Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2009

coverhajCerpen-cerpen Hajriansyah (Banjarmasin,10 Oktober 1979) masih menyisakan aroma tanah, percakapan yang intim, keakraban alam dan kebersahajaan kampung halaman—sekalipun semua itu lebih banyak muncul dalam kenangan. Sebaliknya, di beberapa cerpennya yang lain, Hajriansyah mencoba membuat jarak dengan segala sumber harmoni itu; dan ia berhasil mengaduk-aduk suasana lewat percakapan batin (soliloqui) yang berbau filosofis, pergulatan eksistensial serta kegelisahan personal tokoh-tokohnya. Antara kearifan kolektif dan pencarian personal, di sanalah kiranya Hajriansyah menemukan momentum kreatifnya.

Di tangan Hajriansyah, lokalitas dan modernitas saling melintas, meski ujung-ujungnya kemajuan yang diharapkan malah menggilas. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »


Lain kali jika tiba-tiba listrik padam pada malam hari,

cobalah menghibur diri dengan pergi keluar rumah

(Nassim Nicholas Taleb; Black Swan)

1

Kota ini milik siapa

Lihatlah saat malam tak berbintang

Dan lampu padam, benarkah kota ini milik kita

Entahlah; coba tanya pak gubernur

Atau gm-nya PLN, atau coba tanya pada pencatat meteran

Yang setiap bulan berjalan dari rumah ke rumah mencatat:

Betapa hebatnya kita dalam pemborosan arus listrik yang

Kapasitas kerja pltu-nya begitu terbatas

Kota ini milik siapa

Setiap hari rumah-rumah tumbuh

Dan komplek perumahan yang katanya

Bukti nyata kemakmuran kita itu memakan daya listrik

Yang luar biasa besarnya; dan anehnya perusahaan listrik

Negara ini tak sanggup mengatasinya, sementara di sisinya

Slogan penghematan listrik hanya basa-basi belaka

Ya, mungkin langit lebih terang

Dari kota kita yang muram

Yang kekayaan alamnya hanya hiasan

Di rumah orang-orang kaya saja

2

Bila langit lebih terang

Bila bintang-gemintang gemerlapan

Bila yang bekerja terganggu kerjanya

Bila yang rumahnya ber-ac jadi kepanasan

Bila anak-anak tak dapat belajar di malam hari

Bila suara genset meraung-raung di malam hari

Bila pengusaha kecil menengah teriak kerugiannya

Bila tak masuk akal alasan petinggi pln itu

Maka cobalah bertanya, “ ke mana larinya kekayaan daerah kita?”

(tapi kita harus bertanya kepada siapa. Entahlah.)

Read Full Post »

dua puisi

Rumah sakit

Aida nampak kurus dan lemah

Aku hampir tak dapat tidur

Istriku yang terjaga

Lalu malam bersama deru kipas angin dan suara kodok

Rssi, 13-14 mei 2009

Hidup

Jika bertanya tentang hidup

Bertanya pulalah bagaimana mengisinya dengan lebih baik, ya.

Rssi-thr, 14-16 mei 2009

Read Full Post »

Lelaki Pemburu Petir

Cerita ini bermula dari sebuah catatan dari seorang sarjana yang datang dari kota ke kampung kami. Kami paham, bahwa petir memang demikian indah. Di ujung kampung, di tebing sungai di bawah pohon rambai yang menjuntai indah, kami permaklumkan sebagai kubur Datu Petir; seorang yang bijaksana yang pernah mengajari kami tentang potensi kebaikan pada diri manusia.

Lelaki pemburu petirLelaki itu melangkah pergi ketika hari itu hujan deras mengguyur tanah perkampungan berawa-rawa. Di sebuah tikungan ia membelok, dan ia berdiri di atas jembatan menghadap ke sungai. Sungai kecoklatan warnanya. Hujan menubi-nubi ke lumpur di bawahnya. Lumpur-lumpur bercampur air, mewarnai sungai yang dingin. Sebuah petir berlarian di ujung langit sana. Cahayanya serupa akar menjalar yang membayang dalam lompatan yang sangat cepat. Gdublaar! Duarr! Daarr!

Ia memandang berpicing mata. Ia mencari di mana titik lenyap runcing petir berakhir. Ia menerjunkan dirinya ke sungai. Ia berenang seperti kesetanan—seperti terbang—dan kemudian menyelam. Lama ia menghilang di kedalaman. Tak terlihat bayangan. Setiba-tiba ia membuncah serupa gelombang, seperti meloncat dari air, dan.. duaarr!

Lelaki itu terkulai di atas sungai. Tubuhnya mengambang seperti dahan yang patah dibawa arus. Hujan menindihnya dengan dingin yang terus-menerus memukul, seperti tangan yang tak pernah lelah. Beberapa saat mengambang, tubuhnya kemudian tenggelam. Hujan semakin deras. Petir tak lagi menyambar; hanya air, tumpah, mempercepat arus yang berlari.

* * * (lebih…)

Read Full Post »

Apakah tubuh yang kita gerakkan berdasarkan kehendak pikiran kita ini adalah sebuah media belaka. Manakah yang sebenarnya menggerakkan pikiran, lalu tubuh, lalu mewujud pertumbuhan; dalam hidup pribadi, dalam hidup masyarakat yang banyak. Lalu, apakah benda-benda itu—yang berserak di sekitar kita, yang terus-menerus menyita perhatian kita, yang menuntut sebuah perubahan dalam geraknya. (lebih…)

Read Full Post »

Setiap kali membaca puisi apa sebenarnya yang tengah kita rasakan. Adakah kita benar-benar paham terhadap susunan kata yang seringkali menjalin kekusutan itu. Seolah sebuah dunia yang lain tengah berdiri tegak di samping dunia kita yang sehari-hari ini. Dunia itu begitu gelap sehingga dengan sedikit cemas kita memandanginya. Seperti cerita-cerita di film horror, kita tengah berdiri di depan sebuah rumah yang kusam. Hari begitu gelap, mendung menjelang hujan yang sepertinya akan lebat, dan tujuan kita masih belum jelas dalam sebuah perjalanan yang mengambang, dan dengan terpaksa sang tokoh melangkahkan kakinya ke arah rumah. Di dalam rumah yang gelap, kegagapan membuat rasa takut tumbuh, namun rasa penasaran membuat kita mencari-cari jawab atas ketakutan kita. (lebih…)

Read Full Post »