Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2009

Jika menilik satu dekade dunia kesusastraan kita (di Kalimantan Selatan), maka ada rentang lima tahun yang cukup menggembirakan; setidaknya hiruk pikuk perayaan itu nampak sedemikian nyata—tentu saja ini hanya pada batas cakrawala yang dapat saya pandang. Setidaknya setelah berhibernase cukup lama, semenjak dunia puisi beserta kepenyairannya melindap sejak pertengahan 90-an.

Dimulai sejak 2004, saat event Aruh Sastra Kalimantan Selatan pertama mulai digulirkan. Berlanjut kemudian aruh sastra-aruh sastra berikutnya yang terus hadir setiap tahunnya, atas rekomendasi yang terjaga dari kalangan sastrawan kalimantan selatan kepada sistem birokrasi yang memang diharapkan dapat terus memfasilitasinya: memfasilitasi kepentingan dunia sastra yang beriringan dengan tumbuh kembangnya kebudayaan daerah kalimantan selatan. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

ba’da aidil fitri

pada kehidupan yang kita berjalan dan berpikir di atasnya, ada batas di mana manusia mesti mengukur dan menimbang segalanya, termasuk di dalamnya kematian. pada titik ini, adakah benar tentang keabadian, tentang mimpi-mimpi, tentang rencana dan kontrol atas segala taktis menyangkut masa depan yang lebih baik. lebih baik? sejauh mana manusia menafsirkan hari ini dan segala yang terjadi, kaitannya dengan tafsir kebaikan tersebut?

kematian yang runtun-beruntun di sekitar saya beberapa waktu terakhir ini membuat saya terjaga untuk sekian waktu, adakah kita dapat benar-benar merencanakan kebaikan atas diri kita sebagai manusia? nassem dalam bukunya black swan yang cukup tebal itu ingin meyakinkan kita, bahwa selalunya tak ada yang benar-benar dapat kita prediksi dalam kehidupan ini.  maka ia mengajak kita menyelami kehidupan ini “sekali lagi” (lebih…)

Read Full Post »

kunjungan

bukankah setiap kunjungan pasti ada akhirnya…, dan waktu berkunjung telah selesai bagi seseorang; saatnya kemudian pulang dan diantar dengan legawa. bahwa setiap kehidupan ada akhirnya, begitulah yang kita pahami sebagai orang dewasa. namun, tetap saja ada kerinduan yang membuat kita,bisa saja, menangis sendiri di dalam mobil yang kita kendarai menuju rumah duka.

kakakku, seorang wanita dengan tiga anaknya yang masih kecil-kecil, adalah seorang tamu yang hari ini sudah habis masa berkunjungnya di rumah kehidupan ini. sebagai seorang tamu yang lain, yang masih asyik dan betah, juga karena waktuku masih tersedia di rumah ini, aku harus melepaskan kepulangannya dengan sedikit sesal di hati. padahal kami masih belum lama betul berbincang: baru tiga puluh tahun! (lebih…)

Read Full Post »

ASTAGA!

“Aku sedang puasa, tolong kasih ruang”

Heh, puasa perlu ruang ternyata!

Dan aku numplek di situ bersama-sama

Menunggu saat berbuka dengan makanan-minuman berupa-rupa

Lalu berbunyilah sirene

Aku lupa tadi puasa

Maka kusikat habis semua

Es kelapa muda, nasi goreng istimewa, daging rendang beserta pedasnya

Sambal pete, urap, semangka, amparan tatak, bingka; semua

Ya, semua

Lalu aku ngantuk dan tertidur bermimpi indahnya bulan

Wow, Seribu bulan!

Lalu aku lupa bersahur

Dan hari ini tak berpuasa

Astaghfirullah!

“Aku sedang puasa, coba lihat tubuhku

Kurus tak terkira…”

Read Full Post »

untuk apa puasa? untuk siapa berpuasa? dan ke mana tujuan berpuasa ini?

jawaban yang pasti tentu saja ada di qur’an dan hadits. tapi, saya ingin berbagi sedikit tentang makna puasa bagi saya.

dulu sekali… saya masih kecil dan dalam bimbingan ayah saya. berpuasa “wajib sekali” bagi si kecil berusia 9 tahun ini, sehingga makna wajib itu pun berkali dua dengan perintah ayah saya. satu setengah jam sebelum imsak saya harus bangun, meski dengan menangis. sahur kami cukup indah dengan kolak pisang dan iwak garih kering. sesudah sahur saya ikut ayah ke masjid untuk salat subuh. di masjid sesudah salat, saya dapat bermain dengan kawan-kawan, sehingga menjelang pagi itu memiliki arti keriangan tersendiri bagi saya. (lebih…)

Read Full Post »