Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2009

Episode kita

1
Menulis seperti membadai saja aku tak mengerti meski kusebut pula nama yang tak kukehendaki tapi kau begitu mengekorku aku jadi kikuk tersudut di pojok waktu meringkuk bagai musang terpanah rembulan, yang kau dengar hanya dengus napasku meski kau tak jua tahu betapa semua itu mencair bagai es di mulutku bersama tanggalnya gigi depanku yang menggangggu.

Mendengarmu bernyanyi sakit kupingku padahal kita sama tahu betapa sumbang suaramu tapi tetap saja kau menyanyikannya di sampingku tepat depan kupingku yang pekak, aha..kini kupaham bahwa air yang membeku di ujung lidahku adalah gumpalan dari ketidakmengertianku akan dirimu—atau jangan-jangan malah diriku sendiri.

Ya, seperti itulah takdir kita yang menguning bersama waktu terburai dalam nuansa jingga menjelang sore yang dingin, di pantai, di perairan yang dangkal yang menarik tanganku terus saja mengejar dan merindukan ketololan yang hangat, diovenkan dalam lemari merah membara dan menjelang hangus kusebut namaku: Hajri! (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

puisi (juli)

HAMPA

Semuanya bersisa batu

Bahkan di ujung mimpimu
semuanya tinggal batu

Lalu kita bermimpi
mengangkat kembali batu fana itu

Lalu, kehampaan bagaimana lagi
yang kita harapkan

Mengunjungi makammu, semuanya hilang
Lesap ke dalam batu:

Dan mimpimu, yang kau besar-besarkan itu,
nyatanya cuma batu! (lebih…)

Read Full Post »

beberapa hari ini (12-17/07/09)  aku di jogja! awalnya, mengajak naga pulang ke kandangnya. kemudian,  bersilaturrahmi dengan kawan-kawan yang lama tak bertemu, sekalian ngoyak-ngoyake pameran lukisan angkatan ’99.

setiap ke jogja–setelah tahun 2003–bagiku, samadengan pulang kampung; dan kali ini sekalian mengajak anakku hayyun tahura (dulunya bernama naga putra angin) menapaktilasi kenangan masa kecilnya, yang mungkin dilupakannya, terpendam di ruang bawah sadarnya. (lebih…)

Read Full Post »

pulang

akhirnya kembali ke rumah! seminggu menghilang!

Read Full Post »

Maka Janganlah Lari

Ada satu peristiwa yang seringkali memancing emosi kita. Saat di mana kita sebagai manusia dihadapkan pada rasa takut yang bersifat personal. Dalam banyak kesempatan kita seringkali tak peduli pada rasa takut, karena keadaan sosial yang membuat kita merasa aman; dikelilingi keluarga, teman, pendukung, dan orang yang kita percayai. Dalam banyak kesempatan kita sering menghindar dari rasa takut yang bersifat pribadi ini; dengan logika yang sederhana ini kita menjaga zona aman pribadi agar dapat hidup tenang dan nyaman. Padahal rasa takut adalah sifat yang sangat manusiawi, mencerminkan sifat dari segala yang hidup. Rasa takut mencerap segala daya yang kita miliki dan membuat emosi menjadi labil at the moment. Peristiwa ini, yang seringkali hadir di titik nadir, membuat perasaan tak nyaman dan membuat kita rentan terhadap masalah-masalah yang datang kemudian. Namun ada ketakutan yang begitu kongkret dan berakibat begitu dalam terhadap kehidupan seseorang. (lebih…)

Read Full Post »