Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2009

Absurditas; Sebuah Kekayaan

Kita ternyata diikat oleh sebuah ikatan yang mempersatukan tubuh-tubuh kita dalam satu kesatuan aturan. Setiap komunitas atau kelompok sosial, sekecil apapun, memiliki aturan. Terdengar klise memang, tapi faktanya—yang ternyata tak mudah diurai dalam bahasa sederhana—menidurkan kita. Menidurkan dalam pengertian membuat kita tak sadar menjalani sebuah aktivitas motorik yang absurd. Absurd dalam pemahaman yang dijalani dan yang diinginkan tak berjalan seirama. Pahamkah Anda—jika tidak, inilah absurditas yang sesungguhnya—kita menjalani sesuatu yang tak kita pahami. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

CANANG

Tak kukira engkaulah daun yang terjatuh lembut di peluk sungai

Akulah anak kecil yang mendorongmu dengan sengaja,

Lalu aku menjatuhkan diriku ke sungai

“Dubyarr!” kelopak air menjelma udara,

Terbang si awan dikejar angin

Awan terkejar air pun jatuh

Hujan menyirami kami yang bermandian di sungai

Tak hirau buaya, tak hirau tambun, tak hirau dingin

Tak hirau tubuh yang menggigil, kulit jemari yang berkerut

Denyut nadi yang semrawut

Detak jantung yang berdegup


Engkaulah si daun hijau yang larut

Akulah si anak kecil yang kisut;

Kita sama-sama terpukul arus dingin yang membesut

Srapat, sruput

Srapat, sruput

Keramput!


–di sungai yang mengalir kita hanya canang,

Tak benar-benar ada!

140109

Read Full Post »

melukis itu menulis

melukis itu menulis. demikan kata a.d. pirous dalam bukunya yang berjudul demikian. ini(menulis dan melukis) adalah sebuah proses yang bagi pirous sama nilainya. setidaknya a.d. pirous yang mantan seorang guru besar di itb, memang tak pernah berhenti melakukan keduanya. ia adalah seorang yang hyper-kreatif sehingga ketika telah selesai melukis ia tak mampu meninggalkan dirinya yang juga penulis. setidaknya, baginya, melukis dan menulis adalah media yang sama penting untuk menyeimbangkan gerak pikiran dan perasaan–dan untuk mengekspresikan dirinya dengan kedua media tsb.ad_pirous (lebih…)

Read Full Post »

untittle

Hari sabtu, tanggal 26 April 2008, saat shalat Maghrib ayah meninggal dunia. Dua hari kemudian, saat tahlilan hari kedua, paman Muis menyusul ayah. Mereka berdua meninggalkan dunia fana ini dengan kedamaian islami; wajah ayah seakan orang yang tidur, dan paman Muis begitu ‘cepat’ sehingga mengagetkan siapa saja yang dekat dengannya. (lebih…)

Read Full Post »

SEDINGIN ANGIN MALAM

Sedingin angin malam

Setinggi langit dan harapan


Jejakku jejak rompal

Menjejak lalu terjengkal


Jur-malam, jur-siang

Hari-hari datang lalu pulang


Maka, lihatlah lagi

Betapa air telah naik ke kaki kita

Sungai-sungai telah lelah menampung

sampah dan rumah-rumah;


besok, ingatlah

mungkin sungai akan naik ke badan kita

lalu kepala kita

lalu ke dalam tubuh kita

lalu kita mabuk sungai

mabuk air berkelimpahan

menari-nari menyembur air

lalu tumpahlah

tumpahlah segala salah:

parah!

Des, 08

Read Full Post »

Bisu

Menahan letih dan dingin

Bersidekap memeluk diri

Mengunci dingin di ulu hati

Nop’08

Read Full Post »

pertanyaan yang memukul saya

jika berbicara seni lukis, seringkali saya merasa dipukul oleh sebuah pertanyaan dari kawan-kawan yang awam terhadap seni lukis. “apakah aliran seni lukis ini?” sambil telunjuknya mengarah ke sebuah lukisan–entah lukisan saya atau lukisan orang lain.maunjun
apakah alirannya? pertanyaan yang tak mudah dijawab, karena untuk itu saya harus berbicara panjang lebar–seakan-akan saya pintar, dan inilah celakanya, saya bukanlah orang pintar.
istilah ‘aliran’ seringkali menyesatkan, dan ini sebenarnya sudah tak relevan lagi saat ini.
aliran atau isme adalah istilah yang diberikan oleh kritikus untuk menandai atau mengkategorikan sebuah karya, namun tidak serta merta semua karya si pelukis dapat dimasukkan ke dalam satu kategori saja. misal, tidak semua karya picasso dapat dimasukkan ke dalam kubisme. ada juga karya picasso yang realis, surrealis, bahkan futuris.
memang secara historis (linear) ada periode-periode dalam seni lukis penanda-penanda yang dibuat kritikus, semacam periode naturalisme (klasik), neoklasik(isme), romantis(isme), realisme, impressionisme, ekspressionisme, fauvisme, pointilisme, naivisme, kubisme, surrealisme, kinetik-art, pop-art, dst. namun penanda-penanda ini lebih mencerminkan pada sistem gagasan yang mendominasi, yang diaplikasikan seniman pada jamannya, pada karya-karyanya. dan ini tidak serta-merta berkait-sambung dengan gaya yang diaplikasikan. misal, tidak semua karya surrealisme bercorak/bergaya sebagaimana karya-karya salvador dalli yang realis-absurd, tapi ada juga juga karya-karya surrealis sebagaimana chagall yang naif–yang lukisan-lukisannya lebih menyerupai lukisan anak-anak dan bentuk-bentuk tidak tepat-akurat sebagaimana realis-nya dalli, dst.
di indonesia, karya-karya heri dono yang naif dan juga kinetik-artnya dikategorikan dwi marianto, seorang kritikus di jogja, sebagai karya-karya yang surrealis-jogjakarta. karya-karya nasirun yang ekspressif dan njawani itu pun beberapa dapat dikategorikan sebagai surrealisme khas jogjakarta.
jadi kembali pada ‘pertanyaan-pertanyaan yang memukul saya’ tadi, dapat saya katakan bahwa gaya dalam seni lukis sangat beragam, dan belum tentu memikul beban isme yang terlampau berat. pesan saya nikmati sajalah sebuah lukisan–warna-warnanya, bentuk-bentuknya, garis-garisnya, kesatuan harmoni keseluruhannya–bagaimana itu semua dapat mengantarkan kita pada sebuah imaji keindahan, atau siapa tahu dapat membuat anda terkenang sesuatu yang telah lama dilupakan, dan siapa tahu mencerahkan.
selamat berapresiasi! bagus lagi jika dapat mengoleksinya–anda akan dapat meringankan beban seorang pelukis untuk kehidupannya, termasuk membantunya membeli cat untuk melukis lebih banyak dan lebih baik lagi.
salam budaya!

(di sini saya sisipkan lukisan rokhyat yang cenderung surrealistik; lukisan ikan-ikan di atas langit, di bawahnya sungai dan jembatan. lukisan ini berjudul “maunjun”, medianya cat minyak di atas kanvas. juga lukisan ifansyah, maestro seni lukis realis indonesia yang orang banjar, yang menggambarkan ibu dan anaknya dalam corak hyper-realistik, medianya cat minyak di atas kanvas. kemudian lukisan saya (hajriansyah) yang cenderung naif-impressif, medianya cat minyak di atas kanvas.)

51

keluarga1

Read Full Post »

Older Posts »