Feeds:
Pos
Komentar

Temu Sastrawan Indonesia (TSI) III (28 – 31 Oktober 2010) baru saja berakhir. Saya (beruntung) mendapat tempat untuk membacakan (pantun dan) sajak di bawah ini pada acara penutupan kegiatan ini yang diakhiri teatrikalisasi puisi oleh Ibu Suryatati A. Manan, walikota Tanjungpinang.

Banjarmasin ke Tanjungpinang

Naik Baruna singgah di Batam

Saya yakin sastrawan senang

Dah bersua di Negeri Pantun Kota Gurindam

Tentang Kehilangan

Ke mana pergi si burung elang

Sungai dan ikan telah menghitam Lanjut Baca »

Iklan

ramadhan 1431 h hampir berakhir. apa saja yang terjadi? ada banyak hal dalam riuh rendah perut yang berbunyi, menahan lapar dan keinginan menjelang akhir.

pada minggu ketiga ramadhan kali ini begitu banyak undangan acara buka bersama. dari acaranya partai, silaturahmi Lanjut Baca »

Enam puluh lima tahun sudah sejak orang-orang yang mewakili bangsa ini berani menyatakan kemerdekaannya dan kemudian terus berjuang hingga empat tahun sesudahnya ia mendapat pengakuan dari dunia yang lebih luas. Perjuangan ini yang awalnya ditopang semangat, katakanlah semacam gotong-royong, dan perasaan yang sama atas ketidakadilan yang menimpa pribumi sepanjang bentangan pulau-pulau yang kemudian bernama Indonesia menuntut keadilan yang sama apakah sudah sampai ia pada yang dicita-citakan? Maka, Lanjut Baca »

KERJA

Ketika teman saya yang seorang branch manager sebuah perusahaan multi nasional mengatakan, bahwa ia ingin nangis, rasanya, melihat pekerjaan-pekerjaannya jauh dari target yang diharapkan, saya ingin tertawa dan bersegera mengejeknya. Tapi begitu melihat mimik wajahnya yang tak berubah, dan nampak serius, saya segera mengurungkan keinginan saya tersebut. Saya diam. Mendengarkan. Apalagi (kebijaksanaan) yang akan keluar dari mulutnya.

Teman saya ini lalu terdengar seperti berkhotbah di depan saya. Lanjut Baca »

untitle story

Sept08

Dan jejak kita dibawanya pergi

Bersama arus yang berbalik…

Tak cukup kerja yang sendiri

Sebab telah lewat puluhan generasi,

Di sisinya si pemimpi berdiri

Berharap gelombang pasang menariknya

Mabuk dan terhempas ke daratan sempurna

Arus yang berbalik melemparnya ke tepi

Yang lebih buruk dari gurun tak bernama

Di sisi senja si pemimpi hanya lindap

Dari jingga yang tak bisa diharap

Hanya saja

Hanya saja…*

setiap kali pikiran saya mengirimkan sinyal yang tak beraturan, dan tumpang-tindih, kepada segenap diri saya Lanjut Baca »

Sudah sejak lama para seniman (antara lain di dalamnya: sastrawan) menyuarakan pentingnya pembangunan nilai-nilai budaya dalam pembangunan masyarakat dan infrastruktur, juga suprastruktur, yang terkait dalam pembangunan jiwa masyarakat dalam menghadapi tantangan global. Apalagi sejak globalisasi, beserta efek-efek ikutannya, menjadi hal yang tak terelakkan dalam pergaulan dewasa ini, di masyarakat luas.

Dewasa ini, terutama dalam satu dasawarsa terakhir, keinginan-keinginan untuk memperkuat budaya lokal dalam menghadapi tantangan kemajuan global semakin mengemuka. Lanjut Baca »

anak-anak saya

melihat anak-anak tumbuh, sebagai seorang ayah, kadang mencengangkan kita. begitulah yang saya rasakan. ketika anak saya yang pertama lahir sepuluh tahun yang lalu, begitu takjubnya saya. setiap hari tak ada rasa lelah bersamanya: menguburkan ari-arinya, memandikannya, membersihkan kotorannya, memakaikan pakaiannya, mengajaknya berjalan-jalan di pelukan, menidurkannya, membuatkannya sebuah cerita secara spontan, dan seterusnya hingga ia sekolah. lahir kemudian adiknya, dan kurang-lebih seperti yang pertama perlakuan terhadapnya, hanya saja yang kedua tak seterpana yang pertama jika saya bercerita, malah terkadang ia tambah menangis. lahirlah yang ketiga, di saat yang kedua masih lagi hendak dimanja, dan inilah putri saya satu-satunya (sejauh ini)!

putri saya masih Lanjut Baca »