Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Tak Berkategori’ Category

pelukis Djoko Pekik melarung karyanya

Catatan: Hajriansyah

 

I

Empat orang seniman yang tinggal di tepian Kali Bedog—Djoko Pekik, Nasirun, Timbul, dan Ibrahim—memiliki keprihatinan yang serupa atas persoalan lingkungan yang dekat dengan mereka; sampah menjadi hal yang lumrah “dilarung” di sungai, baik sampah industri maupun sampah domestik rumah tangga. Bagi mereka sungai “masih” merupakan urat nadi kehidupan, dan ketika “urat nadi” ini kotor dan karenanya “mati”, karena lalu berjarak dengan kehidupan masyarakat sekitarnya, maka jalan yang kemudian mereka tempuh adalah rekonsiliasi.

Festival Seni Bambu Kasongan (18 Desember 2011 – 18 Januari 2012) yang mereka usung bersama-sama dengan stakeholder lainnya—para donatur, institusi pemerintahan terkait (termasuk di dalamnya tentara dan kepolisian), dan pelibatan unsur-unsur masyarakat, serta masyarakat kebanyakan—ini menjadi momentum perayaan sekaligus refleksi, dalam konteks seni, di tengah laju industri yang mengitari Kasongan dan yang memiliri Kali Bedog. Perayaan sebagai sebuah pertemuan antara masyarakat seni, yang cenderung reflektif-eksklusif, dengan masyarakat rural-urban yang ritualistik ini mendekatkan lagi orang-orang, di sekitar Kasongan ini, pada semacam dunia transenden yang dibangun oleh kearifan tertentu yang, sebenarnya, masih terus dijalankan di pinggiran arus besar perkotaan yang materialistik. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Catatan: Hajriansyah

Lukisan Agus TBR

Cat Minyak di Kanvas

 

I

Saya merasa “mengenal” Agus kembali setelah pameran tunggal terakhirnya setahun lalu yang dilabeli tema, “Drama Ruang”. Jauh sesudah masa kuliah kami, saya berkesempatan untuk melihat karya-karya Agus secara utuh dalam pameran tunggalnya ini.[1] Sebelum ini semasa kuliah, terutama pasca mata kuliah Seni Lukis III, di mana kami mulai mengeksplorasi bentuk visual menurut kecenderungan masing-masing mahasiswa oleh tuntutan perkuliahan, Agus telah memilih untuk mengeksplorasi tubuh sebagai bahan studinya, yang diteruskannya hingga karya tugas akhirnya.

Dari pameran, yang dikuratori oleh Jim Supangkat, inilah saya berusaha mencari kembali, dalam ingatan, (lebih…)

Read Full Post »

ramadhan ke eid

ramadhan kali ini adalah ramadhan ayah saya

ia mengajarkan bagaimana berpuasa

bersabar atas perut yang lapar, dan berkuasa

sebulan penuh, sebulan penuh!

 

di sungai di hulu sana

kerabat berjumpa, kapal-kapal bertambat

kami pulang mengantar zakat

kami pulang mengudiki tanah huma

 

di sisa waktu menjelang eid

saya ingat tentang malam qadr

bersama guru menghadap Allah bersama rasulnya

menghitung diri menanam zikr

 

jika nanti takbir menggema

adakah ayah turut melihat

seperti katanya, mandikan anakmu, mandikan anakmu!

dan kuburmu, kuburmu, semoga terang malam tadi

Read Full Post »

Pagi, pukul 06.30, saya terbangun mendengar dering hape di nakas samping tempat tidur saya. Saya sebenarnya enggan membuka mata, karena saya baru saja tidur pukul empat subuh tadi. Tapi istri saya kemudian memberitahu bahwa itu telpon dari Pak Enos (nama populer dari Kepala Taman Budaya Kalsel: Drs. Ahmadi Soufyan). Saya pikir ini akan ada hubungannya dengan Pameran Koleksi Galeri Nasional yang sedianya akan digelar bulan Juli nanti, tapi mengapa pula harus mengganggu tidur saya yang sebentar itu.

Saya sungguh terkejut, sangat terkejut bahkan, ketika Pak Enos mengatakan, “Jri, Iyan meninggal tadi pagi!” Saya sempat menanya ulang: “Iyan, siapa?” Dan sungguh, saya hampir tak percaya mengetahui bahwa yang dimaksud adalah Zulian Rifani, pelukis—teman dekat kami.

Zulian Rifani meninggal pagi itu,  Rabu (23/3/2011), pada pukul kurang-lebih 06.00 wita di Rumah Sakit Islam, Banjarmasin. Sejak malam sebelumnya almarhum telah berada di rumah sakit dalam keadaan koma, akibat tekanan darah yang, katanya, sangat tinggi. Kawan almarhum, Umar Sidik, menemaninya sampai pukul dua dini hari. Dan Umar terkejut, ketika saya menelponnya untuk menanyakan perihal kematian ini kepadanya; ternyata iapun baru tahu dari saya.

Saya mengenal Zulian Rifani jauh sebelum ini. (lebih…)

Read Full Post »

pagi!

lama tak menulis di blog. sebenarnya ada dua tulisan tentang perjalanan yang ingin kuposting. tapi apa daya, sampai sekarang dua tulisan itu belum juga rampung.

waktu! ya, ini tentang kesibukan yang merenggut waktu (menulisku). di samping itu juga tentang laptopku yg beberapa waktu terakhir rusak berkali-kali (hingganya kuganti dengan yang baru).

pagi! ya, pagi ini ketika kulihat bahwa tulisan terakhirku di blog ini sudah lewat satu bulan lebih, aku jadi sedih sendiri.

teman! ya, beberapa teman “akrab” di blog lama tak terkunjungi. beruntung seorang teman mengingatkan dengan mengirimkan tulisan terakhir di blog ini ke koran lokal. dan, dimuat. terima kasih sekali lagi kepadanya.

ya, nanti kusambung lagi dua tulisan yang tertunda selesainya itu. dan segera, lah, kupostingkan di sini.

begitu saja dulu, ya. selamat pagi!

Read Full Post »

Senang rasanya malam ini berjapin ria, bersama kawan-kawan sastrawan, seniman, budayawan dan… wakil walikota Banjarmasin! Ya, sebarusan saja tadi sejak bada Isya sampai setengahduabelasan (6/12/10), bertempat di Taman Budaya Kalimantan Selatan dilaksanakan perhelatan “Senandung Puisi bersama Musik Islami” menyambut pergantian Tahun Hijriyah.

 

Sejak awal dikatakan oleh kepala Taman Budaya, Enos Karlie, bahwa acara ini bersifat dadakan. Bermula dari kalender yang bertanggal merah yang ternyata tahun baru Hijriyah, maka dimintakanlah kepada sastrawan Y.S. Agus Suseno untuk mengundang kawan-kawan sastrawan, (lebih…)

Read Full Post »

Temu Sastrawan Indonesia (TSI) III (28 – 31 Oktober 2010) baru saja berakhir. Saya (beruntung) mendapat tempat untuk membacakan (pantun dan) sajak di bawah ini pada acara penutupan kegiatan ini yang diakhiri teatrikalisasi puisi oleh Ibu Suryatati A. Manan, walikota Tanjungpinang.

Banjarmasin ke Tanjungpinang

Naik Baruna singgah di Batam

Saya yakin sastrawan senang

Dah bersua di Negeri Pantun Kota Gurindam

Tentang Kehilangan

Ke mana pergi si burung elang

Sungai dan ikan telah menghitam (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »