganku terus saja mengejar dan merindukan ketololan yang hangat, diovenkan dalam lemari merah membara dan menjelang hangus kusebut namaku: Hajri! Lanjut Baca »

puisi (juli)

HAMPA

Semuanya bersisa batu

Bahkan di ujung mimpimu
semuanya tinggal batu

Lalu kita bermimpi
mengangkat kembali batu fana itu

Lalu, kehampaan bagaimana lagi
yang kita harapkan

Mengunjungi makammu, semuanya hilang
Lesap ke dalam batu:

Dan mimpimu, yang kau besar-besarkan itu,
nyatanya cuma batu! Lanjut Baca »

beberapa hari ini (12-17/07/09)  aku di jogja! awalnya, mengajak naga pulang ke kandangnya. kemudian,  bersilaturrahmi dengan kawan-kawan yang lama tak bertemu, sekalian ngoyak-ngoyake pameran lukisan angkatan ‘99.

setiap ke jogja–setelah tahun 2003–bagiku, samadengan pulang kampung; dan kali ini sekalian mengajak anakku hayyun tahura (dulunya bernama naga putra angin) menapaktilasi kenangan masa kecilnya, yang mungkin dilupakannya, terpendam di ruang bawah sadarnya. Lanjut Baca »

pulang

akhirnya kembali ke rumah! seminggu menghilang!

Maka Janganlah Lari

Ada satu peristiwa yang seringkali memancing emosi kita. Saat di mana kita sebagai manusia dihadapkan pada rasa takut yang bersifat personal. Dalam banyak kesempatan kita seringkali tak peduli pada rasa takut, karena keadaan sosial yang membuat kita merasa aman; dikelilingi keluarga, teman, pendukung, dan orang yang kita percayai. Dalam banyak kesempatan kita sering menghindar dari rasa takut yang bersifat pribadi ini; dengan logika yang sederhana ini kita menjaga zona aman pribadi agar dapat hidup tenang dan nyaman. Padahal rasa takut adalah sifat yang sangat manusiawi, mencerminkan sifat dari segala yang hidup. Rasa takut mencerap segala daya yang kita miliki dan membuat emosi menjadi labil at the moment. Peristiwa ini, yang seringkali hadir di titik nadir, membuat perasaan tak nyaman dan membuat kita rentan terhadap masalah-masalah yang datang kemudian. Namun ada ketakutan yang begitu kongkret dan berakibat begitu dalam terhadap kehidupan seseorang. Lanjut Baca »

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »