Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Cerpen’ Category

Ayah

Jika kau datang dari Surabaya seperti biasa, maka aku akan menjemputmu di bandara dengan riang. Kuingat engkau datang dengan koper berwarna cokelat, atau kadang juga yang berwarna hitam—kotak dengan sudut-sudut yang lembut. Koper itu, dengan angka-angka kecil seperti roda yang diputar, utak-atik, untuk membuka kode pembukanya—aku senang memainkannya waktu itu.

Aku dan Hasan akan masuk ke ruang tunggu dan melihatmu, dari kaca, keluar dari pintu pesawat dan menuruni tangga. Lalu kau berjalan, dan ketika kau menatap kami, maka kau akan tersenyum dan kami dengan keriangan khas anak-anak menyambutmu di pintu kedatangan. Setiap dua bulan sekali selalu seperti itu, dulu.

Jika sore engkau pergi ke masjid, yang tanahnya adalah wakaf darimu, (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Lelaki Pemburu Petir

Cerita ini bermula dari sebuah catatan dari seorang sarjana yang datang dari kota ke kampung kami. Kami paham, bahwa petir memang demikian indah. Di ujung kampung, di tebing sungai di bawah pohon rambai yang menjuntai indah, kami permaklumkan sebagai kubur Datu Petir; seorang yang bijaksana yang pernah mengajari kami tentang potensi kebaikan pada diri manusia.

Lelaki pemburu petirLelaki itu melangkah pergi ketika hari itu hujan deras mengguyur tanah perkampungan berawa-rawa. Di sebuah tikungan ia membelok, dan ia berdiri di atas jembatan menghadap ke sungai. Sungai kecoklatan warnanya. Hujan menubi-nubi ke lumpur di bawahnya. Lumpur-lumpur bercampur air, mewarnai sungai yang dingin. Sebuah petir berlarian di ujung langit sana. Cahayanya serupa akar menjalar yang membayang dalam lompatan yang sangat cepat. Gdublaar! Duarr! Daarr!

Ia memandang berpicing mata. Ia mencari di mana titik lenyap runcing petir berakhir. Ia menerjunkan dirinya ke sungai. Ia berenang seperti kesetanan—seperti terbang—dan kemudian menyelam. Lama ia menghilang di kedalaman. Tak terlihat bayangan. Setiba-tiba ia membuncah serupa gelombang, seperti meloncat dari air, dan.. duaarr!

Lelaki itu terkulai di atas sungai. Tubuhnya mengambang seperti dahan yang patah dibawa arus. Hujan menindihnya dengan dingin yang terus-menerus memukul, seperti tangan yang tak pernah lelah. Beberapa saat mengambang, tubuhnya kemudian tenggelam. Hujan semakin deras. Petir tak lagi menyambar; hanya air, tumpah, mempercepat arus yang berlari.

* * * (lebih…)

Read Full Post »

Di Panggung Seniman Tua

di-panggung-seniman-tua2Seorang seniman tua duduk di kursi sana. Di sebuah panggung. Matanya berlinangan. Ia memendam kebanggaan di basah kedua matanya. Panggung begitu mewah baginya malam ini. Sudah lama tak seperti ini, pikirnya, sejak pertama kali menaiki panggung semasih mudanya.

Malam itu banyak sekali pejabat yang datang, membawa puja-puji penuh keharuan. Orang datang begitu banyak, dan gedung kesenian itu bergemuruh. Bergemuruh sampai terang segala pendengarannya. Lampu-lampu bersinaran terang sekali, menyorot kedua matanya yang basah dan sembab.

Duduk di barisan kursi depan penonton, gubernur dan wakil gubernur bersama jajarannya, juga walikota dan beberapa pejabat lainnya. Di baris kedua ada orang-orang kaya, pengusaha, dan orang-orang terhormat lainnya. Di belakang mereka semua masyarakat dari berbagai kalangan; mahasiswa, pelajar, orang kampung, orang pinggiran dan seniman. Mereka begitu antusias semuanya, padahal tempat itu—hari itu—hanyalah tempat sederhana dengan fasilitas sederhana, terutama untuk para petinggi dan orang-orang kaya, yang memungkinkan mereka berkumpul jadi satu dalam irama yang kadang syahdu dan banyak kali penuh keriangan.

Tak ada yang seindah tempat itu, selama ini bagi seniman itu selama hidupnya. Ia membayangkan surga yang paling indah datang padanya di hari pertunjukan itu sebelumnya, dan kini ia telah bersaksi atas surga yang dijejakinya. (lebih…)

Read Full Post »

Engkau Tak Peduli Lagi

Engkau ingin insaf dari kebodohan selama ini. Dan engkau mengungkapkannya padaku dengan mata yang nampak menertawakan diri sendiri.

Aku bertanya padamu, “Insaf bagaimana? Insaf dari apa? Memang sekarang belum insaf, ya?”

Kau hanya tersenyum. Aku sedikit bingung, tapi kubiarkan saja. (lebih…)

Read Full Post »

Ada Buaya di Keluasan Sana!

Tulis saja! Tulis saja, katanya, sehingga aku kelimpungan juga mengadapi tuntutan yang semena-mena ini. Aku ingin berhenti sebentar saja, sekiranya aku dapat mengirup udara, menenangkan batinku atas hujatan pikiran yang terus berlari. Aku ingin sebentar saja mengungsi ke ruang yang lebih luas. Tapi waktu terus berlari, dan ruang memang sempit, kata pikiranku lagi. Lalu bagaimana aku dapat menulis, jika semuanya menjadi klise, terus diulang-ulang, sehingga aku tak lagi dapat menemukan kata yang tepat untuk diriku; untuk tempat yang lebih tinggi, yang lebih luas bagi diriku. (lebih…)

Read Full Post »

suatu hari menari

Cerpen : Hajriansyah

orkes-pantingMELIHAT gadis-gadis itu menari, memandang kecantikan paras muda mereka yang besinaran membuatku seperti menari dalam imaji yang keputihan. Suara musik yang menyayat-nyayat dan suara penyanyinya yang terseok-seok ditingkahi keriangan yang meriah.

Yulalin..yulan-yulalin.

Mereka menari sembari tertawa.
Goyangan badan mereka, alunan tangan gemulai, dan gerakan kaki ritmis seperti membawa angin yang menepuk-nepuk pundakku.
Dari cermin depan wajahku kupandang mereka lewat belakang pundakku. Ruangan yang penuh cermin ini mencembungkan gerak mereka. Udara yang berputar di atas mereka memenuhi ruangan, bahkan asap rokokku turut berputar-putar. Terbayang dalam imajiku putaran para darvisi pengikut Rumi; memuncak..terus memuncak.

Degedang, degeduk
Degedang, degeduk
Duk..duk..duk…
Duk..duk..duk..duk.

(suara musik terus memuncak) (lebih…)

Read Full Post »

Seseorang Pergi Jauh

Cerpen : Hajriansyah

Seseorang pergi jauh, melampaui kecemasannya akan waktu. Ia yang selama ini lebih dikenal sebagai Udin yang pegawai rendahan biasa pada sebuah perusahaan ekspor-impor di Kalimantan, telah mengakhiri masa-masa kebimbangannya akan bagaimana masa depannya kelak.

Udin memang sudah berkeluarga, dan ia telah memiliki dua orang permata hatinya; seorang putri yang manis seumur sebelas tahun, dan seorang putra yang sedang lincah-lincahnya—berumur lima tahun. Dan keluarganya baik-baik saja sejauh ini, tak ada masalah yang berarti yang membuatnya harus makan hati. Istrinya seorang wanita yang setia dan penurut; anak-anaknya pun begitu, tak pernah benar-benar membantahnya. Rumah mereka sederhana, namun sangat layak untuk ditempati. Di rumah itu ada televisi 21 inc, sebuah kulkas satu pintu keluaran setahun yang lalu, dapur selengkapnya dengan sebuah kompor gas dan magic jar produksi Taiwan, dan lain-lain, yang tidak menampakkan satu kekurangan pun meski dibayar secara kredit dan dikumpulkan satu-satu. (lebih…)

Read Full Post »