Feeds:
Pos
Komentar

Sketsa

Sore tadi (Selasa, 13/05/2013) saya diundang Sulisno, dosen Jurusan Sendratasik (Seni, Drama, Tari dan Musik) FKIP Unlam, untuk berbagi pengetahuan tentang karya (seni) Sketsa kepada mahasiswa-mahasiswanya. Beberapa malam sebelumnya, terkait persiapan materi kuliah ini, saya coba cari-cari di Google karya-karya sketsa. Ternyata, sangat sedikit dari yang ada di situ (google)–jauh lagi untuk mendapatkan karya-karya yang menurut saya bagus.

Akhirnya, saya putuskan untuk membawa karya-karya saya sendiri saja, yang saya buat waktu kuliah di ISI YK dulu–baik yang saya buat untuk kepentingan mata kuliah Sketsa I dan Sketsa II, maupun yang saya buat untuk kepentingan kekaryaan sendiri. Saya pun membongkar tumpukan karya sketsa di lemari, yang lama sekali tak saya sentuh. Beberapa karya itu sudah saya seleksi karena dulu pernah kepikiran untuk membingkai dan memajangnya (yang tak sempat-sempat saya kerjakan).

Kemudian, saya terpikir juga untuk memajangnya di situs saya. Saya kepikiran, siapa tahu ada orang-orang yang perlu bahan-bahan (karya) sketsa untuk referensi ataupun untuk hal-hal terkait kepentingan yang memerlukan. Saya juga melampirkan tulisan saya yang pernah dimuat di lembaran (katalog sederhana) Pameran Seni Sketsa yang pernah diselenggarakan oleh Sanggar Lawang Banjarmasin di Taman Budaya Kalsel, juga pernah dimuat di harian Radar Banjarmasin, tahun 2008 yang lalu.

 

nongkrong bersama pengamen IMG_20140513_0004 IMG_20140513_0008 IMG_20140513_0010 IMG_20140513_0011 IMG_20140513_0006 IMG_20140513_0019 IMG_20140513_0017 IMG_20140513_0024 Lanjut Baca »

Iklan

pelukis Djoko Pekik melarung karyanya

Catatan: Hajriansyah

 

I

Empat orang seniman yang tinggal di tepian Kali Bedog—Djoko Pekik, Nasirun, Timbul, dan Ibrahim—memiliki keprihatinan yang serupa atas persoalan lingkungan yang dekat dengan mereka; sampah menjadi hal yang lumrah “dilarung” di sungai, baik sampah industri maupun sampah domestik rumah tangga. Bagi mereka sungai “masih” merupakan urat nadi kehidupan, dan ketika “urat nadi” ini kotor dan karenanya “mati”, karena lalu berjarak dengan kehidupan masyarakat sekitarnya, maka jalan yang kemudian mereka tempuh adalah rekonsiliasi.

Festival Seni Bambu Kasongan (18 Desember 2011 – 18 Januari 2012) yang mereka usung bersama-sama dengan stakeholder lainnya—para donatur, institusi pemerintahan terkait (termasuk di dalamnya tentara dan kepolisian), dan pelibatan unsur-unsur masyarakat, serta masyarakat kebanyakan—ini menjadi momentum perayaan sekaligus refleksi, dalam konteks seni, di tengah laju industri yang mengitari Kasongan dan yang memiliri Kali Bedog. Perayaan sebagai sebuah pertemuan antara masyarakat seni, yang cenderung reflektif-eksklusif, dengan masyarakat rural-urban yang ritualistik ini mendekatkan lagi orang-orang, di sekitar Kasongan ini, pada semacam dunia transenden yang dibangun oleh kearifan tertentu yang, sebenarnya, masih terus dijalankan di pinggiran arus besar perkotaan yang materialistik. Lanjut Baca »

karya budi kampret. arang di atas kanvas.

karya budi kampret. arang di atas kanvas.

Menandai lukisan-lukisan Budiyono, yang dalam kesehariannya dipanggil Budi Kampret atau Kampret saja, dalam pameran Tugas Akhir-nya pada program pasca sarjana ini saya dihadapkan pada obsesi yang “liar” pada penemuan kembali teknik-teknik yang memiliki nilai otentisitas sekaligus orisinalitas. Meskipun pembicaraan seputar ihwal orisinalisitas adalah pembicaraan yang sudah nampak lewat, tapi hingga hari ini, dalam benak banyak seniman, ihwal demikian masih dibayangkan ada.

 

Kampret sendiri mengakui, dan hampir meyakini, bahwa eksplorasi atas media arang (carchoal) yang ia gunakan adalah satu-satunya, sejauh penyelidikan bagaimana produksi arang dilakukan secara tradisional, dan sejauh mana ia memberi efek-efek yang unik tergantung dari bahan kayu apa ia dibuat. Penyelidikan semacam ini benar-benar dilakukannya dalam dua tahun belakangan, dan hasilnya secara intuitif ia mengenali efek-efek yang unik tersebut beserta jenis-jenis kayu mana yang dapat dibuat arang gambar. Lanjut Baca »

Catatan: Hajriansyah

Lukisan Agus TBR

Cat Minyak di Kanvas

 

I

Saya merasa “mengenal” Agus kembali setelah pameran tunggal terakhirnya setahun lalu yang dilabeli tema, “Drama Ruang”. Jauh sesudah masa kuliah kami, saya berkesempatan untuk melihat karya-karya Agus secara utuh dalam pameran tunggalnya ini.[1] Sebelum ini semasa kuliah, terutama pasca mata kuliah Seni Lukis III, di mana kami mulai mengeksplorasi bentuk visual menurut kecenderungan masing-masing mahasiswa oleh tuntutan perkuliahan, Agus telah memilih untuk mengeksplorasi tubuh sebagai bahan studinya, yang diteruskannya hingga karya tugas akhirnya.

Dari pameran, yang dikuratori oleh Jim Supangkat, inilah saya berusaha mencari kembali, dalam ingatan, Lanjut Baca »

Catatan: Hajriansyah

I

Persoalan kebangsaan (nasionalisme) tidak harus selalu dibicarakan dalam “pembacaan” yang terikat pada mainstream. Sama halnya seperti ketika Gus Dur menyarankan Sejarah Indonesia tidak harus selalu mengacu kepada sejarah tertulis, yang entah terinspirasi atau malah ditulis, oleh para orientalis, entah Belanda, Inggris, ataupun Amerika. Sejarah Indonesia, setidaknya menurut Gus Dur, bisa ditelusuri lewat cerita rakyat yang berbasis pada sastra lisan, entah sekadar dongeng, mitos, atau legenda, yang terus diturunkan dari penutur lisan kepada para pewarisnya. Begitu pula (pe)rasa(an) kebangsaan, tidak harus diidentikkan dengan para tokoh, para nasionalis, yang ceritanya terus direproduksi, atau para penulis yang dengan bersemangat mengharap kita kembali ke jantung Indonesia raya itu Lanjut Baca »

Hari Sabtu, 24 Desember 2011, bertempat di rumah M. Sinnie, pelukis asal Tembilahan, di Patangpuluhan, Yogyakarta, beberapa orang pelukis asal Kalimantan Selatan berkumpul, sekadar bersilaturahmi dan membincangkan hal-hal terkait dunia internal dan eksternal kepelukisan mereka dalam konteks keperantauan (madam) mereka di Yogyakarta. Mereka, adalah Diah Yulianti (kelahiran Rantau-Tapin), Kamiran Suryadi (Tanjung-Tabalong), Robet Nasrullah (Nagara-HSS), Rokhyat (Banjarmasin), Hajriansyah (Banjarmasin), M. Sinnie atau Nick (Tembilahan), beserta kawan-kawan dari Kasisab Institute (Ahmad Syadzali dan Nurdin Yahya), juga istri dan suami dari pelukis Rokhyat dan Diah Yulianti.

Kegelisahan bersama yang mengetengah dalam pertemuan ini, adalah terkait Lanjut Baca »

ramadhan ke eid

ramadhan kali ini adalah ramadhan ayah saya

ia mengajarkan bagaimana berpuasa

bersabar atas perut yang lapar, dan berkuasa

sebulan penuh, sebulan penuh!

 

di sungai di hulu sana

kerabat berjumpa, kapal-kapal bertambat

kami pulang mengantar zakat

kami pulang mengudiki tanah huma

 

di sisa waktu menjelang eid

saya ingat tentang malam qadr

bersama guru menghadap Allah bersama rasulnya

menghitung diri menanam zikr

 

jika nanti takbir menggema

adakah ayah turut melihat

seperti katanya, mandikan anakmu, mandikan anakmu!

dan kuburmu, kuburmu, semoga terang malam tadi