Feeds:
Pos
Komentar

(daripada kosong, saya isi aja dengan tulisan lama. selamat membaca!)

Selasa, 3 April 2011, adalah hari yang terasa sangat cepat bagi saya. Sebelum ini semuanya melambat dalam hidup saya. Pekerjaan, kawan-kawan, dan kesibukan yang beragam dan menumpuk cepat membuat saya hampir tak bisa mengambil jarak dari semuanya itu. Tiba-tiba saja di ujungnya saya merasa perlu keluar dari rutinitas itu, dan di antara semua yang tak bisa saya tinggalkan itu waktu dalam hidup saya hampir enggan bergerak.

Ketika hari minggu sebelumnya teman saya di Jogja mengundang saya (entah sambil isengkah dia?) lewat sms untuk berhadir pada pameran lukisan tunggalnya di Jakarta, secara spontan saya bilang ke diri saya: ini saat yang tepat untuk keluar! Saya bicara pada istri keinginan saya ke Jakarta, dan minta dia memesankan tiket pesawat—dan seperti biasa dia mengakomodir setiap keinginan saya—saya pun dapat merasa lega. Lanjut Baca »

Iklan

Pagi, pukul 06.30, saya terbangun mendengar dering hape di nakas samping tempat tidur saya. Saya sebenarnya enggan membuka mata, karena saya baru saja tidur pukul empat subuh tadi. Tapi istri saya kemudian memberitahu bahwa itu telpon dari Pak Enos (nama populer dari Kepala Taman Budaya Kalsel: Drs. Ahmadi Soufyan). Saya pikir ini akan ada hubungannya dengan Pameran Koleksi Galeri Nasional yang sedianya akan digelar bulan Juli nanti, tapi mengapa pula harus mengganggu tidur saya yang sebentar itu.

Saya sungguh terkejut, sangat terkejut bahkan, ketika Pak Enos mengatakan, “Jri, Iyan meninggal tadi pagi!” Saya sempat menanya ulang: “Iyan, siapa?” Dan sungguh, saya hampir tak percaya mengetahui bahwa yang dimaksud adalah Zulian Rifani, pelukis—teman dekat kami.

Zulian Rifani meninggal pagi itu,  Rabu (23/3/2011), pada pukul kurang-lebih 06.00 wita di Rumah Sakit Islam, Banjarmasin. Sejak malam sebelumnya almarhum telah berada di rumah sakit dalam keadaan koma, akibat tekanan darah yang, katanya, sangat tinggi. Kawan almarhum, Umar Sidik, menemaninya sampai pukul dua dini hari. Dan Umar terkejut, ketika saya menelponnya untuk menanyakan perihal kematian ini kepadanya; ternyata iapun baru tahu dari saya.

Saya mengenal Zulian Rifani jauh sebelum ini. Lanjut Baca »

Pongkalan Buun

Saat pesawat Kalstar take off dengan sempurna dari bandara Syamsudinnor, dan bergerak ke barat, tak terasa di bawah sana terlihat raksasa barito yang mengular. Seperti jalur darah dengan anak-anak sungainya ia menghidupi kapal dan tongkang di atasnya, perumahan dan sawah di sisi-sisinya.

Pesawat terus naik. Gumpalan awan-awan seputih kapas bergerombol sudah di bawah, sementara setipis serat-serat berwarna abu-abu awan-awan bergerak berlawanan arah kami menuju.

Hampir setengah jam. Di bawah sana hanya hamparan tanah, hijau, dalam garis berpetak-petak. Entah sawah, entah sawit. Di depan sana cakrwala biru muda, dengan garis-garis awan yang membujur, melindap di kejauhan.

Perjalanan ini mengingatkan lagi perjalanan terakhir ke Pangkalan Bun, desember 2010 yang lalu. Lanjut Baca »

pagi!

lama tak menulis di blog. sebenarnya ada dua tulisan tentang perjalanan yang ingin kuposting. tapi apa daya, sampai sekarang dua tulisan itu belum juga rampung.

waktu! ya, ini tentang kesibukan yang merenggut waktu (menulisku). di samping itu juga tentang laptopku yg beberapa waktu terakhir rusak berkali-kali (hingganya kuganti dengan yang baru).

pagi! ya, pagi ini ketika kulihat bahwa tulisan terakhirku di blog ini sudah lewat satu bulan lebih, aku jadi sedih sendiri.

teman! ya, beberapa teman “akrab” di blog lama tak terkunjungi. beruntung seorang teman mengingatkan dengan mengirimkan tulisan terakhir di blog ini ke koran lokal. dan, dimuat. terima kasih sekali lagi kepadanya.

ya, nanti kusambung lagi dua tulisan yang tertunda selesainya itu. dan segera, lah, kupostingkan di sini.

begitu saja dulu, ya. selamat pagi!

Saat menjejakkan kaki di Dermaga Taman Sari, di bawah Jembatan Sudimampir, Banjarmasin pagi ini saya telah merasakan gerung mesin diesel kapal yang akan membawa kami memuarai Sungai Barito dan ke anak sungainya menuju Tamban. Ini bukanlah perjalanan pertama saya ke Tamban, tapi jelas inilah perjalanan saya kepadanya yang pertama dengan menyisiri sungai.

 

Seingat saya ini adalah pengalaman ketiga ke Tamban, dan setiap kalinya berbeda rute perjalanan. Yang pertama, bersama seorang teman, saya memulainya dengan sepeda motor lewat dermaga di Alalak; menyeberangi Sungai Barito sekira seperempatjaman lebih dan berlabuh di dermaga Soebarjo. Dari sana meneruskan perjalanan lewat darat melewati jalan kecil yang tak sepenuhnya mulus sekira satu jam-an. Yang kedua adalah sepenuhnya lewat jalan darat, dari Handil Bakti, Jembatan Barito, Anjir, menyeberangi jembatan besar lagi, lalu jalanan berbatu (kala itu), berbelok dan penuh lubang, melewati beberapa jembatan kecil dan besar, jalanan kampung yang sempit dan berdebu, hingga sampailah di Pal 7, Sidorejo, di tempat seorang seorang penyair sufi yang tenar dengan sebutan Janggut Naga. Lanjut Baca »

Senang rasanya malam ini berjapin ria, bersama kawan-kawan sastrawan, seniman, budayawan dan… wakil walikota Banjarmasin! Ya, sebarusan saja tadi sejak bada Isya sampai setengahduabelasan (6/12/10), bertempat di Taman Budaya Kalimantan Selatan dilaksanakan perhelatan “Senandung Puisi bersama Musik Islami” menyambut pergantian Tahun Hijriyah.

 

Sejak awal dikatakan oleh kepala Taman Budaya, Enos Karlie, bahwa acara ini bersifat dadakan. Bermula dari kalender yang bertanggal merah yang ternyata tahun baru Hijriyah, maka dimintakanlah kepada sastrawan Y.S. Agus Suseno untuk mengundang kawan-kawan sastrawan, Lanjut Baca »

Sabtu, 6/11/10, saya ditanya teman yang seorang teaterawan, Nurdin Yahya, via sms, apakah saya mau menyaksikan Lamut? Ya, Balamut, sebuah pertunjukan tradisi yang hanya ceritanya saja sering saya dengar dari rekan-rekan seniman dan budayawan yang lebih senior dari saya. Saya spontan menjawab: ya! Di mana? Di Barikin, katanya.

Jadilah kami berangkat sore itu, sekira pukul 15.30 wita. Hanya berdua! Pada awalnya kami mengajak beberapa orang teman—jurnalis, sastrawan, aktivis sosial—dan nyatanya hanya kami berdua yang cukup sehat dan punya waktu luang untuk itu. Seorang teman sastrawan terserang flu berat dan yang lain terlalu lelah, seorang jurnalis sibuk dengan pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan, dan seorang aktivis tengah berkumpul dengan kerabatnya yang akan naik haji. Lanjut Baca »