Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2013

pelukis Djoko Pekik melarung karyanya

Catatan: Hajriansyah

 

I

Empat orang seniman yang tinggal di tepian Kali Bedog—Djoko Pekik, Nasirun, Timbul, dan Ibrahim—memiliki keprihatinan yang serupa atas persoalan lingkungan yang dekat dengan mereka; sampah menjadi hal yang lumrah “dilarung” di sungai, baik sampah industri maupun sampah domestik rumah tangga. Bagi mereka sungai “masih” merupakan urat nadi kehidupan, dan ketika “urat nadi” ini kotor dan karenanya “mati”, karena lalu berjarak dengan kehidupan masyarakat sekitarnya, maka jalan yang kemudian mereka tempuh adalah rekonsiliasi.

Festival Seni Bambu Kasongan (18 Desember 2011 – 18 Januari 2012) yang mereka usung bersama-sama dengan stakeholder lainnya—para donatur, institusi pemerintahan terkait (termasuk di dalamnya tentara dan kepolisian), dan pelibatan unsur-unsur masyarakat, serta masyarakat kebanyakan—ini menjadi momentum perayaan sekaligus refleksi, dalam konteks seni, di tengah laju industri yang mengitari Kasongan dan yang memiliri Kali Bedog. Perayaan sebagai sebuah pertemuan antara masyarakat seni, yang cenderung reflektif-eksklusif, dengan masyarakat rural-urban yang ritualistik ini mendekatkan lagi orang-orang, di sekitar Kasongan ini, pada semacam dunia transenden yang dibangun oleh kearifan tertentu yang, sebenarnya, masih terus dijalankan di pinggiran arus besar perkotaan yang materialistik. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »